Pantang Menangis Saat Menonton Film India

“Pantang menangis saat nonton film India,” jargon ini dianut oleh kebanyakan kaum lelaki. Haram hukumnya. Meruntuhkan wibawa. Kenapa? Sebab hal itu bertentangan dengan watak maskulinitas.

Pada dasarnya, kaum lelaki tidak menolak kenyataan bahwa menangis pun sebetulnya salah satu kebutuhan psikologis. Dalam kondisi umum, lelaki menangis itu biasa, lumrah terlihat di mana-mana. Hanya saja, kalau pemicunya adalah karena menonton film India, itu sudah keterlaluan. Amat tidak pantas. Layak dipertanyakan kelelakiannya.

Setidaknya, itulah yang dianut lelaki di kampungku. Jargon itu berkaitan dengan film India karena muncul di era awal 2000-an, yakni ketika film seperti Kuch Kuch Hota Hei, Mann dan Dil To Pagal Hei dan lain-lain sedang jadi tren. Kini film India sudah tak sekeren dulu di benak orang-orang kampungku. Mereka sekarang sudah beralih ke serial Mahabharata dan Jodha Akbar, animonya tidak seantusias dulu.

Antusiasme itu malah menimbulkan cerita-cerita menarik. Ini adalah beberapa di antaranya.

***

Saat booming-nya film Kuch Kuch Hota Hai, salah seorang temanku mengaku belum menontonnya. Karena itu dia diledek habis-habisan, dikatai kurang gaul atau tak tahu film bagus. “Parah, film bagus begitu kok belum kau tonton,” kata teman-temannya.

Tak tahan menanggung malu, dia menyewa cakram film itu di rental terdekat. Karena di rumahnya dia tak punya pemutar video, dia minta izin menonton di rumah temannya. Temannya mempersilakan. Sempurna, pikirnya. Besok dia akan bercerita ke teman-temannya bahwa dia sudah menonton film itu dan mereka akan berhenti meledeknya.

Betul, pikirnya. Film itu memang bagus. Buktinya, saking sedihnya dia sampai menangis saat menontonnya. Betul-betul film bagus, gumamnya.

Keesokan harinya, saat dengan penuh percaya diri dia berkunjung ke teman-temannya, belum sempat menceritakan pengalamannya di hari sebelumnya dia sudah ditertawakan sebagai lelaki cengeng. Mampus, rupanya pemilik rumah tempat dia menonton kemarin bercerita ke teman-temannya bahwa dia menangis saat menontonnya. Ledekan itu bertahan selama 2 minggu penuh, dan selama itu pula dia menanggung rasa malu.

***

Kali ini semua sudah tahu aturannya: tidak boleh ada yang menangis saat menonton film India. Tapi, dasar orang kampung, mereka masih saja suka film India. Mereka masih suka menyewa CD film drama India di rental terdekat, lalu menontonnya bareng-bareng.

Di tengah-tengah menontonnya, saat hati mereka mulai sesak karena terharu, mereka akan menoleh ke temannya dan mendakwanya bahwa mata temannya itu berkaca-kaca. Padahal itu hanya kedok belaka untuk menetralkan hatinya yang mulai terpengaruh alur film. Itu hanya kedok agar dia tak ketahuan bahwa dia akan menangis.

Semua begundal itu melakukan cara ini satu sama lain.

***

Pernah terjadi sebuah skandal.

Malam itu, mereka menonton film drama India bareng-bareng. Salah satu dari mereka mengusulkan, biar seru lampu ruangannya dipadamkan saja. Yang lain setuju.

Nah, di tengah-tengah menonton, lelaki yang mengajukan usul tadi tidak kuat menahan haru. Dia menitikkan air mata. Film ini memang bagus, bisa membuatnya tak bisa menahan menitikkan air mata. Tapi ini gawat, yang lain akan tahu semua, dan reputasinya akan hancur malam itu juga.

Sungguh mati, dia makin khawatir saat film itu sudah rampung. Inilah saat dia akan diledek oleh teman-temannya, sebab matanya akan tampak merah akibat menangis. Habis sudah reputasinya, pikirnya.

Tapi sungguh kaget saat lampu dinyalakan—ya kaget campur lega, sebetulnya. Ternyata yang lain juga menangis. Mata mereka merah semua akibat menangis. Ternyata, saat semuanya sedang menonton tadi, masing-masing pada khawatir semua dan berpikir bahwa inilah akhir reputasi mereka. Mereka sama-sama tidak tahu bahwa semuanya sebetulnya juga menangis.

Tawa mereka langsung meledak malam itu.

***

Akhirnya, salah seorang temanku mulai punya kesadaran baru. Tapi ini rahasia.

Menurutnya, film drama India itu kadang harus dinikmati. Cara menikmatinya yang harus dihayati. Dalam standar awamnya, penghayatan tertinggi saat menonton film drama India adalah saat penonton mampu menangis di depan layar TV.

Hanya saja, perlu ditegaskan bahwa itu tetap harus dirahasiakan.

Hari itu, dalam rangka mencapai puncak penghayatan menonton drama India, dia menyewa sebuah cakram film India sekaligus pemutar video. Dia akan menonton film itu sendirian di kamarnya. Dia sudah bertekad, dia akan menangis nanti, tanpa sepengetahuan siapapun—sebab kalau ketahuan, dia bisa diledek tujuh turunan. Di sampingnya sudah tersedia tissue.

Namun gagal total. Film itu memang mengharukan, tak disangsikan lagi. Tapi entah mengapa matanya seperti beku, tak mau mengeluarkan air mata. Bahkan, sungguh mati, dia berusaha agar menitikkan air mata, tetap tidak bisa. Apa-apaan ini?

Itulah pertama kali dalam sejarah kesombongan ego kaum lelaki, saat mereka butuh mengekspresikan sisi maskulinitasnya, keinginannya tak tercapai.[]

Mengudara

Kanjuruhan FM 24-01-15 - 26

Tampaknya, persoalan-persoalan remaja akan menjadi perhatian saya hingga beberapa saat ke depan. Ini bukan berdasarkan rencana yang matang, sebetulnya. Saya tiba-tiba saja harus melakukannya. Tinggal mengondisikan mental saja sebetulnya.

Kemarin mendapat tugas dari kantor untuk menjadi nara sumber dalam dialog interaktif di frekuensi 106.5 FM, di Kepanjen. Tema yang harus saya angkat adalah persoalan-persoalan remaja. Kampret! Tema itu tidak saya kuasai dengan baik. Tapi ya sudah, saya terlanjur mengiyakan sebelum dikasih tahu tema yang harus saya bicarakan.

Berhubung harus tema itu yang harus saya bahas,  saya diminta agar membikin temanya jadi lebih spesifik lagi. Biar fokus, katanya. Jadinya adalah “kiat-kiat mencegah kenakalan remaja”. Jiasik! Apa pula itu?!

Berbekal nekat dan data seadanya, saya meluncur ke TKP. Saya bicarakan apa itu kenakalan remaja, bentuk-bentuknya, sebab-sebabnya yang paling umum, lalu kiat-kiat sederhana dan praktis bagaimana pencegahannya.

Sembari bicara ini-itu, pembawa acaranya sekali-kali membacakan atensi dari pendengar. Tak disangka, para pendengar ternyata banyak yang suka bertanya soal remaja dan media sosial. Tampaknya, para orang tua mengalami kekhawatiran di bidang ini.

Saya pun mual-mual mengetahui ternyata pendengarnya lumayan banyak. Saya usahakan jelaskan bagaimana itu berinternet yang sehat, terutama buat remaja dan anak-anak. Saya tekankan agar orang tua mendorong anak-anak bermedia sosial secara produktif, bukan konsumtif. Kebanyakan pengguna media sosial kita konsumtif. Itu jelas tidak sehat. Sebaiknya didiklah anak-anak agar bermedia sosial secara produktif.

Salah satu bentuknya ya mengelola blog.

Sepulangnya, pundak saya ditepuk-tepuk oleh Pak Bos. Dia bilang, “Bulan depan Anda akan mengudara lagi.” Parahnya, si Pak Bos ini menepuk pundak saya tanpa ekspresi, seperti biasanya. Saya tak bisa menangkap kesan, apa dia puas ataukah kecewa dengan kerja saya mengudara.[]

Ustaz Kates

Nama aslinya tentu bukan itu. Itu hanyalah panggilan untuknya oleh kawan-kawan lamanya. Alasannya sederhana: karena dulu dia kerap menyimpan pepaya di lemari kamarnya untuk makan.

Julukan itu mengandung ledekan dan kekaguman sekaligus. Teman-teman lamanya menjulukinya demikian, di satu sisi, karena mereka tak bisa melupakan kebiasaan lamanya dan, di sisi lain, karena tak menyangka kemampuan keagamaannya lebih unggul dari mereka.

Kebiasaan lama itu bermula saat Ustaz Kates masih menimba ilmu di pesantren. Berasal dari keluarga tak mampu di Kalimantan Barat—diperparah pula dengan kisruh etnis di Kalbar awal tahun 2000-an—kiriman duit dari orang tuanya sangat terbatas. Bahkan pernah orang tuanya tak mengirimnya duit hingga 3 bulan berturut-turut.

Menyadari keterbatasannya, Mat Kates—begitu julukannya waktu di pesantren—tak menyerah menimba ilmu di pesantren. Dia tak pernah memaksa orang tuanya mengirim duit. Dia menjajaki kemungkinan lain untuk makan. Dan, hebatnya, dia mendapatkannya.

Di sekitar pesantren, sebagian penduduk berkebun pepaya. Mat Kates melihat kebun-kebun itu sebagai peluang menyambung hidup. Caranya agak nakal juga. Dia mengunduh beberapa buah tanpa sepengetahuan pemiliknya. Setelah sehari atau dua hari, dia akan meminta izin kepada pemiliknya seolah-olah baru tadi siang dia mengambilnya. Dasar orang kampung, pemiliknya tentu mengizinkan seseorang mengambil buah kebunnya barang dua-tiga biji, asal minta izin saja.

Saat kiriman duit dari orang tuanya telat (dan itu sering terjadi) dia akan berekspedisi dari satu kebun ke kebun lain, berpindah-pindah, biar tak terkesan terlalu sering minta pepaya. Sekali ekspedisi, dia bisa bertahan hidup selama 2-3 hari. Lumayan.

Berkat kebiasaan tak lumrah itu, teman-temannya di pesantren menjulukinya Mat Kates.

Belum lagi jika dilihat dari aspek kenakalannya di pesantren. Barangkali karena terlalu sering kelaparan, dia jadi sosok pemalas. Dia suka tidak masuk sekolah atau kegiatan pesantren lain. Kena hukum, kena takzir, kena tempeleng kiai, sangat sering dia dapat. Mat Kates menjadi julukan yang mengandung kesan tak nyaman. Betul-betul tak dinyana bahwa di kemudian hari masyarakat akan memercayainya untuk menjadi seorang ustaz.

Di pesantren, Mat Kates bukan pula orang yang sangat brilian dalam pelajarannya. Nilainya di mata para gurunya biasa-biasanya saja. Bahkan, karena dia pemalas, dia sering terlambat mengikuti pelajarannya.

Singkat kata, track record-nya di pesantren dulu tidak menggambarkan masa depan sebagai seorang ustaz.

Pulang dari pesatren, Mat Kates lalu kerja serabutan. Di rumah asalnya di Kalimantan Barat sana, dia memulai segalanya dari nol. Tak jelas apa ambisi hidupnya sebetulnya.

Lalu dia berkeluarga sehabis berhasil mempersunting seorang gadis. Setelah itu, dia mulai membuka usaha bengkel kendaraan bermotor. Usahanya membuahkan hasil, dia mulai punya beberapa pegawai. Kerja kerasnya mulai tampak dari situ.

Saat itulah dia mulai punya waktu luang lebih banyak. Waktu luangnya lantas membuatnya mungkin untuk salat jamaah di mesjid dekat rumahnya. Entah kenapa orang-orang itu, tak lama kemudian dia diminta ngimami masjid itu. Lalu pas hari Jumat, dia juga diminta khutbah.

Teman-temannya kaget bukan kepalang. Apa maksudnya ini? Sejak kapan Mat Kates melakukannya? Apa yang sudah dilakukannya hingga masyarakat memercayainya? Bahkan namanya makin kondang. Mat Kates makin sering tampil ceramah ke mana-mana, saat Isramikraj, Nuzululquran, maulid Nabi, tahun baru Hijrah. Serba tampil ke mana-mana.

Sejak saat itulah julukan itu muncul: Ustaz Kates. Teman-temannya tak mungkin melupakan kenangan bersama waktu di pesantren itu. Mat Kates pun tersipu-sipu dipanggil Ustaz. Di hadapan teman-temannya, dia masih tetap rendah hati.[]

Serba-serbi Liburan

Manusia itu memang ada-ada saja—ya saya ini termasuk di antaranya. Pas tugas dan pekerjaan menumpuk, bawaannya kepingin cepat liburan dan santai-santai di teras rumah bersama secangkir kopi hangat. Nah, sekarang sudah liburan dan tak ada pekerjaan, bawaannya malah bingung,  sumpek, lalu merasa jadi seorang pengangguran. Pinginnya ada aktivitas apa begitu. Yang positif-positiflah.

Kemarin, saat harus menanggung tugas kepanitiaan, sekaligus garap berkas kantor, sekaligus mengajar, sekaligus ujian Madrasah Diniyah, sekaligus UAS buat mahasiswa, sekaligus jadi pembimbing mahasiswa yang KKN, sekaligus ini-itu, semua itu membuat jiwa rasanya tertekan. Seolah-olah, semuanya membikin sengsara. Kepingin buru-buru selesai semua.

Saat semua itu selesai, memang ada rasa lega juga.  Waktu lowong lalu saya gunakan untuk menjadi pemalas. Kerjaannya cuma kumpul-kumpul bareng teman-teman sambil ketawa-ketiwi,  atau berselancar di internet berjam-jam, atau baca buku di kesunyian beberapa saat, atau main Playstation semalaman, atau sekadar tiduran saja.

Tapi tak bertahan lama. Rasa lega itu hanya sebentar. Hanya dalam hitungan hari. Sehabis itu, saya merasa seolah miskin produktivitas, fakir kreativitas, pengangguran, tak berdaya, kurang percaya diri, dan lain-lain rasa negatif. Ini tidak benar!

Lalu teringat ini: khuliq al-insaan haluu’aa (manusia tercipta dalam keadaan selalu mengeluh). Owalah… Owalaaahhh…[]

Ragam Fungsi Klakson

klaksonHampir semua ornamen dan peralatan dalam mobil atau sepeda bermotor itu awalnya dibikin demi keselamatan dan kenyamanan pengemudi atau orang kebanyakan. Termasuk di antaranya penemuan klason, tentunya tidak by chance, tidak kebetulan. Benda itu diciptakan untuk tujuan serius.

Nah, seiring perjalanan waktu, juga persebaran distribusi kendaraan bermotor makin luas, sehingga dipakai oleh berbagai budaya dan adat kebiasaan, maka klakson pun mengalami pribumisasi dan perubahan makna. Klakson tiba-tiba tidak sekadar berfungsi untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan pengguna dan orang kebanyakan.

Nah, di tempat saya, beberapa tambahan fungsi ini ada beberapa. Sebagaian lucu, sebagian lagi menjengkelkan.

~ Untuk Saling Sapa.

Ini baru saya sadari, kebiasaan orang sini membunyikan klakson juga berfungsi menjaga sopan santun. Caranya sederhana. Kalau kamu berpapasan dengan orang yang kau kenal, bunyikanlah klakson, lalu sunggingkan seutas senyum manis. Kalau yang kau papasi orang yang lebih tua, akan lebih afdol kalau sambil menundukkan badan (seolah ngapurancang di hadapannya), aplikasi unggah-ungguh saat berkendara.

~ Untuk Memanggil Penumpang.

Nah, ini berlaku dalam keluarga saya. Ada beberapa anggota keluarga yang tersohor lama berkemas-kemas. Terutama anggota keluarga yang perempuan. Bagi sopir yang tidak sabaran, membunyikan klakson berarti sinyal agar si calon penumpang buru-buru naik mobil. Bisa dimaklumi, untuk menunggu penumpang yang lama berkemasnya ini, si sopir bisa menunggu di mobil hingga setengah jam. Bahkan ada yang hingga satu jam. Bagi sopir bernasib sial ini, klakson bisa menjadi solusinya.

~ Saat Konvoi

Ini dia aspek menjengkelkan dari fungsi klakson. Di tempat saya  di sini, konvoi paling sering dilakukan saat ada pertandingan sepakbola. Stadion Kanjuruhan (markasnya Arema) berada hanya di kecamatan sebelah. Sehabis pertandingan, terutama saat Arema menang, para gibol itu konvoi sepeda motor dari stadion ke kecamatan sini. Parahnya, mereka membunyikan klakson bareng-bareng. Tet tet tet teeet teeet…. begitu berulang-ulang. Ramai-Ramai. Pekak telinga.[]

Tahun Ketujuh

happy anniversary

 

Betul-betul tidak dinyana, usia blog ini sudah tujuh tahun rupanya.

Seperti notifikasi yang dikirim oleh WordPress di atas tertanggal 4 Januari kemarin, saya berterima kasih banyak kepada WordPress sebanyak-banyaknya. Juga saya akan terus ngeblog.

Bahwa akhir-akhir ini saya makin sibuk, tak jadi soal. Saya masih kepingin terus ngeblog.[]

Riwayat Buku Tahun 2014

books of 2014

Seperti biasa, target baca buku tahun 2014 cuma 25 buku. Tidak banyak. Tapi hanya berhasil 24, kurang satu biji.

Dari sejumlah itu, beberapa di antaranya berupa novel atau kumpulan cerpen. Kebanyakan adalah novel-novelnya Haruki Murakami. Penulis satu  ini, tak bisa dipungkiri lagi, memang dahsyat. Sputnik Sweetheart, Kafka of the Shore dan Norwegian Wood berhasil saya habiskan.

Yang tak kalah spektakuler adalah novelnya Khaled Hosseini, The Kite Runner. Lelaki ini bisa mengaduk-aduk perasaan pembacanya sedemikian rupa. Novel ini berhasil mengelus-elus passion saya dalam membaca buku.

Burung-burung Manyar dan Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu adalah dua buku yang sejak dulu  ingin saya baca. Siapa tak kenal Romo Mangun? Siapa tak kenal Leo Tolstoy? Kedua buku itu adalah sebagian “buku wajib baca” yang berhasil saya baca tahun kemarin.

Selain novel, beberapa buku yang harus saya baca untuk kebutuhan menulis tugas akhir juga saya masukkan. Tentu saja, buku-bukunya Gilbert Ryle saya masukkan semua, plus bukunya A. Doni Koesoema, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global.

Untuk kebutuhan menulis book review di jurnal Pesantren, saya berhasil membaca beberapa bukunya Asef Bayat. Dengan membacanya, saya mendapat perspektif baru tentang penelitian sosial. Dengan membacanya, saya juga terbantu dalam memahami Islamisme atau aktivisme Islam Politik di beberapa negara, tak terkecuali di Indonesia.

Dua bukunya ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad berhasil saya baca, Ibn Rusyd dan Asy-Syaikh ar-Ra’is Ibn Sina. Dua buku itu saya baca untuk menambah informasi mengenai beberapa filsuf Muslim.

***

Membaca buku pakai target-targetan semacam itu belum lama saya lakukan. Pertama dilakukan pada tahun 2011, yakni ketika saya mengenal Goodreads.com. Situs ini memiliki fasilitas target baca buku bagi penggunanya. Awalnya saya cuma ikut-ikut pengguna lain, lama-lama kerasa manfaatnya dan keterusan.

Sebuah renungan menarik dari salah seorang teman cukup menggugah saya. Dia bertanya secara retoris: selama hidupmu kamu akan membaca berapa buku? Dia berandai-andai begini:

Bayangkan hidupmu tersisa 20 tahun lagi. Sejak sekarang (mumpung masih tahun baru), kamu menargetkan secara rutin akan membaca buku sebanyak 25 per tahun. Dengan demikian, selama sisa hidupmu kamu akan menghabiskan 500 buku. Hanya 500 buku! Bandingkan dengan jumlah buku yang dicetak di dunia ini selama 20 tahun, jumlah itu tidak ada apa-apanya. Tidak ada seujung kuku pun!

Baiklah, barangkali akan ada yang berpikir bahwa membaca buku banyak-banyak belum tentu berguna untuk hidup. Orang semacam itu bisa jadi satu dari dua golongan manusia: (1) dia memang jujur meyakini bahwa jalan pengetahuan dan kebijaksanaan tidak semata melalui buku. Alam semesta adalah buku yang patut dibaca. (2) Orang-orang pemalas juga butuh pembenaran. Sehingga kenyataan bahwa buku kadang tidak bermanfaat bagi seseorang bisa jadi jalan masuk pembenaran kemalasaannya. Nah, semoga kita tidak termasuk golongan kedua.[]