Yûsuf al-Qaradlâwî memang sangat produktif. Cendekiawan lulusan Al-Azhar ini menulis hampir dalam semua bidang. Bahkan, fatwa-fatwa fiqhiyahnya sudah diterbitkan dalam jilid-jilid yang tebal. Belum lagi ceramah-ceramahnya dan beberapa kali berbicara di TV ataupun di radio Mesir.

-(. . . . . . .)-
Namun tulisan ini tidak hendak bercerita tentang Yûsuf al-Qaradlâwî secara panjang lebar. Alih-alih, tulisan ini cuma akan bercerita tentang salah satu karyanya tentang Abû Hâmid al-Gazâlî: Al-Imâm al-Gazâlî, Baina Mâdihîhi wa Nâqidîhi (selanjutnya disebut Al-Imâm al-Gazâlî). Saya mendapatkan edisi keempat buku ini dalam bentuk softfile, tentu saja dari mengunduh internet.
Di edisi ini, al-Qaradlâwî menyertakan pengantar khusus untuk menjelaskan beberapa hal. Mungkin dia menyertakan pengantar pula untuk edisi-edisi sebelum. Dalam pengantarnya, al-Qaradlâwî mengakui bahwa perkenalannya dengan Al-Gazâlî sudah sangat akrab sejak dia masih sangat belia, terutama melalui kitab Ihyâ’ Ulûm ad-Dîn dan Minhâj al-‘Âbidîn.
al-Qaradlâwî juga mendapati Al-Gazâlî sebagai sosok luar biasa dengan cakrawala keilmuan yang sangat luas, sehingga tulisan yang mengulas pemikirannya sangatlah banyak dan tak terhitung. Untuk itu, kitab Al-Imâm al-Gazâlî ini hanya akan menjadi lembaran-lembaran tak berguna jika hanya mengulang-ulang apa yang sudah diulas mereka. Harus ada hal baru yang diulas, atau, paling tidak, mengungkap beberapa sisi Al-Gazâlî yang selama ini terpendam.
Semua tulisan yang sudah mengulas berbagai pemikiran Al-Gazâlî tersebut, demikian Al-Qaradlâwî, bisa digolongkan menjadi tiga kelompok. Pertama, mereka yang terpesona dan memuji-mujinya, bahkan ada yang memujinya hingga ke taraf yang tidak manusiawi, mendekati sikap pemaksuman. Semisal perkataan, “ Kitab Ihyâ’ hampir menyamai Al-Qur’ân.” Kedua, mereka yang mengritiknya, bahkan ada yang habis-habisan hingga seakan tidak ada sisi baik sama sekali dalam sosok Al-Gazâlî. Semisal perkataan bahwa “Al-Gazâlî hanya menghidupkan agamanya, tapi tidak agama kaum Muslim.” Ketiga, sikap moderat dan menempatkan Al-Gazâlî pada posisi yang pantas, dengan memujinya jika memang patut dipuji dan memberikan kritik jika memang dipandang ada hal yang pantas dikritik. Inilah sikap yang tepat menurut Al-Qaradlâwî, sesuai adagium khair al-asyâ’ awsathuhâ.
Demikianlah. Dan mulailah kitab ini bercerita banyak hal tentang Al-Gazâlî.
Pada Bagian Pertama, kitab ini memberi penjelasan mendasar: kenapa Al-Gazâlî dikasih gelar sebagai Hujjah al-Islâm? Kenapa kaum Muslim bersepakat, sebagaimana dikatakan oleh As-Suyûthî, untuk menganggapnya sebagai Pembaharu Abad ke-500 H.? Peran apa yang Al-Gazâlî mainkan dalam peradaban Islam sehingga posisi semacam ini bisa dia dapatkan? Ini berarti, bagian ini sekaligus mencakup beberapa pujian terhadap Al-Gazâlî oleh para penulis, baik masa dahulu maupun penulis terkini, dari kalangan Muslim sendiri maupun orientalis Barat.
Saya membayangkan, tentu tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan ini karena harus menjelaskan banyak hal terlebih dahulu, mulai dari pribadi Al-Gazâlî hingga setting sosial yang mengelilinginya. Al-Qaradlâwî sendiri mengaku bahwa awalnya dia memperkirakan akan hanya membutuhkan belasan halaman untuk memaparkan jawabannya. Namun perkiraannya meleset. Dia butuh separuh (105 halaman) kitab karangannya ini untuk menjawabnya. Tidak mudah, bukan?
Pada bagian kedua, Al-Qaradlâwî memaparkan berbagai kritik terhadap Al-Gazâlî. Dari kalangan pengeritik masa-masa dulu, terdapat beberapa nama: Ath-Tharthûsyî, Al-Mâzirî, Ibn ash-Shalâh, Ibn al-Jauzî dan Ibn Taymiyah. Tapi, Al-Qaradlâwî segera menambahkan bahwa pernyandang nama-nama ini adalah orang-orang besar, dan mengingatkan bahwa selain mengritik Al-Gazâlî mereka juga memberikan penghargaan yang tinggi terhadapnya.
Sementara itu, dari kalangan pengritik yang hidup di masa terkini, Al-Qaradlâwî mendapatkan banyak sekali nama dan dalam aspek yang beraneka ragam. Ada yang mengritik Al-Gazâlî karena kecenderungannya yang kuat kepada Asy‘ariyah; ada yang karena kesufiannya yang berlebihan; ada yang karena Al-Gazâlî terlalu menekankan kebahagian personal sehingga mengabaikan kehidupan duniawi dan pengembangan masyarakat; ada yang karena Al-Gazâlî mengutip gagasan tanpa menyebut refrensinya (semacam plagiasi); ada yang menemukan inkonsistensi dan kecenderungan kontradiktif dalam pemikiran Al-Gazâlî; dan ada pula yang mengatakan bahwa Al-Gazâlî mengabaikan peristiwa-peristiwa besar di sekelilingnya, seperti Perang Salib, misalnya. Di tiap-tiap wilayah kritik ini, Al-Qaradlâwî memberikan pembahasan dalam sudut pandangnya sendiri.
Apa yang menjadikan kitab ini sangat berharga bagi saya sehingga saya mengharuskan diri menulis tulisan ini? Ceritanya berawal dari sebuah perbincangan santai antara saya dengan salah seorang teman di sebuah warung kopi yang agak bising. Kebetulan teman saya ini kuliah di Teologi Islam, Paramadina. Perbincangan ini begitu asyik, hingga tanpa terasa kami telah membahas sosok dan pemikiran Al-Gazâlî dari berbagai segi yang kami ketahui. Hingga pada satu titik perbincangan, teman saya ini menyatakan keinginannya untuk membuktikan bahwa meskipun Al-Gazâlî mengarang kitab Tahâfut at-Falâsifah, namun sebetulnya dia tidak hendak menghancurkan filsafat itu sendiri. Sebuah keinginan yang ambisius, pikir saya. Dan kalaupun suatu saat dia berhasil membuktikannya, bagaimana dia akan menyuarakannya? Toh, Al-Gazâlî terlanjur dicap sebagai penghancur filsafat di dunia Islam. Dan yang lebih penting dari itu, bagaimana dia akan membuktikannya?
Untungnya, pikiran saya tadi tidak saya sampaikan kepada teman saya itu. Beberapa tahun sebelum perbincangan itu terjadi, Al-Qaradlâwî sudah mengarang kitab ini dan membuktikan keinginan teman saya itu dilakukan.
Dalam pembahasan terakhir —dan terpenting, menurut saya— dengan subjudul Al-Gazâlî dan Tanggung Jawab Kemunduran Ilmu dan Peradaban Umat (Al-Gazâlî wa Mas’ûliyyah at-Takhalluf al-‘Ilmî wa al-Hadlârî li al-Ummah), Al-Qaradlâwî memaparkan pandangan sebagian orientalis dan sebagian pemikir Arab bahwa Al-Gazâlî menghancurkan filsafat dan kebebasan berfikir. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Al-Gazâlîlah satu-satunya orang yang bertanggungjawab atas kemunduran Peradaban Islam hingga saat ini. Pandangan ini jelas ditolak Al-Qaradlâwî dengan alasan:
(1) Sistem pemikiran itu terlalu mudah dirobohkan. Padahal, jika sistem pemikiran itu memang sejati, tentunya akan sangat kokoh dan kuat. Sistem pemikiran yang demikian itu, yang bisa diruntuhkan hanya oleh satu orang, tidak pantas disebut filsafat.
(2) Filsafat tidak sepenuhnya mati setelah diserang Al-Gazâlî. Buktinya, sesudah generasi Al-Gazâlî, bermunculan para filsuf besar. Ini sejalan dengan pendapat Prof. De Bouer, seorang orientalis dari Belanda.
(3) Al-Gazâlî tidak hendak meruntuhkan filsafat sebagai aktivitas berfikir yang bebas. Alih-alih, dia hendak menghancurkan filsafat yang terpasung taklid kepada Peripatetisme-Aristotelian dan Neo-Platonisme. Jadi, Al-Gazâlî mau mengembalikan kepercaya-dirian insan Muslim untuk berfikir dengan kepalanya sendiri, bukannya membiarkan Aristoteles, Plato, atau siapapun berfikir untuknya.
(4) Tidak semua cabang filsafat diserang oleh Al-Gazâlî. Dia hanya menyerang Metafisika saja.
(5) Serangan Al-Gazâlî tidak berarti sikap permusuhan terhadap akal atau aktivitas berfikir yang bebas. Baik Islam maupun Al-Gazâlî sendiri sangat menghormati akal dan menjunjung aktivitas berfikir yang bebas. Ini terbukti dari banyak sekali karyanya.
(6) Meskipun Al-Gazâlî menyerukan laku hidup sufistik, zuhud, tawakal, dan lain-lain, namun dia tidak mengecam urusan-urusan duniawi, berupa pertanian, industri, kedokteran, politik dan lain-lain. Bahkan, Al-Gazâlî menganggapnya sebagai wajib kifâyah, yang suatu masyarakat akan berdosa jika tidak terpenuhi jumlah tertentu untuk mengurusi kehidupan duniawinya.
(7) Sikap simplikatif terhadap masalah besar bukanlah sikap ilmiah. Kemunduran atau kebangkitan sebuah umat bukanlah karena faktor filsafat semata, melainkan disebabkan oleh faktor politik, faktor sosial, faktor moral, faktor keilmuah, dan lain-lain. Bukankah kenyataan ini sudah terbukti dalam sejarah umat-umat terdahulu?
Akhirnya, saya cuma bisa tertegun dan tersenyum kesal. Sialan!

