MIRACLE OF HIVE

Juli 3, 2009

Perkembangan keilmuan pada zaman Imam Al-Gazâlî ternyata tidak kalah dengan perkembangan terkini. Tokoh ini, yang hidup sekitar 8 abad yang lalu, sudah menyadari bahwa sarang lebah adalah keajaiban jika dilihat dari sudut pandang geometri. Dengan penjelasannya ini, Al-Gazâlî membuktikan pendapatnya dalam salah satu masalah paling pelik dalam teologi: tindakan manusia.

Sarang Lebah

Sarang Lebah

Jadi, pertama-tama, Al-Gazâlî bertanya, kenapa lebah-lebah membuat sarangnya dalam berbentuk segi enam (heksagonal)? Kenapa tidak dalam bentuk lain saja? Ternyata, dalam padangan geometri (handasah), bentuk heksagonal memiliki keistimewaan tersendiri yang tidak dimiliki oleh bentuk lain. Berikut ini pembuktiannya. :) Baca entri selengkapnya »

Yûsuf al-Qaradlâwî memang sangat produktif. Cendekiawan lulusan Al-Azhar ini menulis hampir dalam semua bidang. Bahkan, fatwa-fatwa fiqhiyahnya sudah diterbitkan dalam jilid-jilid yang tebal. Belum lagi ceramah-ceramahnya dan beberapa kali berbicara di TV ataupun di radio Mesir.

-(. . . . . . .)-

-(. . . . . . .)-

Namun tulisan ini tidak hendak bercerita tentang Yûsuf al-Qaradlâwî secara panjang lebar. Alih-alih, tulisan ini cuma akan bercerita tentang salah satu karyanya tentang Abû Hâmid al-Gazâlî: Al-Imâm al-Gazâlî, Baina Mâdihîhi wa Nâqidîhi (selanjutnya disebut Al-Imâm al-Gazâlî). Saya mendapatkan edisi keempat buku ini dalam bentuk softfile, tentu saja dari mengunduh internet. :)

Di edisi ini, al-Qaradlâwî menyertakan pengantar khusus untuk menjelaskan beberapa hal. Mungkin dia menyertakan pengantar pula untuk edisi-edisi sebelum. Dalam pengantarnya, al-Qaradlâwî mengakui bahwa perkenalannya dengan Al-Gazâlî sudah sangat akrab sejak dia masih sangat belia, terutama melalui kitab Ihyâ’ Ulûm ad-Dîn dan Minhâj al-‘Âbidîn. Baca entri selengkapnya »

Kenapa dikasih nama “Annuqayah”? Kiai saya menjawab: karena terinspirasi oleh kitabnya Imâm Jalâl ad-dîn ‘Abd ar-Rahmân As-Suyûthî, an-Niqâyah.

masaccio

masaccio

Jawaban ini saya peroleh di saat saya baru masuk sebuah pesantren di Sumenep dan mengikuti kegiatan pembekalan buat santri baru. Di sebuah ruang yang tak ber-AC, saya dan sejumlah teman santri baru lain mendengarkan penjelasan beliau tentang asal-usul pesantren yang baru kami masuki ini. “Jadi,” beliau melanjutkan, “pesantren ini didirikan agar santri bisa menguasai beraneka-macam ilmu.” Waktu itu, alih-alih mempertanyakan —atau lebih tepatnya: mencurigai—validitas jawaban tersebut secara historis (karena memang tidak disertai dengan penjelasan tentang bukti-bukti historis), saya malah penasaran dengan isi kitab yang beliau sebutkan itu. Karena memang baru kali itu saya mendengar sebuah kitab dengan judul kayak gitu.

Hari demi hari pun berlalu, dan kitab itu tidak juga saya peroleh. Entah kenapa pula benda itu susah sekali diperoleh di tempat yang sangat berhutang budi kepadanya. Jangankan dijual di toko buku-toko buku di sana, diajikan saja tidak pernah. Bukankah seharusnya kitab itu tersebar luas di sana agar inspirasinya tidak terputus ke generasi sekarang? Atau hanya orang-orang tertentu saja yang boleh tahu bentuk dan isinya? Jangan-jangan, memang sengaja tidak dicetak secara massal dan disalin oleh kalangan tertentu saja? Ah, masa sih? Terus-menerus pertanyaan semacam ini bermunculan, tapi hingga saya keluar dari pondok pesantren tersebut (dengan baik-baik, tentunya) saya tak kunjung juga mendapatkan kitab itu. Baca entri selengkapnya »

K. H. Yahya Syabrawi (Pengasuh PP. Raudlatul Ulum Ganjaran Gondanglegi Malang)

n1590637884_30136646_2166447

K.H. Yahya Syabrawi

Selama ini kita mengenal pemisahan antara ilmu umum dan agama. Hal ini tidak hanya di pesantren, tetapi juga di luar pesantren. Pemisahan semacam ini, sebenarnya, tidak benar. Dalam Islam tidak ada pemisahan seperti itu.

Kalau kita mau mangkaji, sebenarnya pemisahan ilmu menjadi ilmu umum dan ilmu agama itu merupakan warisan Belanda. Sebagai penjajah, Belanda ingin lebih lama berkuasa di wilayah jajahannya, tanpa ada perlawanan dari bangsa pribumi. Salah satu cara yang dipergunakan Belanda untuk itu adalah menimbulkan ‘iklim’ seolah-olah ilmu umum dan ilmu agama merupakan dua ilmu yang terlepas sama sekali, tak ada kaitan sedikit pun.

Penjajah Belanda sangat berkepentingan terhadap kesan semacam itu. Bangsa pribumi tidak diberi peluang sama sekali mempelajari ilmu yang disebut ilmu umum, karena itu akan berbahaya bagi kelangsungan kekuasaan Belanda di negeri ini. Yang lebih parah lagi, akibat pemisahan ilmu yang diupayakan Belanda itu, lalu ada yang beranggapan bahwa mempelajari ilmu umum itu merupakan ‘tabu’, bahkan harap[m]. Ini berarti suatu keberhasilan besar usaha pemisahan yang dilakukan Belanda.

Adalah naïf sekali bahwa ‘keberhasilan’ Belanda memisahkan ilmu-ilmu itu, masih terasa sekali akibatnya sampai hari ini. Masih banyak pesantren-pesantren yang menamakan dirinya pesantren salafiyah, merasa tabu memasukkan ilmu yang disebut ilmu umum itu ke dalam kurikulum pendidikan di pesantrennya. Tapi, ya tak apa lah, biar ada variasi, tidak monoton. Baca entri selengkapnya »

RORO JOMBOR

Mei 25, 2009

4397_1033013080703_1686706595_55660_2732043_n

Apa pun komentar saya tentang teman-teman KKN, saya ralat sepenuhnya. Karena, ternyata mereka terlalu rumit untuk digambarkan dengan kata-kata!