SIMPANG TIGA PENENTUAN

Sore secerah ini, paling pas menikmati kopi hangat di warung langganan. Tanpa bicara, saya dan Darsono sudah tahu apa yang harus dilakukan. Cukup dengan kontak mata, kami sudah mengambil helm dan mengeluarkan sepeda motor.

Baru di depan gerbang rumah kos, tiba-tiba sebuah sepeda motor yang dilajukan dua orang begundal ugal-ugalan hampir menyerempet kami berdua. Bahkan mereka meneriaki kami agar minggir. Sepertinya mereka berkendara dalam keadaan mabuk, tercium bau minuman keras di udara bekas lintasan mereka.

Belum hilang keterkejutan saya, Darsono sudah menambah rasa kaget yang lain. Tiba-tiba, dia merampas setir sepeda motor dari tangan saya dan menyuruh saya bonceng di belakang. “Buruan! Kita kejar dua begundal itu!” teriaknya.

Tergopoh-gopoh saya menaiki jok sepeda motor, sebab Darsono langsung melajukan sepeda motor tanpa mempedulikan saya sudah mantap di belakangnya atau belum. Pengejaran pun berlangsung, dan tak bisa kubayangkan apa kejadian selanjutnya.

Jarak kami di belakang sepeda motor ugal-ugalan itu semakin dekat, tinggal beberapa meter lagi. Motor di depan kami sudah mencapai sebuah simpang tiga dan tampaknya mengambil arah kanan. Arah kiri menuju lokasi warung kopi langganan kami, sedangkan arah kanan menuju tempat yang pas untuk berurusan dengan dua orang begundal teler, yakni stadion kota.

Tapi kali ini Darsono memberikan rasa kaget yang lain lagi: dia mengambil arah kiri! Belum sempat saya tanyakan keputusan mengejutkan ini, dia sudah bicara duluan. “Huh! Untung dia ambil arah kanan.” Saya melihat wajah meremehkan dari balik helmnya.

“Iya. Coba misalkan mereka ambil arah kiri ya, Dar.” Saya coba mengimbangi emosinya.

“Kalau mereka mengambil arah kiri, ya kita yang ke kanan.” Sambung Darsono.

Saya langsung ngakak kencang-kencang.[]

KUTU TUHAN

“Bu, Tuhan itu punya kutu ya?”

Ibu Darsono terus melakukan pekerjaannya: mencari kutu di rambut adik perempuan Darsono. Kegiatan mencari kutu ini seharusnya jadi ajang bersantai-santai sore hari setelah seharian tadi melakukan pekerjaan ibu-ibu. Tapi pertanyaan Darsono ini mengusik ketenangannya, membuatnya waswas.

Pertanyaan teologis semacam ini kerap terlontar dari anak-anak, sebab mereka memang mau tidak mau akan berhadapan dengan konsep-konsep abstrak, berusaha mengenalnya dan mempelajarinya. Itu biasa saja, semacam sebuah proses yang memang harus mereka lewati. Sesuatu yang bagi orang-orang dewasa merupakan tabu, di tangan anak-anak tiba-tiba menjadi pertanyaan lucu, sekedar saluran hasrat ingin tahu. Tapi bagi orang tua hal itu kadang mengganggu.

Kenapa? Karena pertanyaan itu membuahkan dilema. Mau jawab ala orang dewasa beresiko memaksakan jawaban yang tidak mereka pahami. Mau jawab menurut pikiran anak-anak berarti menerobos tabu, bermain-main dengan konsep-konsep ketuhanan, yang dalam pikiran orang dewasa bahkan dilarang memikirkannya. Dan dilema itu sekarang menjangkiti ibu Darsono.

Oleh karena tak tahu harus jawab apa, ibu Darsono cuma bisa menjawab spontan, “Heh, kamu ngomong apa sih?” Berbalik bertanya bernada teguran adalah kedok ketak-tahuan para orang tua, andai Darsono tahu itu.

“Iya, iya, bu. Saya tahu kok.”

Nah, Darsono sendiri tahu kudu menjawab apa.

“Tadi Pak Guru bilang bahwa Tuhan itu tak punya se-kutu.”[]

P.S.: jika ingin menertawakan tabu, berkumpullah dengan anak-anak.

photo credit: cahya-yudistira.blogspot.com

NINA BOBO

Orang tua Darsono menerapkan pendidikan kemandirian untuk anak-anaknya sedari usia dini. Seperti soal kebersihan dan kerapian, Darsono dan adik-adiknya diajarkan membersihkan kamar dan mencuci pakaian sendiri. Paling tidak, bila sudah besar nanti mereka diharapkan tidak terlalu menggantungkan hidup pada orang lain.

Berhubung mereka masih anak-anak, tantangan orang tua adalah kemalasan. Ibarat silih pergantian musim, kemalasan anak-anak kerap kali datang di saat yang tak terduga dan menuntut perubahan strategi, taktik serta metode yang berbeda. Barangkali di situlah letak seni mendidik anak, pikir orang tua Darsono.

Siang itu, taktik ibu Darsono tiba-tiba menuntutnya marah-marah. Apa pasal? Karena Darsono sudah sangat keterlaluan, meninggalkan pakaian kotornya terendam di ember selama tiga hari tiga malam. Bisa dibayangkan, baunya pasti tak kalah ketimbang keringat setan.

“Kerjamu cuma main terus! Kau sudah SMA, Dar. Kalau ada baju kotor, lekas-lekaslah kau cuci!”

Darsono hanya bisa duduk di kursi itu, tangannya memeluk lutut dan kepalanya tertunduk lesu, seakan ingin menyerap kemarahan ibunya hanya melalui telinganya saja. Posisi tubuh seperti itu hanya menunjukkan satu hal: penyesalan atas kelakuannya. Dan ibunya makin semangat mengomel.

“Tidak cuma sekali ini kau melakukannya, Dar! Sampai kapan ibu harus mengingatkanmu.”

Di tengah omelan yang menjadi-jadi, ibu Darsono dikejutkan oleh sebuah suara yang tidak selayaknya muncul di momen setegang itu. Suara dengkuran! Minta ampun, rupanya posisi tertunduk itu karena Darsono terlalu mengantuk. Dan sekarang dia betul-betul tertidur!

Ibunya kesal tidak ketulungan, meneriakkan nama anaknya itu sekencang-kencangnya. Darsono langsung terbangun. Kaget. []

#photo credit: munirmuthohar.wordpress.com

PANCASILA

Saat masih duduk di Sekolah Dasar, guru Darsono bercerita tentang Pancasila. Dalam pikiran Darsono, Pancasila itu nama seseorang yang istimewa. Terbukti, Pancasila dirayakan setiap 1 Oktober, dan hari itu dikasih nama “Hari Kesaktian Pancasila”.

Inilah yang membuat Darsono tertarik. Dia penasaran, sehebat apa Pancasila itu? Apakah dia bisa terbang atau menghilang? Jangan-jangan kulitnya kebal, tak tembus segala macam senjata? Mungkin dia menggendong kesana-kamari senjata super canggih menumpas musuh-musuhnya? Sepertinya, si Pancasila ini tak kalah hebat ketimbang jagoan-jagoan dalam film kartun.

Semasa SMP, Darsono mulai menyadari pentingnya menumbuhkan jiwa pancasilais dalam kehidupan. Di luar kepala dia hafal Pancasila berikut butir-butirnya. Meninggalkan Pancasila berarti pengkhianatan, dan tak ada toleransi bagi pengkhianat. Maklum, saat itu dia baru saja ikut P4 yang wajib diikuti oleh semua siswa baru.

Di kala SMA, bersamaan dengan runtuhnya Orde Baru, dia mulai patah hati pada Pancasila. Kesaktian Pancasila rupanya hanyalah jargon. Jiwa-jiwa pancasilais pun ternoda oleh perangai Orde Baru. Dia mulai linglung, tak punya pegangan hidup, terbentur oleh kenyataan dengan sangat kuat.

Paruh masa kuliah, Darsono mulai sadar bahwa masih ada harapan, meskipun agak remang-remang, memang. Tapi kali ini, dia sudah mulai bisa melihat persoalan dengan lebih jernih dan dewasa. Dalam soal Pancasila, kali ini dia tanggapi dengan biasa-biasa saja, tenang dan tidak banyak cingcong. Bahkan, ada kesan dia sudah tidak lagi peduli.

Berkat UU Sisdiknas yang kontroversial, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) diganti nama menjadi Pendidikan Kewarganegaraan saja. Reaksi bermacam-macam, ada yang mencak-mencak macam orang kecolongan ponsel, ada yang gundah-gulana kayak ditinggal mati hewan piaraan, ada juga yang bicara sok akademisi dengan analisis super ruwet. Apa jadinya negeri ini jika rakyatnya tidak diajarkan Pancasila sejak dini? Pemegang kebijakan bikin pembelaan: itu cuma soal nama saja, isinya tokh tidak banyak berubah. Tanggapan Darsono? Sebagai orang bawahan, dengan tegas dia bilang No comment!

Malam itu, saya ajak Darsono keluar jalan-jalan atau nongkrong di warung kopi. Mengejutkan, dia tolak ajakan saya. Banyak tugas kuliah, dia bilang.

Saya paksa dia, “Mana jiwa pancasilaismu, sob?” Masih tak mau juga. Ya sudah, keluar sendirian saja. Tapi, sebelum saya pasang helm, suara Darsono sudah memanggil-manggil.

“Sob, sob, saya ikut! Tapi, jangan hubungkan ini dengan Pancasila atau apa pun.”

Tentu saja, Dar. Tentu tak ada hubungan apapun, gumamku sambil tersenyum. Pada dasarnya, Darsono itu setia kawan dan Pancasila masih sakral di benaknya. Aku tak ragu sedikit pun!

NB:
Apes, di tengah jalan kami kehujanan! Darsono mengutuk-ngutuk perjalanan ini. Senang tak dapat, tugas kuliah tak selesai.

PRAHARA KANCING BAJU

Berhubung celana saya sobek akibat sudah aus, dan belum ada duit buat beli yang baru, saya putuskan untuk permak saja celana itu di tempat jahit terdekat.

Darsono, yang sejak pagi hingga sore itu di kos terus, mau menemani saya ke sana. Suntuk di kos terus, katanya, sekalian cari udara segar. Saya iyakan saja kemauannya. Hitung-hitung, akan lebih menyenangkan kalau ada yang temani.

Sampai ke lokasi, saya langsung serahkan calana saya ke tukang jahitnya. Saya sepakati soal harga dan waktu penyelesaiannya sembari mengambil kuitansi yang dia serahkan. Semuanya berlangsung dengan cepat dan tidak bertele-tele.

Tiba-tiba, Darsono berseru, “Yaaah!”

Rupanya salah satu kancing bajunya lepas dari tempatnya. Dia pungut kancing bajunya yang tergeletak di lantai itu. Dia dekati si tukang jahit, dan bertanya, “Berapa lama menjahit kancing baju ini?”

Si tukang jahit menjelaskan waktu penyelesaiannya dengan mantap. Sementara itu, bersamaan dengan pertanyaan Darsono, perasaan saya mulai tidak enak.

“Berapa harganya?” lanjut Darsono.

Penjahit itu memberikan harga yang wajar. Dan saya mulai berdo’a, semoga dugaan saya tidak benar.

Tapi ternyata Tuhan punya kehendak lain. Dengan penuh semangat, Darsono melepaskan bajunya dan menyerahkannya pada si penjahit, berikut juga kancingnya yang terlepas.

“Dua jam lagi saya balik ke sini.” Darsono berkata bak pelanggan setia.

Dasar memang sudah nasib, siang itu saya berjalan menyusuri trotoar menuju rumah kos, ditemani Darsono yang tak pakai baju.[]

KENANGAN AYAM

Kelas III SD, tahun ajaran baru. Darsono memutuskan meminta sepasang Ayam Kate (gallus gallus bantam) sebagai hadiah kenaikan kelasnya. Ini adalah keputusan bulat dan tidak bisa diganggu gugat, meskipun diam-diam ada campur tangan kakeknya juga.

Ayah-ibunya mencoba menawarkan hadiah lain, sebab sepasang ayam bukan lagi mainan yang lumrah untuk anak-anak zaman itu. Tapi, dengan dukungan penuh dari kakeknya, Darsono tidak bergeming.

Akhirnya, dengan terpaksa, dan sedikit dongkol dengan si kakek, orang tua Darsono membelikannya juga sepasang Ayam Kate. Kenapa harus sepasang? Sebab, apa guna seekor ayam yang lama-lama akan mati sebatang kara? Kalau sepasang kan nanti bisa beranak-pinak.

Persoalan pertama muncul: mau disimpan di mana sepasang ayam itu? Di ruang tamu, kamar mandi, kamar tidur, ruang makan dan di dalam lemari tentu tidak bisa. Mau dilepas di halaman sehari-semalam khawatir akan lari, atau malah ditangkap maling kelaparan. Di dapur saja, usul Darsono. Orang tuanya langsung menyangka bahwa usul itu pasti atas petunjuk si kakek. Oleh karena tidak punya tempat lain untuk ditawarkan, usul Darsono dikabulkan.

Tak sampai seminggu, bapak-ibu Darsono sudah stres. Sepasang ayam itu betul-betul tak tahu sopan santun. Asal main berak, bikin kotor dapur saja! Yang lebih parah, pasangan itu sering melakukan hal mesum di tempat terbuka. Sungguh tak tahu malu!

Orang tua Darsono kelimpungan, tak tahu harus berbuat apa. Mau menyingkirkan sepasang ayam begundal itu, kasihan si Darsono. Mau mengomeli Darsono tentang kebersihan dan ini-itu, tokh dia masih anak-anak, tak baik dipersalahkan hanya karena mainan barunya itu. Mau protes pada si kakek juga tak bisa. Para orang tua lebih baik dibiarkan kemauannya, ketimbang mengambil resiko kambuh segala macam penyakit lama.

Untung, si kakek mengerti apa yang harus dia perankan dalam keadaan semacam itu. Dia membuat kandang ayam berbahan bambu seukuran 1X1 meter. Meski sederhana, dan terkesan dibikin oleh tukang tak profesional, tapi setidaknya ada tempat khusus sepasang ayam itu berak, bermesraan, dan bikin anak di lokasi yang layak dan pantas. Lebih dari itu, tak ada lagi yang perlu resah soal kebersihan rumah. Dan terutama, Darsono bisa merawatnya dengan baik sesuai, dengan petunjuk si kakek, tentunya.

“Kakek kok pintar sekali merawat ayam?” Tanya Darsono, suatu hari.

“Waktu kakek muda dulu,” jawab si kakek, “kakek suka membantu bapak kakek memelihara ayam.” Bapak si kakek, lanjutnya, punya banyak sekali ayam kampung (gallus gallus domesticus).

“Wah, bapak Darsono kok gak suka ayam ya? Untung ada kakek, bisa bantu Darsono merawat ayam.” Darsono membuat pengakuan yang bikin kakeknya bangga.

Kemampuan si kakek bukan sekedar asupan jempol, rupanya. Suatu saat, si ayam jantan tak mau bergerak, menggigil saja di samping kandangnya. Darsono panik, tak tahu harus berbuat apa. Saking paniknya, dia merengek ke bapaknya agar si jantan dibawa ke Puskesmas terdekat. Tapi, beruntung, lagi-lagi si kakek lekas-lekas ambil tindakan. Dia ambil bawang merah (allium cepa) ukuran kecil, dia paksa si jantan menelannya, dan ajaib, tak lama kemudian si jantan pulih kembali. Praktik medis tradisional ini dia sebut mbrambangi, dan sepertinya tidak begitu lumrah di kalangan dokter hewan modern.

Puncak kesenangan Darsono adalah ketika dia tahu bahwa si ayam betina mengeluarkan 8 biji telur. Darsono girang bukan main. Dia merasa, ini adalah hasil ketekunannya merawat pasangan ayam itu. intensitasnya menekuni kandang ayam itu pun meningkat, yang awalnya cuma kasih makan pagi dan sore, sekarang jadi jongkok berlama-lama memandangi telur-telurnya, tentu saja dengan ditemani si kakek yang bercerita banyak hal, dan disertai geleng-geleng kepala bapak-ibunya.

Hari-hari berlalu, ayam Darsono kali ini bertambah menjadi 10 ekor. Ketekunan Darsono merawat ayam tidak berkurang, justru tambah sibuk dengan hadirnya 8 anggota baru. betul-betul kesenangan yang tak tergantikan!

Tapi, seiring kesenangan yang sangat, kadang-kadang kesedihan menghantam dari arah yang tak terduga. Darsono yang masih sekecil itu harus mengalaminya. Si kakek, teman sekomplotannya merawat ayam, ditemukan tergeletak di ruang makan. Dia dilarikan ke puskesmas terdekat, tapi tak tertolong. Kata dokter, dia terkena serangan jantung. Darsono berfikir, mestinya si kakek di-brambangi. Tapi Darsono insyaf, semua sudah terlambat. Lagian, para dokter tak sepintar si kakek yang tahu prosedur mbrambangi.

Darsono sangat terpukul. Semangatnya merawat ayam merosot sangat tajam. Bahkan bisa dibilang, sekarang ayam-ayamnya jadi terlantar.

Demi kebaikan ayam-ayam itu, dan atas persetujuan Darsono, ayam-ayam itu dijual ke pemilik baru. tak jadi soal, pikir Darsono, asal kenangan bersama kakeknya tak lagi mengundang kesedihan, ayam-ayam lucu itu menyingkir saja.

Sekarang kelas IV SD, tahun ajaran baru. Darsono memutuskan meminta sepasang marmut (mures monti) sebagai hadiah kenaikan kelasnya. Ini adalah keputusan bulat dan tak bisa diganggu gugat, tapi kali ini dia putuskan atas pertimbangan dan iktikadnya sendiri.

Ayah-ibunya langsung pening kepala.[]