Kalau mau lihat Si Kepala Suku berkobar-kobar penuh semangat, lihat dia saat berorasi di depan khalayak massa. Kalau mau dengar dia teriak-teriak bernyanyi macam orang kesurupan, perhatikan saja saat dia mandi. Tapi, kalau mau lihat dia sedih patah hati, lihat di kala dia menonton tim unggulannya kalah.
Begitulah dia di malam itu. Duduk sambil memeluk lutut di dadanya seraya menggigit kuku jari tangan kiri; senyap, takjub, kaget, kecewa. The Albiceleste dilumat 4-0 oleh Der Panzer! Habis sudah tim yang dia unggulkan akan memegang piala juara. Prediksi yang dia lontarkan sebelumnya luput dari sasaran, analisisnyapun robek di lembaran kertas fakta.
Hingga lima hari kemudian, dia seakan mendapat harapan baru. Der Panzer harus menghadapi La Furia Roja di semifinal. Ini memang di luar perhatiannya sedari mula, tapi setidaknya bisa dia jadikan alat untuk ajang balas dendam pada tim yang telah mengalahkan Albiceleste itu. Dan tiba-tiba saja dia jadi banyak bicara tentang La Furia Roja.
“Sejarah terulang lagi,” kata Si Kepala Suku suatu hari. “Der Panzer dan La Furia Roja pernah bertemu di Piala Euro dua tahun lalu dan yang terakhir ini berhasil menang tipis.” Kenyataan ini membuatnya kembali bermain dengan analisis-analisisan: La Furia Roja sudah tahu bagaimana menghadapi lawannya dengan strategi begini-begitu. Lupa dia bahwa analisisnya pernah meleset.
“Namun, pelatihnya waktu itu beda,” lanjutnya. “Pelatih yang sekarang, Vicente del Bosque, baru-baru ini saja dapat kehormatan melatih orang-orang berbakat di tim ini. Orangnya tak banya bicara, setiap kali bicara suaranya pelan. Pokoknya sulitlah dia bicara keras sama orang lain. Ini berkebalikan dengan tim yang dia pimpin, bikin tim lawan di posisi bertahan.” Sungguh mengherankan, bagaimana dia bisa bicara serinci itu untuk tim yang hanya jadi alat baginya?
“Kalau urusan sama politik,” Si Kepala Suku belum ingin berhenti bicara rupanya, “tim ini paling tak mau ambil urusan. Singkatnya, tim dengan personel yang sangat apolitislah. Charles Puyol dan Xavi Hernandes mungkin kekecualian, karena pernah teriak Viva España! di waktu perayaan Euro 2008. Ini bisa berarti keduanya mendukung persatuan Catalan dan Spanyol serta meredam tensi politik masa lalu antara keduanya. Atau bisa jadi itu sebuah provokasi. Ha ha ha…”
Untung, dia akhirnya berhenti bicara ketika pertandingan sudah mulai. Kali ini dia harus konsentrasi penuh menonton sembari memendam harapannya tadi. Lupakan masalah listrik, lupakan masalah tagihan naik, lupakan masalah iuran kost, lupakan dulu semua tanggung jawab itu. Malam ini adalah urusan malam ini, besok urus apa saja boleh.
Begitulah akhirnya. Kemenangan tipis La Furia Roja atas Der Panzer hanya jadi alat balas dendam. Sejauh itu keinginan Si Kepala Suku, terserah bagaimana enaknyalah. Yang penting jangan pasang aksi tagih listrik di saat-saat seperti itu.



