PEMBELAAN TUAN ALBOUTI

Tuan Albouti berwajah teduh bak pohon beringin. Tutur katanya halus. Gaya hidupnya juga bersahaja, tak terlalu ambil pusing dengan tren yang sedang mengalir deras. Itu semua berbanding lurus dengan kapasitas ilmiahnya yang memang otoritatif di bidangnya.

Tapi sesabar apapun wataknya, Tuan Albouti tentu harus melakukan sedikit pembelaan juga mengenai tindakan yang sudah dilakukannya; semacam klarifikasi lah. Selama setahun penuh, kenangnya, Tuan Albouti menyampaikan ceramah mengenai butir-butir mutiara kebijaksanaan dalam kitab Hikam karya Ibn Atha’illah Assakandari. Makin lama, ceramahnya mengundang ketertarikan banyak orang sehingga pendengarnya di tempat itu makin banyak. Oleh karena sukses ceramahnya itu, seseorang memintanya agar membukukan saja sebuah komentar mengenai kitab itu.

Sementara itu, di luar sana, tidak sedikit orang yang menolak tasawuf karena cenderung mengajarkan bid’ah dan, bahkan, khurafat. Orang-orang itu berangapan, praktek-praktek keagamaan yang diajarkan oleh beberapa kelompok tarekat tasawuf tidak ada tuntunannya dalam Kitab Suci dan Hadits Nabi. Buku-buku yang mengajarkan tasawuf—termasuk kitab Hikam ini, tentunya—disingkirkan jauh-jauh saja agar virus bid’ah itu tidak menjangkiti umat.

Buku komentar Tuan Albouti terhadap kitab Hikam ini sudah selesai, dan di bagian pengantarnya dia menjelaskan sikapnya perihal kitab ini:

Memang benar ada ucapan Kanjeng Nabi yang melarang umatnya melakukan bid’ah, agar tidak ada yang nekat berinovasi dalam urusan agama (fi amrina hadza). Cuma persoalannya, demikian Tuan Albouti, kandungan kitab Hikam ini suatu bid’ah atau bukan? Ini satu soal.

Persoalan selanjutnya: sebetulnya kurang jelas juga apa maksud mereka dengan kata tasawuf itu. Sepertinya, sudah ada patokan saklek dalam benak mereka bahwa kalau sesuatu itu tasawuf sudah pasti ia adalah perilaku-perilaku bid’ah. Padahal, demikian Tuan Albouti, bisa jadi ada sesuatu yang disebut tasawuf tapi bukan bid’ah. Artinya, patokan mereka itu mestinya diubah, dan segala hal yang disebut tasawuf tidak serta-merta menjadi bid’ah. “Nama boleh apa saja, tapi yang penting itu kandungannya,” kata Tuan Albouti.

Barangkali, biar semuanya bisa berjalan semestinya, ada baiknya kita bikin sebuah aturan main saja. Taruhannya harus tegas: kalau ternyata kandungan kitab ini ada tuntunannya dalam Kitab Suci atau Hadits Nabi, kita terima dengan gagah berani. Sebaliknya, jika ternyata tidak ada tuntunannya, jadi ia merupakan bid’ah, maka kita buang saja jauh-jauh tak ubahnya seperti kuman.

Dari sini, Tuan Albouti lantas berbicara tentang kandungan kitab ini secara global. Menurutnya, seluruh kandungannya bisa dirangkum menjadi tiga bagian, yakni (1) tauhid, (2) akhlak terpuji dan pembersihan jiwa, dan (3) perjalanan rohani dan tahap-tahapnya. Ketiga hal di atas itu, demikian Tuan Albouti, bisa diperas lagi menjadi hanya satu hal saja: ihsan. Nah, kalau mau cari dasar ihsan di dalam Kitab Suci maupun Hadits Nabi, saya rasa tidak akan susah-susah amat.

Selain itu, Tuan Albouti juga sanggup menunjukkan dasar Qur’an atau Hadits dari setiap butir mutiara kebijaksanaan di kitab ini. Pada butir kebijaksanaan pertama, misalnya, belum apa-apa dia sudah bercerita tentang perkataan Kanjeng Nabi Muhammad bahwa amal perbuatan kita ini tidak akan memasukkan kita ke surga. Saat itu Kanjeng Nabi langsung diajukan sebuah pertanyaan, “Bahkan amal perbuatan Anda, Kanjeng Nabi?”

“Bahkan amal perbuatanku pun tidak akan,” jawab beliau, “kecuali kalau Tuhan menyelamatkanku dengan Kasih-Nya.” Tuan Albouti melanjutkan bahwa ini adalah riwayat Imam Bukhari, periwayat hadits yang paling terpercaya. Jadi, sebaiknya kita berjabat tangan saja, sebab aturan main sudah terpenuhi dan permainan bisa berjalan dengan sportif.

Jadi, singkatnya, Tuan Albouti ini mengajak khalayak pembacanya agar tidak terburu-buru ambil penilaian terhadap suatu perkataan sebelum ketahuan benar apa maksud dan pengertiannya. Khusus soal tasawuf, ada baiknya praktek-prakteknya itu diketahui terlebih dahulu lalu diselidiki dasar-dasarnya. Dengan cara seperti itulah mestinya hidup bersama itu berlangsung.

Tapi ada benarnya juga bahwa terkadang terdapat laku bid’ah dalam tasawuf, dan Tuan Albouti mengakui hal itu. Amat menggembirakan bahwa masih banyak di sekeliling kita orang-orang yang gelisah melihat agamanya disusup-susupi, entah sengaja atau pun tidak. Hanya saja, tidak berarti bahwa segala hal tentang tasawuf itu kudu dibabat habis dan dibasmi hingga tidak tersisa apapun darinya. Itu keterlaluan! Bukan tidak mungkin, Tuan Albouti mengajak kita merenung, segala susupan dan laku bid’ah atas nama tasawuf itu menyebar di kalangan masyarakat justru karena sikap keras dan keterlaluan semacam itu. Ya mungkin saja, kan?[]

[Disarikan dari Al-Hikam al-'Atha'iyah;  Syarh wa Tahlil karangan Dr. Muhammad Sa'id Ramadlan al-Buthi]

photocredit: indiana.edu

[FILM] BABA AZIZ

He who has faith will never get lost, my little angel. He who is at peace won’t lost his way. | Baba Aziz

 Film ini cukup unik, sebab ia mengangkat tema sufisme dengan cara penceritaan yang tidak lumrah. Mungkin karena tak hendak menggurui sehingga pesan-pesan sufistik tidak diceramahkan oleh salah satu karakter, melainkan disampaikan dalam simbol-simbol. Gagasan-gagasan tidak dikhutbahkan dengan muluk-muluk, tapi digambarkan dengan kiasan dan sindiran yang menyejukkan hati.

Dengan demikian, tidak terlalu aneh kalau karakter-karakter dalam film ini juga mengejutkan dan cenderung di luar batas “normal”. Seorang kakek buta, ditemani oleh seorang gadis cilik, keluyuran siang-malam di padang pasir yang kering. Bagaimana mungkin kita temukan orang di dunia ini yang mau melakukannya? Satu lagi yang sangat mencolok, Si Darwis Merah, kerjanya aneh-aneh tak ubahnya orang tidak waras: menyapu masjid sambil nyanyi-nyanyi, mengeruk pasir dari halaman masjid. Namun, menangkap adegan semacam itu secara harfiah tentu akan mengaburkan pesan simbolik yang hendak disampaikan oleh film ini, sebab pada akhirnya peran Si Darwis Merah di keseluruhan cerita film ini tidaklah berakhir percuma.

Baba Aziz dan cucu perempuannya, Ishtar, melakukan perjalanan jauh dan melelahkan untuk mendatangi pertemuan para Darwis di suatu tempat misterius. Demi menghibur cucunya yang kelelahan, Baba Aziz menceritakannya kisah seorang raja yang merenungi jiwanya. Kisah si raja ini terpotong-potong karena di tengah perjalanan, mereka berdua kerapkali bertemu orang-orang yang aneh-aneh dengan pengalaman yang juga tak kalah aneh.

Suatu kali, misalnya, mereka bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba nyemplung ke sumur. Di tempat lain, mereka tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang melantunkan puisi liris dengan suara yang amat nyaring. Masing-masing orang yang mereka berdua temui memiliki kisah masa lalu sendiri-sendiri, dan masing-masing kisah adalah sesobek luka dari setiap jiwa yang sedang mengelana. Resiko yang harus ditanggung sudah jelas: tersesat di padang pasir yang kejam atau berkumpul di perjamuan dengan para sahabat.[]

photocredit: mysticsaint.info

SUFISM: MYSTICISM WITHIN ISLAM

Mystics have a long tradition in Islamic civilization. They have often been persecuted by Muslim leaders who focus their piety on the sharia. Particularly offensive to enforcers of sharia is the doctrine of the Perfect Man who perceives the unity of the self with God. The concept of union between the individual and God is a submersion of the human within the supreme. Javanese thinkers carried this concept over to their understanding of the relationship between subject and monarch as union of servant and lord. This notion reinforced the Islamic teaching that subjects must submit to a Muslim king.

Mystics   were   called  Sufis. Unlike   regular   mosque   practice,   music, dance, song, and intense meditation helped Sufis to bridge the gap between the individual and God. Sufism evolved from individual mystical experience into social movements formed around charismatic leaders.

Sufism provided for local spiritual needs in forms that matched and reflected local cultures. At the same time, the common elements of practice—devotion       to  spiritual  leader,  visits  to  holy  sites,  meditation, scrutiny   of   the   Koran’s   inner   or   hidden   meanings—are   widespread throughout the Islamic world. Sufism is both esoteric philosophy and popular religion.

photocredit: islam.uga.edu

THE MEANING OF REVELATION

It is said that after Muhammad and the prophets revelation does not descend upon anyone else.

Why not?

In fact it does, but then it is not called ‘revelation.’

It is what the Prophet referred to when he said, ‘The believer sees with the Light of God.’

When the believer looks with ‘The believer sees with the Light of God.’

When the believer looks with God’s Light, he sees all things: the first and the last, the present and the absent.

For how can anything be hidden from God’s Light?

And if something is hidden, then it is not the Light of God.

Therefore the meaning of revelation exists, even if it is not called revelation.

Fihi ma fihi [Discourses of Rumi]
quoted from William C. Chittick, The Sufi Path of Love:
The Spiritual Teachings of Rumi