[FILM] MUHAMMAD THE LAST PROPHET

[Judul: Muhammad The Last Prophet | Pengarah: Richard Rich | Rilis: 2002 | Nilai: 4 dari 5 bintang]

[1]
Ini adalah film sejarah: sejarah Kanjeng Nabi Muhammad.

[2]
Menghadirkan cerita Kanjeng Nabi dalam sebuah film animasi bukanlah ide buruk. Apalagi jika animasinya bagus, digarap dengan menarik oleh orang-orang yang ahli dibidangnya, tentu akan menambah kesan tertentu bagi penontonnya. Muhammad The Last Prophet ini, menurut saya, adalah salah satu yang tidak begitu buruk atau lumayan dalam melakukannya.

[3]
Setiap upaya menghadirkan sejarah Kanjeng Nabi dalam sebuah film adalah sebentuk tafsir atas sejarah. Bagaimana tidak! Versi sejarah Kanjeng Nabi itu banyak sekali, dan setiap versinya adalah tafsir. Memilih satu versi di antaranya berarti mengurangi kekayaan sumber sejarah. Ditambah lagi, ada banyak detil cerita yang harus dipangkas dalam film ini demi mengejar durasi. Dengan kata lain, film ini juga harus menghadapi sebuah resiko yang tidak ringan.

Dari sudut pandang yang lain, setiap upaya menghadirkan kisah Kanjeng Nabi dalam sebuah film adalah sebentuk keberpihakan atas sejarah. Sekali lagi, bagaimana tidak! Versi sejarah Kanjeng Nabi itu banyak sekali, dan setiap versinya adalah keberpihakan. Memilih satu versi di antaranya berarti menyeleksi mana yang paling cocok dengan keberpihakannya. Asalkan penonton jeli, beberapa detil yang tidak ditampilkan dalam film ini “seakan” hendak menghindari resiko besar yang akan ditanggung. Situasi seperti ini, menurut saya, memang tidak terhindarkan dalam setiap upaya memfilmkan sejarah Kanjeng Nabi.

Mungkin ada baiknya jika disebutkan beberapa contoh dari kedua kondisi itu. Coba sebutkan siapa nama asli Abû Jahl, pamanda—dan satu dari sekian orang yang paling benci dakwah—Kanjeng Nabi? Tentu saja, nama aslinya adalah ‘Amr ibn Hisyâm, kunyah-nya Abû al-Hakam. Tapi, sejak detik awal film ini dimulai hingga akhir, tidak ada sekali pun nama aslinya disebut-sebut dalam setiap dialog. Bahkan orang-orang yang sekomplotan dengannya (seperti Abû Lahb dan Abû Sufyân) juga memanggilnya dengan sebutan Abû Jahl dan dia menjawab panggilan itu seperti tidak ada yang salah. Ini sulit diterima akal sehat. Mana ada orang yang mau dipanggil dengan sebutan Abû Jahl? Nama Abû Jahl—jika dialihbahasakan kira-kira menjadi “Si Super Dungu”—adalah ledekan (laqâb qabîh) dari kaum Muslim kepada si Amr ibn Hisyâm karena sikap penentangannya kepada Kanjeng Nabi yang tiada kenal menyerah.

Contoh lain, ada banyak tokoh yang tidak dimunculkan gambarnya dalam film ini. Kanjeng Nabi tentu saja termasuk diantaranya. Apa mau dikata, umat Islam amat tidak suka kalau sosok Nabinya digambar-gambar untuk tujuan apapun karena memang ada larangan untuk melakukannya. Meski tidak semua umat Muslim menyepakati hal ini, tapi para penggarap film ini memilih untuk tidak menampilkan gambar Kanjeng Nabi, tentu seperti yang saya bilang di atas, karena hendak menghindari resiko yang akan ditanggung. Yang unik, selain Kanjeng Nabi Muhammad, para Khulafaur Rosyidin dan Hamzah, salah satu paman Kanjeng Nabi, juga tidak muncul gambarnya di film. Apakah menurut para penggarap film ini gambar mereka juga terlarang? Sejauh saya tahu, umat Muslim Indonesia tidak keberatan dengan gambar-gambar mereka, entah di negara-negara lain.

Selain dua contoh di atas, ada banyak pemangkasan cerita lain. Asalkan bisa jeli, yakin, ada banyak yang bisa diungkap dari film ini selain sekedar jalannya cerita.

[4]
Tala‘a al-badru ‘alaynā
Min thanīyāti al-wadā‘
Wajab al-shukru ‘alaynā
Mā da‘ā lillāhi dā‘
Ayyuha al-mab‘ūthu fīnā
Ji’ta bil-amri al-mutā‘
Ji’ta sharaft al-madīnah
Marḥaban yā khayra dā‘

Wahai bulan purnama yang terbit ke atas kita
Dari lembah al-Wadā‘.
Kita harus berucap syukur
Di mana seruan adalah kepada Allah.
Wahai engkau yang dibesarkan di kalangan kami
Datang dengan seruan untuk dipatuhi
Engkau telah membawa kemuliaan di kota ini
Selamat datang, penyeru terbaik

[5]
Pandangan di atas adalah cara pandang “kecurigaan”. Kalau mau pakai pandangan yang lebih sejuk, film ini menawarkan kebijaksanaan yang amat kaya. Tak diragukan lagi, sejarah kehidupan Kanjeng Nabi adalah sejarah keteladanan. Dan film ini memang lebih diarahkan untuk menjadi semacam jendela bagi mereka yang merindukan panutan ketimbang sekedar kontroversi sejarah yang bikin mumet.[]

photocredit: wikipedia.com dan opinimasding.blogspot.com

THE LEGEND OF KORRA

Perang sudah dimenangkan, perdamaian sudah direngkuh, tapi apakah dunia berakhir di situ saja dan tidak ada apa-apa lagi setelah itu? Mohon maaf, bagi yang cepat puas sebaiknya menyingkir saja.

Aang dan kawan-kawannya telah melakukan yang terbaik untuk kedamaian dan keseimbangan dunia. Dia pun telah membangun sebuah kota metropolit, The Republic City, di mana semua pengendali (air, angin, api dan tanah) bisa hidup damai di sana. Namun, apa mau dikata, dunia tidak selamanya dalam keadaan beres seperti itu. Untuk itulah Sang Avatar akan terus hidup dan menitis kepada orang lain yang akan melanjutkan tugasnya di dunia.

Dan inilah kisahnya! Harus ada seseorang yang menjadi Sang Avatar baru dan berjuang demi perdamaian dan keseimbangan dunia. Inilah The Legend of Korra!

Korra terlahir dari suku pengendali air dan, mirip seperti Aang, sejak kecil sudah terdeteksi sebagai calon Avatar baru. Gadis bengal ini sangat berbakat sehingga dia bisa menguasai pengendalian air, api dan udara dengan sangat cepat. Dalam rangka bersiap-siap menghadapi kondisi Avatar (Avatar state), kali ini dia harus belajar pengendalian udara dari seorang master yang sangat dia kenal: Master Tenzin, putra bungsu dari Aang dan Katara.

Hanya saja, berbeda dengan Aang yang kesulitan mempelajari pengendalian api, si gadis bengal ini kesulitan mempelajari pengendalian udara karena pengendalian yang satu ini mensyaratkan ketenangan batin dan kendali diri yang intens. Kedua syarat ini bertentangan dengan wataknya yang ugal-ugalan dan kerap lepas control.

Tapi tak usah risau, selalu ada penyelesaian dari setiap persoalan. Pada akhirnya, akan ditemukan juga bagaimana caranya agar si Korra ini bisa belajar pengendalian udara dengan lancer. Sayangnya, 2 episode yang saya punya belum menunjukkan penyelesaian ini.

Lantas, apa tugas selanjutnya yang harus diemban oleh Sang Avatar baru ini? Tantangan apa yang harus dia hadapi untuk memenuhi tugasnya? Siapakah orang-orang yang menemaninya melunasi tugas besar itu? Siapakah tokoh antagonisnya?

Menjawab semua pertanyaan itu, ada baiknya kawan-kawan berburu film ini dan berbagi di tempat menyenangkan ini, di blog.[]

 photocredit: en.wikipedia.org

[FILM] BABA AZIZ

He who has faith will never get lost, my little angel. He who is at peace won’t lost his way. | Baba Aziz

 Film ini cukup unik, sebab ia mengangkat tema sufisme dengan cara penceritaan yang tidak lumrah. Mungkin karena tak hendak menggurui sehingga pesan-pesan sufistik tidak diceramahkan oleh salah satu karakter, melainkan disampaikan dalam simbol-simbol. Gagasan-gagasan tidak dikhutbahkan dengan muluk-muluk, tapi digambarkan dengan kiasan dan sindiran yang menyejukkan hati.

Dengan demikian, tidak terlalu aneh kalau karakter-karakter dalam film ini juga mengejutkan dan cenderung di luar batas “normal”. Seorang kakek buta, ditemani oleh seorang gadis cilik, keluyuran siang-malam di padang pasir yang kering. Bagaimana mungkin kita temukan orang di dunia ini yang mau melakukannya? Satu lagi yang sangat mencolok, Si Darwis Merah, kerjanya aneh-aneh tak ubahnya orang tidak waras: menyapu masjid sambil nyanyi-nyanyi, mengeruk pasir dari halaman masjid. Namun, menangkap adegan semacam itu secara harfiah tentu akan mengaburkan pesan simbolik yang hendak disampaikan oleh film ini, sebab pada akhirnya peran Si Darwis Merah di keseluruhan cerita film ini tidaklah berakhir percuma.

Baba Aziz dan cucu perempuannya, Ishtar, melakukan perjalanan jauh dan melelahkan untuk mendatangi pertemuan para Darwis di suatu tempat misterius. Demi menghibur cucunya yang kelelahan, Baba Aziz menceritakannya kisah seorang raja yang merenungi jiwanya. Kisah si raja ini terpotong-potong karena di tengah perjalanan, mereka berdua kerapkali bertemu orang-orang yang aneh-aneh dengan pengalaman yang juga tak kalah aneh.

Suatu kali, misalnya, mereka bertemu dengan seseorang yang tiba-tiba nyemplung ke sumur. Di tempat lain, mereka tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang melantunkan puisi liris dengan suara yang amat nyaring. Masing-masing orang yang mereka berdua temui memiliki kisah masa lalu sendiri-sendiri, dan masing-masing kisah adalah sesobek luka dari setiap jiwa yang sedang mengelana. Resiko yang harus ditanggung sudah jelas: tersesat di padang pasir yang kejam atau berkumpul di perjamuan dengan para sahabat.[]

photocredit: mysticsaint.info

FILM: TASTE OF CHERRY

Judul: Ta’m-e guilass (Taste of Cherry), Sutradara: Abbas Kiarostami, Rilis: 1997, Penilaian: 4 dari 5 bintang.

Selain susahnya menjalani hidup, ternyata mengakhiri kehidupan juga tidak gampang-gampang amat.

Tuan Badii memutuskan akan melakukan bunuh diri nanti malam. Ini bukan sebuah lelucon untuk ditertawakan, dia membicarakannya pada orang-orang yang dia temui dengan ekspresi seserius penjual jamu keliling. Jangankan tertawa, senyum-senyum pun tidak.

Kalau ditanya alasan, Tuan Badii akan meminta maaf, sebab alasan itu tidak mungkin dia ceritakan. Bukan karena dia tidak bisa menjelaskan atau merasionalisasikannya, tapi tidak ada gunanya, dia bilang. Semua orang tidak akan paham apa yang dia rasakan, tak mungkin bisa berempati pada persoalannya. Jadi, tolong diam saja soal alasan keputusannya ini, atau paling tidak bantu dia bunuh diri saja.

Cara membantunya gampang. Nanti malam, Tuan Badii akan menelan pil tidur dalam dosis tinggi. Dia tidak akan melakukannya di kasurnya yang empuk, tapi dia sudah sediakan sebuah lubang seukuran tubuhnya di bukit dekat penginapanya. Liang kuburan itulah yang bakal menjadi tempat tidurnya untuk terakhir kali. Nah, membantunya berarti cuma mendatangi tempat itu besok pagi, memastikan apakah dia sudah mati atau masih hidup. Kalau ternyata sudah mati, tutup lubang itu dengan tanah. Kalau masih hidup, ya bantulah dia keluar. Cuma melakukan itu saja akan Tuan Badii bayar sebanyak 200.000 toman! (toman: salah satu mata uang resmi di Iran) .

Maka mulailah Tuan Badii mencari orang untuk membantunya.

Pertama, dia bertemu seorang serdadu muda keturunan Kurdi. Si serdadu muda pemalu ini digaji sangat murah, tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-sehari. Pas sekali, pikir Tuan Badii. Orang yang sedang butuh uang akan melakukan apapun untuk sebuah bayaran yang besar. Tapi sayang, setelah tahu apa yang harus dilakukannya, si serdadu malah ketakutan, kabur meninggalkan mobil Tuan Badii. Ya sudah, kali gagal tak jadi soal.

Orang kedua adalah seorang santri (seminaris) muda asal Afghanistan yang sedang mengunjungi saudaranya di Iran. Saat itu pemerintah Afghanistan memberi insentif pada tiap santri yang sedang belajar agama. Tapi tidak cukup, seorang santri miskin harus pula cari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan, tentu saja, Tuan Badii bisa menolong, asal saja dia bersedia membantunya. Tapi setelah mendapat penjelasan, dan tahu bahwa apa yang harus dia lakukan bertentangan dengan doktrin Al-Qur’an, Hadits Nabi serta teladan para Imam (ingat, kebanyakan penduduk Iran menganut Syi’ah Dua Belas), dengan terpaksa si santri muda menolak membantu Tuan Badii.

Orang terakhir akhirnya bersedia menolong Tuan Badii. Dia adalah seorang taxidermis (taxidermy: pekerjaan mengisi kulit binatang dengan bahan tertentu agar tampak tetap hidup) tua keturunan Turki yang sedang butuh duit buat pengobatan anaknya. Berbeda dengan adegan sebelumnya, saat ini orang tua itu yang banyak bicara, dan kandungannya sangat bermutu. Pesan-pesan yang hendak disampaikan sang sutradara sepertinya memuncak di pertemuan ini, melalui mulut si tua bangka yang bijaksana ini.

Orang tua ini bercerita bagaimana pada waktu itu dia juga pernah ingin bunuh diri, mengakhiri saja semua permasalahan hidup yang pelik ini. Suatu pagi, sebelum fajar, dia bawa sebuah tali di mobilnya. Dia lajukan mobilnya sejauhnya, hingga dia berhenti di sebuah perkebunan murbai.  Saat itu masih gelap. Tali dia lempar ke sebuah pohon, tapi tak mau menggantung. Dia coba lagi kedua kalinya, ketiga kalinya, tetap tak bisa. Jadi dia panjat pohon itu dan mengikatkan tali itu di dahan yang tinggi. Tak sengaja, dia merasakan sesuatu yang lembut di tangannya: buah murbai yang sangat manis. Dia makan satu biji, enak sekali. Dia makan lagi yang kedua, dan ketiga.

Di ufuk timur, dia melihat melihat matahari mengintip dari balik gunung. Matahari itu, pemandangan itu, hijau pepohonan itu, alangkah indahnya! Momen ini begitu spontan.

Tiba-tiba, dia mendengar anak-anak berangkat ke sekolah. Mereka berhenti saat melihatnya. Mereka memintanya mengunduh pohon itu. Buah murbai berjatuhan dan mereka makan berebutan. Di hatinya muncul perasaan senang.

Maka dia kumpulkan buah itu untuk dibawa pulang. Istrinya masih tidur. Saat sudah bangun, istrinya juga menikmati buah itu.

Orang tua itu takjub, dia pergi untuk bunuh diri, tapi kemudian dia pulang membawa buah murbai. Buah itu sudah menyelamatkannya, buah murbai menyelamatkan hidupnya![]

Recent Posts :