Langgam, Langgam Jawa dan Nagham

Ramai-ramai soal kiraat Alquran langgam Jawa, muncullah beberapa kosakata yang bermunculan tanpa saya paham betul apa artinya. Di antaranya bahkan kosakata berbahasa Indonesia! Jadi, sebaiknya saya cari saja artinya, biar tidak tambah lucu: ikut-ikutan debat soal itu, tapi persoalan sebenarnya tidak dipahami betul, apa bedanya dengan jangkrik?

Kita mulai dengan lema langgam. Kata ini macam sudah saya dengar sebetulnya, tapi apa artinya masih tergambar samar di benak saya. Untung, kita punya KBBI.

Langgam n 1 gaya; model; cara: — pidatonya khas, sukar ditiru orang lain; 2 adat atau kebiasaan: — bicara orang di daerah itu keras tetapi sebenarnya hatinya baik; 3 bentuk lagu (nyanyian) yg iramanya spt lagu-lagu Barat: ia penyanyi lagu-lagu —

Jadi di KBBI tertera tiga pengertian berbeda mengenai langgam. Ketiganya beda tipis sekali, namun tetap harus dianggap berbeda. Dari pengertian itu sendiri, kita bisa mengira-kira di bagian mana debat itu berkisar.

Di satu pihak, ada yang berpandangan bahwa membaca Alquran dengan langgam Jawa tak ubahnya seperti menyanyikan Alquran (arti nomor 3 dalam KBBI). Hal ini karena Langgam Jawa adalah sebentuk gaya nyanyian memang. Istilah itu mengacu pada nyanyian keroncong yang diadaptasi ke dalam gaya Jawa. Pernah dengar nama Waljinah, kan? Nah, dialah maestro genre nyanyian ini (Wikipedia). Jika dipahami demikian, ini tentu serius, sebab Alquran memang sebaiknya tidak dibaca seperti nyanyian untuk hiburan. Nanti kalau Alquran dibacakan dengan lagu “Mbuka titik jhosss…!” kan jadi tambah gawat. Menghina firman Tuhan itu namanya. Alquran itu seharusnya dibaca dengan baik untuk didengarkan, dipahami artinya (kalau tidak tahu artinya, cukup dengarkan saja), direnungkan, lalu diterapkan dalam konteks kehidupan. Begitu seharusnya.

Di lain pihak, ada pula yang berpandangan bahwa langgam itu tidak melulu nyanyian. Langgam Jawa berarti segala hal yang berkaitan dengan model, gaya dan cara bertutur Jawa, itulah langgam (arti nomor 1 dan 2 dalam KBBI). Dengan demikian, membaca Alquran dengan langgam Jawa tidak menyiratkan pengertian bernyanyi untuk hiburan. Itu sekadar cara dan gaya membaca saja. Dengan demikian pula, tidak ada unsur menghina Alquran di situ. Dan itu wajar saja, sebab dalam ilmu Qirâ’at al-Qur’ân terdapat banyak sekali nagham (lagu) yang sebetulnya tidak murni lagu Arab, seperti Bayyati, Shoba, Nawahand, Hijaz, Rost, Sika, dan banyak lagi.

Oh, ada satu istilah pula yang menurut saya tidak boleh dilupakan di sini: nagham. Ini adalah istilah Arab, sangat dikenal dalam Ilmu Qirâ’at al-Qur’ân, tapi jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Secara harfiah, kira-kira berarti lagu.

Saya mulai bertanya-tanya, bagaimana kalau seandainya kata langgam diganti dengan nagham, jadi kita bikin tema begini “membaca Alquran dengan nagham Jawa”, apa masih akan ada ramai-ramai lagi ya?

Terus, bagaimana sebaiknya sikap kita? Untuk menjawab ini sebaiknya baca artikel ini. Singkat kata, pahami perdebatan itu sebagai beda pendapat saja. Dan beda pendapat itu di kalangan ahli, bukan para jangkrik di media sosial itu. Nah, pendapat manapun yang mau diikuti, silakan menghormati pendapat yang berbeda.[]

Trivia Avatar The Last Airbender

Tadi malam mencoba menonton lagi film kartun serial Avatar The Last Airbender. Bagus, meski sudah kutonton berkali-kali. Lalu  tadi pagi kucoba membaca tulisan lama tentang film ini di sini. Tak nyana ternyata di situ ada komentar menarik. Komentar itu datang dari seseorang yang menyebut dirinya Hiro. Itu bukan nama asli, tentu saja.

Karena bagus, kuterbitkan komentarnya saja di sini. Ini akan sangat bermanfaat, saya yakin. Tulisannya kuperbaiki agar sesuai dengan EYD. Nah, siapapun si komentator bernama Hiro itu, saya ucapkan terima kasih banyak.


Ada beberapa hal yang menarik yang menurut saya adalah adaptasi dari hal-hal yang benar-benar ada/nyata, antara lain:

  1. Ketika para tetua biksu menguji Aang kecil dengan memperlihatkan barang-barang Avatar sebelumnya. Ini adalah metode yang sama yang digunakan oleh para biksu Tibet untuk menguji anak yang diramalkan adalah reinkarnasi Dalai Lama sebelumnya.
  2. Gyatso adalah nama asli dari Dalai Lama saat ini.
  3. Kuil udara semacam representasi dari kuil Lama Tibet sebagai kuil tertinggi di dunia, baik dari bangunan atau letaknya.
  4. Warna kostum biksu Pengelana Udara sama dengan jubah biksu Tibet.
  5. Kisah negara api yang menghancurkan semuanya, jadi semacam bentuk sindiran terhadap pemerintah China yang sejak dulu sampai sekarang ingin menguasai Tibet.
  6. Negara Api yang ber-setting China pada terletak di tengah, sesuai dengan pandangan China kuno bahwa negeri mereka adalah pusat dunia dan kalau bisa menyatukan semua negeri di bawah kekuasaanya.
  7. Adanya Guru Pathik dan nama “Bhumi” memperlihatkan pengaruh India dan Hindu pada agama Budha di China.
  8. Avatar Kyoshi yang memisahkan pulau seperti Jepang, negara kepulauan yang banyak mengadaptasi budaya China. Dan kisah kakinya yang besar juga sering muncul di cerita silat China tentang gadis-gadis cantik berkaki besar, salah satunya Mu Nian Chu, ibu dari YangGuo/Yoko.
  9. Awalnya aku selalu bertanya-tanya, kenapa ada elemen udara, tidak seperti konsep 5 elemen pada Taoisme: Tanah, Api, Air, Logam, dan Kayu. Namun ini terjawab pada episode “Rawa”, dan “Guru” yang njelasin kalau logam adalah bagian dari tanah yang dimurnikan. Sedangkan udara dan 3 elemen lainnya adalah 4 elemen yang biasa muncul pada budaya Eropa kuno.
  10. Nama “Piandaow”, guru pedang Sokka, adalah nama salah satu jenis pedang China.
  11. Kodok Beku termasuk legenda obat sakti di Dunia Persilatan dan pernah muncul di salah satu film kungfu lama (lupa judulnya).
  12. Di episode Rawa, ada pohon besar yang akarnya nyebar ke seluruh dunia. Bandingkan dgn Yangdrassil, Pohon Dunia dalam mitologi Skandinavia.
  13. Bibi Wu Si Peramal, di Shanghai, Beijing, atau pecinan2 besar, pasti banyak peramal kaya gini. Bahkan model rumahnya pun hampir sama.
  14. Kue Avatar yang tidak digoreng atau direbus. Mungkin terinspirasi dari sejarah kue Cakue pada masa Jendral YueFei dinasti Song (cuma dibalik).
  15. Kelompok “Teratai Putih” benar-benar ada. Mulanya cuma perguruan Taoisme, lalu berkembang jadi organisasi radikal. Awalnya saya lupa, tapi mereka berakhir pada masa dinasti Qing.
  16. Entah kebetulan atau tidak, jika Negara Api ber-setting budaya Han (Cina pusat dan selatan), sedangkan Kerajaan Bumi ber-setting budaya Manchuria (utara Cina), maka ini sesuai juga dengan jurus-jurus yang dipakai. Jurus Bumi yang banyak menggunakan hentakan kaki sesuai dengan Kungfu Shaolin Utara yang berupa tendangan. Jurus Api banyak menggunakan tinju sesuai dengan kungfu Shaolin Selatan (Wilayah Cina selatan lebih lembab, basah, dan tanahnya berlumpur, jadi para biksu mengembangkan teknik tinju, bukan tendangan)
  17. Nah, ini yang cukup mengejutkan dan berkesan bagi saya. Beberapa waktu lalu saya kebetulan menemukan informasi tentang Tibet. Masih ingat lukisan-lukisan Budha di dinding kuil Udara (yang udah jadi pabrik)? Di Lingkhor, Lhasa, ada lukisan batu cadas yang miriiip banget sama yang ada di kuil udara. Lalu ada juga bedug/genderang besar dengan gambar lingkaran mirip simbol Udara. Kenapa di serial ini biksu Udara adalah Pengelana/Nomaden? Karena orang tibet adalah orang2 Nomaden! Mungkin MD Dimartino terinspirasi buku “The Nomad” karya Gyalpo Tsering ttg kehidupan kaum nomaden Tibet. Sebagian wilayah ini juga masuk ke Nepal, sehingga selain Budha, ada juga pengaruh budaya India dan Hindu yang cukup besar. Jadi enggak heran dengan kemunculan Guru Pathik yang mengajarkan Chakra & Yoga.[]
  18. Terakhir, kata2 Kura2 Singa Raksasa selalu saya ingat, versi English di atas juga sudah saya terjemahkan & sesuaikan dgn ingatan dari versi dubbingnya. Kata2 yang bagus & mendalam. Sebenarnya Buddhisme bgt, untungnya banyak falsafah agama bumi (Hindu & Budha) yang netral dan bisa dipakai oleh berbagai kalangan.

Terapi

Kamu jelas tahu ini, Sri, bahwa Tuhan memberikan terapi kepada hambanya dengan cara yang kadang mengundang senyum juga. Dia punya selera humor yang bagus, harus kuakui itu. Senang dan duka adalah media terapi bagi-Nya.

Untuk itu, Sri, kusadari bahwa duka ini sebetulnya adalah terapi untukku. Entah bagaimana akhirnya kelak, aku hanya perlu menjalani terapi ini dengan benar. Tidak ada yang perlu kaukhawatirkan, Sri.

Pada saat aku harus menanggung beban berat itu, Sri, selalu saja ada orang yang tiba-tiba bercerita beban-bebannya. Itu seperti sebuah sindiran halus dari-Nya. Dia seolah-olah bilang, “Lihatlah itu, kau tidak sendirian di dunia ini. Berhentilah bersikap seolah kau manusia paling malang sejagad.” Betul, Sri, membayangkan ditegur begitu oleh Tuhan meringankan ikatan tali yang mengikat erat di dadaku. Tuhan sedang mengerjakan praktek terapi-Nya padaku.

Tapi tetap saja, Sri. Tak ubahnya seperti hantu, bayang-bayang peristiwa itu membuntutiku bahkan tepat saat aku bangun tidur hingga jelang terlelap. Aku tidak berdaya, Sri.

Untung, aku masih sanggup berdiri untuk berangkat kerja atau ke tempat lain. Dengan bersosialisasi, hantu itu bisa sejenak menghilang. Tertawa, mengobrol, dan bercengkerama dengan teman-teman cukup membantu menyibukkan pikiranku, Sri. Dan di situ seolah Tuhan berkata lagi, “Lihat orang-orang itu, bukankah mereka adalah obat bagimu? Kenapa kau kurang serius berteman dengan mereka?” Aku kembali dibikin insyaf bahwa tak ada guna meringkuk di kamar terus memikirkanmu.

Tapi tetap saja, Sri, ingatan tentangmu masih terjadi di sela-sela itu, seolah kau menyelinap masuk dalam memoriku tanpa sempat kusadari. Kau begitu gesit, Sri. Hanya saja, bersama teman-teman, aku lebih bisa bernafas dengan baik.

Aku ingin bahwa peristiwa kemarin itu menjadi tangga bagiku untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa. Barangkali dengan merelakanmu aku bisa lebih memahami apa arti kecewa. Sebab tidak sedikit orang yang sudah kukecewakan di masa lalu. Kali ini Tuhan seperti ingin mengganjarku dan mengajariku bagaimana caranya bersabar menghadapi kekecewaan. Ya, aku ingin belajar bersabar, Sri. Bersabar menelan konsep pahit bernama kerelaan itu.

Pernah seorang kawan bilang, bahwa setiap kali dia berceramah tentang kesabaran, tak lama kemudian dia akan diuji oleh Tuhan untuk mendalami arti kesabaran melalui pengalaman. Apapun yang dia katakan, katanya, akan dia alami sebagai ujian dari Tuhan. Tuhan itu iseng sekali, kan, Sri?

Tampaknya yang kualami saat ini bersamamu adalah sebentuk keisengan-Nya pula, Sri. Siapa tahu? Hanya saja, yang tak pernah kulupakan dan selalu kuyakini, pengalaman ini akan menjadikanku sosok yang lebih dewasa, asalkan aku bisa bereaksi dengan benar. Aku tak pernah takut apa kata orang tentangku. Yang kutakutkan, aku tidak lulus ujian ini.

Aku juga yakin, bahwa beban berat di hatiku ini hanyalah sementara, persis  seperti fana dan sementaranya dunia. Akan ada masa di mana hatiku akan lega dan lapang tanpa beban. Dan duka yang absurd ini akah berganti kebahagiaan yang tak kalah absurd. Pada saat itulah aku menghadapi ujian yang lain. Ini tidak akan ada hentinya, sepertinya.

Ah, Sri. Aku sudah memaafkanmu sejak kaunyatakan keputusanmu saat itu.[]

Pantang Menangis Saat Menonton Film India

“Pantang menangis saat nonton film India,” jargon ini dianut oleh kebanyakan kaum lelaki. Haram hukumnya. Meruntuhkan wibawa. Kenapa? Sebab hal itu bertentangan dengan watak maskulinitas.

Pada dasarnya, kaum lelaki tidak menolak kenyataan bahwa menangis pun sebetulnya salah satu kebutuhan psikologis. Dalam kondisi umum, lelaki menangis itu biasa, lumrah terlihat di mana-mana. Hanya saja, kalau pemicunya adalah karena menonton film India, itu sudah keterlaluan. Amat tidak pantas. Layak dipertanyakan kelelakiannya.

Setidaknya, itulah yang dianut lelaki di kampungku. Jargon itu berkaitan dengan film India karena muncul di era awal 2000-an, yakni ketika film seperti Kuch Kuch Hota Hei, Mann dan Dil To Pagal Hei dan lain-lain sedang jadi tren. Kini film India sudah tak sekeren dulu di benak orang-orang kampungku. Mereka sekarang sudah beralih ke serial Mahabharata dan Jodha Akbar, animonya tidak seantusias dulu.

Antusiasme itu malah menimbulkan cerita-cerita menarik. Ini adalah beberapa di antaranya.

***

Saat booming-nya film Kuch Kuch Hota Hai, salah seorang temanku mengaku belum menontonnya. Karena itu dia diledek habis-habisan, dikatai kurang gaul atau tak tahu film bagus. “Parah, film bagus begitu kok belum kau tonton,” kata teman-temannya.

Tak tahan menanggung malu, dia menyewa cakram film itu di rental terdekat. Karena di rumahnya dia tak punya pemutar video, dia minta izin menonton di rumah temannya. Temannya mempersilakan. Sempurna, pikirnya. Besok dia akan bercerita ke teman-temannya bahwa dia sudah menonton film itu dan mereka akan berhenti meledeknya.

Betul, pikirnya. Film itu memang bagus. Buktinya, saking sedihnya dia sampai menangis saat menontonnya. Betul-betul film bagus, gumamnya.

Keesokan harinya, saat dengan penuh percaya diri dia berkunjung ke teman-temannya, belum sempat menceritakan pengalamannya di hari sebelumnya dia sudah ditertawakan sebagai lelaki cengeng. Mampus, rupanya pemilik rumah tempat dia menonton kemarin bercerita ke teman-temannya bahwa dia menangis saat menontonnya. Ledekan itu bertahan selama 2 minggu penuh, dan selama itu pula dia menanggung rasa malu.

***

Kali ini semua sudah tahu aturannya: tidak boleh ada yang menangis saat menonton film India. Tapi, dasar orang kampung, mereka masih saja suka film India. Mereka masih suka menyewa CD film drama India di rental terdekat, lalu menontonnya bareng-bareng.

Di tengah-tengah menontonnya, saat hati mereka mulai sesak karena terharu, mereka akan menoleh ke temannya dan mendakwanya bahwa mata temannya itu berkaca-kaca. Padahal itu hanya kedok belaka untuk menetralkan hatinya yang mulai terpengaruh alur film. Itu hanya kedok agar dia tak ketahuan bahwa dia akan menangis.

Semua begundal itu melakukan cara ini satu sama lain.

***

Pernah terjadi sebuah skandal.

Malam itu, mereka menonton film drama India bareng-bareng. Salah satu dari mereka mengusulkan, biar seru lampu ruangannya dipadamkan saja. Yang lain setuju.

Nah, di tengah-tengah menonton, lelaki yang mengajukan usul tadi tidak kuat menahan haru. Dia menitikkan air mata. Film ini memang bagus, bisa membuatnya tak bisa menahan menitikkan air mata. Tapi ini gawat, yang lain akan tahu semua, dan reputasinya akan hancur malam itu juga.

Sungguh mati, dia makin khawatir saat film itu sudah rampung. Inilah saat dia akan diledek oleh teman-temannya, sebab matanya akan tampak merah akibat menangis. Habis sudah reputasinya, pikirnya.

Tapi sungguh kaget saat lampu dinyalakan—ya kaget campur lega, sebetulnya. Ternyata yang lain juga menangis. Mata mereka merah semua akibat menangis. Ternyata, saat semuanya sedang menonton tadi, masing-masing pada khawatir semua dan berpikir bahwa inilah akhir reputasi mereka. Mereka sama-sama tidak tahu bahwa semuanya sebetulnya juga menangis.

Tawa mereka langsung meledak malam itu.

***

Akhirnya, salah seorang temanku mulai punya kesadaran baru. Tapi ini rahasia.

Menurutnya, film drama India itu kadang harus dinikmati. Cara menikmatinya yang harus dihayati. Dalam standar awamnya, penghayatan tertinggi saat menonton film drama India adalah saat penonton mampu menangis di depan layar TV.

Hanya saja, perlu ditegaskan bahwa itu tetap harus dirahasiakan.

Hari itu, dalam rangka mencapai puncak penghayatan menonton drama India, dia menyewa sebuah cakram film India sekaligus pemutar video. Dia akan menonton film itu sendirian di kamarnya. Dia sudah bertekad, dia akan menangis nanti, tanpa sepengetahuan siapapun—sebab kalau ketahuan, dia bisa diledek tujuh turunan. Di sampingnya sudah tersedia tissue.

Namun gagal total. Film itu memang mengharukan, tak disangsikan lagi. Tapi entah mengapa matanya seperti beku, tak mau mengeluarkan air mata. Bahkan, sungguh mati, dia berusaha agar menitikkan air mata, tetap tidak bisa. Apa-apaan ini?

Itulah pertama kali dalam sejarah kesombongan ego kaum lelaki, saat mereka butuh mengekspresikan sisi maskulinitasnya, keinginannya tak tercapai.[]

Mengudara

Kanjuruhan FM 24-01-15 - 26

Tampaknya, persoalan-persoalan remaja akan menjadi perhatian saya hingga beberapa saat ke depan. Ini bukan berdasarkan rencana yang matang, sebetulnya. Saya tiba-tiba saja harus melakukannya. Tinggal mengondisikan mental saja sebetulnya.

Kemarin mendapat tugas dari kantor untuk menjadi nara sumber dalam dialog interaktif di frekuensi 106.5 FM, di Kepanjen. Tema yang harus saya angkat adalah persoalan-persoalan remaja. Kampret! Tema itu tidak saya kuasai dengan baik. Tapi ya sudah, saya terlanjur mengiyakan sebelum dikasih tahu tema yang harus saya bicarakan.

Berhubung harus tema itu yang harus saya bahas,  saya diminta agar membikin temanya jadi lebih spesifik lagi. Biar fokus, katanya. Jadinya adalah “kiat-kiat mencegah kenakalan remaja”. Jiasik! Apa pula itu?!

Berbekal nekat dan data seadanya, saya meluncur ke TKP. Saya bicarakan apa itu kenakalan remaja, bentuk-bentuknya, sebab-sebabnya yang paling umum, lalu kiat-kiat sederhana dan praktis bagaimana pencegahannya.

Sembari bicara ini-itu, pembawa acaranya sekali-kali membacakan atensi dari pendengar. Tak disangka, para pendengar ternyata banyak yang suka bertanya soal remaja dan media sosial. Tampaknya, para orang tua mengalami kekhawatiran di bidang ini.

Saya pun mual-mual mengetahui ternyata pendengarnya lumayan banyak. Saya usahakan jelaskan bagaimana itu berinternet yang sehat, terutama buat remaja dan anak-anak. Saya tekankan agar orang tua mendorong anak-anak bermedia sosial secara produktif, bukan konsumtif. Kebanyakan pengguna media sosial kita konsumtif. Itu jelas tidak sehat. Sebaiknya didiklah anak-anak agar bermedia sosial secara produktif.

Salah satu bentuknya ya mengelola blog.

Sepulangnya, pundak saya ditepuk-tepuk oleh Pak Bos. Dia bilang, “Bulan depan Anda akan mengudara lagi.” Parahnya, si Pak Bos ini menepuk pundak saya tanpa ekspresi, seperti biasanya. Saya tak bisa menangkap kesan, apa dia puas ataukah kecewa dengan kerja saya mengudara.[]

Ustaz Kates

Nama aslinya tentu bukan itu. Itu hanyalah panggilan untuknya oleh kawan-kawan lamanya. Alasannya sederhana: karena dulu dia kerap menyimpan pepaya di lemari kamarnya untuk makan.

Julukan itu mengandung ledekan dan kekaguman sekaligus. Teman-teman lamanya menjulukinya demikian, di satu sisi, karena mereka tak bisa melupakan kebiasaan lamanya dan, di sisi lain, karena tak menyangka kemampuan keagamaannya lebih unggul dari mereka.

Kebiasaan lama itu bermula saat Ustaz Kates masih menimba ilmu di pesantren. Berasal dari keluarga tak mampu di Kalimantan Barat—diperparah pula dengan kisruh etnis di Kalbar awal tahun 2000-an—kiriman duit dari orang tuanya sangat terbatas. Bahkan pernah orang tuanya tak mengirimnya duit hingga 3 bulan berturut-turut.

Menyadari keterbatasannya, Mat Kates—begitu julukannya waktu di pesantren—tak menyerah menimba ilmu di pesantren. Dia tak pernah memaksa orang tuanya mengirim duit. Dia menjajaki kemungkinan lain untuk makan. Dan, hebatnya, dia mendapatkannya.

Di sekitar pesantren, sebagian penduduk berkebun pepaya. Mat Kates melihat kebun-kebun itu sebagai peluang menyambung hidup. Caranya agak nakal juga. Dia mengunduh beberapa buah tanpa sepengetahuan pemiliknya. Setelah sehari atau dua hari, dia akan meminta izin kepada pemiliknya seolah-olah baru tadi siang dia mengambilnya. Dasar orang kampung, pemiliknya tentu mengizinkan seseorang mengambil buah kebunnya barang dua-tiga biji, asal minta izin saja.

Saat kiriman duit dari orang tuanya telat (dan itu sering terjadi) dia akan berekspedisi dari satu kebun ke kebun lain, berpindah-pindah, biar tak terkesan terlalu sering minta pepaya. Sekali ekspedisi, dia bisa bertahan hidup selama 2-3 hari. Lumayan.

Berkat kebiasaan tak lumrah itu, teman-temannya di pesantren menjulukinya Mat Kates.

Belum lagi jika dilihat dari aspek kenakalannya di pesantren. Barangkali karena terlalu sering kelaparan, dia jadi sosok pemalas. Dia suka tidak masuk sekolah atau kegiatan pesantren lain. Kena hukum, kena takzir, kena tempeleng kiai, sangat sering dia dapat. Mat Kates menjadi julukan yang mengandung kesan tak nyaman. Betul-betul tak dinyana bahwa di kemudian hari masyarakat akan memercayainya untuk menjadi seorang ustaz.

Di pesantren, Mat Kates bukan pula orang yang sangat brilian dalam pelajarannya. Nilainya di mata para gurunya biasa-biasanya saja. Bahkan, karena dia pemalas, dia sering terlambat mengikuti pelajarannya.

Singkat kata, track record-nya di pesantren dulu tidak menggambarkan masa depan sebagai seorang ustaz.

Pulang dari pesatren, Mat Kates lalu kerja serabutan. Di rumah asalnya di Kalimantan Barat sana, dia memulai segalanya dari nol. Tak jelas apa ambisi hidupnya sebetulnya.

Lalu dia berkeluarga sehabis berhasil mempersunting seorang gadis. Setelah itu, dia mulai membuka usaha bengkel kendaraan bermotor. Usahanya membuahkan hasil, dia mulai punya beberapa pegawai. Kerja kerasnya mulai tampak dari situ.

Saat itulah dia mulai punya waktu luang lebih banyak. Waktu luangnya lantas membuatnya mungkin untuk salat jamaah di mesjid dekat rumahnya. Entah kenapa orang-orang itu, tak lama kemudian dia diminta ngimami masjid itu. Lalu pas hari Jumat, dia juga diminta khutbah.

Teman-temannya kaget bukan kepalang. Apa maksudnya ini? Sejak kapan Mat Kates melakukannya? Apa yang sudah dilakukannya hingga masyarakat memercayainya? Bahkan namanya makin kondang. Mat Kates makin sering tampil ceramah ke mana-mana, saat Isramikraj, Nuzululquran, maulid Nabi, tahun baru Hijrah. Serba tampil ke mana-mana.

Sejak saat itulah julukan itu muncul: Ustaz Kates. Teman-temannya tak mungkin melupakan kenangan bersama waktu di pesantren itu. Mat Kates pun tersipu-sipu dipanggil Ustaz. Di hadapan teman-temannya, dia masih tetap rendah hati.[]

Serba-serbi Liburan

Manusia itu memang ada-ada saja—ya saya ini termasuk di antaranya. Pas tugas dan pekerjaan menumpuk, bawaannya kepingin cepat liburan dan santai-santai di teras rumah bersama secangkir kopi hangat. Nah, sekarang sudah liburan dan tak ada pekerjaan, bawaannya malah bingung,  sumpek, lalu merasa jadi seorang pengangguran. Pinginnya ada aktivitas apa begitu. Yang positif-positiflah.

Kemarin, saat harus menanggung tugas kepanitiaan, sekaligus garap berkas kantor, sekaligus mengajar, sekaligus ujian Madrasah Diniyah, sekaligus UAS buat mahasiswa, sekaligus jadi pembimbing mahasiswa yang KKN, sekaligus ini-itu, semua itu membuat jiwa rasanya tertekan. Seolah-olah, semuanya membikin sengsara. Kepingin buru-buru selesai semua.

Saat semua itu selesai, memang ada rasa lega juga.  Waktu lowong lalu saya gunakan untuk menjadi pemalas. Kerjaannya cuma kumpul-kumpul bareng teman-teman sambil ketawa-ketiwi,  atau berselancar di internet berjam-jam, atau baca buku di kesunyian beberapa saat, atau main Playstation semalaman, atau sekadar tiduran saja.

Tapi tak bertahan lama. Rasa lega itu hanya sebentar. Hanya dalam hitungan hari. Sehabis itu, saya merasa seolah miskin produktivitas, fakir kreativitas, pengangguran, tak berdaya, kurang percaya diri, dan lain-lain rasa negatif. Ini tidak benar!

Lalu teringat ini: khuliq al-insaan haluu’aa (manusia tercipta dalam keadaan selalu mengeluh). Owalah… Owalaaahhh…[]