UNTITLED [2]

9 12 2009

;kakek tua pemulung

Kau temani matahari pagi ini
dengan berjongkok di depan tong sampah
. . . tanpa enggan,
. . . sama sekali tanpa keributan
. . . seakan kesunyian adalah ritual pertobatan

Lalu hidupmu yang seharga sampah
kau biarkan tumpah
berceceran di pinggiran jalan
. . . Siapa sangka
. . . kesabaran di pagi buta
. . . membendung duka seribu purnama

:: penghujung tahun 2009





WISDOM OF RUMI [5]

6 12 2009

Candle in your heart

There is a Candle in your heart,
ready to be kindled.
There is a void in your soul,
ready to be filled.
You feel it, don’t you?
You feel the separation
from the Beloved.
Invite Him to fill you up,
embrace the fire.
Remind those who tell you otherwise that
Love comes to you of its own accord,
and the yearning for it
cannot be learned in any school.

~ Rumi ~





CURIGA

2 12 2009

Pure love and suspicion cannot dwell together: at the door where the latter enters, the former makes its exit.

~Alexandre Dumas Père~
(Penulis Prancis, 1802-1870)

Semasa saya masih kanak-kanak, seseorang memberitahu bahwa kecurigaan itu absah, paling tidak secara ilmiah. Teoritikusnya ada tiga orang: Karl Marx, Sigmund Freud dan Friederich Nietzsche. Yang pertama mengajarkan pentingnya curiga pada kendali sitem ekonomi yang eksploitatif, yang kedua memberitahukan pentingnya curiga pada sistem psike tak sadar, dan yang terakhir pentingnya kecurigaan pada fondasi metafisis yang tidak jujur.

Terlepas dari setiap solusi yang mereka tawarkan dari objek curiga mereka, berikut pula banyak hal lain yang mereka bicarakan, semuanya menyimpulkan bahwa sumber persoalan yang menjadi sasaran ada di balik hal yang tampak. Bayangkan, seperti apakah benda yang disebut “eksploitasi” yang tersembunyi dalam sistem nilai dalam sistem ekonomi kapitalistik? Bagaimana kita menyadari alam kejiwaan tak sadar? Adakah fondasi metafisis yang justru mengabaikan metafisika itu sendiri?

Paling tidak, mereka bertiga sudah berusaha mengagetkan kita pada adanya sebuah kenyataan di balik penampakan dengan cara mereka. Sistem nilai, kesadaran dan metafisika hanya sekedar topeng, dan wajah di belakangnyalah yang musti kita jadikan sasaran. Tidak boleh wajah itu merasa tenang dalam perlindungan: kita tetap harus curiga!

Sementara itu, muncul lagi orang lain, Jurgen Habermas, yang memberi warna baru terhadap apa yang kita sebut curiga. Warna baru itu dia sebut “kritis”. Sayang, tidak mudah menjabarkan apa itu kritis. Tapi yang jelas, kritis adalah warna lain kecurigaan. Keduanya sama-sama menaruh keraguan pada sasarannya, semacam ketidak-puasan terhadap fenomena di hadapannya. Namun keduanya berbeda dalam kemampuannya menjelaskan persoalan dengan cara yang lebih tajam.

Curiga ternyata menyembunyikan kepastian baru yang bisa ditengarai akan dicurigai kembali suatu saat. Ia menyusupkan hal-hal semacam mekanisme dan otomatisme. Sementara kritisisme sangat menghormati konstruksi dan proses sejarah. Dengan demikian, kritisisme adalah semacam pencanggihan terhadap kecurigaan, dan ini pun berarti tidak semua hal dari kecurigaan ditepis dari kritisisme.

 Membaca novel E.S. Ito ini, Negara Kelima, sebuah novel sejarah ini, menggoyahkan kembali arti sebuah kecurigaan dalam benak kita. Kita diajak bertanya, benarkah kecurigaan terhadap sebuah wajah di balik topeng berarti tidak perlu lagi mencurigai apa pun sesudahnya? Apakah wajah itu satu-satunya kenyataan, ataukah masih ada hal lain di baliknya, sebuah wajah di belakang wajah di belakang topeng?

Ternyata piawai dalam curiga-mencurigai saja tidak memadai. Setelah itu, kita harus punya kepiawaian mewaspadai, karena terkadang wajah di balik topeng hanyalah wajah orang-orangan jerami yang fungsinya cuma instrumental dan perannya hanya figuran. Kewaspadaan mengajarkan bahwa terdapat canda di balik keseriusan. Dan sebagaimana setiap canda di manapun, tidak apa-apa di sana selain ajakan untuk tertawa.

Namun, seiring perjalanan waktu, saya temukan bahwa lebih mudah mencurigai ketimbang dicurigai! []





ALLÂHU-AKBAR WA LI-LLÂH-ILHAMD

26 11 2009





PERJALANAN

26 11 2009

[1.]
Sang arif, Saadi dari Shiraz, sedang berjalan-jalan sepanjang lorong dengan muridnya. Saat itu dia melihat seseorang yang sedang berusaha menggerakkan kudanya. Karena kudanya  menolak, orang itu memanggilnya dengan nama-nama buruk yang terlintas dipikirannya.

“Jangan bodoh,” kata Saadi. “Kudamu tidak akan pernah mengenal bahasamu. Kau sebaiknya lebih tenang dan belajar bahasanya dulu.”

Dan di kala dia berjalan melewati orang itu, dia berkata pada muridnya:
“Sebelum kau berargumen dengan seekor kuda, ingatlah peristiwa yang kau saksikan barusan.”

[2.]
Seorang guru sufi dan muridnya sedang berjalan melintasi padang pasir di Afrika. Ketika malam hari, mereka mendirikan tenda dan beristirahat.

“Betapa sunyi malam ini!” kata sang murid.

“Jangan pernah bilang ‘betapa sunyi malam ini!’,” kata sang guru. “Tapi bilanglah: ‘Aku tidak bisa mendengar alam’.”

[3.]
Saadi dari Shiraz pernah cerita kisah berikut:

 Ketika saya masih kecil, saya pernah sembahyang dengan bapak, paman dan misan-misan saya. Tiap malam kami bersama-sama mendengar bacaan sebagian Al-Qur’an.

Suatu malam, ketika paman saya membaca satu bagian dengan suara keras, saya memperhatikan bahwa kebanyakan orang sedang mengantuk. Saya bilang pada bapak saya, “Tidak ada satupun dari orang-orang ngantuk ini mendengarkan kata-kata kitab suci. Mereka tidak pernah mencapai Tuhan.”

Dan bapak saya bilang, “Anakku sayang, lihatlah jalanmu sendiri dengan mata iman dan biarkan orang lain menjaga diri mereka sendiri. siapa tahu, mungkin mereka sedang berbicara dengan Tuhan dalam mimpi. Percayalah, aku lebih suka kau mengantuk seperti mereka daripada mendengar penilaian kasar dan kutukanmu.”

# Paulo Coelho,
Stories for Parents, Children and Grandchildren, Vol 1.