Sepeda Onthel

580000_3478187436996_243426820_n

Sejak kurang lebih dua tahun silam, saya memutuskan untuk membeli sepeda. Ya, sepeda onthel, orang Jawa bilang. Keputusan ini saya ambil karena sebuah sebab.

Sebelum punya onthel, saya selalu bonceng teman ke kampus. Setiap hari. Dan itu merepotkan dia, meskipun dia sendiri yang menawarkan kebaikan membonceng saya. Bagaimana tidak merepotkan, lha wong dia memang sibuk orangnya. Temanku itu sudah berkeluarga. Selain kuliah dia juga harus melakukan pekerjaan yang membutuhkan mobilitas tinggi. Tanpa harus dikatakan pun, saya harus tahu diri. Jadi saya putuskan membeli kendaraan sendiri saja.

Nah, kendaraan itulah si Onthel!

Namun memiliki sepeda onthel bukan tanpa aral-rintangan. Cobaan silih berganti. Awalnya adalah patah setirnya saat saya tunggangi. Saya kaget setengah mati. Hampir saya terjerembab di tengah jalan. Tak diragukan lagi, itu patah disebabkan oleh bekas las yang tersembunyi sedemikian rupa lokasinya. Harap dimaklumi, itu sepeda onthel adalah barang bekas. Saya membelinya di sekitar Pesantren Krapyak. Harganya cuma 400 ribu. Jadi jika ada risiko patah di setir bisa saya arifi. Lagi pula, solusinya tidak begitu ribet. Cuma dibawa ke bengkel dan dilas ulang. Hasilnya juga memuaskan. Setir sepeda onthel saya berhasil kokoh kembali.

Belum genap tiga bulan, onthel saya hilang dicolong maling. Sebetulnya akibat ceroboh saja: malamnya saya parkir di depan rumah indekos tanpa saya kunci. Besoknya langsung raib. Saya coba tidak bilang ke teman-teman sekelas. Tokh harganya murah sekali. Cuma 400 ribu. Tapi gosip kerapkali menyebar secepat cahaya. Teman-teman mendadak meminta saya untuk bersabar atas kehilangan sepeda onthel. Saya cuma tertegun. Heran. Dari mana mereka mendengar kabar itu?

Betul kata orang, kalau kamu dikasih cobaan, kamu sebenarnya sedang dikasih paket penyelesaiannya. Kurang dari kurun sebulan, seorang teman tiba-tiba meminjamkan saya sepeda onthel. Barangnya jauh lebih bagus. Lebih mentereng. Dia kasih saya pinjam hingga saya lulus pula. Luar biasa!

Di atas sepeda onthel pinjaman itulah saya berkendara ke kampus. Tentunya dengan kepercayaan diri yang makin meningkat, sebab onthelnya jauh lebih bagus. Selain itu, saya juga kerap berkendara santai bersama teman-teman di akhir pekan. Hitung-hitung hiburan dan penyegaran pikiran akibat kuliah yang melelahkan.

Tidak hanya itu. Saya juga pernah berekspedisi di atas sepeda onthel. Berekspedisi ke tempat-tempat bagus di Jogja. Juga bersama teman-teman. Bahkan kami pernah bersepeda hingga ke perbatasan Yogyakarta-Magelang. Sekadar informasi, Jogja-Magelang dipisahkan oleh sebuah sungai besar yang sumbernya berasal dari Gunung Merapi. Itu keren sekali!

Pernah sekali waktu kami berencana bersepeda ke Parang Tritis. Tapi gagal. Semangat kami langsung melorot setelah tahu bahwa cuacanya panas minta ampun.

Setelah sekian lama saya bersepeda onthel, saya menyadari sebuah kearifan yang tak terbantahkan: bahwa tubuh yang kerap berkeringat karena suatu aktivitas itu jauh lebih baik. Bersepeda membuat saya sering beringat dan ngos-ngosan. Itu membuat tubuh saya lebih sehat. Lebih tangguh. Kalau sebelumnya saya rentan kena serangan flu tiap pergantian musim, setelah bersepeda tidak lagi.

Kelemahan bersepeda onthel ke mana-mana itu hanya satu: saya jarang terlihat rapi di kampus. Bagaimana bisa rapi, wong setiap setiap tiba di kampus rambut saya sudah acak-acakan, dahi bercucuran keringat, baju saya menempel ke kulit punggung karena basah, kulit saya pun tampak mengkilat karena lembab. Tapi itu tidak saya sesali, sebab begitulah risiko yang harus saya ambil demi tubuh yang tangguh. Asalkan saya bisa menjaga bau badan, saya rasa orang-orang sekeliling saya tak akan keberatan. Lagian, teman sekelas tidak sedikit yang juga bersepeda ke kampus.

Akhir-akhir ini, sepeda onthel pinjaman itu rusak parah. Pedalnya patah. Dan belum saya ganti hingga kini karena saya harus sering pulang-pergi Jogja-Jawa Timur. Apa mau dikata, sepeda itu teronggok penuh debu di rumah indekos.

Kenyataan ini merepotkan, sebetulnya. Sebab ketika saya di Jogja, saya kembali bikin repot teman-teman dengan meminjam sepeda motor atau onthel milik mereka. Saya merasa, saya sedang menjadi beban mereka–secara tidak langsung, paling tidak.[]

Si Hitamsipit

Di dunia ini, memang ada beberapa orang yang kerjanya bikin kesal orang lain. Menghadapinya tak ada cara lain selain dengan ekstra sabar. Barangkali, sedikit doa perlu juga. Doa agar dia lekas sembuh dari penyakit kronisnya.

Contohnya si Hitamsipit (nama samaran) ini. Mana ada orang bisa tenang dengan perilakunya? Paling banter bisanya memaklumi, tapi tetap saja rasa mengkal bercokol di hati mereka.

Si Hitamsipit ini mahasiswa. Jadi bisa ditebak, orang-orang yang dia bikin kesal adalah para dosennya. Tentu saja iya.

Ketika di kelas, Si Hitamsipit kerapkali ngoceh tak karuan. Mungkin dia kepingin tunjukkan ke dosennya bahwa dia bisa bicara. Bisa menjadi mahasiswa yang aktif di kelas. Tidak pasif seperti sebagian teman-temannya. Tapi dia tidak sadar bahwa bicaranya amburadul. Alur logikanya kusut, tak jelas mana premis mana kesimpulan, kedengarannya tak lebih seperti bising suara mesin bor aspal, bikin pekak telinga. Ketika disanggah, dia langsung ngeyel. Siapa tak naik pitam kalau begitu?

Baiklah, Si Hitamsipit kena damprat dosen kali ini. Jadi dia pilih diam saja. Tapi bahkan saat diam pun dia membikin kesal dosennya. Kalau tak punya kesempatan bicara, dia lantas buka lap top di kelas. Lalu tiba-tiba tertawa keras sendiri. Nah, dia main media sosial saat dosen bicara panjang lebar. Di manapun, dosen diperlakukan begitu tentu merasa diremehkan. Amarah sang dosen tentu memuncak. Lalu Si Hitamsipit berakhir terusir dari kelas. Itu terjadi berulang kali.

Kali ini Si Hitamsipit ikut KKN. Korbannya sekarang adalah DPL (dosen pembimbing lapangan) dan teman-temannya satu kelompok. Mereka mengeluh ke DPL-nya bahwa Si Hitamsipit jarang sekali datang ke lokasi KKN. Sekali datang, kerjaannya cuma bikin onar dan kesal teman-teman sekelompok. Omongannya dia paksa-paksa untuk didengar dan disetujui, tapi omongan orang lain dia tanggapi macam angin lalu. Mereka meminta agar Si Hitamsipit dicopot saja dari kelompok itu. Awalnya bapak DPL berusaha menenangkan mereka, setidaknya dia berjanji menegur Si Hitamsipit dulu, barangkali saja dia bisa berubah kelakuannya. Tapi tak berhasil. Bapak DPL merekomendasikan ke pimpinan kampus agar mata kuliah KKN Si Hitamsipit tidak diluluskan.

Belum keluar nilai KKN, Si Hitamsipit tetap nekat mengusulkan judul skripsi. Nekadnya luar biasa, bukan? Dan lebih hebatnya lagi, judul skripsinya bisa lolos. Cara kerjanya sedikit jahat sebetulnya: lidah bercabang. Ke dosen A, dia omong begini. Ke dosen B, dia bicara lain. Ke TU, yang terdengar lain lagi. Semua itu melempangkan jalannya untuk meloloskan judul skripsinya. Juga merepotkan semua pihak terkait sebetulnya.

Baru saat dia mau bimbingan proposal, tingkahnya mulai sedikit terhambat. Kedoknya mulai tersingkap. Omongannya sudah tidak dipegang. Semua dosen sudah sepakat dalam diam, bahwa Si Hitamsipit ini musti dikasih ganjaran. Kali ini, kaprodi yang turun tangan. Dia dipanggil ke kantornya.

Panjang lebar bapak kaprodi menasihatinya. Menyuruhnya kembali ke jalan yang lurus dan benar. Pendidikan bukan soal ijazah atau nilai IPK. Semua itu cuma formalitas. Jika hanya ijazah dan IPK yang kau kejar, sementara kau tak peduli dengan perilaku burukmu, itu formalisme pendidikan namanya. Apa arti segala macam formalitas jika esensi pendidikan tidak kau dapatkan?

Dengan sabar Si Hitamsipit mendengarkan ceramah bapak kaprodi. Tepat saat ceramah itu berakhir, Si Hitamsipit masih menjawab, “Jadi, judul saya masih bisa diteruskan, Pak?” Luar biasa! Pertanyaannya sungguh menakjubkan!

Bapak kaprodi bagai kena sambar halilintar. Kepalanya mendidih. Meledaklah amarahnya. “Keluar kau! Keluar dari ruanganku!!!”

Besoknya, Si Hitamsipit datang ke dosen pembimbing proposalnya dan bertanya, “Gimana proposal saya, Pak?”[]

Komunikasi

Di sini, komunikasi itu seperti benang kusut yang sulit dicari ujungnya. Sangking ruwetnya sehingga seperti mustahil mengurainya menjadi utas yang rapi. Silang sengkarutnya sudah sedemikian rumit, hingga pesan yang ingin disampaikan kerapkali mampet tak tersalurkan.

Kalau mau disederhanakan, penghalang komunikasi itu adalah rasa sungkan. Entah apa makhluk bernama sungkan itu, tapi ia seakan sedemikian berkuasanya sehingga mengatur segala tindak tutur kami. Dia bercokol di lubuk hati setiap orang, mengaduk-aduknya, lalu menutup inisiatif untuk berkomunikasi dengan baik.

Orang Jawa dikenal, salah satunya, karena rasa sungkannya. Contohnya adalah cerita berikut ini. Kami sekelas kadang kuliah di rumah dosen. Kami lumayan heterogen, ada yang Jawa, Sunda, Batak, Ambon, Lampung, Sulawesi, satu orang lagi dari Le Soto. Kuliah di rumah dosen adalah kebahagiaan tersendiri, sebab kami selalu disuguhi makanan ringan dan segelas teh hangat. Temanku yang dari Jawa Tengah memakan cemilan dengan sangat asyik sembari mendengar kuliah sang dosen, tapi tidak dia habiskan. Dia hanya menyisakannya satu biji makanan itu. Temanku yang dari Ambon berbisik kepadaku, “Dasar orang Jawa! Dari tadi dia mengunyah dengan lahap seperti orang kelaparan, tapi kenapa makanan itu dia sisakan satu biji?” Saya langsung ketawa cekikikan. Tapi dalam benak terlintas pertanyaan, itukah penjelmaan rasa sungkan?

Kadang-kadang, saya berpikir mekanisme komunikasi ala Jawa patut digunakan demi melancarkan komunikasi kami di sini yang kerap macet. Orang Jawa tidak suka bicara secara langsung, tapi lebih suka menggunakan bahasa simbolik atau–menurut istilah mereka–semonan. Semonan adalah mekanisme komunikasi yang mirip permainan karambol: biji karambol yang kamu bidik kerapkali bukanlah biji yang hendak kau masukkan. Begitu juga aturan main semonan, ucapan A belum tentu berarti A, bisa jadi maksudnya B, C, D, dst. Orang yang bijak menurut ukuran orang Jawa adalah yang sudah mahir memainkan semonan, mahir menyampaikan, menafsirkan serta menanggapinya.

Tapi butuh berapa lama bagi kami untuk menjadi bijak dan mahir memainkan semonan? Apa iya cara komunikasi seperti itu akan efektif dalam sebuah organisasi modern yang sedang kami geluti sekarang, misalnya? Hah! Entahlah!

Tasawuf [8]

TASAWUF DI INDONESIA

Tasawuf di Indonesia sejalan, sedarah-sedaging dengan mazhab Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya mazhab Syâfi‘î. Dalam sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia, pengaruh Al-Ghazâlî asy-Syâfi‘î lebih besar daripada pengaruh Al-Hallâj asy-Syî’î.

Pada jaman kejayaan kerajaan Islam Pasai sudah ada orang Indonesia menjadi guru tasawuf yang tinggi dan diakui, bukan saja di negerinya, bahkan mengajar di tanah Arab dan banyak muridnya orang-orang besar di dunia tasawuf. Di antaranya Al-Yâfi‘î, seorang syaikh yang karangan-karangannya tentang tasawuf menjadi pedoman mereka hingga sekarang.

Di Indonesia muncul pula tarekat-tarekat tasawuf, ada Naqsyabandiyah yang datang dari Asia Tengah, ada Qadiriyah yang berasal dari Baghdad, ada Idrisiyah yang berasal dari Hadramaut, ada Rifa’iyah yang datang dari Mesir di jaman Pasai.

Muncul pula dari abad ke abad ahli-ahli tasawuf Indonesia sendiri, seperti Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel, Nuruddin Arraniri, dan Yusuf Tajul Khalwati dari Makassar.

Islam tersiar di Indonesia demikian pesat, karena sesuailah Islam cara tasawuf itu dengan jiwa bangsa Indonesia, yaitu Islam memuja kubur, Islam memuja wali, dan demikianlah nasib Islam pada abad-abad itu, bukan di Indonesia saja, tetapi pada seluruh dunia Islam.

I.
Pembaharuan Ibn Taimiyah. Ajaran Ibn Taimiyah ialah mengembalikan pangkalan tempat bertolak pikiran dan pandangan hidup Muslim kepada tauhid yang bersih. Hubungan seorang makhluk dengan Tuhannya adalah hubungan yang langsung. Tidak boleh memakai perantaraan (wasilah) dan tidak boleh memohon pertolongan kepada makhluk buat menyampaikan kepada Tuhan (istighasah). Untuk membuat hubungan langsung dengan Tuhan, tidak ada petunjuk jalan lain melainkan petunjuk yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Ibn Taimiyah mengakui adanya waliyullah, tetapi beliau tidak dapat menerima jika makhluk Allah yang lain menyandarkan pengharapan kepada orang yang dikatakan waliyullah itu.

Selain itu, beliau bersikap tegas membersihkan pengaruh filsafat dan mistik daripada pokok ajaran Islam.
Sebagai seorang penganut mazhab Hambali di dalam garis kaum sunni, beliau berusaha menegakkan paham salam, yaitu kembali kepada kemurnian ajaran Nabi Muhammad saw. dengan tidak dipengaruhi oleh takwil. Ayat-ayat yang disebut mutasyabihat hendaklah diterima dengan bi la kaif, sebab kita tidak disuruh buat memikirkan itu.

Reaksi. Di antara yang menentang Ibn Taimiyah adalah Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî (920-977 H./1504-1556 M.). Masa hidup Ibn Hajar, yaitu di kisaran abad ke-10 atau 16, adalah abad perkembang-biakan agama Islam di Indonesia dan permulaan banyaknya orang Islam Indonesia belajar ke Makkah naik haji. Pengaruh Ibn Hajar itulah yang lebih banyak melekat dalam masyarakat Muslim Indonesia. Kitab-kitabnya, Al-Fatâwâ al-Hadîtsiyah, Adz-Dzawâhir dan Tuhfah adalah pegangan ulama-ulama kita. Jika para ulama kita mempertahankan pendirian taklid dalam fikih, maka Ibn Hajarlah yang utama ditaklidi; di belakangnya baru Ar-Ramlî, baru An-Nawâwî, baru Al-Ghazâlî, kemudian sekali baru Asy-Syâfi‘î. Oleh karena itu maka mempertahankan kedaulatan kubur, menuju keramat, mengadakah haul setiap tahun kepada kuburan tertentu adalah didasarkan kepada Ibn Hajar. Beliau adalah penentang yang sekeras-kerasnya kepada Ibn Taimiyah.

II.
Wahhabiyah dan Sanusiyah. Ajaran ibn Taimiyah disambut oleh Syaikh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb (1112-1198 H./1703-1783 M.). Seluruh masyarakat Nejd adalah penganut mazhab Hambali. Mazhab ini adalah mazhab yang keras mempertahankan hadis.

Dalam perjalannya ke Irak, Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb melihat bagaimana orang memuja kuburan ‘Abd al-Qâdir al-Jîlânî. Pemujaan yang demikian tidak disetujui oleh ‘Abd al-Qâdir al-Jîlânî sendiri, sebagai penganut mazhab Hambali pula. Dilihatnya pengaruh kuburan, pengaruh pemujaan, pengaruh rabithah dan wasilah telah meliputi seluruh tanah Arab. Hanya tinggal namanya saja yang Islam, pada hakikatnya telah jauh menyimpang.

Kerajaan Turki Utsmani pun pada pandangan Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb telah tidak murni lagi. Besar pengaruh tarekat Baktasyiyah dengan tentara Inkisyariyah (Yanitzar). Pendeknya, Islam telah gelap. Islam tidak asli lagi. Selekas-lekasnya harus dinyatakan sikap tegas buat mengajak kembali kepada ajakan Islam asli. Akhirnya, dapatlah beliau memasukkan ajarannya kepada Amir negeri Dar’iyah. Dan kerajaan inilah kemudiannya yang menganut Tauhid, menghancurkan keberhalaan, penyembahan kubur, menentang ajaran tasawuf yang sesat lagi menyesatkan. Dari keturunan Amir Dar’iyah inilah lahir kerajaan Saudi.

Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb sendiri menjelaskan mashabnya dalam fikih, yaitu bermazhab Hambali. Dan mazhabnya dalam akidah iaitu mazhab tauhid atau mazhab salaf.

Tetapi setelah kerajaan Turki memandang bahwa gerakan ini sangat membahayakan bagi kekuasaan dan kedudukannya di tanah Arab, diperintahkannyalah Muhammad Ali Pasya, gubernur negara Mesir, untuk memerangi dan memusnahkan gerakan itu. Dan ulama-ulama Turki Utsmani dikerahkan mengarang buku-buku propaganda buat membusuk-busukkan kaum pengubah itu. Sehingga jika disebut nama Wahhabi, timbullah benci dan takut orang.
Jika dia menjelaskan pendirian melarang membesar-besarkan kuburan, disalahkan artinya. Dikatakan bahwa Wahhabi mengharamkan ziarah. Jika dia menyatakan bahwa guru tidak boleh dijadikan wasilah atau rabithah ketika zikir, disalahartikan Wahhabi anti ulama. Dan sebagainya.

Adapun gerakan Sanusiyah di Libya atau Tripoli adalah satu gerakan agama yang tegak di atas runtuhan sebuah kerajaan Islam Turki Karab-Manelli yang telah runtuh. Disusunnya setiap Wahab (oase) di padang pasir setiap masyarakat suku, diajarkannya agama, dibuatnya jamaah, diajarnya anak-anak hakikat Islam, dilatih yang tua-tua berzikir mengingat Allah dan dilatih pula pemuda-pemuda memegang senjata.

Sanusi berperang selama 35 tahun melawan Turki dan Itali. Akhirnya pada 1950 kemerdekaan negeri itu diakui oleh PBB dan diangkatlah Sidi Muhammad Idris As-Sanusi menjadi raja Libya pertama. Dialah satu-satunya raja Islam yang tidak mau dipanggil “sri paduka yang mulia”.

Maka kerajaan Sanusi di Libya itu adalah sebuah kerajaan kaum sufi, tetapi sufi yang tidak menyembah kubur dan tidak pula memakai rabithah.[]

Baca juga serial sebelumnya:
Tasawuf [1]
Tasawuf [2]

Tasawuf [3]
Tasawuf [4]
Tasawuf [5]
Tasawuf [6]
Tasawuf [7]

Tasawuf [7]

TASAWUF MULAI MENURUN
Tasawuf sesudah abad ke-8 dan seterusnya (abad ke-14 masehi).

I.
Di abad ini tidak berkembang pikiran baru dalam tasawuf. Meskipun banyak pengarang kaum sufi, seumpama Al-Kasyânî (w. 793 H./1321 M.) dan ‘Abd al-Karîm al-Jîlî, namun mereka tidak mengeluarkan pendapat baru yang dapat dikembangkan.

II.
Kemajuan perasaan dengan tuntunan filsafat atau kemerdekaan pikiran yang mendalam tidaklah diharapkan lagi sesudah abad ke-8 atau abad ke-14 itu. Ketika itu adalah jaman suram-muramnya cahaya pikiran dan cahaya perasaan dalam dunia Islam. Karena rasa “putus asa” telah meliputi dunia Islam. Dalam segala ilmu pengetahuan hanya terdapat taklid, yaitu menerima dan menurut saja kepada apa yang telah ditulis dan dijelaskan oleh orang-orang yang dahulu-dahulu.

Beberapa adat dan kebiasaan yang pada hakikatnya bukan dari ajaran Islam sendiri telah bertumbuh dalam kalangan Islam sendiri. Makkah sendiri yang selama ini menjadi sumber cahaya telah digelapkan oleh bermacam bidah dan khurafat.

Perjuangan menentang tasawuf yang tersesat, yang telah tercampur-aduk dengan ajaran yang bukan asli dari Islam, tetap masih ada. Sekali-kali timbullah orang-orang besar yang memberikan bantahan, kadang-kadang lunak dan kadang-kadang keras. Yang amat masyhur menentang Wahdah al-Wujûd, Hulûl dan Ittihâd ialah Ibn Taimiyah (w. 727 H./1329 M.) dan muridnya Ibn al-Qayyim al-Jauziyah.

Buah pikiran Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyimlah yang menimbulkan inspirasi bagi Syaikh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb dalam abad ke-12 atau ke-18 buat membangun paham “kembali kepada sunnah” yang lebih dikenal dengan nama Wahhabi di tanah Arab. Paham Wahhabi sebagai lanjutan dari mazhab Hambali inilah yang diperjuangkan olah raja-raja Ibn Sa‘ûd di tanan Arab, yaitu tauhid!

Dengan demikian, marilah kita kembali kepada sumbernya, yaitu Alquran dan sunnah. Dan mari jadikan segala kemajuan pikiran dan pendapat orang yang terlebih dahulu menjadi bahan.

III.
Masuknya fajar abad ke-14 atau ke-20 membawa cahaya dari pertumbuhan baru. Dalam Islam terjadi silihan: tajaddud. Jamâl ad-Dîn al-Afghanî, Muhammad ‘Abduh, dan murid-muridnya, semuanya telah membangkitkan semangat Alquran. Mengajak umat kembali kepada Qurannya.

Sir Maulana Muhammad Iqbal di India, pencipta cita-cita Pakistan, telah mempelajari filsafat dan perkembangan pengetahuan Barat. Kata Mohammad Natsir, Iqbal adalah jembatan yang mempertemukan Filsafat Barat dengan persediaan batin Timur.

Kata Iqbal: “Filsafat penjelasan hidup, kesusastraan nyanyian hidup, kesenian perhiasan hidup, tasawuf intisari hidup, dan ibadah pegangan hidup!”[]

Baca serial lainnya:
Tasawuf [1]
Tasawuf [2]
Tasawuf [3]
Tasawuf [4]
Tasawuf [5]
Tasawuf [6]

Tasawuf [8]

Tasawuf [6]

TASAWUF DI PERSIA

I.
Ahli-ahli fikir, penyair, filsuf Islam, sufi telah banyak timbul di Persia. Dalam buku ini kita tidak membicarakan filsafat, sebab itu tidaklah kita membicarakan Ibn Sînâ, ‘Umar Khayyâm, dan lain-lain. Tidak pula kita membicarakan kesusastraan, sebab itu kita tidak membicarakan Al-Firdausî, Sa‘dî, Rudkî, dan lain-lain. Meskipun begitu, seluruh ahli tasawuf Persia itu menyatakan rasa ketasawufannya itu berupa syair, dan syair-syair ahli pun tidak kurang berisi rasa tasawuf.

II.
Abû Sa‘îd. Abû Sa‘îd ibn Abî Khair (358-440 H./927-1049 M.) lahir di Mahsa, Khurasan. Tasawufnya sangat mendalam. Asyik dan rindu-dendamnya kepada Tuhan terlukis amat indah dalam syair-syairnya.

III.
Al-Anshârî. Syaikh ‘Abd-llâh Al-Anshârî (396-481 H./1066-1088 M.). Banyak karangan beliau mengenai tasawuf. Di antaranya ialah kisah kehidupan ahli-ahli tasawuf yang dinamai Thabaqât. Keistimewaan beliau ialah melukiskan doa-doa yang dari segi kesusastraan dapat dipandang sebagai prosa tertinggi.

IV.
Sinâ’î. Setelah itu datanglah Majd ad-Dîn Sinâ’î al-Ghaznawî (w. 545 H./1151 M.). tasawufnya banyak ditulis berupa susunan syair ‘matsnawî’, di dalam bukunya yang berjudul Hadîqah Hadâ’iq yang disusunnya pada tahun 525 H./1221 M.

V.
Al-‘Aththâr. Farid ad-Dîn al-‘Aththâr (w. awal abad ke-7 H.) berasal dari Nisapur. Tidak kurang daripada 40 buah rangkaian syair karang beliau, terdiri dari beribu bait, ada yang pendek dan ada yang panjang. Di antaranya adalah Bandinamah (Kitab Nasihat) dan sebuah kitab yang mendalam, bernama Manthiq ath-Thair (Percakapan Margasatwa). Buku Percakapan Margasatwa terdiri dari 4600 bait syair berupa matsnawî dan bahr ar-ramal.

VI.
Rûmî. Maulânâ Jalâl ad-Dîn Rûmî Muhammad ibn Muhammad ibn Husain al-Khathbî al-Bakrî (604-672 H./1217-1273 M) lahir di Balkh, Persia, dan besar di Asia Kecil yang pada waktu itu lebih masyhur sebagai negeri Rûm. Itu sebabnya dia memakai nama Rûmî.

Beliau telah menulis tasawuf yang besar, berupa syair yang dikenal namanya dengan Matsnawî, berisi 20.700 bait syair, terdiri dari 6 jilid. Di sanalah beliau melukiskan segenap pendirian tasawufnya yang berdasar Wihdah al-Wujûd itu.

VII.
Hâfidz asy-Syîrâzî. Pada saat raja-raja Tartar akhirnya telah memeluk agama Islam, timbul seorang sufi yang besar. Itulah Hâfidz asy-Syîrâzî. Syair-syair tasawufnya sangat terkenal dalam kesanggupan dan keistimewaan menggambarkan cinta kepada Tuhan dan keindahan Tuhan.

VIII.
‘Abd ar-Rahmân al-Jâmî‘. Nama Nûr ad-Dîn ‘Abd ar-Rahmân al-Jâmi‘ ibn Nidzâm ad-Dîn (817-898 H./1414-1493 M.) sangat terkenal di dalam silsilah tarekat Naqsyabandiyah sebab dia berguru kepada Syaikh Sa‘d ad-Dîn Kasygharî, salah seorang pemuka dari tarekat itu. Beliau adalah sufi besar, seorang takwa dan saleh dan penyair, dan pujangga pengarang roman. Karangannya banyak dalam berbagai cabang ilmu Islam, sejak dari tafsir-hadis, bahasa (Nahwu-Sarraf) dan tasawuf. Hikmah yang tinggi ditulisnya berupa ceritera roman. Di antara bukunya adalah Nafâhah al-Uns dan Syawâhid an-Nubuwwah. Ada pula syarah dari karangan Ibn ‘Arabî. Yang masyhur di antaranya ialah kisah Yusuf dan Zulaikha. Ada pula kisah tentang Salaman dan Absal.

IX.
Kerajaan Syafawi di Persia yang berdiri tahun 907 H./1502 M. menjadi biang kemunduruan tasawuf di negeri itu sebab rajanya yang sangat termasyhur, Syah Isma‘îl, memaksa para ulama dan pujangga untuk menggubah karangan dan syair propaganda Syiah semata. Syair yang memuji keturunan Hasan dan Husain mendapat sokongan kerajaan, tetapi syair-syair tasawuf amat dibenci dan ahli-ahli sufi di kejar-kejar.

Sejak itu, tidak banyak dikenal orang lagi ulama tasawuf di Persia, hanya seorang yang tersebut namanya yaitu Hâtif.
Keadaan ini menyebabkan tasawuf berpindah dan berkembang ke tanah India dalam bentuk baru. Di sanalah timbul ahli-ahli tasawuf, seumpama Syah Waliyullah Dahlawi. Dari sanalah paham tasawuf mengalir lebih dahulu ke tanar air kita Indonesia ini.[]

Baca juga serial lainnya:
Tasawuf [1]
Tasawuf [2]
Tasawuf [3]
Tasawuf [4]
Tasawuf [5]

Tasawuf [7]
Tasawuf [8]

Tasawuf [5]

TASAWUF DAN FILSAFAT KETUHANAN
Tasawuf abad ke-6 dan ke-7 M. (12-13 H.)

I.
Keistimewaan tasawuf abad ke-6 dan 7 ialah lanjutan penyelidikan dengan cara filosofis di dalam membuka hijab. Riyadah dan mujahadah lebih diperkuat daripada abad-abad yang lalu, melemahkan kekuatan indera lahir dan memperkuat kekuatan indera batin, memberi makanan roh dan akal dengan ibadah dan zikir.

Soal-soal tasawuf di abad ini berkisar di empat perkara:

(1) Mujahadah, dilakukan di dalam berbagai cara, misal tafakur, bermenung mengingat dan menyebut nama Allah. maka senantiasalah si murid naik tingkatnya, dari satu maqâm ke maqâm yang lebih tinggi sampai mencapai derajat “tauhid” dan “irfân”.

(2) Kasyf, yaitu tersingkapnya tirai setelah dia terlepas daripada ikatan syahwat. Apabila indera lahir telah tertutup, maka dengan sendirinya kian terbukalah perjalanan indera batin. Perjalan itulah yang bernama sulûk, yang menempunya bernama sâlik.

(3) Karamat. Bila telah lepas daripada ujian ‘mujahadah’ dan telah mendapat ‘kasyf’, tibalah dia dalam pangkat ‘wali’. Dia punya kebesaran dan ketinggian martabat jiwa mendekati martabat nabi, karena dia telah mengenal dan mendapat ‘hakikat wujud’. Dia dalam mengetahui sesuatu hal sebelum kejadian, dia berkuasa bertasarruf di dalam alam rendah ini sehingga dapat menurut kehendaknya.

(4) syathahat, yaitu kata-kata ganjil yang kadang-kadang pertimbangan akal tidak dapat menerimanya. Abad ke-6 dan ke-7 penuhlah dengan ihwal yang demikian sebagai pendekatan atau usaha mempergabungkan di antara tasawuf yang seluruhnya bergantung kepada rasa-hati dengan filsafat yang menghendaki perjalan pikiran.

II.
Suhrawardi. Syihâb ad-Dîn Abû al-Futûh as-Suhrawardî (w. 587 H./1191 M.) lebih dikenal dengan Asy-Syaikh al-Maqtûl, bergelar Al-Mu’ayyad bi al-Malakût (mendapat sokongan dari alam malakut).

Suhrawardî telah menyelidiki dan mempelajari sedalam-dalamnya hikmah dan filsafat kuno-kuno, filsafat timur dari India dan Persia dan juga filsafat Yunani. Keluas-dalaman penyelidikan itu terlukis nyata di dalam karangan-karangannya, seumpama kitab Hikmah al-‘Isyrâq, Hayâkîl an-Nûr dan Al-Ghurabât al-Ghâribah.

Menurut penyelidikan Suhrawardî, tujuan segala-galanya, baik ahli pertapaan atau ahli hikmah atau filosof hanyalah satu jua, yaitu menuntut cahaya Kebenaran dari cahayanya segala cahaya, yaitu Allah. Tujuan satu jua, hanya cara dan jalan berlain-lain.

Penuntut hikmah dibaginya menjadi tiga bagian besar. Pertama, penyelidik saja, dengan mempergunakan akal semata. Itulah filsuf. Kedua, penuntut hikmah karena ingin mencari Tuhan. itulah ahli tasawuf. Ketiga, penyelidik mempergunakan akal dan mementingkan rasa dalam menuju satu tujuan, yaitu Tuhan. itulah al-hikmah al-ilahî, filsuf ketuhanan.

Suhrawardî mencoba menggabungkan filsafat dengan tasawuf, sehingga filsafat isyraqnya bukanlah tasawuf sejati dan bukan pula filsafat sejati. Maka banyaklah tersua kata-kata yang penuh dengan rumuz, perlambang dan kalimat yang bisa diberi seratus arti. Oleh karena yang demikian, tidaklah heran jika banyak ulama yang menentang, terutama dari ahli-ahli fikih.