Dalam ilmu Balaghah, terdapat sebuah subdisiplin ilmu yang disebut dengan ilmu Bayan. Di dalamnya dibahas soal perumpamaan (tasybîh), metafor (majâz) dan kinâyah (apa bahasa Indonesianya?). Artinya, subdisiplin ilmu Bayan ini menjelaskan tentang teknik berseperti-seperti.
Kitab suci Alquran amat kaya dengan seperti-seperti ini. Bahkan dalam literatur-literatur studi Alquran, tema ini menjadi pembahasan dalam sebuah bab khusus, “amtsâl al-qur’ân”. Sebagai sebuah teknik, metode berseperti-seperti merupakan salah satu andalan Alquran, selain karena seringnya teknik ini digunakan di dalam Alquran, juga karena teknik ini memiliki keunggulan tersendiri sebagai sebuah strategi komunikasi.
Membaca tulisan yang penuh dengan seperti-seperti memang amat menyenangkan. Berseperti-seperti dalam Bahasa Indonesia diungkap dengan “seperti”, “seumpama”, “ibarat”, “bak”, “seakan”, dan lain sebagainya. Mahbub Djunaedi, Achdiat K Miharja, dan Andrea Hirata, menurut saya, adalah tiga jagoan berseperti-seperti dalam balantika kepenulisan di Indonesia.
Dalam kumpulan kolom-kolomnya di majalah Tempo, Mahbub Djunaedi berseperti-seperti dengan piawainya. Tulisan-tulisannya renyah, ringan, dan lucu pula. Padahal, tema-tema yang dia angkat tergolong berat. Untuk menyebut satu contoh, terdapat salah satu kolomnya yang membicarakan retaknya hubungan Indonesia dengan PBB di era Orde Lama:
Ya, seperti halnya laki-bini saja hubungan Indonesia dan PBB itu, yang umurnya 30 tahun Oktober ini. Ada bulan madunya, ada adem-ademnya, ada kolokannya, ada cekcoknya lempar piring-mangkuk, ada cerainya, ada rujuknya, ada saling gendong-menggendong, sekali wakut merengek-rengek, mendadak ancam-mengancam, sesudah itu tiada sesuatu yang penting terjadi.
Achdiat K Mihardja juga tidak kalah hebat teknik berseperti-sepertinya. Dalam novelnya, Atheis, ada banyak sekali seperti-seperti yang menggirangkan. Padahal, kita tahu bersama, novelnya ini adalah jenis roman yang biasanya menawarkan derai air mata bertubi-tubi, namun seperti-seperti yang Achdiat K Mihardja lancarkan adalah jenis yang lucu, seakan merupakan penawar nestapa a la novel roman.
Dalam salah satu episode ceritanya:
Maka dengan tak insyaf lagi, larilah aku sekonyong-konyong dari sana. Lari meninggalkan Anwar. Lari sekuat tenaga. Lari seolah-olah badanku bersayap. Sandalku copot terpelanting ke dalam semak-semak. Terpelanting seperti lumpur kering dari roda mobil yang jalan seratus kilometer.
Orang ketiga, dan dia tergolong penulis generasi terkini, adalah Andrea Hirata. Terutama dalam novel pertamanya, Laskar Pelangi, pemuda lulusan universitas kawakan di Paris ini mampu menyusul dua seniornya di atas dalam berseperti-seperti.
Andrea Hirata bercerita tentang masa kecilnya yang melarat, sekolah dasarnya yang serba kekurangan, serta masyarakat Melayu Belitung yang terinjak-injak pabrik timah, namun seperti-seperti yang dia sodorkan amat menghibur. Menggairahkan![]
photocredit: jroper.co.uk



