Berurusan sama polisi seringkali membingungkan, tapi terkadang mau tidak mau kita harus rela sedikit bingung mengingat polisi bisa jadi merupakan tumpuan yang tidak bisa dihindari. Akibat dompetnya loncat dari saku celana tanpa pamit, mahasiswa satu ini akhirnya menghadap ke Polsek terdekat untuk bikin Surat Keterangan Kehilangan. Kalau di medan demonstrasi bolehlah mereka sering berhadap-hadapan saling dorong-dorongan layaknya anak-anak rebutan mainan, kali ini sebaiknya bersalaman sambil pasang senyum manis seperti sahabat lama, hitung-hitung juga bersilaturahmi sesama putra bangsa. Bukan apa-apa, dompet itu berisi KTP, KTM, dan yang terpenting, kartu ATM tempat si mahasiswa menerima uang dari keluarganya, sementara pihak bank minta Surat Keterangan Kehilangan dari Polsek setempat sebagai persyaratan.
Sambil membawa Surat Keterangan Kehilangan, mahasiswa satu ini kembali ke bank dengan wajah lebih jumawa. Kali ini tidak ada yang bisa menyangkal eksistensiku, gumamnya. Tidak akan ada lagi macam kejadian sebelumnya, saat pihak bank meragukan pemilik nomor PIN sekian-sekian miliknya dengan mempertanyakan banyak hal: tempat dan tanggal lahir, pendidikan terakhir, nama ortu, dan nomor teleponnya. Bahkan si mahasiswa itu sendiri tidak bisa membuktikan bahwa dirinya adalah dirinya, pemilik nomor PIN itu, dan bukan orang lain. Berhubung kartu identitas tidak ada, berarti dirinya juga tidak ada dan tidak memiliki apa-apa di dunia ini. Dia terhenyak, inikah kekuatan representasi?
Itulah momen yang sangat menentukan bagi si mahasiswa kita ini, sebuah momen ketika dia harus merenungi lagi sesuatu yang sangat mendasar dari dirinya: eksistensi. Di zaman ini, manusia harus membuat representasi “dirinya” untuk kepentingan birokratis. “Dirinya yang lain” itu bisa berupa KTP, KTM, surat keterangan ini-itu, ijazah, kartu keluarga atau apapunlah. Sejak lahir pun, manusia buru-buru dibikinkan Akta Kelahiran. Perkembangan selanjutnya, semua itu menjadi bukan sekedar untuk kepentingan birokratis, namun, lebih dari itu, agar dirinya “diakui” keberadaanya. Langsung saja terbersit pertanyaan yang sangat mendasar, lebih unggul mana antara diri yang sebenarnya ataukah representasi “diri” itu?
Yang pasti, banyak orang memanfaatkan representasi untuk tujuan tertentu. Para politisi seringkali menggunakannya di spanduk-spanduk, forum-forum debat televisi, konferensi pers, headline surat kabar atau semacamnya. Para artis kerapkali menampilkannya di depan kamera infotainment, iklan televisi, sinetron-sinetron (kebanyakan tidak bermutu), atau hal-hal serupa. Daftar pelaku manipulasi representasi ini bisa lebih banyak lagi, dengan modus yang bermacam-macam pula. Rumusnya sederhana saja sebetulnya: semakin tak tampak dirinya yang hakiki, semakin tercapai tujuan yang ingin diraihnya.
Dengan sedikit modifikasi terhadap rumusan di atas, bisa jadi keadaannya menjadi berbalik—dan ini cukup membuat si mahasiswa berkeringat dingin. Bisa jadi representasi itu bukan bikinan kita sendiri, tapi ia selalu membuntuti kemana pun kita pergi tak ubahnya seperti bayangan di siang hari. Representasi semacam ini biasa dikenal dengan label, dan untuk enaknya si mahasiswa memutuskan untuk menyebutnya cap saja. Bisa dibayangkan, untuk menyebut satu contoh, cap PKI sebagai “satu-satunya” biang keladi peristiwa 30 September masih terasa hingga sekarang meskipun sejarah resmi negeri ini sudah meralatnya.
Presiden Amerika dan gubernur New York mendukung secara terbuka rencana komunitas muslim Amerika membangun Islamic Center di dekat lapangan bekas bangunan kembar WTC dan seakan sama-sama bilang secara serentak, “we’re not in war against Moslems, but against terrorists.” Tapi tidak bagi sebagian warganya. Sambil marah-marah, Terry Jones mengancam akan membakar Al-Qur’an di hari berdarah itu jika rencana kaum Muslim betul-betul dikabulkan, dan dia juga mengajak orang-orang yang sependapat dengannya karena mungkin menganggap aksi bakar-bakar sendirian kurang seru. Demonstrasi penolakan juga sangat marak, seramai pedagang di pasar-pasar negeri kita.
Islam sudah terlanjur mendapat cap sebagai teroris, meski pemerintah Amerika sudah meralatnya, meski peristiwa itu sudah berumur 7 tahun lebih, pokoknya meski itu sudah dimaklumi hampir semua oranglah. Tapi semua “meski” tadi musti ditambah satu lagi, satu anggapan yang tampaknya belum hilang dari benak penduduk Amerika: ada kemungkinan para teroris itu merasa mendapat pembenaran dari ajaran Islam meski tidak semua kaum muslim membenarkannya. Inilah yang membuat cap itu menjadi semakin langgeng di benak mereka.
Tak pelak, sang presiden pun juga kena dampaknya. Karena getol mendukung rencana pembangunan itu, karena tidak menggubris demo-demo penentangnya, dan karena sengit melarang Terry Jones melakukan pembakaran, sang presiden tiba-tiba dicap sebagai seorang Muslim. Sungguh tidak lucu! Namun seperti biasa, Pak Presiden satu ini tidak tampak gusar dan marah, dan dia sudah menduga-duga beberapa hal.
Pertama, media Amerika telah memberitakan Islam dengan sangat buruk, seperti yang dikeluhkan komunitas Muslim sendiri. Kedua, presiden pendahulunya telah salah ambil kebijakan, sehingga seakan-akan umat Muslim menjadi musuh Negara Amerika. Ketiga, para kerabat korban, terutama, telah termakan opini buruk tentang Islam ini, sehingga menarik simpati sebagian warga lainnya. Keempat, kesemuanya itu berdampak pada dirinya, sebagai akibat dari rasa marah mereka terhadap dukungan rencana pembangunan itu.
Kembali kepada si mahasiswa tadi, ATM yang diperlukannya sudah kembali ke tangannya. Satu representasi bisa melahirkan beragam representasi lagi, pikirnya. Ia tidak bisa dihindari, dan memang bukan sesuatu untuk dijauhi, seperti bayangan di siang hari. Yang perlu dia hindari hanya berurusan dengan polisi, itu saja.[]