Indonesia

Bukan Shalat atau Solat

Fenomena bahasa memang menarik untuk diamati dan dipelajari. Ada banyak hal dari bahasa yang kita anggap remeh—mungkin karena saking sehari-harinya fenomena bahasa itu—namun sebenarnya jika dilihat lebih teliti ternyata mengandung hal-hal menarik.

Kali ini, saya menemukan fenomena bahasa di Facebook. Akun Bahasa Kita – Bahasa Indonesia membuat status (Rabu, 16 Juli 2013 pukul 07.04) yang mengacu pada salah satu lema dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai berikut:

SALAT bukan shalat atau solat. Sa·lat n Isl 1 rukun Islam kedua, berupa ibadah kpd Allah Swt., wajib dilakukan oleh setiap muslim mukalaf, dng syarat, rukun, dan bacaan tertentu, dimulai dng takbir dan diakhiri dng salam; 2 doa kpd Allah.

Menurut Bahasa Kita – Bahasa Indonesia, penggunaan kata ‘shalat’ atau ‘solat’ yang kerap kita temui adalah suatu salah kaprah dan melanggar aturan Bahasa Indonesia yang baku. Penulisan yang benar adalah ‘salat’.

Nah, yang menarik dari status di atas, ternyata ia mengundang kontroversi dari para pengunjung. Terdapat orang-orang yang tidak berkenan dengan cara penulisan itu. Sebaliknya, terdapat pula orang-orang yang mendukung status di atas. Alasannya macam-macam.

Alasan mereka yang menolak:

(1) Penulisan ‘salat’ melanggar bahasa asalnya, yakni bahasa Arab. Mustinya adalah ‘sholat’, sebab huruf awalnya adalah shad, sedang jika menuliskannya menjadi ‘salat’ maka huruf awalnya adalah sîn. Komentar salah seorang dari mereka: “sholat itu serapan dari bhs arab…dari hijaiyah huruf shod..lam..alif..ta»»»»jd yg bner tuch SHOLAT bkn salat,..min

(2) Akibat dari perubahan huruf seperti itu, artinya dalam bahasa Arab juga berubah. Ini kejadian pada kata lain. Misalnya, ‘kalbu’ lebih mirip dengan kata kalb yang artinya anjing, padahal asal katanya dalam bahasa Arab adalah qalb. Ini contoh nyata perubahan arti akibat serapan yang tidak mengindahkan kaidah bahasa Arab. Kata salah seorang dari mereka: “salat? salad? yg bner SOLAT. beda cara baca, beda juga artinya.

(3) perubahan ini konspirasi dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan agama ini secara pelan-pelan. Ini adalah komentar yang paling mengundang tawa. Ada yang berkomentar begini: “yang bikin kamus bhs indonesi ini jgn” orang” kafirin dan musyrikin yang sengaja mengubah ubah arti dan makna setiap kata”, atau di tempat lain: “umat islam jangan mau di bodohi dan di bohongi orang” munafiqin dan musyrikin…?”, atau lagi: “maklum mereka huruf hijaiyah saja belum bisa baca…jadi y, seenak udelnya…..merubah segala sesuatu agar generasi baru tersesat…..” Ya, komentar-komentar sinis seperti ini hanya mau menunjukkan kebodohan pelakunya saja sebetulnya. Menanggapi mereka hanya menguras energi secara percuma saja, mending dihabiskan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Lalu, bagaimana pandangan mereka yang mendukung? Berikut ini kira-kira:

(1) Ini adalah ‘serapan’ dari suatu bahasa ke bahasa Indonesia, bukan ‘jiplakan’. Jadi maklum kalau kata yang diserap tidak persis sama dengan kata aslinya. Dari daftar kata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab, kata yang melenceng dari ejaan asli bahasa Arabnya jumlahnya melimpah sekali. Seperti taat (thâ‘ah), jumat (jum‘ah), Ramadan (ramadlân), saum (shaum), ustaz (ustâdz), takwa (taqwâ), korban (qurbân), dan masih banyak lagi contoh lain.

(2) Serapan kata itu bukannya tanpa acuan, tapi didasarkan kepada KBBI yang disusun oleh para ahli bahasa Indonesia. Jadi, kaidah-kaidah serapan kata dari bahasa asing sudah mereka pertimbangkan tentunya sebelum memutuskan untuk memunculkan lema ‘salat’ ini.

(3) Perlu dibedakan antara kata serapan dengan transliterasi. ‘shalat’ atau ‘solat’ adalah transliterasi dari bahasa Arab agar ketika diucapkan kata itu memiliki kemiripan dengan kata aslinya. Sedangkan kata serapan, yakni ‘salat’, adalah sebuah kata yang sudah diindonesiakan bahkan sejak sebelum KBBI itu dibikin.

Bagi pembaca yang ingin melihat sendiri polemik di atas, bisa langsung kunjungi akun Bahasa Kita. Hitung-hitung, teman-teman pembaca yang belum like (menyukai) Halaman Facebook ini ada baiknya sekalian menyakainya, sebab Halaman ini memberi informasi yang sangat bermanfaat untuk kita pengguna bahasa Indonesia.

Lalu, saya pun mulai bertanya-tanya, kenapa persoalan yang sepertinya remeh begini bisa memunculkan polemik yang cukup ramai di Facebook? Saya tidak bisa berpikir lain selain karena kaidah bahasa Indonesia tidak tersosialisasi dengan begitu baik selama ini. Sekali lagi, saya terpaksa harus menunjuk pada kegagalan institusi sekolah dalam melakukannya. Apa boleh buat, sekolah telah membuat bahasa Indonesia tidak menyenangkan dipelajari oleh siswa.

Selain itu, status ini menjadi demikian ramai karena memuat kandungan yang sensitif bagi sebagian penganut agama Islam. Salat adalah salah satu ibadah terpenting dalam agama Islam, sehingga memberi sedikit celah saja terhadap penyelewengan pengertian terhadap kata ini dengan sendirinya akan menarik perhatian sebagian kalangan Muslim. Coba, misalnya, cuma kata ‘kursi’ yang dilontarkan status itu, tentu polemiknya tidak akan sepanjang itu.

Lagipula, kata ‘Allah’ juga melenceng amat jauh dari kata aslinya bahasa Arab. Seharusnya, kata ini menjadi ‘Allooh’ kalau ingin benar-benar mirip dari ejaan dan pelafalan sebagaimana dalam bahasa Arab. Tapi kenapa belum ada yang protes hingga saat ini? Apakah kata ‘Allah’ tidak begitu penting bagi mereka? Ah, yang benar saja![]

Jurnal Mlangi #2

TELAH TERBIT EDISI KEDUA!

jurnal_mlangi_2

|
|
|

JURNAL MLANGI
Media Pemikiran dan Kebudayaan Pesantren
(188 hal.)

PESANTREN, RISET STRATEGIS BANGSA,
DAN KONDOBHUWONO

Dari redaksi:

Perjuangan itu, minimal di ranah wacana, harus terus digelorakan. Apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi. Gelombang informasi membanjiri kita setiap hari laksana arus besar Tsunami. Dunia maya pun seolah lebih real, lebih nyata, tinimbang realitas yang sebenarnya itu sendiri. Selain informasi, kita juga dijejali dengan berbagai teori, konsep, paradigma, filsafat yang sebagian besar di antaranya sesat dan menjerumuskan. Ya, rusaknya tatanan kebangsaan kita, dari politik hingga ekonomi, dari hukum hingga kebudayaan, juga situasi dan kondisi global saat ini yang penuh ketidak-adilan dan kian kuatnya hegemoni the dominant ideology, salah satunya, dilakukan melalui penyebarluasan riset, teori, konsep, dan informasi yang sesat dan menyesatkan.

Pusat-pusat pengetahuan global telah secara sistematik menyebarkan kekaburan dan me-misleading yang membuat kita mengalami disorientasi sejarah dan realitas, mulai dari teori pendidikan, ekonomi, politik, hukum, sejarah, pluralisme, multikulturalisme, hingga kebudayaan. Untuk sekedar menyebut contoh, taksonomi ranah pendidikan menjadi kognisi, afeksi, psikomotorik, yang begitu mendarah-daging dalam kepala para pendidik, sebenarnya sama sekali tidak kompatibel dengan filsafat manusia yang berkembang di bumi nusantara, yang berakhir pada amburadulnya output pendidikan kita. Trikotomi Geertz yang diamini ilmuwan sosial mainstream Indonesia bukan hanya telah menggariskan jarak sosial dan emosional antarkomunitas yang sebelumnya tidak ada, namun juga telah menghilangkan para kyai-kyai yang lahir dari keraton-keraton Nusantara dalam peta sosiologis dan antropologis.

Teori-teori developmentalisme yang diacu dalam pembangunan nasional hanya melahirkan kerusakan sumber daya alam tak terkira dan memusatkan distribusi sumber daya ekonomi pada elit-elit korup, dan akhirnya melempangkan jalan bagi penyedotan kekayaan nusantara ke negara-negara pusat. Hasilnya, kemiskinan dan kesenjangan di dunia ketiga kian parah dan lebar. Teori-teori pembangunan politik yang berpusat pada filsafat politik liberal yang dicangkokkan dalam tata negara kita pada akhirnya menceraikan rakyat dengan wakilnya, menelanjangi kedaulatan rakyat, bahkan juga kedaulatan nasional. Yang lebih sistemik lagi, bagaimana masyarakat terjebak dengan diskursus teoretik yang membenturkan antara nasionalisme dan Islamisme, padahal salah satu ekspresi otentik dari Islamisme adalah nasionalisme sejati (hubbul wathon minal-iman). Energi bangsa ini terkuras hampir ratusan tahun dalam jebakan diskursus tersebut, dan juga diskursus serupa lainnya.

Dalam struktur berpikir, bagaimana logika Aristotelian yang berbasis pada prinsip identitas telah membuat kita berpikir seragam dan berfikir positivistik. Berbagai teori yang mengandung fallacies of thingking tersebut bermuara pada tercerabutnya kita dari realitas geografis, demografis, ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan kita sendiri. Akibatnya bukan hanya kehilangan identitas atau kepribadian orisinal, namun juga gagal memahami potensi dan kekayaan anugerah-Nya yang luar biasa, gagal memahami siapa identitas kita.

Kita tanpa sadar dipakaikan “kacamata” setelah mengkonsumsi berbagai teori tersebut tanpa kritisisme di institusi pendidikan, dari dasar hingga tinggi, namun bukan realitas sebagaimana kita seharusnya memahaminya, akan tetapi sebagai realitas yang mereka inginkan. Secara amat perlahan kita diseret untuk memahai kenyataan dengan kacamata yang justru membuat kita semakin tidak paham diri kita, sejarah kita, potensi alam kita, kebudayaan kita, dan apa yang harus kita lakukan. Kita diseret secara perlahan-lahan memahami realitas sebagaimana mereka memahaminya, mengkonstruksi kesadaran sebagaimana yang diinginkan oleh sistem yang dirancang.

Jika diteruskan, hal ini akan berujung pada kondisi di mana kita akan belajar tentang keindonesiaan, kenusantaraan, bukan melalui kefaktaan sosial otentis yang ada, dengan teori yang cocok, dengan nilai yang ideal, namun melalui tumpukan buku-buku dan teori-teori yang diproduksi untuk kepentingan hegemoni dan eksploitasi. Aneh bin ajaib, semakin kaum akademik melakukan riset seputar keindonesiaan, dari budaya sampai energi, yang dibiayai oleh lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia, semakin tidak faham dan mengenal potensi budaya dan kekayaan alam Indonesia, dan di sisi lain semakin kekuatan global tersebut semakin kuat cengkeraman kuku dan taringnya di bumi Nusantara.

Pesantren sebagai institusi pengetahuan tidak boleh diam atau merasa sudah cukup memerankan peran historisnya hanya karena telah melakukan proses selama ini. Oleh karena akar masalahnya atau arena pertarungannya berada di ranah pengetahuan, maka menjadi wajib menggerakkan kembali diskursus strategis. Inilah arena perjuangan pokok pesantren, yakni menjadi institusi riset strategis, dengan kebijakan riset strategis, di samping kaderisasi tentu saja kaderisasi ulama.

Pesantren adalah taman budaya nusantara yang kaya. Kekayaan budaya ini harus menjadi modal sosial pengembangan pesantren agar berperan di tengah-tengah konstelasi dunia. Keragaman tradisi intelektualnya merefleksikan kekayaan tradisi dan kearifan lokal yang memproduksi local knowledge yang luar biasa. Paduan akan inovasi mutakhir dan pijakan yang kuat dalam tradisi lokal akan menjadikan pesantren sebagai universitas berkelas dunia dengan nuansa kearifan lokal yang kental. Pada akhirnya Pesantren akan menjadi taman intelektual muda nusantara yang merajut makna keislaman dan keindonesiaan.

Untuk menuju ke sana tidak ada jalan lain bagi pesantren untuk mengembangkan tradisi kajian dan riset strategis untuk kepentingan kemuliaan Islam dan kedaulatan bangsa yang sejati. Dengan menjadi institusi yang kuat tradisi kajian dan risetnya, pesantren akan memberikan kontribusi besar dalam menjawab berbagai persoalan kekinian dan masa depan. Menjadi institusi riset berkelas dunia sama sekali bukan untuk latah, apalagi gagah-gagahan, dan bukan tujuan akhir, namun untuk ikut memberikan kontribusi menyelesaikan berbagai persoalan dunia. Berbagai persoalan global tersebut, seperti demografi, kemiskinan, lingkungan, kesehatan, konflik, sumber daya alam, semuanya berada di Indonesia.

Karenanya menyelesaikan berbagai persoalan kebangsaan kontemporer sama artinya dengan menyelesaikan sebagian problem global, dan dengan demikian memberi kontribusi global. Tepat pada titik tersebut sejatinya pesantren telah menjadi world-class-research university dalam pengertian yang sesungguhnya. Inilah barangkali yang dibayangkan Sunan Kalijaga ketika memberi wejangan bahwa Islam Jawa harus mampu mituturi dunia. Itulah yang dimaksud oleh Kanjeng Sunan dengan Kondobuwono. Pertanyaannya, mungkinkah mewujudkan idealisme tersebut?

Dengan kuatnya riset, pesantren akan membalik posisi sosialnya saat ini, dari tineliti menjadi peneliti, dari lazim (digerakkan, dipengaruhi) menjadi mutangaddi (penggerak, mempengaruhi), dari mafngul (objek penderita) menjadi fangil (subjek pelaku), dari pasif menjadi aktif, dari statis menjadi lebih dinamis, dari akidah menuju transformasi sosial. Di samping itu, evolusi institusi pesantren saat ini yang semakin mengintegrasikan diri dalam sistem pendidikan formal, dengan berbagai pola dan variannya, meniscayakan, cepat atau lambat, akan lahirnya kebutuhan untuk melakukan riset.

Riset ala pesantren tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan riset konvensional. Perbedaan ini berakar pada perbedaan konstruksi ontologi, epistemologi, metodologi, dan aksiologi antara riset ala pesantren dengan riset konvensional. Perbedaan ini berakar pada sejarah sosial, sumber nilai, dan tradisi intelektualnya. Sebagaimana diketahui, proses riset dan kajian akademik di Barat tidak terlepas dari kepentingan dominasi dan hegemoni, sehingga riset (pengetahuan) menjadi salah satu pilar dari superioritas Barat, yang dalam banyak hal justru menjadikan sains sebagai ancaman terhadap kemanusiaan.
Edisi kedua kali ini akan mengupas seputar riset dan keniscayaan pesantren menjadi riset strategis. Riset Utama pertama mengupas sejarah research university dan transformasinya hingga saat ini di Barat. Riset Utama kedua mengupas soal tradisi riset di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari sejarah hingga prioritas riset yang ada. Riset ketiga, yang merupakan poin penting edisi kali ini, akan menyuguhkan paradigma, orientasi ideologi riset ala pesantren (Pesantren-Riset). Tulisan utama pertama akan memotret dominasi perguruan tinggi Amerika di lingkungan global. Tulisan kedua berisi uraian keharusan melakukan dekolonisasi metodologi sebagai prasyarat menginisiasi riset berbasis pada kebutuhan keislaman dan kebangsaan, sedangkan tulisan ketiga berisi seperti apa konsep awal perguruan tinggi riset berbasis pesantren. Selain itu juga dimuat berbagai artikel, esai, kolom, yang relevan dengan topik ini.

Akhirnya, selamat membaca sembari berharap untuk terus didoakan agar selalu dilimpahi hidayah, rahmat, inayah, dan fadhal-Nya, sehingga jurnal ini bisa terus terbit serta apa yang tertulis di dalamnya menjadi bagian dari ulumun-nafi’ah. Amin, amin, amin, Ya Mujibas-saailiin.[]

Bila tertarik, silahkan hubungi Bangkit Ahmad.

Table of Contents Edisi Kedua

Editorial
Pesantren, Riset Strategis Bangsa, dan Kondobhuwono

Riset Utama I
Transformasi Research University di Barat, Sejarah dan Perkembangan Mutaakhir

Riset Utama II
Wajah Riset dalam Panggung Perguruan Tinggi Indonesia

Riset Utama III
Paradigma dan Ideologi Riset Ala Pesantren

Artikel Utama I
Dominasi Global Perguruan Tinggi Amerika

Artikel Utama II
Dekolonisasi Metodologi, Pra-Syarat Riset Berbasis Kebutuhan Bangsa

Artikel Utama III
Tradisi Riset di Lingkungan Perguruan Tinggi Islam

Artikel Utama IV
Perguruan Tinggi Riset Berbasis Nilai-nilai Pesantren

Kolom I
Neoliberalisme dan Tantangan Ilmu Sosial

Kolom II
Redupnya Tradisi Riset Sejak Dini

Kolom III
Anak dan Bahasa Asing, Kapan Dipersuakan?

Artikel Lepas I
Memperkokoh Basis Teologis Pendidikan

Artikel Lepas II
Konsep Kepemimpinan Sultan Agung

Artikel Lepas III
Penyelewengan Makna Jihad

Panorama Global
Arab Spring: Agama dan Teori Transisi Demokrasi Gelombang Keempat

Esai Sastra
Genre Sastra Jahili

Puisi

Review Kitab
Ar-Risalah: Embrio Ushul Fiqh

Review Buku
Senjakala Integrasi-Interkoneksi

Apresiasi Tokoh I
Meneladani Mbah Kyai Nur Iman

Apresiasi Tokoh II
Tuan Guru KH Zainuddin Abdul Madjid, Kebangkitan Tanah Air dari Lombok

Aswaja Bergerak
Aswaja dalam Dinamika Sejarah Nusantara

Giveaway Senangnya Hatiku: Serba Oknum

launching-blog-www.amazzet.com-giveaway-senangnya-hatiku-300x225

Senangnya hatiku mengetahui bahwa masih ada harapan di negeri ini. Sikap pesimistik hanyalah kerjaan kaum penyeleweng dari jiwa Pancasila, pendurhaka tradisi Nusantara. Kalaupun masih ada yang pesimistik, itu cuma kerjaan segelintir oknum yang tak tahu berterima kasih pada bumi pertiwi yang menyediakan hampir segalanya dari perut bumi dan lautnya.

Senang hati ini mengetahui bahwa masyarakat kita berbudaya adiluhung, beradab ramah dan santun, rukun satu sama lain, toleran. Budaya manapun dari luar kita sambut dengan tangan terbuka dan bibir menyungging senyum. Kalau ternyata masih ada konflik horizontal antarsuku bangsa, sikap khianat di balik senyum manis, bara dendam di balik topeng keramahan, pembantaian sesama anak bangsa, itu mah tak lain dari kerjaan para oknum.

Serius, senang rasanya mengetahui bahwa pendidikan di sini masih baik-baik saja. Para anak didik belajar dengan tiada kenal lelah, tak pernah patah semangat, bahkan tak jarang harus kerja paruh waktu demi mengakses pendidikan. Para pendidiknya pun tak mau kalah, mengajar dengan penuh sikap ikhlas dan tinggi hati, berkat kesejahteraan yang semakin terjamin. Kalaupun masih ada pungutan liar, sistem yang masih amburadul, kurikulum yang selalu berubah-ubah tak jelas, persebaran pendidikan masih belum merata, siswa-siswa yang tawuran, guru cabul peleceh siswinya, toh itu semua cuma kerjaannya para oknum.

Belum lagi di bidang politik, kabar yang datang begitu menggembirakan. Demokrasi dijunjung amat tinggi, siapapun bisa menyalurkan aspirasinya, siapapun berhak berpolitik, tak ada lagi kekangan, tak ada lagi larangan. Kalaupun ternyata masih ada politik uang, masih berlaku hukum rimba dalam politik, masih diunggulkan citra ketimbang kinerja, mental pemilih yang mudah dibeli, itu bukan akhir segalanya. Itu semua cuma kerjaan para oknum.

Kesejahteraan kita juga berangsur-angsur makin meningkat. Ekonomi masyarakat semakin meninggi indeksnya. Daya beli masyarakat makin membaik. Jika ternyata harga sembako tambah mahal, lapangan pekerjaan makin susah, harga BBM tambah mahal, harga daging makin mahal, impor barang yang sebetulnya melimpah di negeri sendiri, ada yang terserang busung lapar, pengangguran di sana-sini, gelandangan dan peminta-minta bergentayangan, tak usah risau. Itu semua tak lain karena ulah oknum semata.

Masyarakat kita itu masyarakat relijius, siapa yang bisa meragukan itu. Masjid-masjid ramai dikunjungi, gereja-gereja penuh sesak, vihara-vihara tak muat menampung pengunjung. Antusiasme keagamaan anak negeri adalah nomor wahid. Tapi di sekitar kita ternyata masih ada sandal hilang di masjid, kekerasan atas nama agama, jual-beli agama seharga kacang rebus, sikap khianat di balik topeng agama, fundamentalisme agama. Kalau nanti ada yang tanya kenapa, jawab saja karena ulah oknum. Habis perkara.

Selera estetika anak negeri juga luar biasa. Segala macam pertunjukan seni, baik yang tradisional hingga yang supramodern, digelar dengan gegap gempita. Hal ini menandakan bahwa status kemanusiaan kita sedang naik kelas, sebab bukan cuma urusan materi yang kita perhatikan, melainkan juga urusan spiritual. Hanya saja, kalau ternyata ada perayaan umbar syahwat, imitasi dan penjiplakan, gaya melucu yang tak lucu, penghambaan terhadap selera pasar, dan alienasi terhadap warisan kesenian adiluhung, mohon jangan sungkan-sungkan untuk mengakui bahwa itu semua hanyalah ulah para oknum saja.

Soal alat transportasi umum di negeri ini juga masya Allah. Alat transportasi terbaru dan terkeren dicipta makin massif. Indonesia seperti benar-benar terlipat, dunia pun terasa datar. Indonesia tak ubahnya sebuah kampung kecil saja jadinya. Tapi, jika terlihat macet di sana-sini, tarif angkot tambah mahal, jalan rusak atau belum berlapis aspal, menumpuk penumpang melebihi kapasitas kendaraan, kebut-kebutan demi kejar setoran, tak aman, tak nyaman, tak layak guna, atau apapunlah, semua itu bukan apa-apa selain para oknumlah biang keladinya.

Terlalu! Sungguh terlalu jika tidak senang dengan keadaan ini! Hidup di Indonesia itu sekarang serba enak, semua serba tersedia, macam di surga saja. Orang Indonesia mana ada yang tidak bahagia? Meski sedang bangkrut, baru semalam ditinggal mati orang tua, kena musibah banjir atau longsor atau gempa 6 koma sekian skala richter atau gunung meletus atau tsunami. Orang Indonesia kuat-kuat, perkasa-perkasa. Agak mengherankan kalau kerja sehariannya cuma gundah gulana. Bisa diduga kuat, yang begitu itu cuma oknum.

Kelak di akhirat nanti, kita mempertanggungjawabkan segala perbuatan di hadapan Tuhan. Siapa yang tidak akan senang, wong jawabannya sudah siap sedari sekarang: semua amal buruk saya ini karena ulah oknum.[]

Artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway Senangnya Hatiku

Homeschooling

[1]
Homeschool sebagai sebuah kata tiba-tiba meluncur begitu saja ke sekitar kita. Tampaknya, sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia, sekolah-rumah. Lalu muncul macam-macam kata bentukannya, seperti menyekolahrumahkan, penyekolahrumahan, disekolahrumahkan, dan macam-macam lagi. Tapi, biar tulisan ini mudah dilanjutkan, saya tetap menggunakan bahasa Inggrisnya.

[2]
Homeschooling bukan hasil rapalan abracadabra. Ia lahir dalam lingkup sebuah konteks, terutama konteks pendidikan di Amerika. Coba perhatikan pembuka sebuah buku berikut ini:

Lima puluh tahun yang lalu sekolah negeri di Amerika Serikat masih terkenal dengan disiplin yang ketat, pengajaran yang canggih, dan standar moral yang tinggi. Namun dalam kurun waktu kurang dari lima puluh tahun terakhir, pendidikan di sekolah negeri di Amerika Serikat mengalami kemerosotan drastis.

Sejak Alkitab dan Sepuluh Perintah Allah dikeluarkan dari ruang kelas, sejak pelajaran mengenai hubungan intim diperkenalkan melalui Planned Parenthood (Keluarga Berencana) pada tahun 1970-an, sejak dilakukan pembagian gratis pil KB dan kondom di sekolah, dan penekanan pada pengajaran teori evolusi ditingkatkan, terjadilah kehancuran moral yang luar biasa. Angka perceraian melesat naik, sehingga saat ini, menurut statistik, dari dua pasangan yang menikah, satu akan bercerai. Belum lagi pembunuhan atas janin tak berdosa, aborsi yang dilegalkan sejak tahun 1973. Total angka mematian janin karena aborsi jauh lebih tinggi dari jumlah total angka kematian korban Perang Dunia I dan II. Belum lagi peningkatan luar biasa angka kriminalitas yang dilakukan remaja selama tiga puluh tahun terakhir.

Segelintir orang tua di Amerika mulai mencermati ketimpangan ini sekitar tahun 1970-an. Mereka membawa anak-anak mereka kembali ke rumah untuk dididik sendiri sesuai dengan prioritas yang mereka tetapkan. Pendidikan di rumah dilakukan dengan memberikan pendidikan dasar membaca, menulis, berhitung dan agama di samping mempersiapkan anak menghadapi masa depan mereka masing-masing. Gerakan homeschooling abad ke-21 merupakan reaksi para orang tua terhadap kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan standar moral dan religiusitas para orang tua.

Babagaimana setelah membaca pengantar ini? Apa tiba-tiba tersentak dengan gejala pendidikan formal akhir-akhir ini, lalu mulai berkeringat dingin membayangkan anak-anak terlempar ke dalam degradasi moral yang memilukan, lalu terlintas rencana mendidik anak di rumah saja? Atau bisa jadi bereaksi sebaliknya, menyingkirkan segala macam kekhawatiran dan menganggap kutipan di atas itu sebagai terlalu mendramatisir dan malah provokatif. Buktinya, data yang dipaparkan sangat lemah, tak berdasarkan penelitian yang berbobot.

Apapun reaksi pembaca, harap diingat bahwa kutipan di atas cuma bercerita tentang konteks.

[3]
Homeschooling memiliki keuntungan-keuntungan tersendiri. Beberapa di antaranya tak bisa diselesaikan intitusi sekolah.

Anak perindividu mendapat perhatian penuh
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, anak didik bisa diperhatikan perkembangan pendidikannya dengan lebih intens di homeschool, karena orang tuanya adalah adalah sekaligus gurunya. Ini tentu berbeda dengan riwayat para guru sekolah, mereka harus memperhatikan perkembangan sejumlah anak sekelas sekaligus. Jumlahnya bisa 20-an orang sampai 40-an! Kenyataan ini tentu berbeda dengan homeschool yang cuma segelintir orang anak didik.

Guru sekolah bisa jadi bertemu anak didiknya di ruang kelas sekali dalam seminggu. Untuk kasus tertentu, bisa jadi 2 atau 3 kali seminggu. Hanya saja, jelas tidak ada guru sekolah yang bertemu setiap hari dengan anak didiknya. Jadi, perkembangan pendidikan anak hanya bisa dipantau di setiap perjumpaannya ini. Hal ini tentu berbeda dengan homeschool.

Kurikulum bisa berkembang
Salah satu masalah di sekolah adalah kejar target agar anak didik bisa menjawab tes akhir, sehingga ada beberapa materi yang tidak terjelaskan dengan baik harus segera diganti dengan materi pelajaran lain demi mengejar target. Hal ini tidak berlaku dalam homeschool. Anak didik bisa dipastikan paham materi dulu oleh orang tuanya sebelum beranjak ke materi sebelumnya.

Materi pelajaran bisa dipilih sesuai prioritas
Ada beberapa orang yang tidak sepakat dengan Teori Evolusi, misalnya, karena dianggap bertentangan dengan ajaran kitab suci dan tidak ingin anak-anaknya menganut pandangan ini. Sayangnya, teori ini sudah jadi kurikulum baku dan diajarkan di sekolah-sekolah tanpa mencantumkan teori tandingannya tentang proses dan penciptaan alam. Bukan rahasia lagi, teori evolusi masih diperdebatkan keabsahannya hingga saat ini.

Dengan homeschool orang tua bisa memberikan pada anaknya materi sesuai dengan kebenaran dia anut.

Membangun karakter anak secara maksimal
Sekolah kadang menerapkan disipling yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran anak, seperti dilarang bicara saat berbaris, harus berseragam, dan lain-lain. Ini tidak berlaku dalam homeschool. Masih untung kalau sekolah masih menerapkan disiplin. Tambah runyam lagi kalau sekolah justru tidak mau ambil peduli dengan disiplin dan perkembangan moral anak didik.

Belum lagi soal pergaulan anak didik yang kurang terkontrol. Tawuran, seks bebas, narkoba, sekolah yang baik tidak akan membiarkan anak didiknya melakukan itu semua. Tapi tetap saja ada yang terjerumus. Semua itu adalah akibat dari pergaulan yang berada di luar control sekolah.

Dengan homeschooling pergaulan anak didik bisa diperhatikan orang tua secara lebih maksimal.

Dan lain-lain
Daftar keuntungan homeschooling ini bisa ditambah lebih banyak lagi.

[4]
Sebanyak apapun keuntungan yang dimiliki homeschool tetap saja memendam kelemahan-kelemahan. Berikut ini hanya sebagian contohnya.

Sosialisasi
Anak-anak ditumpuk-tumpuk di sekolah sehingga mereka bisa berinteraksi satu sama lain. Ini disebut sosialisasi. Anak-anak homeschool tentu saja tetap bersosialisasi, hanya tidak seintens di sekolah di mana anak-anak bersosialisasi dengan sebayanya. Salah satu kekhawatiran yang acap dialamatkan kepada praktik homeschooling adalah anak tidak bisa menikmati sosialisasi yang amat penting buat pertumbuhan mereka.

Ini bukan masalah yang tidak ada pemecahannya, sebetulnya. Hanya saja kadang orang tua berpikir lebih baik menyekolahkan anaknya agar mereka bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Menguras energi dan waktu
Terutama bagi para ibu yang umumnya menjadi guru bagi anaknya di homeschool—ini tidak menutup kemungkinan bapaknya ikut terlibat dalam proses pengajaran. Homeschooling akan bekerja dengan bagus kalau si ibu tidak menghabiskan waktu siangnya dengan pekerjaan mencari nafkah. Jadi ibunya mengurus anaknya secara penuh, bapak mencari nafkah di luar. Bila ada waktu, bapaknya terlibat dalam pengurusan anak. Ini adalah gambaran ideal sebuah homeschool.

Ini, sekali lagi, bukanlah masalah yang tak punya pemecahan. Ada juga seorang single parent yang menerapkan homeschooling, dan anak-anaknya membantu orang tuanya mencari nafkah. Begini juga bisa.

Jadi, homeschool  itu melelahkan bagi orang tua. Beberapa orang tua terkadang menyerah di tengah jalan bila anak-anaknya tidak bisa diajak belajar. Lalu mereka dikirim ke sekolah agar mereka bisa dipaksa belajar. Mereka bisa bertahan cuma para orang tua yang bisa sabar dan tekun demi sesuatu yang terbaik buat anak-anaknya.

[5]
Homeschooling sudah berlaku legal di Indonesia sejak Mei 2007 kemarin. Dasar legalitasnya adalah (1) Undang-Undang Dasar 1945; (2) Undang-Undang No. 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, terutama pada pasal 27 ayat 1 dan 2 mengenai kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan hasil pendidikan tersebut diakui sama dengan pendidikan formal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan; (3)Undang-Undang No. 32 tahun 2003 tentang Desentralisasi dan Otonomi Daerah; (4) Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; (5) Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom; (6) Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah; (7) Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0131/U/1991 tentang Paket A dan Paket B; (8) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 132/U/2004 tentang Paket C; dan (9) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 14 tahun 2007 tentang Standar Isi Pendidikan Kesetaraan.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk menerapkan homeschooling. Untuk penjelasan lebih lanjut, bisa dilihat [di sini].

Kalau ada yang tertarik menerapkan homeschooling, tinggal mendaftar saja ke Dinas Pendidikan setempat. Ada prosedur yang harus dipatuhi, dan selengkapnya bisa dilihat [di sini].

Bagaimana dengan kurikulum dan tetek bengek lainnya? Jangan khawatir, Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional sudah mengatur segalanya. Langsung saja kunjungi [situs jaringan] mereka.[]


catatan

Buku inspiratif: Loy Kho, Secangkir Kopi, Obrolan Seputar Homeschooling, Yogyakarta: Kanisius, 2008.

Homeschooling

[1]
Homeschool sebagai sebuah kata tiba-tiba meluncur begitu saja ke sekitar kita. Tampaknya, sudah ada padanannya dalam Bahasa Indonesia, sekolah-rumah. Lalu muncul macam-macam kata bentukannya, seperti menyekolahrumahkan, penyekolahrumahan, disekolahrumahkan, dan macam-macam lagi. Tapi, biar tulisan ini mudah dilanjutkan, saya tetap menggunakan bahasa Inggrisnya.

[2]
Homeschooling bukan hasil rapalan abracadabra. Ia lahir dalam lingkup sebuah konteks, terutama konteks pendidikan di Amerika. Coba perhatikan pembuka sebuah buku berikut ini:

Lima puluh tahun yang lalu sekolah negeri di Amerika Serikat masih terkenal dengan disiplin yang ketat, pengajaran yang canggih, dan standar moral yang tinggi. Namun dalam kurun waktu kurang dari lima puluh tahun terakhir, pendidikan di sekolah negeri di Amerika Serikat mengalami kemerosotan drastis.

Sejak Alkitab dan Sepuluh Perintah Allah dikeluarkan dari ruang kelas, sejak pelajaran mengenai hubungan intim diperkenalkan melalui Planned Parenthood (Keluarga Berencanapada tahun 1970-an, sejak dilakukan pembagian gratis pil KB dan kondom di sekolah, dan penekanan pada pengajaran teori evolusi ditingkatkan, terjadilah kehancuran moral yang luar biasa. Angka perceraian melesat naik, sehingga saat ini, menurut statistik, dari dua pasangan yang menikah, satu akan bercerai. Belum lagi pembunuhan atas janin tak berdosa, aborsi yang dilegalkan sejak tahun 1973. Total angka mematian janin karena aborsi jauh lebih tinggi dari jumlah total angka kematian korban Perang Dunia I dan II. Belum lagi peningkatan luar biasa angka kriminalitas yang dilakukan remaja selama tiga puluh tahun terakhir.

Segelintir orang tua di Amerika mulai mencermati ketimpangan ini sekitar tahun 1970-an. Mereka membawa anak-anak mereka kembali ke rumah untuk dididik sendiri sesuai dengan prioritas yang mereka tetapkan. Pendidikan di rumah dilakukan dengan memberikan pendidikan dasar membaca, menulis, berhitung dan agama di samping mempersiapkan anak menghadapi masa depan mereka masing-masing. Gerakan homeschooling abad ke-21 merupakan reaksi para orang tua terhadap kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan standar moral dan religiusitas para orang tua.

Babagaimana setelah membaca pengantar ini? Apa tiba-tiba tersentak dengan gejala pendidikan formal akhir-akhir ini, lalu mulai berkeringat dingin membayangkan anak-anak terlempar ke dalam degradasi moral yang memilukan, lalu terlintas rencana mendidik anak di rumah saja? Atau bisa jadi bereaksi sebaliknya, menyingkirkan segala macam kekhawatiran dan menganggap kutipan di atas itu sebagai terlalu mendramatisir dan malah provokatif. Buktinya, data yang dipaparkan sangat lemah, tak berdasarkan penelitian yang berbobot.

Apapun reaksi pembaca, harap diingat bahwa kutipan di atas cuma bercerita tentang konteks.

[3]
Homeschooling memiliki keuntungan-keuntungan tersendiri. Beberapa di antaranya tak bisa diselesaikan intitusi sekolah.

Anak perindividu mendapat perhatian penuh
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, anak didik bisa diperhatikan perkembangan pendidikannya dengan lebih intens di homeschool, karena orang tuanya adalah adalah sekaligus gurunya. Ini tentu berbeda dengan riwayat para guru sekolah, mereka harus memperhatikan perkembangan sejumlah anak sekelas sekaligus. Jumlahnya bisa 20-an orang sampai 40-an! Kenyataan ini tentu berbeda dengan homeschool yang cuma segelintir orang anak didik.

Guru sekolah bisa jadi bertemu anak didiknya di ruang kelas sekali dalam seminggu. Untuk kasus tertentu, bisa jadi 2 atau 3 kali seminggu. Hanya saja, jelas tidak ada guru sekolah yang bertemu setiap hari dengan anak didiknya. Jadi, perkembangan pendidikan anak hanya bisa dipantau di setiap perjumpaannya ini. Hal ini tentu berbeda dengan homeschool.

Kurikulum bisa berkembang
Salah satu masalah di sekolah adalah kejar target agar anak didik bisa menjawab tes akhir, sehingga ada beberapa materi yang tidak terjelaskan dengan baik harus segera diganti dengan materi pelajaran lain demi mengejar target. Hal ini tidak berlaku dalam homeschool. Anak didik bisa dipastikan paham materi dulu oleh orang tuanya sebelum beranjak ke materi sebelumnya.

Materi pelajaran bisa dipilih sesuai prioritas
Ada beberapa orang yang tidak sepakat dengan Teori Evolusi, misalnya, karena dianggap bertentangan dengan ajaran kitab suci dan tidak ingin anak-anaknya menganut pandangan ini. Sayangnya, teori ini sudah jadi kurikulum baku dan diajarkan di sekolah-sekolah tanpa mencantumkan teori tandingannya tentang proses dan penciptaan alam. Bukan rahasia lagi, teori evolusi masih diperdebatkan keabsahannya hingga saat ini.

Dengan homeschool orang tua bisa memberikan pada anaknya materi sesuai dengan kebenaran dia anut.

Membangun karakter anak secara maksimal
Sekolah kadang menerapkan disipling yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran anak, seperti dilarang bicara saat berbaris, harus berseragam, dan lain-lain. Ini tidak berlaku dalam homeschool. Masih untung kalau sekolah masih menerapkan disiplin. Tambah runyam lagi kalau sekolah justru tidak mau ambil peduli dengan disiplin dan perkembangan moral anak didik.

Belum lagi soal pergaulan anak didik yang kurang terkontrol. Tawuran, seks bebas, narkoba, sekolah yang baik tidak akan membiarkan anak didiknya melakukan itu semua. Tapi tetap saja ada yang terjerumus. Semua itu adalah akibat dari pergaulan yang berada di luar control sekolah.

Dengan homeschooling pergaulan anak didik bisa diperhatikan orang tua secara lebih maksimal.

Dan lain-lain
Daftar keuntungan homeschooling ini bisa ditambah lebih banyak lagi.

[4]
Sebanyak apapun keuntungan yang dimiliki homeschool tetap saja memendam kelemahan-kelemahan. Berikut ini hanya sebagian contohnya.

Sosialisasi
Anak-anak ditumpuk-tumpuk di sekolah sehingga mereka bisa berinteraksi satu sama lain. Ini disebut sosialisasi. Anak-anak homeschool tentu saja tetap bersosialisasi, hanya tidak seintens di sekolah di mana anak-anak bersosialisasi dengan sebayanya. Salah satu kekhawatiran yang acap dialamatkan kepada praktik homeschooling adalah anak tidak bisa menikmati sosialisasi yang amat penting buat pertumbuhan mereka.

Ini bukan masalah yang tidak ada pemecahannya, sebetulnya. Hanya saja kadang orang tua berpikir lebih baik menyekolahkan anaknya agar mereka bisa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.

Menguras energi dan waktu
Terutama bagi para ibu yang umumnya menjadi guru bagi anaknya di homeschool—ini tidak menutup kemungkinan bapaknya ikut terlibat dalam proses pengajaran. Homeschooling akan bekerja dengan bagus kalau si ibu tidak menghabiskan waktu siangnya dengan pekerjaan mencari nafkah. Jadi ibunya mengurus anaknya secara penuh, bapak mencari nafkah di luar. Bila ada waktu, bapaknya terlibat dalam pengurusan anak. Ini adalah gambaran ideal sebuah homeschool.

Ini, sekali lagi, bukanlah masalah yang tak punya pemecahan. Ada juga seorang single parent yang menerapkan homeschooling, dan anak-anaknya membantu orang tuanya mencari nafkah. Begini juga bisa.

Jadi, homeschool  itu melelahkan bagi orang tua. Beberapa orang tua terkadang menyerah di tengah jalan bila anak-anaknya tidak bisa diajak belajar. Lalu mereka dikirim ke sekolah agar mereka bisa dipaksa belajar. Mereka bisa bertahan cuma para orang tua yang bisa sabar dan tekun demi sesuatu yang terbaik buat anak-anaknya.

[5]
Homeschooling sudah berlaku legal di Indonesia sejak Mei 2007 kemarin. Dasar legalitasnya adalah (1) Undang-Undang Dasar 1945; (2) Undang-Undang No. 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, terutama pada pasal 27 ayat 1 dan 2 mengenai kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan hasil pendidikan tersebut diakui sama dengan pendidikan formal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan; (3)Undang-Undang No. 32 tahun 2003 tentang Desentralisasi dan Otonomi Daerah; (4) Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; (5) Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000 Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom; (6) Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah; (7) Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0131/U/1991 tentang Paket A dan Paket B; (8) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 132/U/2004 tentang Paket C; dan (9) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 14 tahun 2007 tentang Standar Isi Pendidikan Kesetaraan.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk menerapkan homeschooling. Untuk penjelasan lebih lanjut, bisa dilihat [di sini].

Kalau ada yang tertarik menerapkan homeschooling, tinggal mendaftar saja ke Dinas Pendidikan setempat. Ada prosedur yang harus dipatuhi, dan selengkapnya bisa dilihat [di sini].

Bagaimana dengan kurikulum dan tetek bengek lainnya? Jangan khawatir, Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Departemen Pendidikan Nasional sudah mengatur segalanya. Langsung saja kunjungi [situs jaringan] mereka.[]


catatan

Buku inspiratif: Loy Kho, Secangkir Kopi, Obrolan Seputar Homeschooling, Yogyakarta: Kanisius, 2008.

A Cup Of Java: Coffee and Consequences

The coffee plant, native to Ethiopia, was introduced to the mountainous southwestern region of the Arabian Peninsula around the fourteenth century. Coffee bushes and the habit of drinking coffee were not introduced into Indonesia by Arabs but by the VOC in 1696. Dutch men with personal interests in botany and agriculture and who owned private estates around Batavia had their local workforce experiment in raising and propagating the seedlings. VOC officials used their personal networks with Sundanese nobles to establish the coffee industry in the highlands of west Java. Plants were given to Sundanese district heads who directed farmers to deliver the harvested beans to fulfill their tax obligation. The first harvest was in 1718. The VOC paid the district heads in cash and textiles. It took over the coffee business at the warehouse where the beans were packed and stored until they could be transported to Europe.

At first the VOC paid high prices for coffee, giving local farmers an incentive to grow more coffee than their tax quota for sale to VOC agents. The opportunities attracted migrants into the area. By 1725 three million pounds were harvested and the district chiefs were becoming rich from their percentage of the profits. As supplies of coffee from Java added to coffee available from other production areas in Amsterdam’s market, prices for the luxury product began to decline in Europe. The VOC’s solution was not to expand the number of coffee drinkers but to reduce the amount   of   coffee   grown   by   cutting   the   prices   paid   the   west   Javanese farmer, requiring some coffee bushes to be uprooted, and banning sales of coffee   to   private   wholesalers.   Such   actions   brought   economic   loss   to communities just learning to enjoy a higher standard of living, marked by the increased numbers of Sundanese households able to own a buffalo.

This experiment in coffee production was undertaken by officials who argued for more direct VOC involvement in Indonesian societies. They wanted to bypass Indonesian kings and court factions to work directly with the provincial nobles who controlled networks of village heads and jagos.

photocredit: facebook.com/sanglaut

Printing and Thinking

 Printing was an ancient invention of the Chinese. Europeans made the press a major tool of intellectual life with the advantages of a twenty-six-letter alphabet and a measure of freedom in some western European cities. Within four decades of printing the Gutenberg Bible in Mainz in 1455, printing was introduced into Islamic lands by Jews expelled from Spain in 1492. The Ottoman Turks banned setting Arabic into type, so the first Muslim press of the Arabic world was not set up until 1822. As a result, books from the Islamic heartland that found their way to the Indonesian archipelago before the middle of the nineteenth century were hand written, few in number, and costly.

Printed books arrived in Indonesia through the Dutch. From 1617, presses in Holland published books and pamphlets in Dutch and Malay for communities in the Indonesian archipelago. Because Arabic had been printed in Europe since 1530, the Dutch were able to set Malay in Arabic script too. Devotional texts, such as the Bible, prayers, and catechism, were printed in Malay in both Roman and Arabic scripts and exported to VOC settlements in Asia. The first printing press was shipped from Holland in 1624.

Presses were portable. They consisted of a wooden frame and a tray for the type and were operated by turning handles. Draftsmen and supplies of paper, printer’s ink, lye baths, and proof plates had to be sent from Holland.

Regulations and notices were printed by the Batavia presses, while daily record keeping was handwritten. As in Europe, printers in Indonesia combined academic interests and artisan skills with commerce. Dutch men who ran presses employed Indonesian assistants, and they published books intended for Indonesian as well as Dutch readers. For instance, Lambertus Loderus held the license for government printer in Batavia in the first years of the eighteenth century. He printed official documents under contract and also published and sold books. He researched, wrote, and published a Dutch-Malay dictionary in 1707. Another publisher, Harmanus Mulder, brought out a Malay-language catechism in Arabic type in 1746.

The Indonesians for whom printed books had the greatest impact were Christians and men who worked in VOC offices as clerks and assistants. Most Indonesian scholars rejected the press until the mechanical production of books became acceptable in Islamic countries. Sumatran and Javanese printers borrowed techniques developed by Muslim publishing   houses   in   India   for   typesetting   Arabic   to   produce   books   that closely resembled manuscripts. From the middle of the nineteenth century Indonesian publishers printed books in Malay on Islamic topics for a clientele in religious schools and mosques and used the traveling scholar and catalogue as their publicity and distribution network. This different history of access to printed books meant that Christian Indonesians were exposed to sources of Western knowledge two hundred years before most Muslim Indonesians. All publishers, Dutch and Indonesian, worked under government surveillance.

photocredit: blog.nathanbransford.com