MEMBENDUNG PERSEKONGKOLAN

Baca cerita sebelumnya: Mozaik Asa Diatas Tiga Roda (bag. I) dan Duo Detektif Memburu Fakta (bag. II)


Malam di tebing Kali Code. Warung-warung berjejer di trotoar tepi kali, menjajakan beraneka ragam minuman hangat dan jajanan murah. Tempat itu merupakan tempat favorit beberapa pengunjung membicarakan hal-hal remeh-temeh untuk sekedar melepas penat akibat aktivitas siang hari, ditemani nuansa Kali Code yang memantulkan bulan.

Di warung lesehan paling ujung, seorang pengamen waria bernyanyi gemulai di hadapan tiga orang pengunjung. Dua orang di antaranya memakai jaket dan topi aneh. Setelah menerima koin 500 perak, pengamen waria itu pergi, melanjutkan tugasnya sebagai biduwanita jalanan.

“Sebelumnya kami minta maaf karena meminta dulur Jukin datang ke sini.” Slamet Bodong memulai pembicaraan. “Bukan apa-apa, dulur. Ini demi kerahasiaan perbincangan kita ini.”

“Kami menemukan ini,” kata Kasno Paing sambil menyerahkan selembar kertas lusuh bergambar sketsa sebuah wajah. Continue reading

PERJALANAN SATU TAHUN

 22.23 WIB
Saya berangkat ke stasiun Tugu Yogyakarta, melalui lorong-lorong yang padat orang-orang berjalan kaki, ngonthel, berkendara sepeda motor dan mobil. Sesak. Sengaja saya berangkat 97 menit lebih awal untuk mengantisipasi macet akibat keramaian. Ini malam tahun baru, orang-orang pasti ke Malioboro, tapi tidak denganku.

22.51 WIB
Saya sampai di gerbang belakang Stasiun Tugu Yogyakarta. Ini terlalu awal. Kekhawatiran macet hingga 1 jam tidak terbukti. Kami, saya dan teman yang mengantar saya, memutuskan mampir di angkringan dulu, cerita-cerita ringan sembari menikmati teh hangat. Jalanan masih padat, macet.

23.41 WIB
Saya putuskan masuk saja ke dalam stasiun, menunggu di dalam, mengingat jadual kedatangan kereta tinggal 18 menit lagi.

23.51 WIB
Di luar terdengar hiruk-pikuk, suara terompet dan dentuman kembang api. Saya perkirakan, keramaian merayakan pergantian tahun yang tinggal 9 menit lagi itu rupanya terkonsentrasi di titik koordinat Alun-alun Utara.

23.59 WIB
Seharusnya, kereta api sudah tiba saat ini. Tapi Train Dispatcher (pemimpin perjalanan kereta api) mengumumkan bahwa kereta itu akan terlambat selama 32 menit. Nah, terulang lagi. Ini sama saja menunda perjalananku hingga tahun depan!

00.00 WIB
Puncak ledakan keramaian, saat ini adalah pergantian tahun. Di luar saya dengar orang-orang beramai-ramai merayakannya. Train Dispatcher mengucapkan selamat tahun baru dalam dua bahasa. Tapi kereta api yang hendak kunaiki sudah terlambat 1 menit.

00.52 WIB
Kereta api akhirnya sampai. Saya langsung saja masuk dan mencari tempat duduk. Di sana, tak perlu lama saya memejamkan mata, melepas lelah yang terkuras di tahun sebelumnya…[]