Kata “aktualisasi” (actualisation) —atau bisa pula dikatakan “pemenuhan” (fulfilment) atau “penyempurnaan” (completion) — punya arti menarik bagi Aristoteles (w. 322 S.M.). Dia mendasarkan teori fisikanya dengan gagasan bahwa setiap gerakan adalah peralihan dari potensialitas menuju aktualitas. Bisa dicontohkan di sini dengan sebuah bola yang bertengger di tanah memiliki gerak potensial yang hanya akan teraktualisasi ketika ia ditendang, atau sebuah batu yang berpotensi menjadi patung dan bisa diaktualisasikan oleh seorang pemahat. Ketika ia teraktualisasi, ia mencapai tahap intelechy (kesempurnaan, dari bahasa Yunani Telos) yang berkonotiasi telah mencapai keadaan yang ditujunya, kondisi finalnya, keadaannya yang komplit. Dalam bahasa Arab, kata intelechy bisa diterjemahkan dengan kamal.
Ketika Aristoteles beralih dari pembahasan fisika ke psikologi, dia mengulangi model yang sama terhadap jiwa. Dia memandang bahwa tiap fakultas (quwwah) dalam jiwa, seperti melihat, mendengar, dan lain-lain berada dalam keadaan sempurna tingkat pertama pada momen penciptaan, tapi ia akan mencapai tahap selanjutnya, yakni keadaan sempurna tingkat kedua, ketika fungsinya sudah bekerja. Jadi, fakultas melihat berada dalam keadaan sempurna ketika mata fisik seseorang tercipta, tapi ia akan mencapai tahap sempurna tingkat paripurna hanya ketika ia berada dalam tindak melihat, yakni ketika ia melihat secara aktual. Bagi Aristoteles fakultas tertinggi dari manusia adalah intelek yang hanya dimiliki oleh manusia, sementara kemampua yang lain sama-sama dimiliki oleh hewan dan tetumbuhan. Intelek juga telah mencapai kesempurnaan tingkat pertama ketika manusia dilahirkan, namun akan mencapai kesempurnaan tingkat paripurna ketika fungsinya benar-benar diaktuliasiskan.
Aristoteles memperluas gagasan ini dengan mempertanyakan sebuah pertanyaan: “Apakah tujuan final —atau “kebahagian” — dari manusia?” Dia sendiri menjawab bahwa manusia harus memenuhi atau menyempurnakan fakultas yang membedakannya dari semua makhluk lain, dan dengan demikian mewujudkan fungsi khususnya. Jadi, meskipun fakultas-fakultas lain dan memenuhi kebutuhan fisik juga diperlukan, namun hanya melalui penyempurnaan fakultas intelektuallah manusia akan mencapai kebahagian yang paripurna (Arab: sa‘âdah, Greek: eudaimonia).
Ketika gagasan ini sampai ke tangan para pemikir renaisance di Barat, nuansa yang berkembang adalah nuansa intelektual yang sangat menekankan intelek sebagai puncak hirarki fakultas manusia. Hal ini berkebalikan dengan dunia Arab yang menempatkan gagasan Aristoteles di atas dengan titik tekan yang beragam. Di samping kaum filsuf, terdapat dua kelompok lain yang memiliki pandangan berbeda tentang intelek, yakni kaum teolog yang menganggap bahwa intelek harus menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan hukum agama, dan kaum sufi yang memahami pengetahuan tertinggi sebagai bukan diperoleh dengan intelek, melainkan dengan wahyu dari Tuhan secara langsung.
Dalam pandangan kaum sufi, manusia memiliki sebuah fakultas yang lebih tinggi ketimbang intelek. Mereka menyebut fakultas ini dengan “hati” (qalb), yang menjadi ‘tempat’ turunnya wahyu dari Tuhan dan selalu berubah-ubah (taqallaba) karena selalu merespons tajallî ilahi. Pengetahuan semacam ini hanya bisa diperoleh melalui ketaatan dan purifikasi, melalui tuntunan Tuhan, dan terutama melalui orang yang sudah melalui terlebih dahulu. Pengetahuan ini disebut dengan zauq (intuisi) dan kasyf (penyibakan).
Akan tetapi, distingsi antara pengetahuan melalui intelek dan pengetahuan melalui hati tidak sepenuhnya jelas. Di satu sisi, Mullâ Shadrâ menyatakan bahwa akal sendiri tidak bisa mencakup kebenaran tertinggi: Wujud. Di sisi yang lain, seperti halnya para pendahulunya, dia tidak sepenuhnya menyingkirkan intelek, atau bahkan sangat mengandalkannya. Justru empat perjalanan spiritual (al-asfar al-arba‘ah), sebagaimana dijelaskan dalam kitabnya, sangat menekankan filsafat —atau lebih tepatnya: Hikmah— sebagai bagian dari proses realisasi diri.
Ketika hati sudah selalu terarah pada Sang Wujud Hakiki, dan semua potensinya terealisasi, maka semua fakultas manusia bisa menjadi alat dan saluran untuk mengetahui-Nya, karena pada dasarnya semua fakultas adalah instrumen hati. Dengan demikian, sebenarnya sudut pandang al-hikmah al-muta‘aliyah memasukkan semua jenis persepsi dan pengetahuan, semua sudut pandang, mengalir dari imajinasi dan indera serta dari intelek dan intuisi. Hati adalah sebuah fakultas yang supra-intelektual ketimbang anti-intelektual, dan Mullâ Shadrâ memberikan penjelasan konprehensif mengenai cara di mana semua fakultas yang dimiliki manusia (zauq, imajinasi, intelek, indera, dan lain-lain) bisa bekerja dan saling-terhubung.
Dengan demikian, apakah itu potensi dalam konteks manusia menurut Mullâ Shadrâ? Seperti pada pandangan Ibn ‘Arabî, Mullâ Shadrâ menganggap bahwa potensi manusia adalah kenyataan bahwa dia diciptakan dalam citra Tuhan. Inilah sifat yang paling dasar dan paling intrinsik dari manusia, tapi masih harus diaktualisasikan, dan aktualisasi ini terutama terjadi melalui penataan hati yang merupakan lokus pengetahuan Tuhan di dalam manusia.
Sebagaimana sudah diketahui, Mullâ Shadrâ telah menjelaskan kesempurnaan manusia dalam konteks Wujud Mutlak; bahwa hanya ada Satu Realitas, yakni Tuhan, dan tidak ada eksistensi selain-Nya. Oleh karena itu, alam semesta dan segenap isinya, termasuk manusia, tidaklah terpisah dari Tuhan. Semua itu adalah tajallî-Nya, sebuah pencitraan.
Dari sini, Mullâ Shadrâ melanjutkan bahwa tujuan utama bagi manusia bukanlah mencapai kesatuan dengan Tuhan, melainkan menjadi tempat tajallî Tuhan, sebagaimana tersirat dalam sebuah hadits kudsi bahwa Tuhan berkata “Aku adalah harta karun tersembunyi, kemudian Aku ingin diketahui. Jadi Aku ciptakan alam semesta agar aku bisa diketahui.” Dalam manusialah —dan khususnya dalam hati manusia— pencitraan dan pengetahuan ini bisa terjadi secara utuh dan lengkap. Dan ketika hal ini sudah terrealisasi, maka tidak hanya berarti bahwa manusia telah berada dalam keadaannya yang sempurna, yakni tercapainya Insan Kamil, tetapi juga berarti bahwa tujuan penciptaan telah tercapai.[]



