Senangnya hatiku mengetahui bahwa masih ada harapan di negeri ini. Sikap pesimistik hanyalah kerjaan kaum penyeleweng dari jiwa Pancasila, pendurhaka tradisi Nusantara. Kalaupun masih ada yang pesimistik, itu cuma kerjaan segelintir oknum yang tak tahu berterima kasih pada bumi pertiwi yang menyediakan hampir segalanya dari perut bumi dan lautnya.
Senang hati ini mengetahui bahwa masyarakat kita berbudaya adiluhung, beradab ramah dan santun, rukun satu sama lain, toleran. Budaya manapun dari luar kita sambut dengan tangan terbuka dan bibir menyungging senyum. Kalau ternyata masih ada konflik horizontal antarsuku bangsa, sikap khianat di balik senyum manis, bara dendam di balik topeng keramahan, pembantaian sesama anak bangsa, itu mah tak lain dari kerjaan para oknum.
Serius, senang rasanya mengetahui bahwa pendidikan di sini masih baik-baik saja. Para anak didik belajar dengan tiada kenal lelah, tak pernah patah semangat, bahkan tak jarang harus kerja paruh waktu demi mengakses pendidikan. Para pendidiknya pun tak mau kalah, mengajar dengan penuh sikap ikhlas dan tinggi hati, berkat kesejahteraan yang semakin terjamin. Kalaupun masih ada pungutan liar, sistem yang masih amburadul, kurikulum yang selalu berubah-ubah tak jelas, persebaran pendidikan masih belum merata, siswa-siswa yang tawuran, guru cabul peleceh siswinya, toh itu semua cuma kerjaannya para oknum.
Belum lagi di bidang politik, kabar yang datang begitu menggembirakan. Demokrasi dijunjung amat tinggi, siapapun bisa menyalurkan aspirasinya, siapapun berhak berpolitik, tak ada lagi kekangan, tak ada lagi larangan. Kalaupun ternyata masih ada politik uang, masih berlaku hukum rimba dalam politik, masih diunggulkan citra ketimbang kinerja, mental pemilih yang mudah dibeli, itu bukan akhir segalanya. Itu semua cuma kerjaan para oknum.
Kesejahteraan kita juga berangsur-angsur makin meningkat. Ekonomi masyarakat semakin meninggi indeksnya. Daya beli masyarakat makin membaik. Jika ternyata harga sembako tambah mahal, lapangan pekerjaan makin susah, harga BBM tambah mahal, harga daging makin mahal, impor barang yang sebetulnya melimpah di negeri sendiri, ada yang terserang busung lapar, pengangguran di sana-sini, gelandangan dan peminta-minta bergentayangan, tak usah risau. Itu semua tak lain karena ulah oknum semata.
Masyarakat kita itu masyarakat relijius, siapa yang bisa meragukan itu. Masjid-masjid ramai dikunjungi, gereja-gereja penuh sesak, vihara-vihara tak muat menampung pengunjung. Antusiasme keagamaan anak negeri adalah nomor wahid. Tapi di sekitar kita ternyata masih ada sandal hilang di masjid, kekerasan atas nama agama, jual-beli agama seharga kacang rebus, sikap khianat di balik topeng agama, fundamentalisme agama. Kalau nanti ada yang tanya kenapa, jawab saja karena ulah oknum. Habis perkara.
Selera estetika anak negeri juga luar biasa. Segala macam pertunjukan seni, baik yang tradisional hingga yang supramodern, digelar dengan gegap gempita. Hal ini menandakan bahwa status kemanusiaan kita sedang naik kelas, sebab bukan cuma urusan materi yang kita perhatikan, melainkan juga urusan spiritual. Hanya saja, kalau ternyata ada perayaan umbar syahwat, imitasi dan penjiplakan, gaya melucu yang tak lucu, penghambaan terhadap selera pasar, dan alienasi terhadap warisan kesenian adiluhung, mohon jangan sungkan-sungkan untuk mengakui bahwa itu semua hanyalah ulah para oknum saja.
Soal alat transportasi umum di negeri ini juga masya Allah. Alat transportasi terbaru dan terkeren dicipta makin massif. Indonesia seperti benar-benar terlipat, dunia pun terasa datar. Indonesia tak ubahnya sebuah kampung kecil saja jadinya. Tapi, jika terlihat macet di sana-sini, tarif angkot tambah mahal, jalan rusak atau belum berlapis aspal, menumpuk penumpang melebihi kapasitas kendaraan, kebut-kebutan demi kejar setoran, tak aman, tak nyaman, tak layak guna, atau apapunlah, semua itu bukan apa-apa selain para oknumlah biang keladinya.
Terlalu! Sungguh terlalu jika tidak senang dengan keadaan ini! Hidup di Indonesia itu sekarang serba enak, semua serba tersedia, macam di surga saja. Orang Indonesia mana ada yang tidak bahagia? Meski sedang bangkrut, baru semalam ditinggal mati orang tua, kena musibah banjir atau longsor atau gempa 6 koma sekian skala richter atau gunung meletus atau tsunami. Orang Indonesia kuat-kuat, perkasa-perkasa. Agak mengherankan kalau kerja sehariannya cuma gundah gulana. Bisa diduga kuat, yang begitu itu cuma oknum.
Kelak di akhirat nanti, kita mempertanggungjawabkan segala perbuatan di hadapan Tuhan. Siapa yang tidak akan senang, wong jawabannya sudah siap sedari sekarang: semua amal buruk saya ini karena ulah oknum.[]



