ANTARA LISTRIK DAN LA FURIA ROJA [III]

 Kalau mau lihat Si Kepala Suku berkobar-kobar penuh semangat, lihat dia saat berorasi di depan khalayak massa. Kalau mau dengar dia teriak-teriak bernyanyi macam orang kesurupan, perhatikan saja saat dia mandi. Tapi, kalau mau lihat dia sedih patah hati, lihat di kala dia menonton tim unggulannya kalah.

Begitulah dia di malam itu. Duduk sambil memeluk lutut di dadanya seraya menggigit kuku jari tangan kiri; senyap, takjub, kaget, kecewa. The Albiceleste dilumat 4-0 oleh Der Panzer! Habis sudah tim yang dia unggulkan akan memegang piala juara. Prediksi yang dia lontarkan sebelumnya luput dari sasaran, analisisnyapun robek di lembaran kertas fakta.

Hingga lima hari kemudian, dia seakan mendapat harapan baru. Der Panzer harus menghadapi La Furia Roja di semifinal. Ini memang di luar perhatiannya sedari mula, tapi setidaknya bisa dia jadikan alat untuk ajang balas dendam pada tim yang telah mengalahkan Albiceleste itu. Dan tiba-tiba saja dia jadi banyak bicara tentang La Furia Roja.

“Sejarah terulang lagi,” kata Si Kepala Suku suatu hari. “Der Panzer dan La Furia Roja pernah bertemu di Piala Euro dua tahun lalu dan yang terakhir ini berhasil menang tipis.” Kenyataan ini membuatnya kembali bermain dengan analisis-analisisan: La Furia Roja sudah tahu bagaimana menghadapi lawannya dengan strategi begini-begitu. Lupa dia bahwa analisisnya pernah meleset.

“Namun, pelatihnya waktu itu beda,” lanjutnya. “Pelatih yang sekarang, Vicente del Bosque, baru-baru ini saja dapat kehormatan melatih orang-orang berbakat di tim ini. Orangnya tak banya bicara, setiap kali bicara suaranya pelan. Pokoknya sulitlah dia bicara keras sama orang lain. Ini berkebalikan dengan tim yang dia pimpin, bikin tim lawan di posisi bertahan.” Sungguh mengherankan, bagaimana dia bisa bicara serinci itu untuk tim yang hanya jadi alat baginya?

“Kalau urusan sama politik,” Si Kepala Suku belum ingin berhenti bicara rupanya, “tim ini paling tak mau ambil urusan. Singkatnya, tim dengan personel yang sangat apolitislah. Charles Puyol dan Xavi Hernandes mungkin kekecualian, karena pernah teriak Viva España! di waktu perayaan Euro 2008. Ini bisa berarti keduanya mendukung persatuan Catalan dan Spanyol serta meredam tensi politik masa lalu antara keduanya. Atau bisa jadi itu sebuah provokasi. Ha ha ha…”

 Untung, dia akhirnya berhenti bicara ketika pertandingan sudah mulai. Kali ini dia harus konsentrasi penuh menonton sembari memendam harapannya tadi. Lupakan masalah listrik, lupakan masalah tagihan naik, lupakan masalah iuran kost, lupakan dulu semua tanggung jawab itu. Malam ini adalah urusan malam ini, besok urus apa saja boleh.

Begitulah akhirnya. Kemenangan tipis La Furia Roja atas Der Panzer hanya jadi alat balas dendam. Sejauh itu keinginan Si Kepala Suku, terserah bagaimana enaknyalah. Yang penting jangan pasang aksi tagih listrik di saat-saat seperti itu.

ANTARA LISTRIK DAN LA FURIA ROJA [II]

Lampu di kamar kost saya terangnya minta ampun, tapi tidak bikin mata sakit, enak buat baca buku pengantar tidur. Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba ia mati tak mau menyala lagi tanpa menunjukkan tanda-tanda sekarat terlebih dahulu. Sampai saat ini belum sempat saya belikan lampu baru. Sehingga, saya pun melewati malam-malam kayak di gua, tak bias lagi baca buku pengantar tidur.

Si Kepala Suku kasih alasan sok bijak seperti ini: “Itu petunjuk dari langit agar koe bayar listrik tidak suka lambat.” Dasar tukang tagih tengik! Orang itu masih bicara sembarangan setelah buat kebijakan bergaya rentenir pedesaan. Bagaimana tidak rentenir kalau dia mengharuskan denda sejumlah uang perhari bagi anggota kost yang lambat bayar listrik. Ini sungguh kelewatan.

Gaya kepemimpinannya memang di luar dugaan. Dulu kami pilih dia karena visinya kami anggap lebih tanggap terhadap problem di kost kami. Dengan gaya sok macan podium, dia bicara sangat lantang di hadapan kami: “Saudara-saudara, masalah utama kita adalah selalu terlambat bayar listrik. Ini tidak bisa kita biarkan. Tidak ada pilihan lain, perlu langkah revolusioner untuk menghentikannya. Saya berjanji, saya akan membuat sistem penagihan listrik ke tiap anggota kost yang akan membuat kost kita selalu tepat waktu bayar listrik.” Oleh sebab janji yang menggiurkan itu, jadilah dia sebagai penagih listrik di kost kami dengan perolehan suara mutlak: si Kepala Suku yang baru.

Dan hasilnya,
kebijakan itu lahir,
sebagai langkah revolusioner,
katanya.

“Memang selalu begitu,” kata temanku kamar sebelah si Kepala Suku. “Tidak di kost atau di mana pun, pengambil kebijakan selalu mengecewakan para pemilihnya.”

 Tapi, sebejat apapun si Kepala Suku itu, kami seluruh anggota kost masih nonton Piala dunia Bareng. Kami semua juga teriak-teriak bareng tiap kali si Jabulani melesat ke gawang. Semuanya dengan tim unggulannya masing-masing, dan saya masih tetap dengan La Furia Roja. Bagaimanakah nasibnya kini?

La Furia Roja berhasil lolos ke 16 besar, dengan memimpin klasemen di Grup H. Tim yang pernah mengalahkannya tidak berhasil lolos ke 16 besar. Rasakan! Dengan begitu, beberapa teka-teka sudah tersisihkan. Dengan begitu, La Furia Roja akan menghadapi runner up Grup G (tim ini tidak setangguh pemuncak grup itu). Tapi, dengan begitu pula, beberapa teka-teki baru bermunculan sebelum diketahui tim apa saja yang berhasil ke final.

Yah begitulah,
piala dunia masih menyatukan kami,
tapi entah di luar sana.

ANTARA LISTRIK DAN LA FURIA ROJA

Meski Spanyol kalah,
Kami tetap harus bayar listrik!

 Sebuah perhelatan semacam Muktamar mestinya menjadi ramai dan gegap-gempita. Tapi Muktamar tadi malam hanya dihadiri tidak lebih dari 60% anggota. Sisanya seakan tidak peduli mau diadakan seperti apa dan siapa Kepala Suku selanjutnya. Sedemokratis apa pun prosedurnya, atau seprosedur apa pun demokrasinya, tetap saja itu hanya pergantian Kepala Suku di kos, dan kami tetap harus bayar listrik.

Jika hanya seri karena blunder keeper, atau tak bisa melesakkan gol ke gawang lawan, mungkin tak akan semengejutkan ini. Tapi malam ini Spanyol kalah melawan Swiss. Sungguh sebuah pukulan keras! Dan tiba-tiba, mereka yang mendukung tim-tim yang menang atau seri di pertandingan awal Piala Dunia bisa bergaya di depan saya. Di pertandingan pertama, tak apalah si Jabulani menerobos gawang Spanyol, yang penting listrik harus terbayar.

***

“Mana Golnya?”

Tiba-tiba muncul sandek dari  adik bungsuku yang menjagokan Tim Tiga Singa, persis saat aku mau tidur. Setelah itu, di susul yang lainnya.

“Suruh belajar tu Spain,
Bikin gatel mata.”

“Yang sabar, ya…”

“Alhamdulillah rabbil ‘alamin,
Doaku terkabulkan:
Tanduk matador patah sebelah.
Ha ha ha”

“Agurgur Spanyolah!”

“Pyan ningali  Spanyol wawu?”

“Jangan kau ratapi kekalahan La Furia Roja.
Mungkin piala dunia kali ini bukan yang terbaik buat mereka.
Daripada bersedih & buanga2 air mata,
Ayo dukung ….. (timnya)”

Bah! Terserah apa mau kalian bilang. Aku harus tidur, besok harus bayar listrik!

***

 Pagi hari, aku sudah harus keluar mencari duit. Baru saja keluar pintu kamar, aku sudah ketemu sama sang Ketua Suku baru bersama mantan Ketua Suku, sedang mendiskusikan masalah listrik yang harus segera dibayar. Melihatku, mereka langsung menampakkan ekspresi menagih uang listrik…

Meski dunia berhenti berputar,
Aku tetap harus bayar listrik!