Tak ada kata lain, selain ini adalah penghargaan yang fenomenal!
Lekuk-lekuk gambarnya tidak menunjukkan apa-apa selain bahwa ia muncul karena wangsit dari langit. Dari sudut pandang apapun, tak akan ada yang menyangkal bahwa ia terwujud atas tuntunan keabadian. Bentuk-bentuk dan simbol-simbolnya memiliki makna tertentu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang hatinya bersih dari segala kotor duniawi.
Mahakarya semacam ini hanya bisa dihasilkan dari proses yang berliku-liku dan tak sederhana. Tahap-tahapnya melelahkan, dan cobaannya juga tidak tanggung-tanggung. Jadi, harus melakukan puasa mutih selama 7 hari, harus tapa kumkum selama 3 hari, lalu diakhiri dengan pembacaan rapal-rapal khusus dan rahasia semalam suntuk. Pada saat melakukan tapa kumkum dan pembacaan inilah, cobaan demi cobaan bermunculan mengerikan. Hingga, ketika saatnya sudah tiba, sebuah gambar akan menerawang di langit, terang memancar seperti sebuah hologram.
Tapi toh karya ini ada di sini, terpampang merona-rona di dinding ini. Tentu sang penghasilnya bukan orang sembarangan, sehingga sanggup melewati proses dan cobaan-cobaan itu sampai selesai.
Untuk itu, sebuah terima kasih tak terkira untuk Ngarso Jhobo Kanjeng Raden Ngabehi Panotogomi Kalifatullah Ing Bhumi Jantan Putra Bangsa, Son of The Nation, Ibn al-Wathan, atas kehormatan yang telah diberikan. Apalagi, penghargaan ini cuma diperuntukkan untuk dua orang saja, yakni saya dan Ahmad Sidqi, tentu semakin membuat penghargaan ini makin bernilai harganya.[]
Catatan:
Puasa mutih: berpuasa atau berpantang makan dan minum apa saja kecuali nasi putih dan air putih.
Tapa kumkum: merendam diri, kecuali kepala, semalam suntuk




