Kenapa dikasih nama “Annuqayah”? Kiai saya menjawab: karena terinspirasi oleh kitabnya Imâm Jalâl ad-dîn ‘Abd ar-Rahmân As-Suyûthî, an-Niqâyah.

masaccio
Jawaban ini saya peroleh di saat saya baru masuk sebuah pesantren di Sumenep dan mengikuti kegiatan pembekalan buat santri baru. Di sebuah ruang yang tak ber-AC, saya dan sejumlah teman santri baru lain mendengarkan penjelasan beliau tentang asal-usul pesantren yang baru kami masuki ini. “Jadi,” beliau melanjutkan, “pesantren ini didirikan agar santri bisa menguasai beraneka-macam ilmu.” Waktu itu, alih-alih mempertanyakan —atau lebih tepatnya: mencurigai—validitas jawaban tersebut secara historis (karena memang tidak disertai dengan penjelasan tentang bukti-bukti historis), saya malah penasaran dengan isi kitab yang beliau sebutkan itu. Karena memang baru kali itu saya mendengar sebuah kitab dengan judul kayak gitu.
Hari demi hari pun berlalu, dan kitab itu tidak juga saya peroleh. Entah kenapa pula benda itu susah sekali diperoleh di tempat yang sangat berhutang budi kepadanya. Jangankan dijual di toko buku-toko buku di sana, diajikan saja tidak pernah. Bukankah seharusnya kitab itu tersebar luas di sana agar inspirasinya tidak terputus ke generasi sekarang? Atau hanya orang-orang tertentu saja yang boleh tahu bentuk dan isinya? Jangan-jangan, memang sengaja tidak dicetak secara massal dan disalin oleh kalangan tertentu saja? Ah, masa sih? Terus-menerus pertanyaan semacam ini bermunculan, tapi hingga saya keluar dari pondok pesantren tersebut (dengan baik-baik, tentunya) saya tak kunjung juga mendapatkan kitab itu.
Hingga, ketika saya kuliah di Jogja, perhatian saya kepada kitab itu mulai memudar sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan berganti dengan segala hingar-bingar dunia kampus. Namun, baru-baru ini secara tidak sengaja saya mendapatkan kitab tersebut dari mengunduh di sebuah situs internet. Hmm…… akhirnya!
***
Pengarang kitab ini tidaklah asing di dunia pesantren. Sebagian karyanya banyak dikaji di pesantren, meskipun tidak semua darinya sampai ke tangan para santri Nusantara. Namanya adalah ‘Abd ar-Rahmân ibn Abî Bakr ibn Muhammad al-Khudlairî al-Asyûthî atau lebih dikenal sebagai As-Suyûthî. Dalam kitabnya, Târikh al-Mishr (Husn al-Muhâdlarah fî Akhbâri al-Mishr wa al-Qâhirah), dia juga memasukkan otobiografinya sendiri dan menyebutkan namanya dengan tarikan nafas yang sangat dalam: “[namaku adalah] Abd ar-Rahmân ibn al-Kamâl Abû Bakr ibn Muhammad ibn Sâbiq ad-Dîn ibn al-Fakhr Utsmân ibn Nâdzir ad-Dîn Muhammad ibn Sayf ad-Dîn Khidlr ibn Najm ad-Dîn Abi as-Shalâh Ayyûb ibn Nâsir ad-Dîn Muhammad ibn Shaykh Humâm ad-Dîn al-Khudlairî al-Asyûthî.”
Cendekiawan prolifik ini lahir di Kairo, Mesir, pada sore hari Minggu, bulan Rajab, 849 H, yang bertepatan dengan bulan September, 1445 M. Ayahnya, Abî Bakr ibn Muhammad al-Khudlairî al-Asyûthî, meninggalkan Kairo dan berpetualang mencari ilmu. Oleh karenanya, dia sangat dihormati di lingkungannya dan menjadi guru orang-orang penting di sana. Dikabarkan bahwa semasa kecilnya, dia pernah dibawa ayahnya ke Muhammad Majdzub, seorang syaikh yang hidup di dekat makam Sayyidah Nafîsah. Sang syaikh mendo’akan berkah untuk As-Suyûthî cilik. Namun, di saat As-Suyûthî berumur 6 tahun, ayahnya meninggal dunia dan selanjutnya As-Suyûthî dirawat oleh Kamâluddin ibn Humâm, seorang ahli fiqh madzhab Hanafî dan pengarang kitab salah satu masterpiece fiqh Hanafî, Al-Fath al-Qadîr li al-A‘âjiz al-Faqîr.
Dalam lingkungan seperti inilah As-Suyûthî lahir dan dibesarkan. Menjelang umur 8 tahun, dia telah menghafal Al-Qur’an. Dan setelah itu, dalam usia yang sangat belia, dia sudah menghafal Al-‘Umdah, Minhâj al-Fiqh, Al-Ushûl, Alfiah ibn Mâlik.
***
An-Niqâyah adalah kumpulan 14 ilmu yang ditulis dengan sangat ringkas. Kitab ini kemudian disyarah sendiri oleh penulisnya dan memberinya nama Itmâm ad-Dirâyah li-Qurrâ’ an-Niqâyah. Semua ilmu yang terkumpul di dalamnya adalah ilmu-ilmu yang “dibutuhkan oleh para pelajar dan menjadi prasyarat semua ilmu agama.” Di dalamnya tercakup ilmu pengetahuan yang wajib dipelajari secara ‘ainî, seperti ilmu Ushûl ad-Dîn dan Tashawwuf. Dan ada pula yang wajib dipelajari bi al-kifâyah, baik sebagai ilmu pengetahuan, seperti ilmu Tafsîr, Hadîts, dan Fara’idl, maupun sebagai prasyarat untuk memperoleh ilmu lain, seperti ilmu Ushûl Fiqh, Nahwu, dan lain-lain. Yang menarik, As-Suyûthî memasukkan ilmu kedokteran (ilm ath-Thibb), yang bisa memberitahu kita cara menjaga kesehatan, sebagai ilmu pengetahuan dalam kategori wajib bi al-kifâyah, karena ia merupakan prasyarat untuk melaksanakan ibadah dan menjalani kehidupan.
Dari sini, As-Suyûthî mulai menjelaskan 14 ilmu pengetahuan tersebut. Secara berurutan, mereka adalah : (1) Ushûl ad-Dîn, (2) Tafsîr, (3) Hadits (4) Ushûl Fiqh, (5) Fara’idl, (6) Nahw, (7) Tashrîf, (8) Al-Khathth, (9) Ma‘ânî, (10) Bayân, (11) Badî‘, (12) Tasyrîh, (13) Thibb, dan (14) Tashawwuf. Semuanya diurutkan semacam ini bukanlah kebetulan, karena As-Suyûthî menjelaskan satu-persatu kenapa tiap-tiap ilmu ditempatkan sedemikian rupa.
Dalam catatan penutupnya, syarah kitab An-Niqâyah dirampungkan pada hari selasa, tanggal 3 Rabî‘ al-Awwal, 870 H.
***
Sebagaimana kita tahu, masa hidup As-Suyûthî adalah masa ketika dunia Islam sudah mengalami desentralisasi imperium, yang membawa implikasi melemahnya kekuatan politik di kemudian hari. Singkatnya, masa hidup As-Suyûthî adalah masa kemunduran peradaban Islam. Pada 1258 M/ 656 H, Imperium ‘Abbâsiyah runtuh di tangan Mongol. Di Barat, Imperium Islam Andalusia menghilang setelah keruntuhan Granada pada 1492 M/ 897 H. Namun, masa keruntuhan politik ini tidak menyurutkan semangat ilmiah pada masanya, karena pada saat itu masih bertahan para ensiklopedis Muslim semacam Ibn Mandzûr (w. 1311 M/ 711 H) pengarang ”Lisân al-‘Arab”, An-Nuwairî (w. 1331 M/ 732 H) pengarang ”Nihâyah al-Arab”, Ibn Fadll al-Lâh al-‘Umarî (w. 13 47 M/ 748 H) pengarang ”Masâlik al-Abshâr”, Al-Qalqasyandî (w. 1418 M/ 821 H) pengarang ”Shubh al-A‘syâ”, dan tentunya As-Suyûthî sendiri.
Semasa hidup As-Suyûthî, banyak sekali ilmuwan dalam berbagai disiplin yang berbeda-beda. Dia pernah menjelajahi beberapa pusat ilmu pengetahuan untuk mencari cendekiawan paling otoritatif di zamannya. Tempat-tempat yang pernah dia kunjungi adalah Syâm, Hijâz, Yaman, India, Maroko, Takrur. Dia juga mengunjungi beberapa kota penting di Mesir: Fayyûm, Dumyât, dan Mahallâ. As-Suyûthî pernah mengaji kepada guru-guru yang otoritatif, dan dia sendiri telah membuat daftar para gurunya dalam sebuah kitab, Hâtib Layl wa Jârif Sayl. Dia telah belajar pada Al-Bulqînî yang telah memberikannya ijâzah untuk memberikan fatwâ. Kemudian mempelajari Fiqh Syâfi‘iyah kepada Syaraf ad-Dîn al-Munâwî. Belajar bahasa Arab dan Hadits kepada Taqîyuddîn Syiblî al-Hanafî selama 4 tahun dan ilmu Tafsîr, Ushûl Fiqh, tatabahasa Arab dan Ma‘ânî kepada Muhyiddîn al-Kâfijî selama 14 tahun. Selain mereka masih banyak lagi. Dalam bidang hadits saja, As-Suyûthî mengaku pernah belajar kepada 150 orang.
Yang luar biasa, As-Suyûthî tidak segan-segan mengaku pernah belajar kepada guru perempuan. Dia menyebut beberapa nama seperti Âsiyah binti Jâr al-Lâh ibn Shâlih, Kamâliyah binti Muhammad al-Hâsyimiyah, Umm Hâni’ binti Abî al-Hasan al-Hurwînî, Umm al-Fadll binti Muhammad al-Muqaddasî, dan masih banyak lagi.
Ketika di Hijâz, As-Suyûthî mengunjungi Kota Suci Makkah untuk menunaikan haji. Dia tidak melepas kesempatan untuk meminum air Zamzam, karena setiap doa yang dilantunkan saat minum air ajaib ini dijamin akan dijawab, sebagaimana disebutkan dalam sebuah sabda Nabi. ”Saya berdoa mengenai banyak hal,” cerita As-Suyûthî dalam salah satu kitabnya. ”Di antaranya: dalam ilmu fiqh saya ingin pandai seperti Sirâjuddin al-Bulqînî dan dalam ilmu hadits saya ingin sepintar Ibn Hajar al-‘Asqalânî.”
Mengenai kealimannya, As-Suyûthî sendiri pernah bercerita bahwa dia dianugerahi keahlian dalam tujuh disiplin ilmu: Tafsîr, Hadîts, Fiqh, Nahw, Ma‘ânî, Bayân dan Badî‘. Selain itu, dia juga telah mendalami Ushûl Fiqh, Retorika, Qirâ’ât dan ilmu kedokteran secara otodidak. ”Akan Tapi,” As-Suyûthî melanjutkan. “matematika merupakan ilmu yang paling sulit bagi saya saat itu. Ilmu ini adalah yang paling tidak saya pahami. Setiap kali saya berusaha menjawab persoalan matematis, hal itu seperti pekerjaan menggeser gunung.”
***
Pertanyaannya kemudian yang pantas saya ajukan setelah tiga tahun tinggal di Pesantren Annuqayah adalah: benarkah semangat An-Niqayah betul-betul merasuk dalam jiwa pesantren itu? Ataukah ucapan kiai saya di atas hanya sekedar pemanis bibir saja untuk memberi kesan tertentu buat para santri baru?
Tidak mudah menjawab pertanyaan di atas jika kita tidak memberi ukuran atau standard kebenaran tertentu. Misalkan kita memberikan standard tingkat pendidikan yang disediakan oleh pesantren, tentu akan terjawab bahwa di sana disediakan tingkat pendidikan sekolah hingga tahap Sekolah Tinggi. Di tingkat sekolah atas terdapat MA I, II dan III, tempat saya sekolah dulu: MAK (sekarang diganti MA Tahfidz), dan MAU yang terdiri dari spesifikasi Ilmu Sosial dan Ilmu Alam; Selain itu, ada pula sekolah diniyah di malam harinya; Ada pengajaran sistem Bandongan dan Sorogan yang hingga kini cuma dilakukan di pesantren; Ada pembelajaran membaca Al-Qur’an. Bagi yang berminat terhadap bahasa Arab & Inggris; disediakan kursus-kursus; Ada pelatihan-pelatihan; pembelajaran berorganisasi; Dan banyak lagi, deh, pokoknya. . .
Apakah itu semua menunjukkan semangat An-Niqayah? Entahlah. Saya merasa kurang otoritatif menjawab pertanyaan tersebut. Biarlah saya menilainya dengan ukuran saya sendiri yang subjektif: pengalaman. Setidaknya pengalaman saya menunjukkan ada beberapa perbedaan, dan sekaligus juga persamaan, antara Annuqayah dengan pesantren-pesantren lain. Pada titik ini, sekurang-kurangnya saya tidak merasa terlalu terbebani dengan pelabelan-pelabelan apapun terhadap Pesantren tersebut. Bagaimanapun keadaan keilmuan saya sekarang ini, tidak ada alasan untuk tidak mensyukurinya sedalam-dalamnya, meskipun masih terlalu dini bagi saya untuk merasa puas. Kini dan seterusnya, dalam kapasitas keilmuan seperti apapun, sumbangan besar dari Annqayah tidak mungkin saya lupakan. J
Kenyataannya, saya mengunjungi dan kemudian memutuskan untuk mengunduh pengetahuan di pondok pesantren tersebut bukan karena ada standard-standard tertentu yang obyektif. Saya memilihnya secara subjektif dan secara spontan, tanpa tahu apa-apa tentang seluk-beluk pesantren tersebut. Itu saja. Dan kemudian, saya menemukan banyak hal di dalamnya. . .
***
Sebagaimana disebutkan di atas, As-Suyûthî adalah seorang cendekiawan yang paling produktif di zamannya. Karyanya mencakup dalam setiap ilmu pengetahuan yang pernah dia pelajari, sehingga sangat tepat jika dia ada disebut sebagai ensiklopedis.
Kemampuan kepengarangannya memang sudah dia asah sejak sangat belia. Pada umur 17 tahun, dia sudah mengarang Syarh al-Isti‘âdzah wa al-Basmalah dan mendapat pujian dari gurunya, Al-Bulqînî. Namun, periode kehidupannya yang paling produktif adalah setelah umurnya yang ke-40 tahun, karena pada masa ini dia sudah tidak lagi bekerja dan bertualang. Yang dia lakukan hanya mengajar dan mengarang. Muridnya, Ad-Dâwâdî, pernah menceritakan kehebatan gurunya dalam menulis: “Waktu itu saya sedang bersama guru saya (As-Suyûthî), dan pada hari itu juga beliau merampungkan tiga jilid buku dalam sehari. Beliau selalu mencatat komentar-komentar mengenai hadîts, dan pada saat yang sama juga menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.”
Jika diukur rata-rata sejak masa awal kepengarangannya hingga masa wafatnya, dalam sehari-semalam dia menulis sekitar 40 halaman. Hanya saja, kebanyakan tulisannya hanyalah berupa ringkasan, pengutipan, atau pun kumpulan dari karya-karya orang lain dan sedikit sekali karangannya yang merupakan hasil pemikirannya sendiri. Namun, meskipun begitu, karya-karyanya dalam disiplin ilmu tertentu selalu menjadi karya paling unggul dalam bidang itu.
Karya-karya As-Suyûthî terhitung lebih dari 300 buah, berupa buku dan risalah pendek. Broklman menyatakan sebanyak 514 karya. Hâjî Khalîfah, dalam kitabnya, Kasyf adz-Dzunûn, menyatakan sekitar 576 karya. Sementara Ibn Iyâs menyatakan hingga 600 karya. Berbagai macam karya ini terbentang dalam berbagai macam disiplin ilmu. Sayang, tulisan saya ini tidak mungkin akan menyebutkan kesemua karya As-Suyûthî satu-persatu, apalagi memberikannya penjelasan singkat satu-persatu.
***
Salah satu hal yang menarik perhatian saya dari kitab tersebut adalah ulasannya mengenai ilmu. Tidak sedikit para pemikir Muslim yang sudah memberikan ulasan mengenai ilmu, baik di masa klasik maupun di masa kini ketika dunia Muslim berjumpa dengan peradaban Eropa yang mengejutkan itu. Di antara pemikir Muslim masa klasik yang selama ini saya tahu adalah Al-Fârabî dan Al-Ghazâlî. Nah, rupanya As-Suyûthî juga memberikan sumbangsih yang cukup menarik.
Bagi As-Suyûthî, ilmu adalah fondasi dari amal. Sedikit amal yang didasarkan atas ilmu adalah lebih baik ketimbang banyak amal tanpa pendasaran ilmu. Dengan kata lain, praksis merupakan buah dari teori, dan praksis tanpa ditopang oleh teori yang kuat akan membawa lebih banyak dampak buruk ketimbang kebaikan. Oleh karena itu, As-Suyûthî menyimpulkan, ilmu adalah lebih unggul ketimbang shalat sunnah, karena ilmu berstatus wajib, ‘ainî ataupun kifâ’î. Kemudian, As-Suyûthî menyebutkan banyak hadîts tentang arti penting ilmu.
Setelah itu, As-Suyûthî memaparkan hirarki ilmu. Di urutan pertama dan paling utama terdapat Ushûl ad-Dîn, karena prinsip-prinsip dan kesempurnaan iman tergantung pada ilmu ini; di posisi kedua terdapat Tafsîr, karena ilmu ini berkaitan dengan Kalâm Allah; di posisi ketiga, Hadîts, karena kaitannya dengan sabda-sabda Nabi; posisi keempat dimiliki oleh Ushûl al-Fiqh; kelima, Fiqh (termasuk di dalamnya ilmu Farâ’idl). Ilmu ini merupakan cabang (far‘), karena itu As-Suyûthî mengunggulkan Ushûl Fiqh yang merupakan akar (ashl); keenam, Gramatika; selanjutnya, dan ini yang mengejutkan, dilanjutkan oleh ilmu kedokteran (termasuk di dalamnya Anatomi), karena amal ibadah hanya bisa dilakukan dengan baik oleh badan yang sehat. Namun, ilmu ini berstatus wajib kifâyah.
Khusus mengenai Ushûl ad-Dîn, As-Suyûthî berpandangan bahwa ilmu ini tidak sama dengan ilmu Kalâm. Pandangan ini berbeda dengan persepsi umum yang menganggap bahwa ilmu Kalâm, ilmu Ushûl ad-Dîn, ilmu ‘Aqâ’id dan ilmu Tauhîd mengacu pada satu disiplin ilmu. Dalam pandangannya, kedua ilmu itu berbeda dalam hal bahwa ilmu Ushûl ad-Dîn, As-Suyûthî mendefinisikannya sebagai ilmu tentang hal-hal yang wajib diyakini. Sementara ilmu Kalâm menjunjung argumentasi rasional semata dan mengutip ucapan-ucapan para filsuf. Ilmu inilah yang dilarang keras oleh Asy-Syâfi‘î. Dan konsensus ulama salaf (ijmâ‘ as-salaf) mengharamkannya.
Pandangan ini, menurut saya, berkaitan dengan sikap As-Suyûthî terhadap Filsafat dan Mantik. Dalam pandangan As-Suyûthî, kedua ilmu ini haram. Ini merupakan konsensus ulama salaf dan pandangan sebagian besar ulama zamannya, seperti Ibn ash-Shalâh, An-Nawawî, dan lain-lain. Terutama dalam ilmu Mantik, As-Suyûthî juga telah menyusun sebuah kitab yang mengutip pandangan para ulama tentang keharamannya. Selain itu, Sirâj ad-Dîn al-Quzwînî juga telah menyusun sebuah kitab tentang keharamannya dan mengatakan bahwa, setelah memuji-muji ilmu Mantik dalam Al-Mustashfâ, Al-Gazâlî juga telah mengharamkannya. Yang agak aneh, As-Suyûthî mengatakan bahwa Ibn Rusyd yang bermadzhab Mâlikî tidak mau menerima hadîts yang diriwayatkan oleh orang yang mendalami ilmu Mantik, mengingat Ibn Rusyd juga merupakan seorang Filsuf, seperti kita ketahui bersama.
***
An-Niqâyah berarti intisari. Ini berarti berkaitan dengan pemaparan terhadap ilmu-ilmu itu, yang menghindari detil-detil. As-Suyûthî mencatatnya dalam lembaran-lembaran tipis agar para muridnya bisa berhias dengan ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Karya tipis itu, yang dikarang di Mesir pada abad ke-15 M, memiliki pengaruh yang luar biasa. Barangkali pengarangnya tidak pernah membayangkan bahwa karyanya bisa membangkitkan semangat sekelompok orang di sebuah pulau kecil bernama Madura. Jadi, kitab itu ibarat bom nuklir, yang meskipun bentuk fisiknya kecil namun memiliki radiasi yang besar dan daya jangkau yang sangat jauh, terbentang dari ujung timur-daya benua Afrika hingga ujung tenggara benua Asia.
Andaikan saya kembali ke masa lalu, yakni ke masa saat pembekalan buat santri baru di Annuqayah waktu itu, saya akan bertanya pada kiai saya itu: “Apakah semangat An-Niqâh hanya dimiliki oleh Annuqayah?” Namun pertanyaan ini terjawab dengan sendirinya karena ternyata, dalam beberapa tulisannya, Gus Dur mengatakan bahwa silabi pesantren di Nusantara didasarkan pada kitab ini. Ini berarti bahwa semangat An-Niqâyah adalah juga milik seluruh pesantren di negeri ini.
Tapi, isi di dalamnya hanya berisi 14 ilmu. Itu pun dipaparkan dalam kata-kata yang sangat singkat. Bahkan, ilmu Nahw yang dipaparkan di dalamnya lebih singkat ketimbang kitab Mukhtashar, sebuah kitab paling ringkas di dunia ini tentang ilmu Nahw. Rupanya, ada baiknya kita tidak serta merta menyimpulkan semangat pesantren yang terarah ke kitab tersebut secara harfiah. Boleh jadi isi yang terkandung dalam kitab tersebut sangat singkat dan terbatas hanya 14 ilmu saja, namun pesantren boleh-boleh saja mengembangkannya sesusai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan zaman terkini. Maka, menyambut ilmu pengetahuan terbaru juga menjadi keharusan bagi pesantren, dengan catatan bahwa penyambutan tersebut tidak mengaburkan ciri khas pesantren sebagai lembaga pendidikan keislaman yang unik. Kenyataan saat ini, saya pikir, juga sudah menunjukkan hal ini.
Hal ini juga membawa saya pada sebuah refleksi tentang pesantren. Ah. . . biar nanti saja lah saya tulis.


Posted by M Faizi on Agustus 27, 2009 at 11:39 am
Di Pesantren Annuqayah, setahu saya, kitab ini tidak menjadi “mata pelajaran” di sekolah-sekolah, tetapi telah lama diajikan secara wetonon. Antara lain oleh Kiai Abdul Wadud, beberapa tahun yang lalu.
Kitab karya Jalaluddin Assyuthi ini berjudul legnkap “Itmam ad-Dirayah li Qurra’ an-Nuqayah” berbentuk prosa. Salah seorang pengasuh Annuqayah, Kiai Mahfoudh Husaini, telah menadhamkannya hingga sekitar 1200 bait. Kitab nazdham ini diberinya judul “Mandhum an-Nuqayah” dan telah lama diajarkan di madrasah Annuqayah (Al-Furqan). Oya, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga menyinggung soal kitab ini dan kaatannya dengan pesantren Annuqayah dalam pidato sambutannya dalam acara Satu Abad Annuqayah, tahun 2000 lalu.
==demikian sekadara tambahan informasi.
Posted by HILAL ALIFI on Agustus 28, 2009 at 6:19 am
Terima kasih, Ra, atas kunjungannya ke blog saya.
Tentang tambahan infonya. wah, jadi keliatan dangkalnya tulisan saya. . . :p
Posted by M. Faizi on Oktober 25, 2009 at 10:29 pm
Wah, semakin cantik saja dandanan blog ini.
Posted by HILAL ALIFI on Oktober 28, 2009 at 10:01 pm
ha ha ha. . . semoga pujian sampyan memompa semangat saya untuk juga mempercantik isi blog ini. . .