[FILM] MUHAMMAD THE LAST PROPHET

May 5th, 2012 § 5 Comments

[Judul: Muhammad The Last Prophet | Pengarah: Richard Rich | Rilis: 2002 | Nilai: 4 dari 5 bintang]

[1]
Ini adalah film sejarah: sejarah Kanjeng Nabi Muhammad.

[2]
Menghadirkan cerita Kanjeng Nabi dalam sebuah film animasi bukanlah ide buruk. Apalagi jika animasinya bagus, digarap dengan menarik oleh orang-orang yang ahli dibidangnya, tentu akan menambah kesan tertentu bagi penontonnya. Muhammad The Last Prophet ini, menurut saya, adalah salah satu yang tidak begitu buruk atau lumayan dalam melakukannya.

[3]
Setiap upaya menghadirkan sejarah Kanjeng Nabi dalam sebuah film adalah sebentuk tafsir atas sejarah. Bagaimana tidak! Versi sejarah Kanjeng Nabi itu banyak sekali, dan setiap versinya adalah tafsir. Memilih satu versi di antaranya berarti mengurangi kekayaan sumber sejarah. Ditambah lagi, ada banyak detil cerita yang harus dipangkas dalam film ini demi mengejar durasi. Dengan kata lain, film ini juga harus menghadapi sebuah resiko yang tidak ringan.

Dari sudut pandang yang lain, setiap upaya menghadirkan kisah Kanjeng Nabi dalam sebuah film adalah sebentuk keberpihakan atas sejarah. Sekali lagi, bagaimana tidak! Versi sejarah Kanjeng Nabi itu banyak sekali, dan setiap versinya adalah keberpihakan. Memilih satu versi di antaranya berarti menyeleksi mana yang paling cocok dengan keberpihakannya. Asalkan penonton jeli, beberapa detil yang tidak ditampilkan dalam film ini “seakan” hendak menghindari resiko besar yang akan ditanggung. Situasi seperti ini, menurut saya, memang tidak terhindarkan dalam setiap upaya memfilmkan sejarah Kanjeng Nabi.

Mungkin ada baiknya jika disebutkan beberapa contoh dari kedua kondisi itu. Coba sebutkan siapa nama asli Abû Jahl, pamanda—dan satu dari sekian orang yang paling benci dakwah—Kanjeng Nabi? Tentu saja, nama aslinya adalah ‘Amr ibn Hisyâm, kunyah-nya Abû al-Hakam. Tapi, sejak detik awal film ini dimulai hingga akhir, tidak ada sekali pun nama aslinya disebut-sebut dalam setiap dialog. Bahkan orang-orang yang sekomplotan dengannya (seperti Abû Lahb dan Abû Sufyân) juga memanggilnya dengan sebutan Abû Jahl dan dia menjawab panggilan itu seperti tidak ada yang salah. Ini sulit diterima akal sehat. Mana ada orang yang mau dipanggil dengan sebutan Abû Jahl? Nama Abû Jahl—jika dialihbahasakan kira-kira menjadi “Si Super Dungu”—adalah ledekan (laqâb qabîh) dari kaum Muslim kepada si Amr ibn Hisyâm karena sikap penentangannya kepada Kanjeng Nabi yang tiada kenal menyerah.

Contoh lain, ada banyak tokoh yang tidak dimunculkan gambarnya dalam film ini. Kanjeng Nabi tentu saja termasuk diantaranya. Apa mau dikata, umat Islam amat tidak suka kalau sosok Nabinya digambar-gambar untuk tujuan apapun karena memang ada larangan untuk melakukannya. Meski tidak semua umat Muslim menyepakati hal ini, tapi para penggarap film ini memilih untuk tidak menampilkan gambar Kanjeng Nabi, tentu seperti yang saya bilang di atas, karena hendak menghindari resiko yang akan ditanggung. Yang unik, selain Kanjeng Nabi Muhammad, para Khulafaur Rosyidin dan Hamzah, salah satu paman Kanjeng Nabi, juga tidak muncul gambarnya di film. Apakah menurut para penggarap film ini gambar mereka juga terlarang? Sejauh saya tahu, umat Muslim Indonesia tidak keberatan dengan gambar-gambar mereka, entah di negara-negara lain.

Selain dua contoh di atas, ada banyak pemangkasan cerita lain. Asalkan bisa jeli, yakin, ada banyak yang bisa diungkap dari film ini selain sekedar jalannya cerita.

[4]
Tala‘a al-badru ‘alaynā
Min thanīyāti al-wadā‘
Wajab al-shukru ‘alaynā
Mā da‘ā lillāhi dā‘
Ayyuha al-mab‘ūthu fīnā
Ji’ta bil-amri al-mutā‘
Ji’ta sharaft al-madīnah
Marḥaban yā khayra dā‘

Wahai bulan purnama yang terbit ke atas kita
Dari lembah al-Wadā‘.
Kita harus berucap syukur
Di mana seruan adalah kepada Allah.
Wahai engkau yang dibesarkan di kalangan kami
Datang dengan seruan untuk dipatuhi
Engkau telah membawa kemuliaan di kota ini
Selamat datang, penyeru terbaik

[5]
Pandangan di atas adalah cara pandang “kecurigaan”. Kalau mau pakai pandangan yang lebih sejuk, film ini menawarkan kebijaksanaan yang amat kaya. Tak diragukan lagi, sejarah kehidupan Kanjeng Nabi adalah sejarah keteladanan. Dan film ini memang lebih diarahkan untuk menjadi semacam jendela bagi mereka yang merindukan panutan ketimbang sekedar kontroversi sejarah yang bikin mumet.[]

photocredit: wikipedia.com dan opinimasding.blogspot.com

SENANG RASANYA

April 29th, 2012 § 3 Comments

: wita

Senang rasanya mengetahui bahwa kau sudah menyelesaikan tugas akhirmu, setelah kerja keras yang tidak mudah itu.
Kau melakukannya dengan sangat bagus, melebihi perkiraanku tentang kemampuanmu.
Dan kali ini aku tak ragu sedikit pun, lembar-lembar tugas akhir ini adalah karyamu seutuhnya, adalah hasil upayamu yang mengagumkan itu.
Untuk itu, tak usah repot dengan apapun, simpanlah terima kasihmu itu untuk tugasmu yang lain.[]

photocredit: lsegraduateadvance.wordpress.com

PEMBELAAN TUAN ALBOUTI

April 15th, 2012 § 7 Comments

Tuan Albouti berwajah teduh bak pohon beringin. Tutur katanya halus. Gaya hidupnya juga bersahaja, tak terlalu ambil pusing dengan tren yang sedang mengalir deras. Itu semua berbanding lurus dengan kapasitas ilmiahnya yang memang otoritatif di bidangnya.

Tapi sesabar apapun wataknya, Tuan Albouti tentu harus melakukan sedikit pembelaan juga mengenai tindakan yang sudah dilakukannya; semacam klarifikasi lah. Selama setahun penuh, kenangnya, Tuan Albouti menyampaikan ceramah mengenai butir-butir mutiara kebijaksanaan dalam kitab Hikam karya Ibn Atha’illah Assakandari. Makin lama, ceramahnya mengundang ketertarikan banyak orang sehingga pendengarnya di tempat itu makin banyak. Oleh karena sukses ceramahnya itu, seseorang memintanya agar membukukan saja sebuah komentar mengenai kitab itu.

Sementara itu, di luar sana, tidak sedikit orang yang menolak tasawuf karena cenderung mengajarkan bid’ah dan, bahkan, khurafat. Orang-orang itu berangapan, praktek-praktek keagamaan yang diajarkan oleh beberapa kelompok tarekat tasawuf tidak ada tuntunannya dalam Kitab Suci dan Hadits Nabi. Buku-buku yang mengajarkan tasawuf—termasuk kitab Hikam ini, tentunya—disingkirkan jauh-jauh saja agar virus bid’ah itu tidak menjangkiti umat.

Buku komentar Tuan Albouti terhadap kitab Hikam ini sudah selesai, dan di bagian pengantarnya dia menjelaskan sikapnya perihal kitab ini:

Memang benar ada ucapan Kanjeng Nabi yang melarang umatnya melakukan bid’ah, agar tidak ada yang nekat berinovasi dalam urusan agama (fi amrina hadza). Cuma persoalannya, demikian Tuan Albouti, kandungan kitab Hikam ini suatu bid’ah atau bukan? Ini satu soal.

Persoalan selanjutnya: sebetulnya kurang jelas juga apa maksud mereka dengan kata tasawuf itu. Sepertinya, sudah ada patokan saklek dalam benak mereka bahwa kalau sesuatu itu tasawuf sudah pasti ia adalah perilaku-perilaku bid’ah. Padahal, demikian Tuan Albouti, bisa jadi ada sesuatu yang disebut tasawuf tapi bukan bid’ah. Artinya, patokan mereka itu mestinya diubah, dan segala hal yang disebut tasawuf tidak serta-merta menjadi bid’ah. “Nama boleh apa saja, tapi yang penting itu kandungannya,” kata Tuan Albouti.

Barangkali, biar semuanya bisa berjalan semestinya, ada baiknya kita bikin sebuah aturan main saja. Taruhannya harus tegas: kalau ternyata kandungan kitab ini ada tuntunannya dalam Kitab Suci atau Hadits Nabi, kita terima dengan gagah berani. Sebaliknya, jika ternyata tidak ada tuntunannya, jadi ia merupakan bid’ah, maka kita buang saja jauh-jauh tak ubahnya seperti kuman.

Dari sini, Tuan Albouti lantas berbicara tentang kandungan kitab ini secara global. Menurutnya, seluruh kandungannya bisa dirangkum menjadi tiga bagian, yakni (1) tauhid, (2) akhlak terpuji dan pembersihan jiwa, dan (3) perjalanan rohani dan tahap-tahapnya. Ketiga hal di atas itu, demikian Tuan Albouti, bisa diperas lagi menjadi hanya satu hal saja: ihsan. Nah, kalau mau cari dasar ihsan di dalam Kitab Suci maupun Hadits Nabi, saya rasa tidak akan susah-susah amat.

Selain itu, Tuan Albouti juga sanggup menunjukkan dasar Qur’an atau Hadits dari setiap butir mutiara kebijaksanaan di kitab ini. Pada butir kebijaksanaan pertama, misalnya, belum apa-apa dia sudah bercerita tentang perkataan Kanjeng Nabi Muhammad bahwa amal perbuatan kita ini tidak akan memasukkan kita ke surga. Saat itu Kanjeng Nabi langsung diajukan sebuah pertanyaan, “Bahkan amal perbuatan Anda, Kanjeng Nabi?”

“Bahkan amal perbuatanku pun tidak akan,” jawab beliau, “kecuali kalau Tuhan menyelamatkanku dengan Kasih-Nya.” Tuan Albouti melanjutkan bahwa ini adalah riwayat Imam Bukhari, periwayat hadits yang paling terpercaya. Jadi, sebaiknya kita berjabat tangan saja, sebab aturan main sudah terpenuhi dan permainan bisa berjalan dengan sportif.

Jadi, singkatnya, Tuan Albouti ini mengajak khalayak pembacanya agar tidak terburu-buru ambil penilaian terhadap suatu perkataan sebelum ketahuan benar apa maksud dan pengertiannya. Khusus soal tasawuf, ada baiknya praktek-prakteknya itu diketahui terlebih dahulu lalu diselidiki dasar-dasarnya. Dengan cara seperti itulah mestinya hidup bersama itu berlangsung.

Tapi ada benarnya juga bahwa terkadang terdapat laku bid’ah dalam tasawuf, dan Tuan Albouti mengakui hal itu. Amat menggembirakan bahwa masih banyak di sekeliling kita orang-orang yang gelisah melihat agamanya disusup-susupi, entah sengaja atau pun tidak. Hanya saja, tidak berarti bahwa segala hal tentang tasawuf itu kudu dibabat habis dan dibasmi hingga tidak tersisa apapun darinya. Itu keterlaluan! Bukan tidak mungkin, Tuan Albouti mengajak kita merenung, segala susupan dan laku bid’ah atas nama tasawuf itu menyebar di kalangan masyarakat justru karena sikap keras dan keterlaluan semacam itu. Ya mungkin saja, kan?[]

[Disarikan dari Al-Hikam al-'Atha'iyah;  Syarh wa Tahlil karangan Dr. Muhammad Sa'id Ramadlan al-Buthi]

photocredit: indiana.edu

THE LEGEND OF KORRA

April 2nd, 2012 § 8 Comments

Perang sudah dimenangkan, perdamaian sudah direngkuh, tapi apakah dunia berakhir di situ saja dan tidak ada apa-apa lagi setelah itu? Mohon maaf, bagi yang cepat puas sebaiknya menyingkir saja.

Aang dan kawan-kawannya telah melakukan yang terbaik untuk kedamaian dan keseimbangan dunia. Dia pun telah membangun sebuah kota metropolit, The Republic City, di mana semua pengendali (air, angin, api dan tanah) bisa hidup damai di sana. Namun, apa mau dikata, dunia tidak selamanya dalam keadaan beres seperti itu. Untuk itulah Sang Avatar akan terus hidup dan menitis kepada orang lain yang akan melanjutkan tugasnya di dunia.

Dan inilah kisahnya! Harus ada seseorang yang menjadi Sang Avatar baru dan berjuang demi perdamaian dan keseimbangan dunia. Inilah The Legend of Korra!

Korra terlahir dari suku pengendali air dan, mirip seperti Aang, sejak kecil sudah terdeteksi sebagai calon Avatar baru. Gadis bengal ini sangat berbakat sehingga dia bisa menguasai pengendalian air, api dan udara dengan sangat cepat. Dalam rangka bersiap-siap menghadapi kondisi Avatar (Avatar state), kali ini dia harus belajar pengendalian udara dari seorang master yang sangat dia kenal: Master Tenzin, putra bungsu dari Aang dan Katara.

Hanya saja, berbeda dengan Aang yang kesulitan mempelajari pengendalian api, si gadis bengal ini kesulitan mempelajari pengendalian udara karena pengendalian yang satu ini mensyaratkan ketenangan batin dan kendali diri yang intens. Kedua syarat ini bertentangan dengan wataknya yang ugal-ugalan dan kerap lepas control.

Tapi tak usah risau, selalu ada penyelesaian dari setiap persoalan. Pada akhirnya, akan ditemukan juga bagaimana caranya agar si Korra ini bisa belajar pengendalian udara dengan lancer. Sayangnya, 2 episode yang saya punya belum menunjukkan penyelesaian ini.

Lantas, apa tugas selanjutnya yang harus diemban oleh Sang Avatar baru ini? Tantangan apa yang harus dia hadapi untuk memenuhi tugasnya? Siapakah orang-orang yang menemaninya melunasi tugas besar itu? Siapakah tokoh antagonisnya?

Menjawab semua pertanyaan itu, ada baiknya kawan-kawan berburu film ini dan berbagi di tempat menyenangkan ini, di blog.[]

 photocredit: en.wikipedia.org

WHITE ON WHITE | Obsesi Menjadi Lebih Putih

March 20th, 2012 § 7 Comments

Melihat lukisan Kazimir Malevich, White on White, tiba-tiba saya merasakan kemuakan yang membikin bimbang. Rasa muak itu muncul akibat munculnya asosiasi lukisan itu dengan kecenderungan orang-orang yang merayakan ajaran implisit dari iklan-iklan bedak pemutih. “Jadilah lebih putih melalui produk kami,” demikian pesannya. Iklan itu adalah ekspresi rasisme yang paling gamblang, namun justru paling ditoleransi –bahkan paling banyak pelakunya—di zaman ini.

Nah, kenyataan ini tentu membuahkan rasa muak, frustasi dan jengah bagi mereka yang menolak rasisme di tempat paling pojok dan remang sekali pun. Bagaimana tidak, obsesi untuk menjadi lebih putih adalah cacat psikologis milik mereka yang rendah diri, kalah sejak dalam pikiran. Dan pelariannya adalah upaya menyulap dirinya untuk menjadi seperti kecenderungan umum.

Obsesi menjadi lebih putih bukannya tidak pernah menjadi sorotan para kritikus sosial, namun sepertinya ia semakin menggejala seiring bertambahnya jumlah produk pemutih. Makin keras kritik yang mereka lancarkan, makin canggih pula cara obsesi itu mengambil bentuk dalam iklan-iklan. Sosok iklan-iklan itu tak ubahnya seperti seekor bulus yang memiliki kecerdikan maha canggih.

Padahal, iklan produk bedak pemutih adalah iklan yang paling jelas kebohongannya. Bagaimana mungkin orang bisa menjadi lebih putih dalam waktu secepat itu? hanya dalam 6 minggu? Kecuali cara yang dilakukan oleh mendiang Michael Jackson—dan kita semua tahu bahwa pada akhirnya kulitnya rusak semua karenanya—keajaiban menjadi lebih putih adalah omong kosong!

Lukisan ini tentu tampak hanya gambar putih-putih semacam itu sebab ia berupaya menggambarkan sesuatu yang tidak terkatakan. Lukisan model realis mungkin tidak akan cukup mewakili untuk menggambarkan perasaan-perasaan itu, sehingga dipilihlah model lukisan yang “lain”, berbeda dari cara konvensional. Ibarat kata, mau tidak mau dipilih strategi konotatif untuk mengungkapkan sesuatu yang tak-terkatakan semacam itu.[]

photocredit: moma.org

PEMENTASAN WAYANG SUKET

March 19th, 2012 § 1 Comment

[Penulis Naskah: Jantan Putra Bangsa, Pemain: Ahmad Sidqi (Sinang Jaya), Tri Warsana Putra (Sukri), Muhammad Hilal (Totok), Musik: Suharno]

“Sunan Kalijaga itu berdakwah dengan tanpa meninggalkan kejawaan dan keislamannya.” | Kang Sinang

Nuansa Kampung terasa sekali dalam suasa yang ditunjukkan dalam pertunjukan itu. Kata-kata semacam sungai, gardu, pinggir kali, sawah, dan pepadian, diucapkan berulang kali oleh seorang pencerita sebelum dan mengiringi jalannya cerita dalam tiap adegan. Malam itu, di acara Jambore Nasional Jama’ah Al-Khidmah Kampus 2012, Kaliurang, diselenggarakan pagelaran Wayang Suket oleh Komunitas Belok Kiri.

Seorang lelaki muncul di tengah-tengah panggung sembari membawa sebuah Wayang Suket di tangannya. Tak lama kemudian, muncul lagi seseorang yang juga membawa sebuah Wayang Suket di tangannya. Dari sini, penonton bisa memahami bahwa pertunjukan wayang ini tidaklah seperti yang dibayangkan sebagaimana pagelaran wayang pada umumnya. Dari tiga karakter yang tampil di pertunjukan itu, semuanya memegang Wayang Suket masing-masing, persis seperti anak-anak zaman dahulu memainkan Wayang Suket di pematang sawah.

[baca lebih lanjut]

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers