Kelas III SD, tahun ajaran baru. Darsono memutuskan meminta sepasang Ayam Kate (gallus gallus bantam) sebagai hadiah kenaikan kelasnya. Ini adalah keputusan bulat dan tidak bisa diganggu gugat, meskipun diam-diam ada campur tangan kakeknya juga.
Ayah-ibunya mencoba menawarkan hadiah lain, sebab sepasang ayam bukan lagi mainan yang lumrah untuk anak-anak zaman itu. Tapi, dengan dukungan penuh dari kakeknya, Darsono tidak bergeming.
Akhirnya, dengan terpaksa, dan sedikit dongkol dengan si kakek, orang tua Darsono membelikannya juga sepasang Ayam Kate. Kenapa harus sepasang? Sebab, apa guna seekor ayam yang lama-lama akan mati sebatang kara? Kalau sepasang kan nanti bisa beranak-pinak.
Persoalan pertama muncul: mau disimpan di mana sepasang ayam itu? Di ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur, ruang makan dan di dalam lemari tentu tidak bisa. Mau dilepas di halaman sehari-semalam khawatir akan lari, atau malah ditangkap maling kelaparan. Di dapur saja, usul Darsono. Orang tuanya langsung menyangka bahwa usul itu pasti atas petunjuk si kakek. Oleh karena tidak punya tempat lain untuk ditawarkan, usul Darsono dikabulkan.
Tak sampai seminggu, bapak-ibu Darsono sudah stres. Sepasang ayam itu betul-betul tak tahu sopan santun. Asal main berak, bikin kotor dapur saja! Yang lebih parah, pasangan itu sering melakukan hal mesum di tempat terbuka. Sungguh tak tahu malu!
Orang tua Darsono kelimpungan, tak tahu harus berbuat apa. Mau menyingkirkan sepasang ayam begundal itu, kasihan si Darsono. Mau mengomeli Darsono tentang kebersihan dan ini-itu, tokh dia masih anak-anak, tak baik dipersalahkan hanya karena mainan barunya itu. Mau protes pada si kakek juga tak bisa. Para orang tua lebih baik dibiarkan kemauannya, ketimbang mengambil resiko kambuh segala macam penyakit lama.
Untung, si kakek mengerti apa yang harus dia perankan dalam keadaan semacam itu. Dia membuat kandang ayam berbahan bambu seukuran 1X1 meter. Meski sederhana, dan terkesan dibikin oleh tukang tak profesional, tapi setidaknya ada tempat khusus sepasang ayam itu berak, bermesraan, dan bikin anak di lokasi yang layak dan pantas. Lebih dari itu, tak ada lagi yang perlu resah soal kebersihan rumah. Dan terutama, Darsono bisa merawatnya dengan baik sesuai, dengan petunjuk si kakek, tentunya.
“Kakek kok pintar sekali merawat ayam?” Tanya Darsono, suatu hari.
“Waktu kakek muda dulu,” jawab si kakek, “kakek suka membantu bapak kakek memelihara ayam.” Bapak si kakek, lanjutnya, punya banyak sekali ayam kampung (gallus gallus domesticus).
“Wah, bapak Darsono kok gak suka ayam ya? Untung ada kakek, bisa bantu Darsono merawat ayam.” Darsono membuat pengakuan yang bikin kakeknya bangga.
Kemampuan si kakek bukan sekedar asupan jempol, rupanya. Suatu saat, si ayam jantan tak mau bergerak, menggigil saja di samping kandangnya. Darsono panik, tak tahu harus berbuat apa. Saking paniknya, dia merengek ke bapaknya agar si jantan dibawa ke Puskesmas terdekat. Tapi, beruntung, lagi-lagi si kakek lekas-lekas ambil tindakan. Dia ambil bawang merah (allium cepa) ukuran kecil, dia paksa si jantan menelannya, dan ajaib, tak lama kemudian si jantan pulih kembali. Praktik medis tradisional ini dia sebut mbrambangi, dan sepertinya tidak begitu lumrah di kalangan dokter hewan modern.
Puncak kesenangan Darsono adalah ketika dia tahu bahwa si ayam betina mengeluarkan 8 biji telur. Darsono girang bukan main. Dia merasa, ini adalah hasil ketekunannya merawat pasangan ayam itu. intensitasnya menekuni kandang ayam itu pun meningkat, yang awalnya cuma kasih makan pagi dan sore, sekarang jadi jongkok berlama-lama memandangi telur-telurnya, tentu saja dengan ditemani si kakek yang bercerita banyak hal, dan disertai geleng-geleng kepala bapak-ibunya.
Hari-hari berlalu, ayam Darsono kali ini bertambah menjadi 10 ekor. Ketekunan Darsono merawat ayam tidak berkurang, justru tambah sibuk dengan hadirnya 8 anggota baru. betul-betul kesenangan yang tak tergantikan!
Tapi, seiring kesenangan yang sangat, kadang-kadang kesedihan menghantam dari arah yang tak terduga. Darsono yang masih sekecil itu harus mengalaminya. Si kakek, teman sekomplotannya merawat ayam, ditemukan tergeletak di ruang makan. Dia dilarikan ke puskesmas terdekat, tapi tak tertolong. Kata dokter, dia terkena serangan jantung. Darsono berfikir, mestinya si kakek di-brambangi. Tapi Darsono insyaf, semua sudah terlambat. Lagian, para dokter tak sepintar si kakek yang tahu prosedur mbrambangi.
Darsono sangat terpukul. Semangatnya merawat ayam merosot sangat tajam. Bahkan bisa dibilang, sekarang ayam-ayamnya jadi terlantar.
Demi kebaikan ayam-ayam itu, dan atas persetujuan Darsono, ayam-ayam itu dijual ke pemilik baru. tak jadi soal, pikir Darsono, asal kenangan bersama kakeknya tak lagi mengundang kesedihan, ayam-ayam lucu itu menyingkir saja.
Sekarang kelas IV SD, tahun ajaran baru. Darsono memutuskan meminta sepasang marmut (mures monti) sebagai hadiah kenaikan kelasnya. Ini adalah keputusan bulat dan tak bisa diganggu gugat, tapi kali ini dia putuskan atas pertimbangan dan iktikadnya sendiri.
Ayah-ibunya langsung pening kepala.[]