Perempuan Pemintal

Alkisah, ada seorang perempuan yang punya kemampuan memintal dengan sangat hebatnya.
Kehebatannya sudah amat terkenal karena tidak ada yang bisa mengunggulinya.

Bukannya senang, kehebatannya ini malah membuatnya bosan.
Hingga suatu hari dia mendengar bahwa ada dewi yang punya kemampuan memintal yang sangat hebatnya.
Mendengar kabar ini, perempuan itu jadi bersemangat lagi.
Ini kesempatan untuk bertanding lagi.

Singkat cerita, perempuan itu mendatangi tempat kediaman sang dewi pemintal dan menantangnya bertanding.
Malang bagi si perempuan pemintal, dia kalah pertandingan dalam berbagai macam kategori; kecepatan, keindahan hasil, dan teknik memintal.
Sang dewi tertawa puas, lalu menghilang meninggalkan si perempuan pemintal tadi.

Perempuan pemintal sangat terpukul, tak bisa menerima kekalahannya.
Setelah itu, dia jadi sakit-sakitan karena sedih yang berkepanjangan.
Akhirnya, dia meninggal karena sakitnya sudah terlalu parah.

Sang dewi pemintal jadi terharu melihat nasib yang dialami oleh perempuan pemintal.
Karena kagum akan kehebatan si perempuan, sang dewi menggunakan kekuatannya untuk menghidupkan kembali perempuan tadi, tidak dengan rupa menusia, melainkan dalam rupa laba-laba.
Oleh karena itu, laba-laba selalu memintal sarangnya dengan sangat hebatnya, hingga sekarang.

~ Diceritakan kembali oleh Ubaidillah Durung Cetho di warung kopi, 2 Maret 2013.

Info Soal Gangguan Jaringan Internet

Anda pengguna layanan modem Smartfren tentu sudah melampiaskan kekesalannya dengan segala macam umpat, caci-maki dan sumpah serapah. Kalaupun tidak diomongkan, paling tidak digumamkan di dalam hati. Siapa yang tidak akan kesal kalau koneksinya macet total selama dua hari?

Dalam keadaan begitu, para pengguna tidak dikasih keterangan sedikit pun soal kenapa macet dan kapan koneksinya akan membaik lagi. Sebagai konsumen, para pengguna itu telah dizalimi.

Tifatul Sembiring, Menkominfo saat ini, menanyakan persoalan itu ke pihak Smartfren lalu membagikan hasilnya ke Twitter. Cecuap Menkominfo ini bertanggal 26 Maret 2013. Untuk para pengguna Smartfren, rasanya info ini layak dibagikan:

1. Ini jwbn orang smartfren soal ‘gak connetct’, saya coba bantu tanya pada mrk. Selanjutnya adlh hak konsumen, terus atau pindah operator.

Gangguan jaringan sf
1.15/3 : Jar. utama internet Smartfren submarine putus antara Bangka – Batam, kena jangkar kpl. Internet dpt hnya 60%

3. 16/3 : Jaringan backup inland Sumatra putus di Palembang, krn tanah longsor. Internet dapat dilayani dg jalur proteksi kapasitas 30%

4. 17/3 : jalur proteksi juga mengalami cut di area Sumatera Selatan, layanan internet hanya bisa dilayani 10% kapasitas.

5. 18/3 : jaringan tambahan dari pihak-3 (Matrix submarine) beroperasi, kapasitas jaringan internet menjadi 50%

6. 23/3 : jaringan Matrix Submarine mengalami cut. Layanan internet kembali hanya 10%

7. 26/3 : hari ini diharapkan restorasi jaringan selesai, dan tambahan kapasitasi. Diharapkan layanan internet bisa mencapai 80% kapasitas

8. Demikian tweeps budiman, selanjutnya anda bebas memilih operator dari pengalaman2 pelayanan yg anda dapatkan. Tksh.

Menghargai, Bukan Memuji!

Obrolan santai malam itu cukup inspiratif dan lumayan menyentuh juga. Kedua orang itu, sepasang suami-istri itu, sebetulnya bercerita tentang Islam di Eropa. Mereka bicarakan topik itu karena memang mereka sedang studi di Jerman dan, bersama tiga orang anak mereka, tinggal di sana beberapa saat. Kebetulan saat itu mereka sedang pulkam untuk riset, ya saya ajak ngobrol saja ngalor-ngidul.

Berhubung obrolannya cukup lama, tentu ada banyak hal yang mereka ceritakan. Namun, coba kita batasi saja pada pengalaman mereka mendidik anak di tengah masyarakat yang amat berbeda dengan gaya hidup dan cara berpikir masyarakat kita di bumi pertiwi ini.

Masyarakat kita berikut cara berpikirnya. Ya! Itu dia yang membikin obrolan kami saat itu menyentuh. Sebab mereka menerapkan cara berpikir yang bisa dibilang porak-poranda dalam standar umum pikiran masyarakat kita; semacam pikiran sintinglah. Bagaimana tidak, mereka berpikir dengan cara yang amat beda. Beda!

Misalnya, sepasang suami-istri ini tidak peduli anak-anaknya mau dapat nilai berapa di rapor sekolahnya. Asal dia bersungguh-sungguh dalam pelajarannya di rumah, itu saja sudah cukup memenuhi harapan mereka terhadap anak-anaknya. Anak-anak itu diajak untuk usaha, bukannya pada hasil duniawi. Sementara sekolahnya mau mereka dan anak-anak didik yang lain agar mendapat nilai setinggi-tingginya. Pernah suatu hari suami-istri itu tak bisa menahan tawa setelah mendengar cerita salah seorang anak mereka tentang gurunya yang mengancam bahwa orang tuanya akan marah kalau anak itu tidak dapat nilai bagus. Bagaimana bisa marah kalau untuk urusan nilai, peduli saja tidak?

Lalu, tentang pujian. Jangan cecar anak-anakmu dengan pujian, kata pasangan itu. Jadi, dijejali dengan celaan? Tanya saya. Apalagi dengan celaan! Mereka langsung menimpali sambil melotot. Oke, oke, celaan tentu pantangan orang tua, tapi pujian kok juga tidak boleh? Saya mulai penasaran.

Pujian itu mungkin bikin anak-anak senang, tapi sebetulnya tidak mendidik. Pujian itu seperti menyulut sumbu ego anak-anak sedikit demi sedikit. Jika dia dijejali dengan pujian terus-menerus, suatu saat akan meledaklah bom egoisme. Pada porsi dan dosis tertentu, pujian itu destruktif.

Pujian itu beda dengan penghargaan, kata mereka lebih lanjut. Bagaimana membedakannya? Pujian itu cenderung lebay, sedang perhargaan itu berorientasi pada apa yang seseorang lakukan. Pujian itu merangking tindakan, sedangkan penghargaan itu memupuk tindakan agar lebih berkualitas.

Intinya, bagaimana anak-anak mereka bisa bersyukur saja, sebetulnya….[]

Read & Coffee

Some moments at Read & Coffee @Jl. Tasura, No. 34B, Paingan, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta(Arah Kampus III Universitas Sanata Dharma).
Visit and taste the flavor!

coffee and read

47340_3774441169738_272719223_n

63791_3714591273528_189730062_n

67664_10151271732849650_823282637_n

530499_3772546762379_2052103933_n

Setimpuk Permen

Sore-sore mau mandi, ternyata sabun mandi sudah tipis sekali kayak kertas. Sudah waktunya beli sabun mandi lagi. Sebelum ke toko, saya mampir dulu ke kamar Darsono.

Di pojokan kamar Darsono saya lihat ada setumpuk permen tersimpan dalam toples. Ini tidak biasa, sebab Darsono bukan tipikal lelaki yang suka ngemil. Setumpuk permen tergeletak di situ tentu untuk teman-temannya yang berkunjung ke situ—ya macam saya ini. Demikian benak saya berprasangka baik.

Tapi, belum sempat tangan saya menyentuh tutup toplesnya, Darsono sudah berteriak dingin di belakang saya:

“Stop! Permen-permen itu bukan untuk dimakan!”

Seperti biasa, setiap prasangka baik terhadap Darsono selalu luput. Jadi, buat apa permen-permen itu kalau bukan untuk dimakan?

“Ya sudah, saya beli deh, Dar.” Saya mulai merogoh saku.

“Saya bilang enggak usah. Ini tidak bisa dibeli.” Darsono tetap bersikeras.

Saya putuskan tidak memaksa lagi mengambil permen-permen itu. Jadi saya letakkan lagi toples itu di tempat semula. Oleh karena mengenalnya sudah cukup lama, saya maklum bahwa Darsono pasti punya rencana tertentu dengan isi toples itu. Saya cuma bisa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga rencananya tidak membawa hal-hal buruk kepada teman-temannya—terutama ya saya ini.

Tak berapa lama kemudian, setelah badan saya segar dan harum karena sudah mandi memakai sabun baru, Darsono mengajak saya ke minimarket langganan kami satu kos berbelanja. Terlihat dia membawa seikat plastik berisi permen-permen terlarang itu. Firasat saya sebagai kawan akrab Darsono langsung bekerja otomatis, semacam campuran khawatir dengan harap-harap cemas. Khawatir karena bisa jadi ini berkaitan dengan rencana misterius Darsono terhadap permen-permen itu, dan harap-harap cemas karena bisa jadi ini adalah ajakan yang akan menghasilkan kebaikan (atau malah keburukan) yang tak terkira.

Dasar memang manusia absurd, setiap pikiran baik tentang tingkah laku Darsono akan selalu meleset. Tiba di minimarket, dia mengambil dua buah sabun murahan. Dia bawa semuanya ke kasir. Si kasir menghitung, lalu menyebutkan sejumlah harga untuk kami bayarkan.

Gesit dan elegan, Darsono langsung meletakkan setumpuk permen tadi di atas meja kasir.

“Apa ini, Mas?” Si kasir tadi melongo penuh tanda tanya.

“Sudah sebulan ini saya membeli banyak barang di minimarket ini, Mas,” jawab Darsono, “dan setiap kali ada kembalian receh, saya selalu disodorkan permen-permen ini.”

Si kasir tampak masih melongo di tempat itu, tak menangkap maksud Darsono. Darsono langsung menambahkan:

“Permen-permen ini sepadan dengan harga dua sabun ini, Mas. Jadi saya bayar keduanya dengan permen-permen kembalian.”

Si kasir langsung pucat mendapat jawaban tak terduga seperti itu. Dia meminta kami menunggu sebentar dan beranjak dari situ untuk menemui seseorang yang tampaknya seperti atasannya. Dari tempat si kasir, kami melihat atasan si kasir mengangguk-angguk seakan menyetujui sesuatu.

Si kasir belum kembali ke tempatnya semula, Darsono sudah menarik lengan saya mengajak ke luar minimarket. Di luar, dia sodorkan sebuah sabun murahan yang baru saja dia beli itu.

“Ini, bro, sabun mandi buat kamu. Saya lihat tadi sabunmu sudah kerempeng tak layak pakai gitu. Nih!”

Saya menerima sabun itu, bingung antara harus senang atau kecewa. Senang karena ternyata Darsono bisa berbuat baik kepada temannya, dan tentu saja kecewa karena baru beberapa menit yang lalu saya sendiri sudah beli sabun baru.[]

photocredit: http://iconubc.wordpress.com