
Sore-sore mau mandi, ternyata sabun mandi sudah tipis sekali kayak kertas. Sudah waktunya beli sabun mandi lagi. Sebelum ke toko, saya mampir dulu ke kamar Darsono.
Di pojokan kamar Darsono saya lihat ada setumpuk permen tersimpan dalam toples. Ini tidak biasa, sebab Darsono bukan tipikal lelaki yang suka ngemil. Setumpuk permen tergeletak di situ tentu untuk teman-temannya yang berkunjung ke situ—ya macam saya ini. Demikian benak saya berprasangka baik.
Tapi, belum sempat tangan saya menyentuh tutup toplesnya, Darsono sudah berteriak dingin di belakang saya:
“Stop! Permen-permen itu bukan untuk dimakan!”
Seperti biasa, setiap prasangka baik terhadap Darsono selalu luput. Jadi, buat apa permen-permen itu kalau bukan untuk dimakan?
“Ya sudah, saya beli deh, Dar.” Saya mulai merogoh saku.
“Saya bilang enggak usah. Ini tidak bisa dibeli.” Darsono tetap bersikeras.
Saya putuskan tidak memaksa lagi mengambil permen-permen itu. Jadi saya letakkan lagi toples itu di tempat semula. Oleh karena mengenalnya sudah cukup lama, saya maklum bahwa Darsono pasti punya rencana tertentu dengan isi toples itu. Saya cuma bisa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga rencananya tidak membawa hal-hal buruk kepada teman-temannya—terutama ya saya ini.
Tak berapa lama kemudian, setelah badan saya segar dan harum karena sudah mandi memakai sabun baru, Darsono mengajak saya ke minimarket langganan kami satu kos berbelanja. Terlihat dia membawa seikat plastik berisi permen-permen terlarang itu. Firasat saya sebagai kawan akrab Darsono langsung bekerja otomatis, semacam campuran khawatir dengan harap-harap cemas. Khawatir karena bisa jadi ini berkaitan dengan rencana misterius Darsono terhadap permen-permen itu, dan harap-harap cemas karena bisa jadi ini adalah ajakan yang akan menghasilkan kebaikan (atau malah keburukan) yang tak terkira.
Dasar memang manusia absurd, setiap pikiran baik tentang tingkah laku Darsono akan selalu meleset. Tiba di minimarket, dia mengambil dua buah sabun murahan. Dia bawa semuanya ke kasir. Si kasir menghitung, lalu menyebutkan sejumlah harga untuk kami bayarkan.
Gesit dan elegan, Darsono langsung meletakkan setumpuk permen tadi di atas meja kasir.
“Apa ini, Mas?” Si kasir tadi melongo penuh tanda tanya.
“Sudah sebulan ini saya membeli banyak barang di minimarket ini, Mas,” jawab Darsono, “dan setiap kali ada kembalian receh, saya selalu disodorkan permen-permen ini.”
Si kasir tampak masih melongo di tempat itu, tak menangkap maksud Darsono. Darsono langsung menambahkan:
“Permen-permen ini sepadan dengan harga dua sabun ini, Mas. Jadi saya bayar keduanya dengan permen-permen kembalian.”
Si kasir langsung pucat mendapat jawaban tak terduga seperti itu. Dia meminta kami menunggu sebentar dan beranjak dari situ untuk menemui seseorang yang tampaknya seperti atasannya. Dari tempat si kasir, kami melihat atasan si kasir mengangguk-angguk seakan menyetujui sesuatu.
Si kasir belum kembali ke tempatnya semula, Darsono sudah menarik lengan saya mengajak ke luar minimarket. Di luar, dia sodorkan sebuah sabun murahan yang baru saja dia beli itu.
“Ini, bro, sabun mandi buat kamu. Saya lihat tadi sabunmu sudah kerempeng tak layak pakai gitu. Nih!”
Saya menerima sabun itu, bingung antara harus senang atau kecewa. Senang karena ternyata Darsono bisa berbuat baik kepada temannya, dan tentu saja kecewa karena baru beberapa menit yang lalu saya sendiri sudah beli sabun baru.[]
photocredit: http://iconubc.wordpress.com