Coban Sewu Malang

Dikunjungi pada 18 Agustus 2015. Ada dua pintu untuk mencapainya: melalui Malang atau Lumajang, karena memang lokasinya di perbatasan dua kabupaten itu. Saya anjurkan masuklah dari pintu Malang, jalannya ekstrem, lebih mengasyikkan.

Tautan Unduh Kitab-kitab Sayyid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki

Ini adalah permintaan seorang teman. Permintaan aneh dari seorang teman yang aneh pula.

Tapi tak mengapa. Meski saya sulit mengindentifikasi apa maksud dan tujuannya, kali ini saya penuhi saja permintaannya. Saya tidak sedang negative thinking, tolong jangan salah sangka. Bahkan kebaikan apapun bisa dia manipulasi untuk tujuan usilnya. Tapi saya memenuhi permintaannya hanya karena saya pikir kejahatannya tidak akan mengenai saya. Itu saja.

Permintaannya adalah menyediakan tautan kitab-kitab Sayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki. Inilah tautannya:

  1. Manhaju al-Salaf Fi Fahmi al-Nushush; Baina al-Nadzariyyah wa al-Tathbiq: unduh di sini.
  2. Al-Ziyarah al-Nabawiyyah Baina al-Bid’ah wa al-Syari’ah: unduh di sini.
  3. Al-I’lam bi Fatawa Aimmati al-Islam Haula Maulidihi SAW.: unduh di sini.
  4. Al-Dzakhair al-Mahdiyyah: unduh di sini.
  5. Al-Ziyarah al-Nabawiyyah Fi Dhaui al-Kitab wa al-Sunnah: unduh di sini.
  6. Syifa’u al-Fu’ad Bi Ziyarati Khoiri al-‘Ibad: unduh di sini.
  7. Al-Mafahim Yajibu an Tushahhah: unduh di sini.
  8. Haula al-Ihtifal Bi Dzikra al-Maulidi al-Nabawi al-Syarif: unduh di sini.
  9. Al-Mabadi al-Asasiyah Fi Ulumi al-Hadits: unduh di sini.

Nah, untuk teman saya yang memesan tautan-tautan di atas, tolong gunakan kitab-kitab itu untuk kebaikan. Saya tahu kebiasaanmu. Jaga nama baik Sayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki. Beliau adalah orang besar.

India, Jawara Melankolia

Di dunia ini, mana ada yang bisa menandingi orang India dalam soal melankolia. Saya baru sadar soal ini. Film-filmnya sudah membuktikan, tapi kejadian nyatanya baru-baru ini saya temui.

Pemuda ganteng ini berasal dari Jaipur, India Utara. Sejarah negeri ini sangat menarik ditelusuri; sebuah kota yang dibangun dengan serius, acuannya berasal dari ilmu arsitektur kuno India. Negeri India betul-betul berperadaban tinggi.

Kami bertemu bulan puasa kemarin. Sore itu, kami berkenalan dan menyebut nama masing-masing. Dia menyebut namanya Arshad. Saat saya tanya apa keperluannya datang ke Indonesia, apakah studi atau penelitian? Dia menjawab sambil tersenyum, “Mau menikah.”

Saya tak punya reaksi lain selain begini: “Serius?”

Dia bercerita, tentu dengan senyum dan ‘geleng-geleng’ khas Indianya, bahwa gadis yang beruntung itu berasal dari Kepanjen, Malang Selatan. Berarti tidak begitu jauh dari rumah saya dong, gumam saya. Kepanjen kan cuma kecamatan sebelah dari rumah saya.

Dari mana dia mengenal gadis itu? Dari Skype. Mereka berkenalan di situ, bertukar cerita di situ, meminang si gadis juga melalui Skype. Saat mengutarakan niatnya adalah cerita sangat seru. Dia katakan kepada gadis itu bahwa dia berniat menikahinya dengan sungguh. Jika gadis itu bersedia, dia akan terbang ke Indonesia, mengatakannya secara resmi kepada orang tuanya, menikahinya di sini dan akan tinggal di Indonesia.

Nekat juga si Tuan Takur ini, pikirku. Apa reaksi keluargamu saat mendengar niatmu itu, saya bertanya. Dia menjawab bahwa orang tuanya tidak begitu mempersoalkan hal ini. Asalkan itu sudah menjadi pilihan hidupnya, orang tuanya akan merestuinya. Lagian, dia melakukannya dengan baik-baik. Secara syariat Islam juga tidak ada pelanggaran di situ, tuturnya.

Bagaimana kau akan hidup di sini? Apa yang akan kau kerjakan nanti? Saya sedikit demi sedikit harus mengorek hal ini juga. Dia pun menjawab dengan santai. Dia bisa menjual beberapa barang di sini. Kalau perlu, dia akan mengekspor barang-barang bagus ke negaranya atau sebaliknya. Dia bilang, akik di India lumayan bagus-bagus, bisa dia jual di sini. Ah, betul. Rupanya dia mampu membaca pasar juga, pikirku.

Jadi kapan pernikahan itu akan berlangsung, saya mencecarnya dengan pertanyaan bertubi. Terus terang, saya menikmati cerita melankolianya. Dia bilang, insya Allah tidak lama sehabis lebaran ini. Kalau kau berkenan silakan hadir ke pernikahan kami nanti, pintanya. Tentu saja kujawab, dengan senang hati.

Tak lama setelah kami berpisah, saya jadi berpikir bahwa film memang menggambarkan jiwa masyarakat. Bagaimana dengan film Indonesia? Ah, sudahlah….[]

Lennon Dan Maisy

Nah, belakangan ini saya sedang kesemsem sama penampilannya duet cakep ini: Lennon dan Maisy Stella. Mereka dua bersaudara. Sama-sama jagoan nyanyi.

Yang bikin menarik didengar dari lagu-lagu mereka sebetulnya si Maisy, penyanyi yang lebih muda. Sudah cakep, imut menggemaskan, suaranya bagus lagi. Setiap kali menontonnya di Youtube, saya selalu melihat si Maisy beraksi. Tingkah polahnya kerapkali bikin gemas.

Ada empat lagu yang selalu saya putar ulang.

1. Big Yellow Taxi

Klip ini adalah versi cover dari lagunya Joni Mitchel. Pernah dibawakan oleh Counting Crows bersama Venessa Carlton dengan sangat bagus. Namun, Lennon dan Maisy membawakan jauh lebih bagus lagi. Lirik lagu ini juga sangat bagus, sangat relevan dengan keseharian kita yang makin jauh dari kelestarian alam. ya, lagu ini memang bercerita tentang kehidupan.

2. In The Waves

Lagu ini adalah lagu mereka sendiri. Mendengarkannya, saya serasa mendengar lagu anak-anak. Just use your imagination, You can have a dream vacation. Asyik.

3. Love

Nah, ini yang paling bagus dari yang lain. Lagu ini terdengar seperti dakwah di telingaku. Dakwahuntuk menjaga alam. Liriknya puitis sekali.

4. Boom Clap

Ini juga versi cover dari lagunya Charli XCX. Lagunya sih biasa, menurut saya. Hanya karena mereka yang menyanyikannya, dan karena saya senang sekali mendengarkan suaranya Maisy, lagi ini jadi saya putar berulang-ulang.

Menjadi Pasukan Anti Hoax

Akhir-akhir ini, sejak ada kesadaran menggunakan jagad siber sebagai medan perang di Indonesia, internet yang kita gunakan sehari-hari tiba-tiba menjadi riuh, gaduh dan serba hiruk-pikuk. Informasi menjadi ibarat laser (bukan panah, ini sudah jaman canggih) yang melesat ke sana-kemari, siap mengenai siapapun.

Sangking banyaknya seliweran informasi ini, sulit dikenali mana yang benar dan mana yang lancung. Parahnya, karena yang terjadi adalah perang maya, karena masing-masing sedang menghujani lawannya dengan peluru informasi, tidak sedikit dari informasi ini berupa hoax.

Internet itu tak ubahnya seperti kolam, sekali sebuah informasi dicemplungkan ke situ, kita sudah tak punya kendali lagi atasnya. Tidak sedikit yang membagikan hoax itu adalah orang yang tidak tahu bahwa itu adalah hoax. Hanya ada satu orang yang membuat hoax, namun yang menyebarkan dan membagikannya bisa ribuan tanpa pernah diperkirakan sebelumnya.

Yang bikin makin jengkel lagi, banyak hoax bertebaran mengatasnamakan agama. Parahnya, yang laris manis di negeri kita ada yang macam begini ini. Saya membayangkan ada orang yang di dunia nyata sebentar-sebentar baca tahmid atau tasbih, tapi di dunia maya tiba-tiba jadi sosok yang suka mencaci-maki, meskipun pakai akun palsu.

Anti-Hoax Troops
Menurut saya, mereka yang mencegah dan membongkar hoax sama mulianya dengan mereka yang mengkhotbahkan kebenaran. Qul al-haqq wa law kana murra  juga bisa berarti bongkarlah hoax meski itu pahit.

Di batas tertentu, saya bahkan ingin menjadi bagian dari para pembongkar hoax ini. Menjadi pengkhotbah kebenaran semata rasanya terlalu mainstream.

Untungnya, di sekitar kita sudah banyak orang-orang yang pekerjaannya adalah  memburu dan membongkar hoax. Saya bersyukur ternyata kegiatan anti hoax ini banyak pasukannya.

Di dalam negeri, terdapat Indonesian Hoax. Di web ini, kita juga bisa berkontribusi. Nah, benar bukan? Kita bisa menjadi bagian dari pasukan anti hoax. Selain berkontribusi, kita juga bisa bertanya tentang ragam berita yang tersebar di internet, apakah benar atau lancung? Web ini punya akun Facebook, Google+, dan Youtube.

Dari luar negeri juga banyak web anti hoax, seperti Hoax-Slayer dan Snopes. Tapi karena ia di luar negeri, tentu citarasa beritanya tidak seperti bikinan dalam negeri. Problem hoax di luar sana banyak yang tidak relevan untuk dalam negeri.

Karena itu, saya juga meminta pembaca memberi tahu saya kalau punya web lain yang pekerjaannya berburu dan membongkar hoax itu. Ini penting, sebab budaya berinternet masyarakat kita bisa dibilang belum matang, belum sehat. Kita masih berupa masyarakat yagn sepenuhnya melek media. Keadaan ini dimanfaatkan oleh banyak orang tak bertanggung jawab. []