Baca cerita sebelumnya: Mozaik Asa Diatas Tiga Roda (bag. I) dan Duo Detektif Memburu Fakta (bag. II)
Malam di tebing Kali Code. Warung-warung berjejer di trotoar tepi kali, menjajakan beraneka ragam minuman hangat dan jajanan murah. Tempat itu merupakan tempat favorit beberapa pengunjung membicarakan hal-hal remeh-temeh untuk sekedar melepas penat akibat aktivitas siang hari, ditemani nuansa Kali Code yang memantulkan bulan.
Di warung lesehan paling ujung, seorang pengamen waria bernyanyi gemulai di hadapan tiga orang pengunjung. Dua orang di antaranya memakai jaket dan topi aneh. Setelah menerima koin 500 perak, pengamen waria itu pergi, melanjutkan tugasnya sebagai biduwanita jalanan.
“Sebelumnya kami minta maaf karena meminta dulur Jukin datang ke sini.” Slamet Bodong memulai pembicaraan. “Bukan apa-apa, dulur. Ini demi kerahasiaan perbincangan kita ini.”
“Kami menemukan ini,” kata Kasno Paing sambil menyerahkan selembar kertas lusuh bergambar sketsa sebuah wajah.
“Itu saya yang menggambar, dulur.” Tambah Slamet Bodong diiringi cengar-cengir tidak karuan.
Meski mengakui bakat Slamet, Jikun tidak ada waktu untuk memuji. “Jadi, pertemuan ini cuma untuk acara lomba menggambar?”
“Jangan salah sangka, dulur. Gambar itu adalah orang yang kami anggap sebagai provokator.” Slamet mengoreksi ucapan presidennya itu, sekaligus diam-diam mengoreksi kesalahannya sendiri pamer-pamer kemampuan sketsa.
Kasno melanjutkan bahwa kedua detektif gaek itu sudah menyelidikinya dengan cermat. Setelah berhasil mendapatkan gambar itu, mereka langsung mendatangi tiap anggota Paguyuban Sikil Telu yang menjadi korban penyerangan misterius atau pengeroyokan massa. Hampir di setiap kasus, korban selalu melaporkan hal yang sama: sosok dalam gambar itu adalah penyerangnya atau jadi pemicu sebuah kerusuhan. Sebagian anggota paguyupan pernah mencoba meladeni penyerangnya. Tapi malang, anggota itu pingsan duluan sebelum jurus ketiga. Respons tangkisnya kalah cepat ketimbang tinju dan tendangan lawan misteriusnya.
“Kalian memang bakat jadi detektif. Kerja kalian bagus.”
Pujian Jikun ini ditanggapi biasa saja oleh Slamet Bodong, seakan menuntut pujian juga untuk bakat sketnya.
Konglomerat asing-provokator-kekisruhan. Semua menjadi makin jelas di benak Jikun. Meski tampak ada mata rantai yang masih terputus, temuan dua detektif gaek itu memberi penjelasan penting bagaimana mekanisme teror itu dikerjakan. Tinggal satu hal yang Jikun butuhkan untuk menyambung mata rantai itu: motif. Perlu dijelaskan kenapa konglomerat asing juga terlibat dalam kekisruhan kemarin sebagaimana pemberitaan CNN dan Al-Jazeera, dan kenapa sasarannya hanya tukang becak.
Malam semakin larut. Ketiga orang itu beranjak dari tempat duduk lesehannya seusai menyepakati sebuah keputusan bersama. Setelah membayar ke kasir, mereka pergi bersama-sama, meninggalkan tepi Kali Code yang sudah lengang.
***
Namaku provokator. Provokasi adalah pekerjaan tetapku. pekerjaan ini cukup menjanjikan, sebab jarang sekali ada orang yang mau melakukannya secara profesional. Yang banyak paling-paling hanya provokator amatiran yang beroperasi untuk kepentingannya sendiri.
Menjalani profesi ini tidaklah sulit-sulit amat. Cukup sedikit kecakapan menjual harkat sesama anak bangsa dan mengabaikan hajat hidup orang banyak.
Meski ini adalah profesi tetap, tapi juraganku berganti-ganti. Bosku bisa siapa saja, asal mau membayarku dengan tarif yang sudah aku pasang.
Hingga suatu saat, orang itu mendatangiku, memintaku beroperasi di Malioboro. Tapi orang itu menjelaskan bahwa operasiku nanti tidak sekedar provokasi, melainkan juga teror terhadap para tukang becak di sana. Aku tidak mempermasalahkannya. Bagiku, selama masih dalam koridor provokasi, itu tidak menyalahi Traktat Kode Etik Provokator Internasional. Lagian, bayarannya juga lumayan, empat kali lipat dari biasanya! Sebuah tawaran yang tidak mungkin aku tolak.
Tapi, tukang becak? Biasanya orang-orang membayar mahal perkejaanku untuk mengganggu gerakan oposisi pemerintah, memancing kerusuhan sebuah demonstrasi agar tampak anarkis di mata media, atau pekerjaan-pekerjaan besar semacamnya. Itu semua adalah pekerjaan seorang provokator. Sementara orang ini, memintaku untuk menakut-nakuti tukang becak agar tidak narik lagi, dengan bayaran semahal itu pula? Terasa agak janggal.
Karena penasaran, aku korek kepentingan di balik operasiku ini darinya. Kerja mengorek informasi bukanlah hal sulit bagi seorang provokator. Dan seusai mendengar penjelasannya, aku mulai mafhum kenapa orang itu bisa membayar mahal untuk sebuah operasi yang sepertinya remeh macam itu.
Orang itu adalah kaki tangan sebuah perusahaan multinasional milik seorang konglomerat asal Amerika. Perusaan itu hendak mendirikan sebuah pusat perbelanjaan di wilayah Malioboro. Sebagai kaki tangan, orang itu bertugas memuluskan perizinan pembangunan gedung dan melakukan survey di lapangan serta menyelidiki kemungkinan pesaing bisnis mereka. Dia mengaku, di samping mengajukan surat izin itu, dia juga mendatangiku untuk menghapus saingan bisnis dalam daftarnya.
Aku senang mendengarnya, mengingat Ini adalah tugas yang cukup jahat. Provokasi untuk tujuan baik masih merupakan tabu. Jika tujuannya baik paling namanya berganti menjadi dakwah atau misionari, dan itu jelas mencederai nilai-nilai yang terkandung dalam Kode Etik Provokator Internasional kami.
Operasi pun dimulai, dan aku sudah sangat ahli untuk urusan semacam ini. Apalagi sekarang ini sasarannya adalah tukang becak udik, semua akan sangat mudah. Tugasku akan aku selesaikan dalam beberapa langkah.
Pertama, aku harus menciptakan rasa takut di kalangan kaum becakers dengan teror di sana-sini. Tugas ini sudah aku lakukan tempo hari, dan cukup berhasil pula. Kudengar mereka melakukan pertemuan untuk membincangkan teror-teror yang mereka dapatkan.
Selanjutnya, aku akan menciptakan kambing hitam. Ini pun sudah berjalan baik. Di rapat itu mereka menyebut-nyebut tukang ojek dan sopir angkot sebagai biang keladi berbagai teror itu. Meski mereka agak ragu, tapi itu bisa diatur. Orang-orang udik itu tak akan bisa lama mempertahankan kemarahan.
Terakhir, harus terjadi kerusuhan antara para tukang becak dengan tukang ojek dan sopir angkot. Tugas ini hampir berhasil. Kemarin, dua orang becakers berkostum aneh—tak ubahnya seperti pesulap sirkus—tiba-tiba mendatangi tempat mangkal sopir angkot di Shoping depan Bank BRI. Mereka menuding-nuding seorang sopir melakukan teror terhadap kaum becakers. Aku langsung pasang aksi, memancing keributan di antara mereka. Tapi gagal, kedua becakers berkostum pesulap kampungan itu keburu kabur melihat seorang sopir berbadan gempal bak gorila.
Sayang sekali. Kalau saja saat itu benar-benar terjadi keributan, itu semakin memperkuat alasan agar pemerintah melarang kaum becakers narik lagi. Tapi tidak apa-apa, sebab aku sudah punya rencana lain untuk sebuah kerusuhan.
Tibalah saat-saat yang kutunggu. Tak lama berselang, belasan becakers bergerombol menuju lokasi mobil angkot. Aku girang bukan main, sebab semua berjalan sesuai rencanaku. Pada saat para becakers itu sudah berhadap-hadapan dengan segerombolan sopir angkot, aku langsung beraksi, memasang umpan keributan di antara mereka. Dan mereka betul-betul terpancing. Cekcok di sana-sini mulai terdengar, meski belum ada adu jotos atau lempar-lempar batu.
Tapi, tunggu! Wajah-wajah sopir angkot itu bukan orang-orang yang biasa mangkal di lokasi itu. Mereka dari tempat lain. Kenapa para becakers itu malah bentrok dengan sopir angkot lokasi lain? Atau jangan-jangan…
Seseorang tiba-tiba merangkul tubuhku, mengunci semua kemungkinan gerakan silatku. Sebuah sapu tangan menutup kedua jalur pernapasanku. Sial, mereka mau membiusku! Sambil menahan pening di kepalaku, aku mulai sadar bahwa orang-orang itu bukan supir angkot. Mereka adalah sesama tukang becak yang menyamar menjadi sopir angkot sejak tadi pagi. Aku terkecoh. Semua ini membuatku marah, membuatku tersinggung. Mereka telah menghina keahlian provokasiku dengan sangat kejam. Hingga tiba-tiba, semua menjadi tampak gelap.
***
Pagi itu, di trotoar depan benteng Vredeburg, Malioboro, tampak beberapa becak berjejer menunggu wisatawan yang mau menggunakan jasa mereka. Kasno Paing duduk di atas becaknya dengan santai, membaca koran XXX yang dia gemari. Di halaman depan terpampang sebuah judul fantastis: PEMKOT TOLAK BANGUN MALL BARU.
Masih hangat dalam ingatannya bagaimana semua kejadian itu berjalan begitu cepat. Setelah dia dan Slamet Bodong berhasil membuat provokator itu mengaku, Presiden Paguyuban Sikil Telu dan jajarannya langsung mendatangi Pemerintah Kota untuk mengklarifikasi semua hal terkait upaya mematikan usaha kecil, rencana pelarang becak dan perizinan pembangunan pusat perbelanjaan itu. Sementara sang provokator diamankan kepada pihak polisi untuk dijadikan saksi.
Di hadapan Pemerintah Kota, delegasi Paguyuban meyakinkan bahwa dengan mempertahankan becak sebagai transportasi berarti juga melindungi kelangsungan ekonomi sebagian penduduk, sebab selama ini tukang becak menjadi agen pebisnis batik, kaos dan bakpia di kawasan Malioboro. Selain itu, beberapa kerusuhan tempo hari itu adalah ulah seorang provokator untuk merusak citra kaum becakers di hadapan publik. Semua terungkap setelah para becakers itu berhasil menyergap si provokator dengan usaha mereka sendiri, tanpa bantuan dari polisi.
Dengan bukti sekuat itu, Pemkot tidak punya pilihan lain selain mencabut rencana izin pembangunan pusat perbelanjaan sekaligus menghentikan investasi proyek tersebut. Delegasi juga berhasil meyakinkan Pemkot agar mencabut rencana larangan becak di zona Malioboro. Bisa dibilang, semua usaha yang dilakukan Paguyuban Sikil Telu berhasil menghentikan rencana bulus sebuah konspirasi.
Sepasang bule tiba-tiba menyapa Kasno Paing dalam bahasa Inggris, memintanya untuk mengantar mereka ke tempat penjualan batik yang bagus sekaligus keliling Yogyakarta.
Kasno langsung menjawab, “You come to the right man, sir.” sembari mempersilahkan mereka duduk di atas becaknya.[]
[Artikel ini diikutsertakan dalam Pagelaran Kecubung 3 Warna di newblogcamp.com]

tadi pagi nggak sengaja sempat lihat cewek pakai celana pendek
ada tulisan I love Jogja…
________________
>> atmokanjeng:
Masih simpang siur, kang. Fokusnya pada “cewek pakai celana pendek” atau “tulisan I love Jogja”?
he he he
ending yang memukau..
saya seneng sama adegan pengamen bancinya
menari dgn gemulai, khas banci banget…
sedj
hidup becak…yes provokator nya koit…yes–yes…
____________
>>putri amirilis:
lha, koit…
wahhh ceritanya happy ending yachhhh….
_____________
nia/mama ina:
soalnya itu permintaan pihak sponsor, mba.
selamat:
trio punakawan telah terdaptar di kontes kecubung
mengusunng kisah trilogi sikil telu
barge peserta dapat diambil di rumah panitia
salam sukses..
sedj
______________
>>sedjatee:
Langsung ke TKP!
punakawan memang memukau ,,
ternyata provokator toh yang punya kerjaan bikin rusuh,,
sekali-sekali rakyat kecil harus menang
_______________
>> ysalma:
begitulah provokator, mba. kerja rusuhnya tiada akhir…
males gilak ama yang namanya propokator
____________
>> bintang:
wohohoho…
gilak betul…
:p
Hhhh.. menghela nafas,,
menikmati ending yang manis, dengan kekalahan para provokator.. kerja aparat selalu saja kalah cepat daripada kerja rakyat, hehehe,,, rakyat kecil harus berani bertindak, harus bahu membahu, jangan nunggu wakil kita yang ternyata gak pernah mewakili..
OK, walaupun agak terlambat, Juri Kecub datang,, untuk mengecup karya para peserta,, mencatat di buku besar,, semoga dapat mengambil hikmah setiap karya dan menyebarkannya pada semua…
sukses peserta kecubung 3 warna..
____________
>>advertiyha:
hmmm….
trims, mba.
Provokator meskipun punya seribu jurus ternyata kakinya ada 2. hahaha masih kalah dengan becakers yang kakinya ada 3, bener tho. Bagus sekali pengungkapan akhir ceritanya, saya sangat mengapresiasi cerita ini
Cerita sudah dicatat dalam buku besar juri, terima kasih
_______________
>>Juri kecub 2:
terima kasih, mas,
atas kunjungan, apresiasi, dan teruatama
udah mo komen di sini
Tak selamanya kaum terpinggir kalah! Selama mereka mau bersatu pasti akan mengalahkan ketidakadilan.
Kisah telah disimpan dalam memori untuk dinilai.
Salam hangat selalu.
______________
>> Juri kecub 3:
sip, mba. trims atas semuanya…
Udah menang, Mas. Selamat yaaa….
Pingback: Jikun dan Hadiah Nobelnya « Jejak Kehidupan Sejati