Pagi itu Aan terbangun dari tidur lelap. Mimpi buruk sialan itu mengagetkannya dari istirahat tenangnya. Tubuhnya basah karena keringat. Mungkin itu karena mimpi buruk yang dia lihat dalam tidurnya, atau mungkin karena hawa di musim panas itu.
Aan berusaha bangkit dari kasur bututnya. Sepertinya tubuhnya masih enggan diajak bangkit, namun kehendak untuk bangkit memaksa tubuhnya bergerak. Aku harus mandi, gumamnya. Dan tubuh itu sudah duduk, bersandar pada dinding kamarnya yang berwarna hijau muda, seperti masih melawan kahendak pemiliknya untuk bangkit.
Tangan Aan refleks menjamah telepon genggam miliknya tanpa dia perintahkan. Ini sudah menjadi semacam ritual yang dia lakukan setiap bangun tidur. Dia menemukan tiga pesan pendek sudah menunggu untuk dia buka. Namun semua cuma kiriman iseng dari teman-temannya yang mendapat layanan pesan pendek gratis, sehingga tidak bisa memantik instingnya untuk merasa terburu-buru untuk bangkit. Dirinya masih duduk di atas kasurnya, ditemani oleh dua rak buku, sebuah lemari dan satu unit komputer kesayangannya.
Kamarnya yang sebesar 3X3 m. itu hanya layak untuk ditempati oleh satu orang saja. Kasurnya terbaring lunglai di ujung tembok di belakang pintu. Namun, meskipun kamarnya seukuran itu, dirinya masih saja lemas untuk beranjak ke pintu tertutup itu. Efek istirahat dalam tidurnya masih tersisa di tubuhnya. Tapi kehendaknya bersikukuh untuk mandi. Dan kali ini tekadnya sudah bulat. Aku harus mandi.
Sebelum beranjak, dia baru tahu bahwa lampu neon kamarnya masih menyala. Entah sudah jam berapa saat ini, tapi dampak dari propaganda bahaya boros listrik mendorong pikirannya untuk mematikannya. Dan tangannya bergerak ke arah tombol di sampingnya untuk mematikan lampu. Lalu tubuhnya bangkit, berdiri dan berjalan lunglai ke arah pintu keluar. Aan bergerak melewati ruang tiga dimensi kamarnya, pelan namun terasa hasilnya.
Dia berhasil keluar dari kamarnya melalui pintu yang sejak tadi malam tertutup itu. Kamar mandi berada di sebelah kiri dari kamarnya, ditengahi oleh dua kamar di antaranya. Dia menoleh ke arah kanan di mana terdapat pintu masuk ke jejeran kamar indekosnya. Di sana, dia melihat sinar matahari sudah mencapai terang maksimal. Aan memperkirakan saat itu sudah jam 12.00 siang. Ufh… Ternyata sudah tidak lagi pagi. Namun, pikirannya tidak tertarik untuk mengalkulasi lebih lanjut tentang berapa lama dia tidur. Tiba-tiba saja yang terpenting baginya saat itu hanyalah mandi.
Aan melepaskan kaos oblong lusuh yang biasa dia kenakan untuk berbagai macam fungsi itu. Pikirannya memang khas mainstream di masyarakatnya yang tidak suka mengklasifikasi pakaian dalam satu fungsi spesifik; jas untuk pakaian resmi, piyama untuk pakaian tidur, baju takwa untuk beribadah, dan sebagainya, dan sebagainya. Tidak. Baginya, semua fungsi di atas absah dia laksanakan dengan apa yang dikenakannya saat ini: kaos oblong dan celana jeans yang sama-sama lusuh. Dengan demikian, hal itu beresiko keduanya akan dia gunakan berhari-hari dan dalam berbagai fungsi, tanpa terfikir untuk dicuci dulu.
Dia letakkan kaosnya di seutas tali tampar di depan kamarnya yang diikat horizontal dari satu tiang ke tiang yang lain. Di situ sudah tergantung beberapa handuk miliknya dan milik teman-temannya. Dia mengambil selembar handuk yang berwarna biru, dan dia letakkan di bahunya yang kurus. Di bawah handuk-handuk itu terdapat sebuah gayung hijau yang digunakan sebagai tempat peralatan mandi: sebotol sabun cair, sikat gigi, odol dan shampoo sachet. Ini adalah sebuah peralatan yang cukup murah bagi Aan untuk sekedar menjadi bersih, tanpa beban untuk memutihkan dan pretensi untuk melembutkan kulit. Baginya, air dan sedikit bau wangi yang dihasilkan sabun mandi dan odol sudah masuk dalam kategori bersih.
Aku harus mandi. Kembali, kalimat itu terucap di benaknya. Kali ini tubuhnya yang telanjang dada sudah berjalan ke sebelah kiri dari kamarnya, dengan kain handuk di pundaknya dan sebuah gayung di tangan kirinya. Pintu kamar mandi itu sudah di hadapannya, terbuka lebar, seakan memang tersedia agar dimasuki Aan seorang.
Aan mengunci kamar mandi dari dalam. Seperti biasa (entah sudah berapa kali dia mandi di tempat itu), Aan meletakkan gayungnya di atas dinding bak mandi dan handuknya di pengait baju yang sudah tersedia di sana. Kali ini dia melepaskan celana jeans hitam yang entah sudah berapa hari dia pakai, dan dia juga letak di sana. Kolor merahnya juga tanggalkan, dan dia letakkan pula di sana. Dan sudah tak ada lagi penutup aurat di tubuhnya. Dia sudah telanjang bulat, di sebuah ruang tertutup bernama kamar mandi yang mengabsahkan tindakan bugil bagi siapapun.
Aan memegang gayung yang memang disediakan untuk menciduk air. Dia pandangi air jernih di dalam bak itu. Aku harus mandi. Dan dia sirami air itu ke tubuhnya yang telanjang. Mulai dari ubun-ubunnya, air itu mengalir jatuh mengikuti bentuk tubuh sesosok manusia, hingga ia mencapai kaki Aan. Air itu mengalir ke sebuah lobang kecil, kembali ke peraduan bumi setelah tugasnya selesai, untuk memangku tugas baru yang tidak pernah dia tolak.[]
What voice in this world




SUSUP