>> Sejenak Dengan Al-Gazali [3]
Cerita hidup seseorang memang menarik untuk disimak, terutama riwayat hidup itu menceritakan tentang seseorang yang amat terkenal. Beberapa artis tidak segan menuliskan riwayat hidupnya dalam meniti karirnya. Dengannya, mereka ingin berbagi pengalaman hidup dengan para pembacanya. Tidak untuk diikuti, melainkan agar pembaca bisa mengambil pelajaran dari pengalaman hidup seseorang; meski barangkali unsur self-branding-nya cukup kuat juga.
Lain ceritanya dengan Imam al-Ghazâli, seorang guru besar di Universitas Nidhamiah. Pengarang kitab Ihyâ’ Ulûm al-Dîn ini pernah menceritakan pengalaman hidupnya sejak masa remajanya hingga dia menemukan satu titik labuh kebenaran (al-Haqq). Pada kasusnya yang unik ini, sang imam rupanya tidak memiliki hidup yang lurus dan lancar-lancar saja. Walaupun dia mendapat sukses besar sebagai guru besar di Universitas Nidhamiah, namun masa hidupnya penuh dengan pergolakan dan perhelatan pemikiran yang seru. Bayangkan saja, dia harus meninggalkan kegelimangan harta, keluarga yang dicintai dan karir akademis, demi mengejar kebenaran yang selalu menjadi obsesinya sejak masa muda.
Bisa dikatakan bahwa kehidupan sang imam adalah pencaharian yang panjang, sebuah petualangan intelektual yang obsesif. Rasa ingin tahu (Curiosity) menuntunnya untuk mengembara di dunia pemikiran yang buas, seram, penuh jebakan, namun menggugah kepuasan intelektual. Dia tidak segan-segan mempelajari pemikiran apa pun; pemikiran kalamiah, falsafiah, sufiah, syi’iah (bâtiniyah), bahkan zindiqiah. Semua aliran pemikiran itu didalaminya tanpa semangat “taklid,” sehingga dia tidak hanya memahami pemikiran-pemikiran itu apa adanya, melainkan juga melakukan berbagai kritik di sana-sini.
Pengembaraan intelektual itu mengantarkannya pada sebuah keraguan terhadap setiap pengetahuan yang datang padanya (Safsathah), baik pengetahuan yang datang melalui indera maupun akal. Baginya, akal dan indera sering menipu dan menyesatkan kita. Pada akhirnya, dia berkesimpulan, keduanya tidak akan mengantarkan kita pada ‘Kebenaran Sejati.’ Makanya, harus ada jalan lain selain indera dan akal untuk mencapai ‘Kebenaran Sejati’ itu. Dia mengaku bahwa keadaan ragu-ragu ini berjalan terus hingga dua bulan kemudian, sebuah masa hidup yang diakuinya sangat berat.
Dalam rangka itu semua, imam kita ini mulai memasuki segala bidang keilmuan yang akan bisa menuntunnya pada apa yang dicarinya itu. Pertama-tama dia memasuki dunia teologi (Ilmu Kalam). Dia telah menyusun beberapa kitab berkaitan dengan ilmu kalam, yang paling terkenal diantaranya adalah Al-Iqtishâd fî al-I‘tiqâd. Dalam pandangannya, Ilmu Kalam tidak memuaskan untuk bisa menyembuhkan “penyakit” keraguan epistimologis yang sedang dialaminya, namun dia tidak menafikan bahwa ada orang lain yang bisa terobati dengannya.
Kemudian, sang imam mendalami pemikiran para pengikut Al-Bâtiniah, disebut Al-Ta‘lîm, yakni orang-orang Syî‘ah yang pada waktu itu berpusat di kekhalifahan Fâtimiyah, Mesir. Mereka meyakini keniscayaan “ajaran” (ta‘lim) seorang imam (dalam pengertian Syi‘î) dalam rangka memperoleh kebenaran. Dalam rangka menolak pemikiran ini, imam al-Ghazâli telah mengarang sebuah kitab, yakni Fadlâ’ih al-Bâtiniyah.
Selanjutnya dia memasuki dunia filsafat, sebuah pemikiran yang dipelajarinya selama dua tahun ketika dia tidak disibukkan oleh kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini, sang imam menyusun dua risalah termasyhur, yakni (1) Maqâshid al-Falasîfah di mana dia berusaha memaparkan pemikiran filsafat pada waktu itu secara apa adanya, dan (2) sebuah kitab yang dikarangnya pada umur 38, Tahâfut al-Falâsifah, di mana dia mengkritik habis pemikiran filsafat yang dimotori oleh dua filsuf Muslim terkenal: Al-Fârabi dan Ibn Sînâ. Menurutnya, ada enam ilmu yang dipelajari oleh para Failasûf, yakni: (1) Al-Riyâdliyah (Matematika), (2) Al-Mantiqiyah (Logika), (3) Al-Thabî’iyyah (Fisika), (4) Al-Ilâhiyah (Metafisika), (5) Al-Siyâsiyyah (Politik), (5) Al-Khulûqiyyah (Etika). Keenam ilmu ini, terutama Metafisika, menurut sang imam, selain membawa manfaat yang tidak bisa diabaikan juga bisa membawa bencana jika orang tidak berhati-hati dalam mempelajarinya. Oleh karenanya mau tidak mau, sang imam harus mencari kebenaran pada bidang lain.
Pada fase terakhir, imam kita ini memilih untuk mendalami Tasawuf. Fase inilah yang paling berat baginya, karena untuk memahami apa itu tasawuf tidak cukup hanya membolak-balik buku tentangnya, tetapi juga harus menerapkannya langsung. Dengan ini dia merefleksikan segala keadaan dirinya; hartanya, karirnya, kealimannya, dan lain-lain. Refleksinya itu mengharuskannya untuk memilih antara meninggalkan semua hal tadi atau membiarkannya. Kegamangannya itu “membuatnya goncang”, sehingga tidak bisa mengajar selama enam bulan. Namun, pada akhirnya sang imam memilih pilihan yang tepat, karena kemudian dia memilih untuk meninggalkan semuanya, mengembara tak tentu arah, berjalan kesana-kemari sambil ibadah dan mengarang. Dari Nisyapur, Aleksandria, Makkah, Madinah, Palestina dan kemudian kembali lagi ke kapung halaman, Baghdad. Petualangan ini dilakukannya selama sepuluh tahun, dan di masa petualangan inilah sang imam mengarang karya teragungnya, Ihyâ’ Ulûm al-Dîn.
Kitab ini Al-Munqîzd min al-Dlalâl, sebagaimana diakui sendiri oleh mu’allif-nya, memang dikarang dalam rangka memenuhi permintaan orang-orang sekitarnya untuk berbagi pengalaman mengarungi kehidupan. Walaupun sangat tipis, namun beberapa catatan penting di dalamnya tidak bisa diabaikan untuk memahami sosok Imam Al-Ghazâli. Namun juga, kitab kecil ini mencerminkan ketelitiannya dalam menanggapi persoalan yang muncul pada masanya. Secara teknik penulisan, juga sangat kentara bagaimana sang imam menyampaikan pesan-pesan moralnya dengan mengutip sedikit-sedikit beberapa buku yang sudah dikarangnya sebelum kitab ini. Hal ini bisa dipahami karena tujuan penulisan kitab ini adalah selain memenuhi permintaan beberapa teman juga berbagi pengalaman hidup
Banyak kalangan mengakui bahwa sosok sang imam memang merupakan sosok intelektual muslim terbesar pada masanya. Pengalaman hidupnya merupakan pelajaran yang sangat berarti terhadap para pencari kebenaran sesudahnya. Lebih dari itu, kitab ini menjelaskan ‘bagaimana’ sang imam menemukannya dan ‘kenapa’ harus ditemukan, bukan sekedar ‘apa’ yang telah ditemukan. Wallâhu A’lam bi al-Shawâb


Sebelum mendapatkannya, saya hanya mengenal beberapa karangannya secara terbatas. Pertama kali saya cuma mengenal kitab agungnya, Ihyâ’ Ulûm ad-Dîn, karena memang kitab ini menjadi ajaran wajib di pesantren-pesantren. Selanjutnya, beberapa kitab lain yang juga menjadi handbook bagi tingkah laku sufistik pesantren, seperti Bidâyah al-Hidâyah, Ayyuhâ al-walad, dan kitab-kitab lain yang beredar dan dipelajari di pesantren-pesantren.
