Martin Heidegger, seorang filsuf berkebangsaan Jerman, pernah menulis puisi berjudul ‘Herbst’ (Musim Gugur) untuk sang kekasih yang mencintainya sepanjang hidup, Hannah Arendt. Apa yang menarik dari puisinya ini bukanlah isi atau keindahannya, tapi tulisan tangan filsuf itu. Tulisan tangan Heidegger sangat bagus, kaligrafis, seperti ditulis dengan sangat hati-hati.
Contoh lain dari tulisan macam itu adalah teks proklamasi kita. Meskipun ditulis dengan tergesa-gesa oleh Muhammad Hatta demi mengejar momentum, terbukti banyak corat-coret kesalahan di sana-sini, namun tulisan tangan Hatta masih terasa bagus sekali. Huruf-hurufnya jelas, liuk-liuk huruf kapitalnya juga mempesona.
Anak-anak Indonesia sebetulnya sudah diajari teknik menulis indah di sekolah-sekolah. Entah apa namanya sesungguhnya, tapi waktu itu saya mengenalnya dengan sebutan “tulisan latin’. Saya ingat, bahkan buku tulisnya pun memiliki garis-garis horizontal yang berbeda dengan buku tulis pada umumnya.
Tapi entah kenapa, gaya menulis semacam itu kemudian hilang dalam keseharian saya, seakan terhapus begitu saja tergerus oleh tren anak muda yang membingungkan. Dugaan saya, ini akibat kecenderungan masa muda saya yang tidak jauh berbeda seperti remaja pada umumnya: suka ikut-ikutan.
Baru-baru ini, keinginan menulis dengan gaya kuno seperti itu tiba-tiba muncul. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena ternyata menulis dengan cara menggoreskan garis yang tak berhenti sebelum satu kata seperti itu terasa lebih menyenangkan ketimbang menulis terputus-putus setiap satu huruf.
Bukan berarti bahwa menulis putus-putus perhuruf itu tidak indah. Setiap gaya tulisan tangan punya model keindahannya sendiri-sendiri. Hanya saja, oleh karena ia terlalu cepat terputus-putus di setiap huruf, jadinya terasa kurang enak bagi tangan, seperti dipaksa bekerja lebih berat karena harus naik-turun di setiap pergantian huruf.
Beda halnya dengan tulisan tangan gaya klasik itu. Ia terasa lebih enteng sebab tangan saya menggores garis yang lebih panjang, berhenti pada pergantian kata. Apalagi kalau sudah semakin terasah dan hasilnya terlihat bagus, dampak kepuasannya mekin besar di hati. Lebih menggairahkan! Kesan di hati dan gairah, itu sebenarnya yang paling penting dari gaya tulisan yang baru saja saya gandrungi itu.[]
