Layang-layang: Permainan yang Serius


Layang-layang barangkali memang bukanlah mainan anak-anak semata, tapi orang-orang dewasa selalu mewariskan skill permainan ini kepada anak-anak, semacam mekanisme tak sadar yang membuat layang-layang tetap lestari hingga kini. Sementara, anak-anak menerima proses pewarisan itu dalam lingkup budaya yang mengelilinginya, sehingga tidak hanya skill yang mereka cerap, tapi juga apa yang boleh-tidak boleh, indah-tidak indah, teori-teori dan teknik-teknik tertentu.

Dalam bermain layang-layang, anak-anak kecil itu sudah mematuhi beberapa peraturan tak tertulis. Dan jangan sekali-sekali melanggarnya, sebab sangsi tertentu akan dia terima. Ini berarti mereka telah menyerap nilai-nilai etis tertentu yang berkaitan dengan persoalan boleh-tidak boleh melakukan sesuatu.

Udara lepas adalah arena pertarungan antar layangan. Layaknya arena pertarungan lain, di sana juga terlibat gengsi, pertaruhan, adu strategi, intimidasi, dan resistensi. Jika seharian penuh sebuah layangan berhasil tetap melayang di udara, berarti dialah sang jagoan hari itu, sang jawara yang sudah bikin keok layangan lain. Dan keesokan harinya, bisa jadi dia dihindari oleh layangan lain, bisa pula mendapat banyak tantangan demi merebut posisinya sebagai jagoan.

Jika ada sebuah layangan yang berekor, itu pertanda dia mengudara dengan misi perdamaian. Siapapun yang menyerangnya berarti telah melakukan pelanggaran berat dan berhak dimarahi. Sedari awal anak-anak itu sudah mencerap kebijaksanaan bahwa hidup tak hanya berisi kompetisi dan saling mengungguli. Seringkali, hidup juga menuntut kerja sama dan saling toleransi.

Sementara di udara berlangsung pertarungan seru, di permukaan tanah berlangsung perburuan layang-layang yang kalah. Jika di udara terlihat layang-layang putus akibat kalah bertarung, segerombolan anak akan berlarian mengejarnya ke tempatnya jatuh; bisa di pohon, di atap, tiang listrik, atau bisa juga terjatuh begitu saja di hamparan lapang. Sekali satu anak memegangnya, layangan itu menjadi miliknya, dan yang lain bisa menghentikan pengejarannya dengan lapang dada untuk kemudian memburu kesempatan lain.

Permainan ini tidak hanya menyediakan norma-norma etis semata, ada kalanya permainan ini mengajak anak-anak mengapresiasi keindahan, menikmatinya sebagai salah satu bagian terpenting dalam hidup. Lihat saja layang-layang itu, bermacam-macam bentuknya, berupa-rupa ukurannya. Bahkan sebagian ada yang memiliki bunyi tertentu. Jika seorang anak menemukan layang-layang semacam ini di tanah atau di atas pohon, dia harus mengembalikannya pada pemiliknya. Sungguh jahat dia yang mempertontonkan keindahan yang bukan miliknya. Lain ceritanya kalau ternyata si pemilik menyerahkan layang-layangnya kepada penemunya.

Begitulah layang-layang, mengajak anak-anak bermain sekaligus belajar hidup dalam sekali seduhan.

Tapi namanya saja permainan, tentu ada sisi hitam yang membuat anak-anak kadang terlena. Ini adalah masalah yang kudu dihadapi anak-anak sekaligus orang tuanya: masalah waktu. Kalau sudah kecanduan bermain layang-layang, tak peduli malam, permainan tetap berlanjut. Tak jarang ada anak-anak yang nekat menyelesaikan pertarungan kendati malam mulai menjelang. Apa lagi di musim layang-layang, yakni ketika angin kemarau sedang kencang-kencangnya berhembus, saking banyaknya para peserta membuat pertarungan tak bisa selesai dalam satu hari saja. Pada saat itulah Para orang tua harus menjemput anak-anak mereka di lapangan agar mereka mau segera pulang, segera mandi, dan mengaji, tentu saja.

Satu hal yang pasti, setiap anak-anak menyadari ketidak-mungkinan main layang-layang di musim hujan. Ini sudah menjadi semacam pengetahuan bawaan semenjak lahir. Dan jika ada orang yang nekat melakukannya, anak-anak tentu akan teriak-teriak: “Orang gila…! Orang gila…!”[]

#catatan: Pengalaman bermain layangan yang seperti di atas barangkali cuma terasa di pedesaan. Di perkotaan tentu akan berbeda ceritanya.

[“Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak”]

18 comments

  1. Saya dan anak-anak paling suka main layangan di pantai Parang Tritis. Anginnya sangat bagus, dan dengan mudah layangan akan mengudara.. :)

    Terima kasih sudah mengirimkan artikelnya
    Saya sudah catat sebagai peserta dalam MAINAN BOCAH CONTEST

    ________
    >> vizon:
    Terima kasih, mas :)

  2. satu hal yg saya sesali.. tidak bisa bermain layang layang… nanti gimna ketika anak saya bertanya dan minta ajarin :(

    ________
    >> Majalah Masjid Kita:
    Oooh, itu mudah diatasi. Ajak saya saja. HUAHAHA
    *ketawa jahat*

  3. layangan atau layang-layang sekarang keren2 ada lampu kelap-kelip seolah2 bintang makin dekat ama kita dan menambah keindahan malam. tapi mana ada layangan yg kelap2 itu di kota nanti nyangkut kabel listrik.

    ____________
    >> Baha Andes:
    Perkembangan Layang-layang emang sudah luar biasa. Kreativitas berkembang pesat di situ

  4. hehehe jadi ingat saat saya kecil dulu jadi pemburu layang-layang putus kelas kakap..

    sukses buat kontesnya mas ;)

    ______________
    >> lozz akbar:
    Terima kasih, mas lozz. :)

  5. adalah orang bijaksana yang bisa mengelola masa kecilnya. saya juga percaya mas Hilal ini penyuka mainan cerdas2 ketika kecil. lihat saja tulisannya sekarang yang bernas itu. pastilah dia dulu bukan tipe anak kecil yang senang ngintip orang mandi di sungai …. hehe …

    Assalamu’alaikum..

    ______________
    >> atmokanjeng:
    Oeh, sssttt…! yang terakhir itu cukup rahasia kita berdua saja. :p
    Wassalamu’alaikum…

  6. ..
    jujur waktu kecil saya kurang jago main layangan, tapi paling seneng kalau mengejar layangan putus..hehe..
    ..

    ________
    >> Chef-Ta:
    Peran itu juga memiliki kesan tersendiri.
    :p

  7. Saya yang sudah tua ini bila musim layang-layang sering ikut bermain di atas rumah, tapi sering kalah dengan anak-anak, putus terus…

    ________
    >> kang nur:
    Layang-layang adalah milik siapa saja, tua maupun muda. :)

  8. Kuraut dan kutimbang dengan benang. Kujadikan layang-layang. Bermain berlari. Bermain layang-layang. Berlari kubawa .. dst dst.. jadi inget maen sama keponakan saiia nii kang ;p

    _________
    >> belajar photoshop:
    wow, pasti menyenangkan main bareng ponakan. :)

  9. dulu waktu kecil g bias maen layang-layang kalau g ada ekornya… salut banget sama yang bisa naikin layang-layang tanpa ekor

    _________
    >> choirul:
    Keseimbangannya emang kudu simetris. jadi lajunya tenang. :p

  10. Kok udah lama gak posting?

    inget layang2 inget aku jaman SD neh.. sering di ajak sama almarhum datok (kakek) maennya.. :D

    _____________
    >> niee:
    Iya nih. Kayaknya butuh dipaksa-paksa biar update lagi.
    Hah? Maen sama kakek? keren kakek kamu!
    :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s