Month: January 2010

Kearifan yang Digadaikan

Kisah Kaum Sofis

Di sebuah kota itu, terdapat beberapa orang yang b erkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Mereka menyebarkan kebijaksanaan, katanya, tapi dengan persyaratan imbalan yang tidak murah. Mereka adalah kaum sofis.

Selain itu, mereka mengajarkan sesuatu yang konyol, namun dengan bangga menyebarkannya sebagai kearifan. Mereka bilang bahwa “kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai.” Sebab itu tiap-tiap pendirian dapat “dibenarkan” dengan jalan retorika. Dengan daya kata dicoba memperoleh persetujuan orang banyak. Apabila orang banyak sudah setuju, itu dianggap sudah benar. Dengan cara demikian, pengetahuan menjadi dangkal.

Terhadap aliran yang mendangkalkan pengetahuan dan melemahkan rasa tanggungjawab itu, Sokrates memberontak. Dengan filosofinya yang diamalkan dengan cara hidupnya, ia mencoba memperbaiki masyarakat yang rusak. Orang diajak memperhitungkan tanggung jawabnya. Ia selalu berkata, yang ia ketahui cuma satu, yaitu bahwa ia tak tahu. Karena itu ia bertanya. Tanya jawab adalah jalan baginya untuk memperoleh pengetahuan. Sesungguhnya inilah permulaan dialektik. Dialektik asal katanya dialog, artinya bersoal jawab antara dua orang.

Dengan cara demikian, Sokrates menumbuhkan harapan baru: bahwa kebijaksanaan tidak identik dengan harga mahal. Kegemarannya adalah berjalan-jalan di lorong-lorong Athena yang berbatu, berdialog dengan tiap orang yang ia temui (kebanyakan kaum muda), dan mengajak mereka meningkatkan kualitas kebijaksanaan tanpa dipungut biaya apapun.

Kebijaksanaan yang Diobralkan

Kartu telepon genggam yang saya pakai menawarkan paket kutipan-kutipan kearifan secara “gratis” (free wisdom quotes). Kata “gratis” saya masukkan dalam tanda kutip karena ternyata kutipan-kutipan itu tidak benar-benar gratis. Kita dikenai biaya pulsa Rp. 1000,- untuk tiap kutipan yang dikirimkan. Renungan-renungan ini sempat hinggap di benak  saya:

[> Meski sejarah filsafat sangat berpihak pada Socrates, tapi kaum sofis masih berkeliaran di sekitar kita. Tidak sedikit orang-orang yang menawarkan kebijaksanaan hidup dengan biaya mahal, bahkan sampai berjuta-juta; sebuah kebijaksanaan yang diperjual-belikan.

[> Kartu telepon genggam saya mengirimkan kutipan itu kepada siapa pun yang mendaftar, tanpa peduli apakah kutipan itu sesuai dengan situasi kebutuhan jiwanya. Dengan demikian, ia menanggung resiko salah sasaran. Bisa jadi ia mengirim kutipan tetang pentingnya berkompetisi, padahal suasana jiwa sang pendaftar sedang mengalami kesulitan dalam bekerja sama. Ini berbeda dengan kebijaksanaan ala Socrates yang mementingkan dialog.

[>
Kebijaksanaan ala kartu telepon genggam terasa lebih mementing keuntungan yang mereka peroleh ketimbang meningkatkan kualitas hidup bersama. Tak peduli apakah sang pendaftar akan tercerahkan atau malah sebaliknya, yang penting pungutan Rp. 1000,- tetap mengalir. Inilah kebijaksanaan kaum sofis masa kini, menyodorkan kedangkalan dan sekaligus menumpuk keuntungan.

Kutipan-kutipan yang sempat terkirim

Setiap peristiwa baik dan buruk itu sebenarnya adalah kita yang menentukan; apakah pikiran kita menyatakan baik atau buruk, semua bergantung pada Anda.
~ Sender : 34508
~ Sent : 21-Jan-2010, 07:17:08

Tujuan yang jelas, pengetahuan tentang apa yang diinginkan dan semangat yang berkobar adalah modal dan kualitas yang dibutuhkan untuk kemenangan Anda.
~ Sender : 34508
~ Sent : 22-Jan-2010, 07:10:36

Ada satu yang lebih kuat dari semua kekuatan senjata di dunia ini. Kekuatan tersebut adalah gagasan yang tiba pada waktu yang tepat ketika dibutuhkan.
~ Sender : 34508
~ Sent : 23-Jan-2010,  14:22:02

Kunci Kearifan | Mullâ Shadrâ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar
- Al-Qur’ân | Fushshilat 41:53

Man ‘arafa nafsah, faqad ‘arafa rabbah
~ Nabi Muhammad

Inna-llâh khalaq âdam min shûrah ar-Rahmân
~ Nabi Muhammad

1.
 Kata eliksir (ing.: elixir) berasal dari bahasa Arab, Al-Iksîr. Bahasa Indonesia sepertinya tidak memiliki padanan katanya, sehingga ia mengambil begitu saja dari bahasa Inggris. Artinya adalah “bahan untuk mengubah logam biasa menjadi emas”.

Iksîr al-‘Ârifîn, dengan demikian, bisa diterjemahkan menjadi Eliksir bagi Kaum Arif. Dengan memberikan judul demikian, Mulla Shadra seakan ingin menegaskan tujuan penulisan buku ini: menawarkan resep-resep ajaib yang bisa mengubah manusia biasa menjadi arif-bijaksana.

Judul ini agak mirip dengan salah satu risalah Al-Gazâlî, Kîmiyâ’ as-Sa’âdah. Kata kîmiyâ’ secara harfiah memang mengacu pada ilmu Kimia. Tapi, berbeda dengan ilmu Kimia pada masa kini, pada masa Al-Gazâlî ilmu ini masih memendam obsesi greekian, yakni mengubah besi menjadi emas. Dengan demikian, judul risalah di atas seakan ingin menawarkan ramuan-ramuan khusus untuk mendapatkan kebahagiaan (sa‘âdah).

2.
Kunci kebijasanaan, menurut Mulla Shadra, adalah mengetahui dan mengenal jiwa, sebagaimana diacu oleh hadits di atas. Kata nafsah bisa berarti “jiwa” dan bisa juga berarti “diri”. Tapi, menurut William C. Chittick, lebih tepat mengartikannya “jiwa” dalam konteks buku ini.

 Dengan memahami jiwa berarti kita telah memahami al-mabda’ dan al-ma‘âd, The Origin dan Return, yang arti harfiahnya dalam bahasa Indonesia kira-kira “Asal” dan “Kembali”. Untuk memahami keduanya berarti kita harus menelusuri teori Wujud yang rumit dan berliku-liku sebagaimana dilontarkan oleh Mulla Shadra, karena baginya gerak dan perubahan jiwa mengikuti model gerak Wujud yang melingkar (nuzûl dan ‘urûj, descend dan ascend).

Melalui pemahaman yang mendalam terhadap jiwa dalam model Wujud tersebut, dengan sendirinya akan terlihat bahwa Asal dan Kembali adalah satu. Keduanya bukanlah suatu rentang waktu dari satu titik awal menuju titik akhir, melainkan suatu gerak melingkar yang titik awalnya akan bertemu di titik akhirnya. Oleh karena itu, dia yang arif-bijaksana adalah dia yang memahami bahwa dirinya berasal dari Tuhan dan akan kembali pula pada-Nya.

Innâ li-Llâh wa Innâ ilaihi râji‘ûn

-    Shadr al-Din Muhammad Shîrâzî, dikenal dengan sebutan Mullâ Shadrâ (1572-1640) | salah satu sarjana filsafat Islam era belakangan dan menjadi salah satu filsuf muslim paling berpengaruh di Iran dan India, terutama di kalangan Muslim Syî‘ah. Karya utamanya adalah Al-Hikmah al-Muta‘âliyah fi al-Asfâr al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah yang terdiri dari berjilid-jilid tebal.

-    Iksîr al-‘Ârifîn adalah salah satu karyanya yang baru-baru ini, tepatnya tahun 2002, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh William C. Chittick dan terbit dengan edisi teks bahasa Inggris-Arab.

The Pillars of the Earth

 Baru tadi malam saya selesai membaca novel The Pillars of the Earth karangan Ken Follet. Berikut ini adalah kesan saya:

1.
Ken Follet pernah bilang, “When I started to look at cathedrals, I wondered who built them, and why? The book is my answer to that question.”

Dan ternyata memang benar. The Pillars of the Earth ini membuktikan bahwa tema semacam konstruksi bangunan bisa menjadi tema yang menarik untuk diangkat dalam sebuah novel. Bahkan, agak mengejutkan juga, meskipun dengan ketebalan yang agak menakutkan bagi pembaca buku di Indonesia (1131 halaman!), novel ini bisa  memaksa saya duduk berjam-jam sambil membacanya. Ken Follet sangat handal mengaduk-aduk emosi pembaca dan selalu menyisakan rasa penasaran di tiap saat pembacanya membalik tiap halamannya.

Ini berkaitan dengan kecerdikan sang penulis, tentunya, yang mengaitkan kisah pembangunan katedral di abad ke-13 dengan berbagai lika-liku kehidupan: intrik politik kerajaan dan para bangsawan, kehidupan gereja yang sebagian polos dan sebagian lagi ambisius minta ampun, para tukang dan segenap kerumitan konstruksi, serta suasana kehidupan abad pertengahan yang menakjubkan. Hasil olahan dari beragam unsur —dan unsur-unsur lain yang tak mungkin saya sebutkan di sini, tentunya— yang menjadikan novel unik bagi saya.

Imajinasi penulis novel ini juga membuat saya berdecak kagum. Dia bercerita tentang suasana abad ke-12 di Inggris dengan sangat baik padahal dia bukan sejarawan. Dia berkisah tentang suasana politik dan intrik-intriknya seakan pernah mengalaminya, padahal dia bukan politisi. Dia berkisah tentang gereja dan kehidupan para gerejawan dengan sangat fasih seakan dia sendiri hidup di dalamnya, padahal dia mengaku tidak percaya pada Tuhan. Dan dia menjelaskan dengan detil mengenai seluk-beluk konstruksi bangunan seakan dia sendiri adalah tukang bangunan, padahal dia hanya seorang wartawan dan setelah itu bergelut dengan menulis novel. Entah bagaimana caranya, dia menyelesaikannya dengan sangat baik.

Tokoh yang paling menarik bagi saya adalah Philip of Kingsbrigde dan Waleran Bigod. Keduanya digambarkan sama-sama biarawan, sama-sama cerdik, kreatif dan prestisius, tapi memiliki satu perbedaan mencolok: Philip adalah tokoh protagonis yang polos-elegan, sementara Waleran adalah tokoh antagonis yang ambisius-norak. Saya jadi berfikir bahwa kecerdikan memang sangat mengerikan, baik ketika dipegang oleh orang-orang bejad ataupun oleh orang yang baik-hati.

2.
Separuh dari kisah dalam novel ini mengambil tempat dalam gereja, berikut kehidupan para biarawannya juga. Ini bisa dipahami karena novel ini berangkat dari kekaguman penulisnya pada katedral.

Nah, bagi pembaca semacam saya yang Muslim, hal ini tidak perlu dirisaukan karena Ken Follet menceritakannya dengan sangat lihai. Istilah-istilah kunci semacam sacrist, cellarer, circuitor, cell, infirmarer dan lain-lain, yang memang tidak akrab di telinga dan di novel ini tidak diterjemahkan (atau belum ada terjemahannya?) dalam bahasa Indonesia, dikasih penjelasan satu-persatu. Dengan membaca terus ceritanya, dengan sendirinya kita paham arti masing-masing.

Mungkin istilah-istilah ruangan katedral agak susah dipahami, seperti transept, nave, quire, refectory, rumah chapter, dan lain-lain. Atau istilah-istilah konstruksi bangunan yang mungkin hanya sangat dikenal oleh para tukang. Dengan sangat terpaksa, saya membolak-balik kamus untuk memahaminya. Tapi, andaikan itu dilewatkan pun saya kira tidak akan mengurangi kualitas cerita novel ini.

3.
Beberapa pembaca juga menuliskan kesan mereka setelah membaca novel ini. Berikut ini kesan mereka yang menurut saya menarik untuk dibaca.

:: Oleh SY dalam Yossy’s Blog
:: Oleh Patrick dalam The Patrick Challenge
:: Oleh Robert Martin Walker dalam Soul In Motion: a blog of active spirituality
:: Oleh THEBLACKSHEEP dalam BlackSheepBooks

4.

Saya mohom maaf bila tidak memberikan review terhadap buku ini. Ini semua cuma catatan tentang kesan saya. Namun, bagi siapa saja yang penasaran tapi belum bisa mendapatkan novelnya, bisa kunjungi web Ken Follet sebagai pengantar awal.[]

Wisdom of Rumi [6]

The minute I heard my first love story
I started looking for you
Not knowing how blind I was.

Lovers don’t finally meet somewhere.
They’re in each other all along.

~Jalaluddin Rumi~

 

Search, no matter what situation you are in.
O thirsty one, search for water constantly.
Finally, the time will come when youn will reach the spring.

~Jalaluddin Rumi~

Keep strenuously toiling along this path,
Do not rest until the last breath; for
that last breath may yet bring the blessings
from the Knower of all things.

~Jalaluddin Rumi~

 

Whoever travels without a guide
needs two hundred years for a two-days’ journey.

~Jalaluddin Rumi~

 

# Di sadur dari Travelling the Path of Love

[*] Telusuri serial Wisdom of Rumi:
~ Wisdom Of Rumi [5]
~ Wisdom Of Rumi [4]
~ Wisdom Of Rumi [3]
~ Wisdom Of Rumi [2]
~ Wisdom Of Rumi [1]

 

Agama dan Budaya

 Di hadapan para pengikutnya, Sunan Kudus memerintahkan agar sapi tidak disembelih dan dikonsumsi, lantaran banyak “saudara-saudara” beragama Hindu yang menganggap seekor sapi sebagai hewan suci. Supaya tidak menyakiti hati mereka, katanya, biarlah mereka yang Muslim tidak mencicipi daging sapi. Toh jika urusannya cuma menu makanan, masih banyak daging hewan lain yang bisa disate atau disop. Sementara kalau urusan kemasyarakatan, keharmonisan dan kedamaian harus tetap dijaga.

Tentunya nama Sunan Kudus tidaklah asing di telinga umat Muslim di negeri ini. Selain karena masjid dan menara di samping makamnya yang sangat terkenal itu, juga karena tokoh ini berkiprah sebagai satu di antara Sembilan Wali yang berperan besar dalam persebaran Islam abad ke-15 atau 16. Ilustrasi di atas adalah salah satu gambaran tentang pendekatannya dalam memperkenalkan Islam kepada masyarakat sekitarnya: bahwa Islam dan kedamaian adalah dua sisi dari satu mata uang. Yang satu dengan yang lain tidak bisa dipisah-pisah. Untuk itu, perlu adanya proses adaptasi dalam berislam, pentingnya melakukan penyelarasan antara ajaran dengan kebudayaan setempat, dan kearifan untuk memaknai nash agama tidak melulu harfiah atau literer.

Upaya untuk mendamaikan antara ajaran agama dengan kebudayaan setempat itu bukanlah kisah baru dalam sejarah umat manusia, dan di masa selanjutnya proses ini masih akan terus berlanjut. Hal ini karena kebudayaan masih akan berlangsung dan mengalami pembaharuan sejauh manusia masih ada di dunia ini. Dengan demikian, sebagaimana pesan tersirat Sunan Kudus di atas, niscaya perlu adanya upaya kontekstualisasi ajaran agama terhadap situasi yang melingkupinya.

Pada saat yang sama, sikap serba harfiah dalam menyikapi ajaran agama juga selalu muncul di sela-sela proses tersebut, bahkan seringkali berbenturan dengan upaya pendamaian itu. Tidak terkecuali di saat ini, di sebuah ruang imajiner yang kita sebut dengan nama Indonesia. Di sekeliling kita banyak kita temui adanya penyederhanaan-penyederhanaan yang timbul karena sikap serba harfiah tersebut: Islamisasi menjadi sekedar Arabisasi. Tidak hanya dalam agama, banyak aspek lain yang juga mengalami penyederhanaan serupa: modernisasi menjadi sekedar westernisasi, globalisasi menjadi sekedar Amerikanisasi, pribumisasi menjadi sekedar anti-asing, dan seterusnya, dan seterusnya.

Penyederhanaan tersebut bisa menjadi potensi perbenturan dan konflik di kala ada anggapan bahwa sikap serba harfiah adalah sikap ideal yang harus dianut semua orang dan dipaksakan menjadi satu-satunya way of salvation. Dengan kata lain, identifikasi suatu nilai dengan tempat kelahirannya dianggap sebagai jawaban mutlak untuk membumikan idealitas. Sehingga, dengan cara berfikir semacam ini, tidak mungkin mengislamkan orang lain tanpa sekaligus mengarabkannya, atau mustahil memodernkannya suatu masyarakat tanpa sekaligus menjadikannya kebarat-baratan. Maka lengkaplah sudah posisinya sebagai orang yang salah kaprah dan juga mengajak orang orang lain ikut-ikutan (lâ ya‘rif annahû lâ ya‘rif).

Hal ini menghantarkan kita pada satu pertanyaan lawas, tapi masih perlu dirumuskan jawabannya hingga saat ini: mungkinkah ada sebuah nilai (agama) yang kedap budaya? Jawabannya tentu tidak musti sekedar iya-tidak (either-or). Dan di saat rumusan jawaban terhadapnya masih menjadi perdebatan, perjalanan agama dan budaya tetap berlangsung terus. Seperti menghidangkan makanan di restoran, meskipun perdebatan tentang daftar menu apa yang mesti dihidangkan mesti terus diperjelas, tapi tiap tamu sudah mendapatkan hidangannya di meja-meja mereka, dan bahkan sebagian sudah menyantapnya.

 Begitulah pembahasan mengenai agama dan budaya terasa begitu rumit. Namun, ini di satu sisi. Di sis lain, studi dan analisis tentang budaya juga terus berlangsung seru, dan hingga saat ini mengalami perkembangan yang sangat canggih. Budaya sedang mengalami pemaknaan ulang, dan akan terus-menerus mendapatkan maknanya yang baru, karena budaya itu sendiri bukanlah barang yang sudah jadi, baku, final, ataupun statis. Ia adalah proses yang sedang berlangsung, dan terus akan berlangsung hingga garis finish yang belum jelas. Jadi, pemaknaan terhadap budaya adalah pemaknaan terhadap sesuatu yang sedang mengalami pembentukan tanpa akhir.

Ini tidak perlu dirisaukan karena memang pandangan klasik tentang (jika positivisme bisa dianggap klasik di zaman ini) tentang budaya dan masyarakat menempatkan sebuah objek sebagai sesuatu yang fixed, final dan complete. Sehingga, apa pun yang terkait dengannya selalu dihubungkan dalam pola yang juga baku. Tidak terkecuali hubungan agama dengan budaya. Cara pandang baru terhadap budaya (dan berarti juga terhadap agama) menawarkan celah-celah kemungkinan untuk memasukkan alternatif lain terhadap segala bentuk pembakuan semacam itu.

Kecenderungan baru tersebut juga menggugah kita untuk mempertanyakan kembali anggapan bahwa agama dan budaya mewakili dua aspek manusia atau masyarakat: yang tetap dan yang berubah. Kenyataannya, agama dan budaya adalah dua hal yang bernafas dari hidung yang sama, sehingga mengukur perbedaan antara keduanya menjadi tidak mudah, atau bahkan problematis. Singkatnya, keduanya adalah yang tetap dan sekaligus juga yang berubah.

Inilah yang memungkinkan kita untuk berfikir bahwa tidaklah mustahil mewujudkan sebuah keberagamaan yang ramah terhadap budaya, dan pada saat yang sama tidak mencederakan keberagamaan itu sendiri seperti yang ditunjukkan oleh Sunan Kudus di atas. Agama dan budaya adalah saudara kembar, yang sulit dipisah-pisah meskipun keduanya tidak identik. Dengan latar belakang budaya masing-masing, kita masih bisa mengembangkan Islam dalam bingkai yang ramah, tanpa terjebak pada sikap penyederhanaan, apalagi pemutlakan pendapat atau pemusnahan terhadap perbedaan.

Maka, merumuskan hubungan antara agama dan budaya seperti sebuah tantangan lama yang pertandingannya terus berlangsung hingga kini. Sementara tiap upaya kita untuk menyumbangkan rumusan, entah berupa pribumisasi, kontekstualisasi, modernisasi, atau apapun namanya, adalah sebentuk penampilan kreatif yang belum tentu menandai akhir acara. Pertandingan pun terus berlanjut, dan penonton masih juga ramai.[]

[Dimuat di majalah HumaniusH, Edisi ke-II. November. 2009]

Sahaja

1.
Seorang guru Zen sedang beristirahat dengan seorang muridnya. segera, dia mengeluarkan buah melon dari tasnya dan memotongnya menjadi dua untuk mereka makan.

Sementara mereka sedang makan, muridnya berkata:

“Guru, karena segala hal yang Anda lakukan punya arti, mungkin berbagi buah melon dengan saya adalah sebuah pertanda bahwa Anda hendak mengajarkan saya sesuatu.”

Sang guru tetap makan dalam diam.

“Diamnya Anda jelas menyembunyikan pertanyaan,” si murid bersikukuh, “dan itu pasti begini: apakah kenikmatan yang aku ekspresikan dalam melahap buah enak ini terdapat dalam melon ini atau di lidahku?
Sang guru tetap diam. Si murid meneruskan dengan semangat:

“Dan karena semua hal di dalam hidup punya arti, saya pikir saya hampir menemukan jawaban dari pertanyaan itu: kenikmatan adalah laku cinta dan saling butuh antara sesama kita, karena tanpa melon takkan ada objek kenikmatan dan tanpa lidahku…”

“Cukup!” kata sang guru. “Orang bodoh itu adalah mereka yang berfikir bahwa dirinya cerdas dan menghabiskan semua waktunya berusaha untuk menafsirkan segalanya. Melon ini enak, itu saja sudah cukup. Sekarang, biarkan aku makan dengan tenang!

2.
 Suatu hari, ketika Konfusius berjalan-jalan dengan murid-muridnya, dia mendengar cerita tentang seorang anak yang sangat cerdas di sebuah desa. Konfusius berkunjung ke sana untuk melihat dan berbicara dengannya, dan dia bertanya dengan tidak sungguh-sungguh:

“Bagaimana kau akan membantuku menyingkirkan kekacauan dan ketak-setaraan di dunia ini?”

“Tapi kenapa?” tanya si anak. “Jika kita meratakan gunung, burung-burung tidak akan punya tempat berlidung. Jika kita menguras sungai-sungai dan laut, ikan-ikan akan mati. Jika kepala desa punya wewenang sebanyak orang gila, tak akan ada yang tahu di mana mereka. Dunia cukup luas untuk menaungi perbedaan.”

Murid-murid Konfusius merasa sangat terkesan dengan kebijaksanaan anak itu, dan ketika mereka berjalan lagi menuju desa berikutnya, salah seorang di antaranya berkomentar bahwa semua anak harusnya bisa jadi seperti itu. Konfusius berkata:

“Aku sudah melihat banyak anak yang, meskipun bermain dan melakukan hal-hal yang sesuai dengan usianya, sibuk berusaha memahami dunia. Tidak ada di antara anak-anak yang cepat matang itu melakukan sesuatu yang berarti kemudian hari karena mereka tidak pernah mengalami keluguan dan ketak-bertanggungjawaban dalam usia anak-anak.”

3.
 Zilu bertanya pada Konfusius:

“Jika raja Wen meminta Anda memerintah negara, apa yang pertama-tama akan Anda lakukan?”

“Saya akan mempelajari nama-nama para penasihat saya.”

“Betapa sia-sia! Itu adalah urusan yang sangat tidak penting bagi seorang perdana menteri.”

“Seseorang tidak bisa berharap menerima bantuan dari apa yang dia tidak tahu,” jawab Konfusius. “Jika dia tidak memahami alam, dia tidak akan memahami Tuhan. Demikian juga, jika dia tidak tahu siapa orang-orang di sampingnya, dia tidak punya teman. Tanpa teman, dia tidak akan bisa menyusun rencana. Tanpa rencana, dia tidak akan bisa mengarahkan tindakan orang lain. Tanpa arahan, negara akan tercebur ke dalam kegelapan, dan bahkan para penari tidak akan tahu kaki yang mana yang selanjutnya akan dia letakkan. jadi, sebuah tindakan yang tampaknya banal, mempelajari nama orang di sekelilingmu, bisa membuat perbedaan besar. Dosa yang menjangkit saat ini adalah tiap orang ingin melakukan sesuatu saat ini juga, dan mereka lupa bahwa untuk melakukannya kau butuh banyak orang.”

# Paulo Coelho,
Stories for Parents, Children and Grandchildren, Vol 1.