MEMBENDUNG PERSEKONGKOLAN

Baca cerita sebelumnya: Mozaik Asa Diatas Tiga Roda (bag. I) dan Duo Detektif Memburu Fakta (bag. II)


Malam di tebing Kali Code. Warung-warung berjejer di trotoar tepi kali, menjajakan beraneka ragam minuman hangat dan jajanan murah. Tempat itu merupakan tempat favorit beberapa pengunjung membicarakan hal-hal remeh-temeh untuk sekedar melepas penat akibat aktivitas siang hari, ditemani nuansa Kali Code yang memantulkan bulan.

Di warung lesehan paling ujung, seorang pengamen waria bernyanyi gemulai di hadapan tiga orang pengunjung. Dua orang di antaranya memakai jaket dan topi aneh. Setelah menerima koin 500 perak, pengamen waria itu pergi, melanjutkan tugasnya sebagai biduwanita jalanan.

“Sebelumnya kami minta maaf karena meminta dulur Jukin datang ke sini.” Slamet Bodong memulai pembicaraan. “Bukan apa-apa, dulur. Ini demi kerahasiaan perbincangan kita ini.”

“Kami menemukan ini,” kata Kasno Paing sambil menyerahkan selembar kertas lusuh bergambar sketsa sebuah wajah. Continue reading