ON A VISITING STUDY

Malam hari, setelah melakukan kuliah Filsafat Seni di rumah Dr. Sumartono, MA., akhirnya kami sekelas berangkat ke Parang Kusumo untuk menghadiri acara kuliah selanjutnya, yakni Filsafat Wayang. Di tempat itu, rencananya kami akan menonton pagelaran Wayang yang didalangi oleh seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Perjalanan ke Parang Kusumo itu tentu saja adalah ajakan dosen pengampu Filsafat Wayang kami, Prof. Dr. Sakidi Hadiprayitno.

Perlu dijelaskan di sini bahwa Filsafat Wayang adalah sebuah mata kuliah rintisan Universitas Gajad Mada bekerja sama dengan Sekretariat Nasional Pewayangan Nasional (Sena Wangi). Artinya, di fakultas atau jurusan lain di seluruh kampus negeri ini belum ada yang memiliki mata kuliah ini. Filsafat Wayang diresmikan pada 31 Maret 2011 dan langsung diajarkan pada semester berikutnya, tepatnya pada bulan September 2011.

Pada pembelajaran yang pertama ini, terdapat tiga dosen yang mengajar mata kuliah Filsafat Wayang, yakni Drs. Slamet Sutrisno, M.Si. yang asli dari UGM, Dr. Suyanto, seorang dalang dan dosen di ISI Surakarta, dan Prof. Dr. Kasidi, seorang dalang juga dan guru besar Pedalangan di ISI Yogyakarta. Nah, baru pada pengajar yang ketiga inilah para mahasiswa yang mengikuti mata kuliah ini diajak nonton pagelaran wayang.

Setelah sampai di sana dan pagelaran wayangnya sudah dimulai, baru ketahuan bahwa lakon yang dibawakan adalah Arjunawiwaha. Arjunawiwaha adalah sebuah kisah epik yang dianggit pada abad kesebelas oleh Mpu Kanwa. Kisah yang ditulis dalam bentuk kakawin ini bercerita tentang Arjuna yang berhasil mendapatkan sebuah pusaka sakti mandraguna, yaitu Pasupati, sebuah panah ajaib yang tidak bisa patah. Dengan panah itu, Arjuna berhasil membantu menghentikan kekhawatiran penghuni negeri Kahyangan akibat rencana jahat Niwatakawaca.

Niwatakawaca adalah penguasa kerajaaan Imaimantaka, sebuah wilayah di Atas Angin. Dia adalah seorang keturunan campuran bangsa Raksasa dan bangsa Gandarwa. Alasan kenapa Niwatakawaca hendak memporak-porandakan Kahyangan karena dia meminta seorang bidadari yang amat cantik, Suprabha, kepada para dewa. Dia mengacam, jika para dewa tidak mau memenuhi permintaannya dia akan mengamuk di Kahyangan. Ini tentu saja mengkhawatirkan bagi para dewa, sebab tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa mengungguli kesaktian Niwatakawaca.

Beruntung, Arjuna bersedia membantu para dewa dan mau menyusun siasat untuk mengalahkan Niwatakawaca. Sudah merupakan takdir, kata Dewa Siwa setelah diajak konsultasi oleh para dewa penghuni Kahyangan, bahwa Niwatakawaca hanya bisa dikalahkan oleh manusia. Dan manusia itu tentu saja Arjuna.

Singkat cerita, Arjuna, berkolaborasi dengan Suprabha, berhasil menemukan titik kelemahan Niwatakawaca. Berbekal pengetahuan ini, Arjuna berhasil mengalahkan Niwatakawaca dengan panah ajaibnya. Dan berkat keberhasilannya ini, Arjuna dikaruniai nikmat surgawi di Kahyangan beberapa saat. Namun, karena sudah lama dia berpisah dengan saudara-saudaranya di bumi, dia memutuskan meninggalkan Kahyangan dan berkumpul kembali dengan mereka untuk melanjutkan takdirnya di dunia.

Kisah Ajunawiwaha itu mengandung banyak hikmah yang bisa kita petik bersama. Hal ini sudah menjadi kandungan yang umum di dalam kisah-kisah epic pewayangan. Dengan kisah Arjunawiwaha, kita bisa menarik kebijaksanaan dari bagaimana tindak-tanduk tokoh Arjuna sebagai tokoh protagonis, namun tidak menutup kemungkinan pula bahwa kita bisa mengambil pelajaran dari tokoh Niwatakawaca sebagai tokoh antagonis.

Belum rampung acara pagelaran itu, kami rombongan mahasiswa pascasarjana Filsafat UGM diajak oleh Prof. Kasidi untuk berkumpul di sebuah warung milik seorang sahabatnya di sekitar Parang Kusumo. Profesor berpembawaan kalem tersebut memang sudah terkenal di daerah situ, sebab, sebagaimana dia ceritakan sendiri, dia terlibat dalam pemrakarsaan pagelaran kebudayaan di Parang Kusumo sekali setiap bulan, tepatnya pada saat bulan purnama bersinar sempurna, hari Selasa Legi.

Selain itu, selain seorang profesor, Dr. Kasidi juga merupakan seorang dalang yang cukup kondang di Yogyakarta. Pada saat peresmian mata kuliah rintisan Filsafat Wayang di UGM, Prof. Kasidi adalah dalang pagelaran wayang di dalam acara tersebut. Saat itu dia membawakan lakon “Sastra Jendra”. Lebih dari itu, Prof. Dr. Kasidi adalah salah seorang putra dari Dalang senior di Yogyakarta, Ki Timbul Hadiprayitno. Nama yang terakhir ini tentu tidak asing di dunia pedalangan Jawa. Di dalam deretan daftar nama-nama pedalang yang melegenda, nama Ki Timbul Hadiprayitno adalah salah satunya.

Di dalam warung itu, dengan masing-masing orang disuguhI segelas teh hangat, kami mendengar Prof. Kasidi bercerita panjang lebar. Ini semacam kuliah darinya, hanya saja tempatnya yang berbeda. Di situ dia bercerita tentang sejarah Parang Kusumo, dari sebuah tempat yang sepi dan angker menjadi sebuah lokasi yang seramai malam itu. Menurut Prof. Kasidi, keadaan ramai itu memang direncanakan sejak awal, sebab Parang Kusumo direncanakan menjadi tempat wisata dengan panorama pantai dan kebudayaan.

Menurut Prof. Kasidi, pantai parang kusumo adalah gerbang menuju sebuah kerajaan gaib yang terdapat di dalam laut selatan pulau Jawa. Hal ini terkait dengan kepercayaan orang Jawa bahwa keraton kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bukanlah satu-satunya keraton.

Bagi masyarakat Jawa, terutama Jawa kuno, Gunung Merapi, Laut Selatan dan Keraton Yogyakarta mengandung pemahaman kosmologi tersendiri. Dalam kosmologi Jawa, kehidupan di dunia merupakan sebuah harmoni antara mikrokosmos (jagat cilik) dan makrokosmos (jagat gede). Keharmonisan itu harus dijaga satu sama lain, tidak boleh terjadi ketimpangan. Gunung Merapi dan Laut Selatan dipercaya sebagai pusat kedudukan mikrokosmos itu. Sedangkan Keraton merupakan pusat makrokosmos.

Merapi di utara dipercaya sebagai pusat raja jin dan Samudra Indonesia di selatan diyakini sebagai pusat tahta Ratu Kidul. Itulah mengapa penghuni Keraton selalu melakukan upacara labuhan di Merapi dan Laut Selatan.

Bagi Keraton Yogyakarta, Merapi menjadi simbol kosmologis yang membentuk poros sakral Utara-Selatan. Puncak Merapi sebagai poros Utara yang kemudian ke Laut Selatan melintasi Monumen Tugu di dekat Stasiun Kereta Api terus sepanjang Jalan Malioboro.

Dari Jalan yang kesohor itu, garis kosmik Poros Utara-Selatan itu membentang ke Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta menuju Alun-Alun Selatan. Selanjutnya, garis itu melintas ke Bantul sebelum akhirnya menuju Laut Selatan yang dalam masyarakat Jawa diyakini di bawah kekuasaan Nyi Roro Kidul. Konon, penguasa Laut Kidul itu menjadi selir setiap Sultan Yogyakarta.

Begitulah, Prof. Kasidi bercerita banyak soal Filsafat Wayang dan serba-serbi pantai Parangkusumo. Lalu, Sang Profesor ini mengajak kami semua berjalan ke sebuah lokasi di Parangkusumo yang amat terkenal. Bau kemenyan dan dupa yang dibakar sangat menyengat. Tempat itu dikelilingi oleh dinding segi empat yang melingkari dua buah batu besar. Tempat itu disebut Cepuri.

Dua buah batu itu dipercaya adalah tempat pertemuan penguasa kerajaan Yogyakarta dengan penguasa Laut Selatan. Konon, menurut cerita yang beredar, Panembahan Senopati duduk di atas salah satu batu itu dan Nyi Roro Kidul duduk di batu yang lain, mereka melakukan pembicaraan yang entah apa itu sebab tidak sempat terekam sampai sekarang. Karena peristiwa itulah, maka tempat itu menjadi sebuah tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat Jawa.

Di tempat itulah, tepatnya di luar dinding petilasan Cepuri itu, kami semua berdiri, berbincang-bincang dengan sang profesor tentang tema-tema terkait. Dengan standing discussion semacam itu, sang profesor mengajak kami mengamati orang-orang yang berlalu lalang di situ, mengidentifikasi siapa-siapa yang mengunjungi tempat itu karena suatu motif serius dengan yang berkunjung untuk tujuan main-main dan menghabiskan waktu sia-sia. Kedua orang itu jelas berbeda.[]

IDENTITAS DALAM HIPHOP

“Ik ben een blijf in de allereerste plaats javaav,”
“setinggi-tingginya aku belajar ilmu barat, aku adalah dan bagaimanapun jua tetap Jawa”.
(Sultan HB 9)

Bernyanyi musik hiphop, topi dipasang miring, angguk-anggukkan kepala secara spontan, tapi sekaligus tetap membiarkan diri di sini, di Indonesia, tanpa melemparkannya ke negeri antah-berantah nun jauh disana. Inilah barangkali yang ditawarkan Jogja Hiphop Foundation: berhiphop dan sekaligus berbahasa jawa.

Sejak awal penggawa komunitas ini bilang bahwa mereka hadir bukan untuk menyambut momentum, meski saya kenal mereka berkat sebuah momentum. Mereka memulainya dari sebuah kegelisahan mengenai bagaimana hidup di sebuah dunia yang “carut-marut” secara budaya. Mau dibilang modern kurang pas, dinamakan tradisional juga problematis. Hibrid? Ah, kurang sreg juga rasanya. Ya lebih tepatnya carut-marut itu lah.

Dengan apik, mereka memperkenalkan diri mereka sebagai “sekelompok anak-anak nakal Jawa yang berdiri di persimpangan budaya,” yakni budaya pendatang dan budaya nenek moyang. Tentu tidak mudah menjalani kehidupan yang mendua –carut-marut–semacam itu, namun inilah potret manusia yang hidup di negara bernamaIndonesiaini, terbelah antara dua atau lebih budaya. Resikonya, kudu pilih antara terisolasi dari keramaian hingga terkikis satu-persatu atau terseret arus besar “modernisasi” hingga jiwanya tak lagi kenal tubuhnya.

Hanya saja, resiko itu berlaku bagi mereka yang menyerah, kalah, dan pasrahan. Bagi mereka yang berotak encer dan berkemauan raksasa ada hukumnya sendiri. Selalu ada alternatif-alternatif yang masih bisa dipilih, dan Jogja Hiphop Foundation menambah warna baru dari beberapa alternatif itu.

# tentang Jogja Hiphop Foundation
# tentang pendiri JHF: Kill D DJ
# lihat aksi mereka di Youtube
Photo credit: Jogja Hiphop Foundation.com

MEMBENDUNG PERSEKONGKOLAN

Baca cerita sebelumnya: Mozaik Asa Diatas Tiga Roda (bag. I) dan Duo Detektif Memburu Fakta (bag. II)


Malam di tebing Kali Code. Warung-warung berjejer di trotoar tepi kali, menjajakan beraneka ragam minuman hangat dan jajanan murah. Tempat itu merupakan tempat favorit beberapa pengunjung membicarakan hal-hal remeh-temeh untuk sekedar melepas penat akibat aktivitas siang hari, ditemani nuansa Kali Code yang memantulkan bulan.

Di warung lesehan paling ujung, seorang pengamen waria bernyanyi gemulai di hadapan tiga orang pengunjung. Dua orang di antaranya memakai jaket dan topi aneh. Setelah menerima koin 500 perak, pengamen waria itu pergi, melanjutkan tugasnya sebagai biduwanita jalanan.

“Sebelumnya kami minta maaf karena meminta dulur Jukin datang ke sini.” Slamet Bodong memulai pembicaraan. “Bukan apa-apa, dulur. Ini demi kerahasiaan perbincangan kita ini.”

“Kami menemukan ini,” kata Kasno Paing sambil menyerahkan selembar kertas lusuh bergambar sketsa sebuah wajah. Continue reading

POLA SAWAH | Sebuah Tawaran

 

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai Lingkaran Tanaman, saya temukan sebuah tawaran terjemahan Crop Circle oleh Andre Moller, seorang penyusun kamus Swedia-Indonesia, sebagaimana dimuat dalam Koran Harian Kompas, 04 Februari 2011. Tawarannya cukup mengejutkan dan dalam beberapa hal bisa menyelesaikan problem yang saya sebutkan dalam tulisan sebelumnya, meskipun pada akhirnya Andre Moller sendiri mengakui bahwa terjemahannya itu juga masih menyisihkan problem yang lain. “Mau bagaimana lagi, katanya.

Jika diterjemahkan secara langsung dan harfiah, maka jadilah lingkaran tanaman seperti yang dianjurkan Wikipedia Indonesia tadi. Namun, crop itu bukan tanaman apa saja, tapi hanyalah tanaman yang biasa diolah petani seperti padi, gandum, jagung, dan ubi. Crop circle ini tidak pernah muncul di hutan, yang notabene juga terdiri dari tanaman. Jadi, saya merasa tidak salah kalau mengusulkan kata tanaman diganti dengan sawah atau ladang. Mengingat fenomena ini pertama kali muncul di sebuah sawah di Indonesia, maka saya pilih kata sawah saja.

Kata kedua, circle, barang tentu berarti ’lingkaran’. Hanya saja, fenomena ini lebih sering tidak terdiri dari lingkaran saja, tapi dari sejumlah bentuk geometris (makanya istilah bahasa Inggrisnya juga agak miring). Begitu pula di Yogyakarta, kalau saya tidak salah lihat di foto-foto. Jadi, yang lebih tepat barangkali adalah kata pola karena ini sudah termasuk lingkaran dan bentuk-bentuk geometris lainnya. Alhasil, gejala ini mungkin bisa kita sebut pola sawah saja. Tentu saja tidak terdengar sekeren crop circle, tapi apa boleh buat?[]