Rumah Sakit Indonesia di Gaza

indonesia hospital

Ada berapa rumah sakit yang tersedia di Palestina? Menurut Wikipedia cuma ada 10 biji. Apakah data ini valid, saya belum bisa konfirmasi, sebab keterangan di Wikipedia pun sangat minim.

Terlepas apakah data di atas benar atau tidak, seharusnya sejak 27 Desember 2015 kemarin daftarnya bertambah 1 lagi: Rumah Sakit Indonesia.

Rumah sakit ini adalah buah dari 5 tahun perjuangan. Dana untuk membangunnya adalah murni dari uluran tangan rakyat Indonesia, sekitar 126 miliar, bekerja sama dengan Pemerintah Palestina. Inisiatifnya dilakukan Mer-C (Medical Emergency Rescue Committee).

Lokasi rumah sakit membanggakan ini adalah di Bayt Lahiya, hanya 3 km dari perbatasan Israel. Dengan demikian, letaknya berdekatan dengan Rumah Sakit Al-Awda di Jabalia (unit gawat daruratnya sempat hancur dibom Israel pada 2009) dan Rumah Sakit Beit Hanoun.

Kita pun bisa bernafas lega sebab rumah sakit ini dibangun bukan dengan asal-asalan. Gedungnya berdiri di atas tanah seluas 9 ha (hasil sumbangan pemerintah Palestina). Ada 100 ranjang untuk pasien plus 10 ranjang perawatan intensif. Ada dua ruang UGD untuk operasi. Ada perawatan abdomen oleh spesialis. Ada pula scanner CT. Tak pelak, rumah sakit ini adalah yang terbesar dan terlengkap di Gaza utara.

Saya tidak mungkin melupakan tekanan ini: saya juga ingin melihat Palestina merdeka sehingga hak rakyatnya bisa diberikan secara layak. Semoga kita sebagai bangsa selalu mengulurkan tangan.[]

sumber gambar: globalconstructionreview.com

2015, Tahun Malas Buku

capture-20160104-162435

Seperti biasa, tiap awal tahun akan saya ulas pengalaman membaca buku. Dan tahun 2015 mendapat predikat sebagai tahun malas.

Bagaimana tidak malas? Sudah ditetapkan harus selesaikan 25 buku, tapi cuma 13 biji yang berhasil rampung. Itu hanya 52%-nya. Apa coba kalau tidak malas namanya?

Ada kalanya muncul alasan-alasan kemalasan itu. Seperti sibuknya kerja atau kondisi hati yang labil akibat diterpa badai bertubi-tubi. Tapi saya lebih suka seharusnya mengakui saja bahwa saya memang malas. Dan kalau mau jujur, sebetulnya gawai sudah membuat kemampuan membaca saya makin berkurang, makin “tak punya waktu”, makin sempit kesempatan.

Lebih dari itu, sebetulnya tidak ada alasan khusus. Untuk itulah tahun ini saya tetapkan 25 buku lagi yang akan diselesaikan. Tahun kemarin cukup jadi pelajaran.

Tahun kemarin saya membaca buku yang bagus-bagus. Novel Ayah Andrea Hirata, Novel Sampar Albert Camus, dan Takdir Peter Carey sangat saya nikmat.

Tiga kitab Imam Al-Ghazali adalah suplemen penting: Kimiya’ al-Sa’adah, Al-Risalah al-Ladunniyah dan Mizan al-Amal. Ketiganya menjadi semacam masukan penting selama tahun kemarin. Tahun depan insya Allah akan ada buku beliau lagi, sedang saya baca sekarang. Nanti, lihat saja buku apa.

Ta’lim al-Muta’allim saya baca secara sorogan kepada beberapa anak didik yang luar biasa. Mereka menyimak dan mencatat maknanya di sela-sela kosong antar baris, dicatat dengan bahasa Jawa menggunakan aksara Arab Pegon. Luar biasa sekali!

Buku Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, dan Ehsan Masood, Islam and Science, saya baca untuk bahan kuliah. Keduanya menawarkan wacana bagus sekali tentang tema agama dan sains, khususnya di dalam lingkup Islam. Tema ini tampaknya masih akan terus saya baca untuk melengkapi bahan ajar.[]

Joyeux Noël (Selamat Hari Natal)

merry-christmas-joyeux-noel-poster-0[Judul: Joyeux Noël | Rilis: 9 November 2005 | Pengarah: Christian Carion]

We’re talking about cease-fire, for Christmas

Di sebuah medan perang malam itu, tiga pasukan yang saling berusaha bunuh-bunuhan merayakan malam Natal bersama. Tanpa nyana, sehabis malam itu tak ada lagi perang antara ketiganya. Mereka malah berbagi minuman, bermain kartu atau sepak bola, bahkan saling melindungi dari serangan pangkalan masing-masing. Ajaib!

Semuanya bermula pada 18 Desember 1914, Paris, tepat seminggu sebelum Hari Natal. Di sebuah arena perang di Prancis, tiga pasukan membangun parit perlindungan masing-masing: infantri Jerman dipimpin oleh Horstmayer (Daniel Brühl), infantri Prancis dipimpin oleh Letnan Camille René Audebert (Guillaume Canet), dan infantri Skotlandia di bawah komando Letnan Gordon (Alex Frens). Jerman adalah musuh bersama. Prancis bersekutu dengan pasukan Skotlandia.

Ketiga pasukan itu saling serang dan mempertahankan posisi masing-masing. Korban berjatuhan. Peluru beterbangan dan bom meledak-ledak di arena itu tanpa ampun. Namun hingga sepekan peperangan, belum ada tanda siapa yang akan kalah dan siapa yang menang. Sialnya, seminggu sudah perang itu berlangsung, malam Natal harus mereka habiskan di medan perang terkutuk itu.

Pada saat malam Natal itulah sebuah kejadian tak lumrah terjadi. Ketiga pasukan itu berkumpul di parit masing-masing, dengan pengawasan minim kepada parit musuh. Di parit pasukan Skotlandia, mereka mengelilingi sebuah api unggun, meminum bir dan bernyanyi bersama. Anda tentu tahu alat musik khas Skotlandia yang unik itu: Bagpipe. Mereka bersama-sama menyanyikan lagu I’m Dreaming of Home, sebuah lagu yang tak pelak akan mengingatkan mereka akan hangatnya rumah di malam Natal.

Nyanyian mereka amat nyaringnya hingga terdengar ke parit pasukan Jerman. Dan lagu malam Natal itu amat masygul terdengar di situ, terdengar oleh orang-orang yang jauh dari keluarga akibat perang keparat itu. Kebetulan, di golongan pasukan Jerman terdapat seorang penyanyi opera, Private Nikolaus Sprink (Benno Fürmann). Lagu malam Natal itu disambut dengan suara tenornya yang merdu. Kembali, nyanyian itu membuat seluruh pasukan di medan itu tersentak. Sambutan lagu oleh Sprink begitu merdunya, membawa ingatan mereka kepada kerinduan yang membuat perang begitu menjemukan. Semua pasukan di situ betul-betul terpesona.

Pada saat itulah, Sprink membuat keputusan yang menentukan. Dia beranjak naik dari paritnya sembari bernyanyi. Dilihat oleh semua pasukan di situ, dia berjalan ke tengah-tengah medan tempur. Semua mata memandang padanya tidak percaya.

Respons yang diberikan oleh pasukan Skotlandia pun amat krusial. Si peniup Bigpipe mengiringi nyanyian Sprink. Dan saat itulah dimulai penjajakan—meminjam istilah Martin Buber—suatu ‘perjumpaan’ antar pribadi. Pemimpin pasukan Jerman, Letnan Horstmayer, dan pemimpin pasukan Skotlandia, Letnan Gordon, beranjak ke tempat Sprink berdiri, membincang sesuatu yang tidak terdengar. Baru ketika Letnan Audebert menyusul mereka, pembicaraan itu menjadi jelas: mereka membicangkan genjatan senjata untuk merayakan malam Natal! Ketiga pemimpin itu menyetujui rencana itu.

Begitulah, ketika para pemimpin sudah mencapai kesepakatan itu, para pasukan mulai berkumpul di situ untuk saling berjumpa. Kali ini mereka tidak lagi berjumpa untuk saling serang dan saling bunuh, namun untuk saling kenal dan saling membuka diri. Terlihat para pasukan itu saling memperkenalkan diri, saling menunjukkan potret istri, saling bertukar minuman, bahkan saling menamakan seekor kucing yang hidup berkeliling antar parit. Di satu sisi, adegan itu memperlihatkan suatu peristiwa yang mengharukan, di sisi lain, ia menunjukkan kejadian yang kocak dan mengundang tawa penonton. Anda akan merasakan kelegaan yang aneh setelah menonton adegan itu.

Tiga pemimpin infantri tampak bersulang. Mereka mengucapkan selamat Natal dalam bahasa masing-masing.Joyeux Noël, Frohe Weihnachten dan Merry Christmas diucapkan secara bergantian.

Setelah itu, film ini memperlihat kejadian-kejadian yang menakjubkan. Kondisi yang mereka alami bukan lagi kondisi perang, namun suatu kondisi persaudaraan yang saling bertukar kebahagiaan dan saling melindungi. Pernah di suatu pagi tiba-tiba Letnan Horstmayer, pemimpin infanteri Jerman, berdiri dengan gelisah di bibir parit pasukan Prancis. Moncong bedil pasukan Prancis sudah mengarah padanya, siaga dan siap memuntahkan peluru. Saat Letnan Audebert bertanya, apa maunya berdiri di situ, ternyata Letnan Horstmayer mau memberi tahu bahwa markas Jerman mau menghujani parit pasukan Prancis dengan bom, dan dia menawarkan parit Jerman agar infantri Prancis berlindung di situ. Bom Jerman tidak akan menyerang parit Jerman, bukan?

Sebaliknya, pasukan Prancis dengan senang hati membalas kebaikan itu. Dia menawarkan paritnya agar infantri Jerman bisa berlindung. Markas besar Prancis pasti akan mengirimkan serangan balasan tidak lama lagi.

Pengalaman malam Natal sebelumnya tiba-tiba mengubah medan perang itu seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi perang, tidak ada lagi lawan untuk dihabisi. Semuanya menjadi keluarga. Natal memang hanyalah sebuah momentum perayaan, namun manusia butuh momentum untuk sekadar berkumpul dengan orang-orang bernama keluarga dan handai taulan, orang-orang yang bisa menjadi tempat kita membuka diri dan bisa kita percaya mereka mau menerima kita apa adanya.

Perang adalah momen yang memaksa kita menutup diri dan menjadikan orang lain sebagai lawan untuk dihabisi tanpa sisa. Selalu ada pembenaran dalam perang untuk mencabut nyawa musuh, entah dengan alasan balasa dendam, perlindungan diri, atau bahkan agama sekalipun tak luput dari perannya membenarkan perang.

Namun, film ini mengajak penonton untuk melihat peran agama sebagai pelerai perang. Agama, yang di film ini disimbolkan dengan perayaan Natal, seharusnya menjadi momen di mana rasa kebersamaan bisa membuahkan kedamaian. Meskipun malam itu yang berkumpul adalah para pasukan yang sebetulnya sedang berperang, namun agama membuat mereka berkumpul tak ubahnya seperti keluarga.

Barangkali, film ini juga menjadi sebuah ajakan bahwa agama masih menjadi harapan yang bisa diandalkan. Meski tidak bisa dimungkiri bahwa agama kadang malah menyulut perseteruan dan perang, namun masih banyak orang yang menganut keyakinan kokoh bahwa agama adalah sumber kedamaian dan kesejukan. Keampuhannya pun tidak bisa diremehkan. Kedamaian yang ditawarkannya justru menyasar target yang sangat sublim dari manusia: kebutuhan manusia akan rasa aman.[]

Catatan:
Omong-omong, sekarang sudah bulan Desember. Anda tahu, bukan, di bulan Desember biasanya ramai soal boleh-tidak bolehnya umat Muslim mengucapkan selamat Natal? Ulasan film ini bukan bermaksud untuk meramaikan keributan yang seringkali tidak produktif itu.

Hari Guru

Guru itu ditiru dan digugu, kata pepatah Jawa. Berkat pepatah ini, kita punya lema “gugu” dalam Bahasa Indonesia, serapan dari Bahasa Jawa. Jadi, apa pengertian kata itu sebetulnya?

KBBI daring memberikan arti harfiahnya: “memercayai; menuruti; mengindahkan.” Dengan demikian, guru adalah orang yang murid percayai untuk membantu perkembangan dirinya. Oleh karena kita percaya pada guru maka kita menurutinya dan mengindahnya.

Kita tidak akan manut begitu saja kepada orang yang tidak kita percayai. Kita tidak akan mengindahkan omongan dan anjuran tukang jamu, misalnya, jika kita tidak percaya bahwa jamu yang dia tawarkan memiliki kemanjuran. Pada saat Anda tidak mau meminum jamu yang dia tawarkan, saat itulah Anda sedang tidak menggugunya.

Demikianlah, kata “gugu” terutama terletak dalam pengertian suatu kepercayaan. Kandungan pengertian ‘menuruti’ dan ‘mengindahkan’ adalah efek tak terpisahkan semata dari kandungan pengertian ‘percaya’ ini.

Seorang guru itu digugu, sebab proses perkembangan pribadi seorang murid dipercayakan dan dipasrahkan kepadanya. Tanpa adanya kepercayaan ini, murid tidak mengkin menggugu (entah melalui penurutan maupun pengindahan) sang guru, dan oleh karena itu proses pendidikan tidak akan berjalan lancar.

Problemnya: kualitas kepercayaan ini makin keropos mengingat kepercayaan murid untuk berkembang makin terbelah. Jika mau jujur, tayangan televisi makin mendapat tempat dalam kepercayaan publik. Murid pun tidak terkecuali, kepercayaan kepada televisi makin membesar. Dan parahnya, kepercayaan ini tampak dalam tindakan sehari-hari mereka. Singkat kata, sebetulnya televisi pun sedang digugu.

Internet pun begitu. Ia sebetulnya makin digugu. Buktinya, tindakan kita yang selama ini dituntun dan diarahkan internet bisa dibilang tidak sedikit, bukan?

Nah, perlu diakui dengan jujur, sebetulnya kita tidak sedang menggugu guru semata dalam keseharian kita. Guru hanya salah satunya saja. Di hari guru nasional ini, sebetulnya kita sedang merayakan siapapun atau apapun yang kita percaya, sehingga kita menuruti dan mengindahkannya dalam kehidupan sehari-hari kita.[]

Barangkali Mereka Syiah

Barangkali mereka Syiah. Ya, barangkali saja. Sekarang kan sedang meningkatnya perpecahan Sunni-Syiah.

 

 

 

 

 

 

Muhammad Nour, The Harmony Band

Anda suka lagu reliji? Saya tidak terlalu. Maksudnya, saya tergolong pilih-pilih soal lagu reliji, sebagian saya suka, sebagian malah ogah saya dengarkan. Tak terkecuali lagu salawat.

Ini bukan sebentuk keengganan kepada agama atau salawat. Tolong bedakan antara agama/salawat dengan lagunya.

Di antara lagu salawat yang saya anggap bagus adalah video di atas. Akhir-akhir ini saya sering mendegarkannya via Youtube. Judulnya Muhammad Nur, dinyanyikan oleh The Harmony Band. Asyik lagunya. Liriknya juga oke.

Perihal Lirik

يا ربي بالمصطفى بلغ مقاصدنا واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم
هو الحبيب الذي ترجى شفاعته لكل هول من الاهوال مقتحم

يا ربي بالمصطفى بلغ مقاصدنا واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم

محمد نور محمد نور مديحو زاد فينا سرور
مشي فينا بدرب النور
محمد نور
محمد نور

يا رسول الله سلام عليك يا عظيم الجاه والكرم

وطر على ناقة الاشواق في سحر ما اطيب الوصل حظا حين تقترب

نعم سرى طيف من اهوى فارقني والحب يعترض اللذات بالالم

فالتوسل هو طلب حصول منفعة او اندفاع مضرة من الله بذكر اسم نبي او ولي اكراما للمتوسل به
الطلب من الله لان الانبياء والاولياء لا يخلقون مضرة ولا منفعة ولكن نحن نسال الله بهم رجاء تحقيق مطالبنا
فنقول

يا ربي بالمصطفى بلغ مقاصدنا واغفر لنا ما مضى يا واسع الكرم
يا خير من دفنت بالترب اعظمه فطاب من طيبهن القاع والاكم

يا رسول الله سلام عليك يا عظيم الجاه والكرم

شد الرحال الى القبر الذي قصدت ترجو التبرك منه العجم والعرب

محمد سيد الكونين والثقلين والفريقين من عرب ومن عجم

محمد نور محمد نور مديحو زاد فينا سرور
مشي فينا بدرب النور
محمد نور
محمد نور

فاق النبيين في خلق وفي خلق ولم يدانوه في علم ولا كرم

يا رسول الله سلام عليك يا عظيم الجاه والكرم

عظم تولى ترنم كرم احترمن اتبع تنسك تنل تعظيمه يجب

وانسب الى ذاته ما شئت من شرف وانسب الى قدره ما شئت من عظم

فالتوسل هو طلب حصول منفعة او اندفاع مضرة من الله بذكر اسم نبي او ولي اكراما للمتوسل به
الطلب من الله لان الانبياء والاولياء لا يخلقون مضرة ولا منفعة ولكن نحن نسال الله بهم رجاء تحقيق مطالبنا
فنقول

محمد نور محمد نور مديحو زاد فينا سرور
مشي فينا بدرب النور
محمد نور
محمد نور

فمبلغ العلم فيه انه بشر وانه خير خلق الله كلهم
محمد سيد الكونين والثقلين والفريقين من عرب ومن عجم
هو الحبيب الذي ترجى شفاعته لكل هول من الاهوال مقتحم

محمد نور محمد نور مديحو زاد فينا سرور
مشي فينا بدرب النور
محمد نور
محمد نور

Lirik di atas tampaknya adalah comotan dari beberapa syair pepujian kepada Kanjeng Nabi yang sudah masyhur. Saya mengenalnya beberapa, dicomot Diba’i dan Burdah. Sebagian lagi liriknya tidak saya kenal. Apakah itu ciptaan grup ini sendiri atau juga mencomot dari qoshidah yang sudah masyhur, belum bisa saya jawab.

Yang menarik adalah sebagian lagunya mirip dengan lagu salawat-nya Haddad Alwi yang berjudul “Rindu Muhammadku.” Rupanya Haddad Alwi memplagiasi lagu ini. Terbukti bahwa lagu Haddad Alwi dirilis pada tahun 2010, sedang grup ini berdiri tahun 2003.

Sebagian lirik juga dinyanyikan secara ngerap. Itu khusus pada lirik yang menjelaskan tentang keabsahan tawasul dengan nama Kanjeng Nabi.

Perihal Para Grup.
The Harmony Band tidak begitu akrab di telinga saya. Lagu-lagunya tidak masyhur di Indonesia. Sedikit sekali informasi yang bisa saya dapatkan di internet.

Informasi tentangnya hanya penjelasan tentang visi mereka dan nama-nama personelnya. Ini saya comot dari laman Facebook mereka:

Who are The Harmony Band?
Harmony Band is a group of youth that started from Lebanon in 2003 with four members and expanded to end up with professional charismatic influencers. Each member enjoys characteristics & talents, which influence the youth in hearing their message in a way that is accepted by many people from the recent generations. Harmony band’s message is to build awareness in people, especially the youth, in to seeing the true image of Islam and to guide people to the right path and teachings of the Prophets, as well as, denouncing terrorism and anything that gives a bad image about Islam. Harmony Band’s music is very diverse; they use different styles mostly mixing oriental and western music to come up with a style that is new and innovative.

 Lalu di akun Soundcloud mereka, ada keterangan tambahan tentang para personelnya:

Members: Adam Ali, Hamzah Makhzoumi, Saad Baghdadi, Mohammad Joumaa, Mazen Joumaa, Riad Amash, May Joumaa, Angy Darwish, Latifa Adham

Semuanya ada sepuluh orang, 3 perempuan dan sisanya lelaki.[]

Coban Sewu Malang

Dikunjungi pada 18 Agustus 2015. Ada dua pintu untuk mencapainya: melalui Malang atau Lumajang, karena memang lokasinya di perbatasan dua kabupaten itu. Saya anjurkan masuklah dari pintu Malang, jalannya ekstrem, lebih mengasyikkan.