Lennon Dan Maisy

Nah, belakangan ini saya sedang kesemsem sama penampilannya duet cakep ini: Lennon dan Maisy Stella. Mereka dua bersaudara. Sama-sama jagoan nyanyi.

Yang bikin menarik didengar dari lagu-lagu mereka sebetulnya si Maisy, penyanyi yang lebih muda. Sudah cakep, imut menggemaskan, suaranya bagus lagi. Setiap kali menontonnya di Youtube, saya selalu melihat si Maisy beraksi. Tingkah polahnya kerapkali bikin gemas.

Ada empat lagu yang selalu saya putar ulang.

1. Big Yellow Taxi

Klip ini adalah versi cover dari lagunya Joni Mitchel. Pernah dibawakan oleh Counting Crows bersama Venessa Carlton dengan sangat bagus. Namun, Lennon dan Maisy membawakan jauh lebih bagus lagi. Lirik lagu ini juga sangat bagus, sangat relevan dengan keseharian kita yang makin jauh dari kelestarian alam. ya, lagu ini memang bercerita tentang kehidupan.

2. In The Waves

Lagu ini adalah lagu mereka sendiri. Mendengarkannya, saya serasa mendengar lagu anak-anak. Just use your imagination, You can have a dream vacation. Asyik.

3. Love

Nah, ini yang paling bagus dari yang lain. Lagu ini terdengar seperti dakwah di telingaku. Dakwahuntuk menjaga alam. Liriknya puitis sekali.

4. Boom Clap

Ini juga versi cover dari lagunya Charli XCX. Lagunya sih biasa, menurut saya. Hanya karena mereka yang menyanyikannya, dan karena saya senang sekali mendengarkan suaranya Maisy, lagi ini jadi saya putar berulang-ulang.

Menjadi Pasukan Anti Hoax

Akhir-akhir ini, sejak ada kesadaran menggunakan jagad siber sebagai medan perang di Indonesia, internet yang kita gunakan sehari-hari tiba-tiba menjadi riuh, gaduh dan serba hiruk-pikuk. Informasi menjadi ibarat laser (bukan panah, ini sudah jaman canggih) yang melesat ke sana-kemari, siap mengenai siapapun.

Sangking banyaknya seliweran informasi ini, sulit dikenali mana yang benar dan mana yang lancung. Parahnya, karena yang terjadi adalah perang maya, karena masing-masing sedang menghujani lawannya dengan peluru informasi, tidak sedikit dari informasi ini berupa hoax.

Internet itu tak ubahnya seperti kolam, sekali sebuah informasi dicemplungkan ke situ, kita sudah tak punya kendali lagi atasnya. Tidak sedikit yang membagikan hoax itu adalah orang yang tidak tahu bahwa itu adalah hoax. Hanya ada satu orang yang membuat hoax, namun yang menyebarkan dan membagikannya bisa ribuan tanpa pernah diperkirakan sebelumnya.

Yang bikin makin jengkel lagi, banyak hoax bertebaran mengatasnamakan agama. Parahnya, yang laris manis di negeri kita ada yang macam begini ini. Saya membayangkan ada orang yang di dunia nyata sebentar-sebentar baca tahmid atau tasbih, tapi di dunia maya tiba-tiba jadi sosok yang suka mencaci-maki, meskipun pakai akun palsu.

Anti-Hoax Troops
Menurut saya, mereka yang mencegah dan membongkar hoax sama mulianya dengan mereka yang mengkhotbahkan kebenaran. Qul al-haqq wa law kana murra  juga bisa berarti bongkarlah hoax meski itu pahit.

Di batas tertentu, saya bahkan ingin menjadi bagian dari para pembongkar hoax ini. Menjadi pengkhotbah kebenaran semata rasanya terlalu mainstream.

Untungnya, di sekitar kita sudah banyak orang-orang yang pekerjaannya adalah  memburu dan membongkar hoax. Saya bersyukur ternyata kegiatan anti hoax ini banyak pasukannya.

Di dalam negeri, terdapat Indonesian Hoax. Di web ini, kita juga bisa berkontribusi. Nah, benar bukan? Kita bisa menjadi bagian dari pasukan anti hoax. Selain berkontribusi, kita juga bisa bertanya tentang ragam berita yang tersebar di internet, apakah benar atau lancung? Web ini punya akun Facebook, Google+, dan Youtube.

Dari luar negeri juga banyak web anti hoax, seperti Hoax-Slayer dan Snopes. Tapi karena ia di luar negeri, tentu citarasa beritanya tidak seperti bikinan dalam negeri. Problem hoax di luar sana banyak yang tidak relevan untuk dalam negeri.

Karena itu, saya juga meminta pembaca memberi tahu saya kalau punya web lain yang pekerjaannya berburu dan membongkar hoax itu. Ini penting, sebab budaya berinternet masyarakat kita bisa dibilang belum matang, belum sehat. Kita masih berupa masyarakat yagn sepenuhnya melek media. Keadaan ini dimanfaatkan oleh banyak orang tak bertanggung jawab. []

Ramadan, Bulan Penuh Berkas!

Kita sudah sampai ke paruh kedua bulan Puasa. Tidak terasa, kan?

Bagi saya, cepatnya waktu berlalu justru karena kesibukan yang makin padat. Selama bulan puasa ini, persiapan berkas kantor malah semakin mendesak. Pekerjaan pun makin menumpuk.

Memang betul, bulan puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Seharusnya, meski sedang puasa kita tetap segesit dulu dalam pekerjaan. Tapi rupanya teori itu sulit juga diterapkan.

Kenyataanya, kinerja saya makin lambat di siang hari. Sedang di malam hari, stamina dan konsentrasi saya lebih maksimal. Bekerja malam hari lebih produktif ketimbang siang hari. Itu tidak ideal, memang.

Sehari-semalam selama bulan ini, kegiatan saya berjalan rutin sebagai berikut. Siang hari sehabis zuhur, saya berangkat ke kantor (Ini tidak seperti biasanya. Biasanya saya berangkat jam 9 pagi). Tiba di kantor, saya akan langsung buka laptop dan menekuninya hingga jelang magrib (biasanya, sesampai ke lokasi saya masih bisa bersosialisasi. Kali ini tidak bisa!).

Itulah kesempatan bersosialisasi, yakni jelang-jelang buka puasa hingga salat magrib. Sehabis magriban, saya langsung menghadap laptop lagi hingga isya. Sehabis tarawih, saya langsung menyiapkan berkas bersama teman kantor lain, menyusunnya sesuai standar yang tersedia, mencocokkannya dengan daftar data, dan lain-lain. Saat ini juga saya bisa menyela-sela sosialisasi bersama teman sekantor.

Kami semua akan pulang paling lambat jam 11 malam. Sehabis itu, langsung nyosor di kasur. Tidur. Bangun jam setengah 4 buat sahur. Sehabis subuh, nyosor lagi sampai siang jelas zuhur. Sehabis zuhur berangkat ke kantor lagi.

Bulan puasa ini dijamin akan minim bermalas-malasan, minim liburan dan piknik, minim baca buku dan nonton film bagus. Semua terserap di pekerjaan. Inikah kehidupan normal? Semoga bukan.[]


Catatan Bahasa:
Orang-orang di sini sangat terbiasa menggunakan kata “visitasi”, yang merujuk pada kunjungan asesor untuk menguji dan mengaudit berkas akreditasi yang kami ajukan beberapa bulan lalu. Ini istilah apa pula ini?

KBBI menyebutkan artinya harfiah kata ini sebagai “kunjungan”. Di situ dicontohkan: kegiatannya antara lain melakukan (visitasi) ke Penang. Ah, ternyata kata ini ada dalam KBBI. Syukurlah….

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

mhilal:

Benarkah sebaiknya berbuka puasa dengan makanan yang manis-manis? Begitukah yang dianjurkan oleh Rasulullah? Tulisan ini menjawab pertanyaan itu dengan baik. Juga tertera bagaimana sebaiknya memahami anjuran Kanjeng Nabi soal berbuka puasa, agar tidak serba harfiah memahami sebuah hadis. Itu perlu.

Originally posted on Suluk Blog : ::

Oleh Herry Mardian

SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat ‘Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana

View original 2,120 more words

Liburan Jelang Ramadan

Selama seminggu sejak hari ini, saya bisa menikmati liburan. Mantap! Aktivitas selama satu semester kemarin tidak bisa dibilang padat, tapi lumayan menguras tenaga juga. Nah, liburan kali ini adalah berkah, saya bisa melepas penat barang sepekan.

Di liburan ini, ada beberapa rencana kegiatan santai. Iya, kegiatan santai, soalnya kalau selama liburan pun kita harus tetap berkegiatan, sebab meringkuk di rumah terus tanpa kegiatan tidak akan membuatmu lepas dari kelelahan. Dan juga harus santai, sebab kalau tidak santai ia tidak bisa menjadi pelepas penat.

Jadi saya harus berkegiatan santai selama seminggu ini. Saya butuh piknik, saya butuh melahap buku dengan lebih leluasa, saya butuh ngakak-ngakak bareng teman-teman sejawat, saya juga butuh me…. Ah, yang satu ini sebaiknya rahasia.

Saya juga berencana memutus hubungan internet selama sebulan ini demi memaksimalkan ritus pelepasan penat. Harap maklum, berinternet setiap hari itu melelahkan. Waktu yang sebelumnya saya gunakan untuk berinternet, kali ini akan saya gunakan untuk kegiatan santai itu.

Untuk rencana yang terakhir ini, semoga saya bisa melakukannya. Godaannya, saya yakin, akan sangat kencang.[]