Tasawuf [6]

TASAWUF DI PERSIA

I.
Ahli-ahli fikir, penyair, filsuf Islam, sufi telah banyak timbul di Persia. Dalam buku ini kita tidak membicarakan filsafat, sebab itu tidaklah kita membicarakan Ibn Sînâ, ‘Umar Khayyâm, dan lain-lain. Tidak pula kita membicarakan kesusastraan, sebab itu kita tidak membicarakan Al-Firdausî, Sa‘dî, Rudkî, dan lain-lain. Meskipun begitu, seluruh ahli tasawuf Persia itu menyatakan rasa ketasawufannya itu berupa syair, dan syair-syair ahli pun tidak kurang berisi rasa tasawuf.

II.
Abû Sa‘îd. Abû Sa‘îd ibn Abî Khair (358-440 H./927-1049 M.) lahir di Mahsa, Khurasan. Tasawufnya sangat mendalam. Asyik dan rindu-dendamnya kepada Tuhan terlukis amat indah dalam syair-syairnya.

III.
Al-Anshârî. Syaikh ‘Abd-llâh Al-Anshârî (396-481 H./1066-1088 M.). Banyak karangan beliau mengenai tasawuf. Di antaranya ialah kisah kehidupan ahli-ahli tasawuf yang dinamai Thabaqât. Keistimewaan beliau ialah melukiskan doa-doa yang dari segi kesusastraan dapat dipandang sebagai prosa tertinggi.

IV.
Sinâ’î. Setelah itu datanglah Majd ad-Dîn Sinâ’î al-Ghaznawî (w. 545 H./1151 M.). tasawufnya banyak ditulis berupa susunan syair ‘matsnawî’, di dalam bukunya yang berjudul Hadîqah Hadâ’iq yang disusunnya pada tahun 525 H./1221 M.

V.
Al-‘Aththâr. Farid ad-Dîn al-‘Aththâr (w. awal abad ke-7 H.) berasal dari Nisapur. Tidak kurang daripada 40 buah rangkaian syair karang beliau, terdiri dari beribu bait, ada yang pendek dan ada yang panjang. Di antaranya adalah Bandinamah (Kitab Nasihat) dan sebuah kitab yang mendalam, bernama Manthiq ath-Thair (Percakapan Margasatwa). Buku Percakapan Margasatwa terdiri dari 4600 bait syair berupa matsnawî dan bahr ar-ramal.

VI.
Rûmî. Maulânâ Jalâl ad-Dîn Rûmî Muhammad ibn Muhammad ibn Husain al-Khathbî al-Bakrî (604-672 H./1217-1273 M) lahir di Balkh, Persia, dan besar di Asia Kecil yang pada waktu itu lebih masyhur sebagai negeri Rûm. Itu sebabnya dia memakai nama Rûmî.

Beliau telah menulis tasawuf yang besar, berupa syair yang dikenal namanya dengan Matsnawî, berisi 20.700 bait syair, terdiri dari 6 jilid. Di sanalah beliau melukiskan segenap pendirian tasawufnya yang berdasar Wihdah al-Wujûd itu.

VII.
Hâfidz asy-Syîrâzî. Pada saat raja-raja Tartar akhirnya telah memeluk agama Islam, timbul seorang sufi yang besar. Itulah Hâfidz asy-Syîrâzî. Syair-syair tasawufnya sangat terkenal dalam kesanggupan dan keistimewaan menggambarkan cinta kepada Tuhan dan keindahan Tuhan.

VIII.
‘Abd ar-Rahmân al-Jâmî‘. Nama Nûr ad-Dîn ‘Abd ar-Rahmân al-Jâmi‘ ibn Nidzâm ad-Dîn (817-898 H./1414-1493 M.) sangat terkenal di dalam silsilah tarekat Naqsyabandiyah sebab dia berguru kepada Syaikh Sa‘d ad-Dîn Kasygharî, salah seorang pemuka dari tarekat itu. Beliau adalah sufi besar, seorang takwa dan saleh dan penyair, dan pujangga pengarang roman. Karangannya banyak dalam berbagai cabang ilmu Islam, sejak dari tafsir-hadis, bahasa (Nahwu-Sarraf) dan tasawuf. Hikmah yang tinggi ditulisnya berupa ceritera roman. Di antara bukunya adalah Nafâhah al-Uns dan Syawâhid an-Nubuwwah. Ada pula syarah dari karangan Ibn ‘Arabî. Yang masyhur di antaranya ialah kisah Yusuf dan Zulaikha. Ada pula kisah tentang Salaman dan Absal.

IX.
Kerajaan Syafawi di Persia yang berdiri tahun 907 H./1502 M. menjadi biang kemunduruan tasawuf di negeri itu sebab rajanya yang sangat termasyhur, Syah Isma‘îl, memaksa para ulama dan pujangga untuk menggubah karangan dan syair propaganda Syiah semata. Syair yang memuji keturunan Hasan dan Husain mendapat sokongan kerajaan, tetapi syair-syair tasawuf amat dibenci dan ahli-ahli sufi di kejar-kejar.

Sejak itu, tidak banyak dikenal orang lagi ulama tasawuf di Persia, hanya seorang yang tersebut namanya yaitu Hâtif.
Keadaan ini menyebabkan tasawuf berpindah dan berkembang ke tanah India dalam bentuk baru. Di sanalah timbul ahli-ahli tasawuf, seumpama Syah Waliyullah Dahlawi. Dari sanalah paham tasawuf mengalir lebih dahulu ke tanar air kita Indonesia ini.[]

Tasawuf [5]

TASAWUF DAN FILSAFAT KETUHANAN
Tasawuf abad ke-6 dan ke-7 M. (12-13 H.)

I.
Keistimewaan tasawuf abad ke-6 dan 7 ialah lanjutan penyelidikan dengan cara filosofis di dalam membuka hijab. Riyadah dan mujahadah lebih diperkuat daripada abad-abad yang lalu, melemahkan kekuatan indera lahir dan memperkuat kekuatan indera batin, memberi makanan roh dan akal dengan ibadah dan zikir.

Soal-soal tasawuf di abad ini berkisar di empat perkara:

(1) Mujahadah, dilakukan di dalam berbagai cara, misal tafakur, bermenung mengingat dan menyebut nama Allah. maka senantiasalah si murid naik tingkatnya, dari satu maqâm ke maqâm yang lebih tinggi sampai mencapai derajat “tauhid” dan “irfân”.

(2) Kasyf, yaitu tersingkapnya tirai setelah dia terlepas daripada ikatan syahwat. Apabila indera lahir telah tertutup, maka dengan sendirinya kian terbukalah perjalanan indera batin. Perjalan itulah yang bernama sulûk, yang menempunya bernama sâlik.

(3) Karamat. Bila telah lepas daripada ujian ‘mujahadah’ dan telah mendapat ‘kasyf’, tibalah dia dalam pangkat ‘wali’. Dia punya kebesaran dan ketinggian martabat jiwa mendekati martabat nabi, karena dia telah mengenal dan mendapat ‘hakikat wujud’. Dia dalam mengetahui sesuatu hal sebelum kejadian, dia berkuasa bertasarruf di dalam alam rendah ini sehingga dapat menurut kehendaknya.

(4) syathahat, yaitu kata-kata ganjil yang kadang-kadang pertimbangan akal tidak dapat menerimanya. Abad ke-6 dan ke-7 penuhlah dengan ihwal yang demikian sebagai pendekatan atau usaha mempergabungkan di antara tasawuf yang seluruhnya bergantung kepada rasa-hati dengan filsafat yang menghendaki perjalan pikiran.

II.
Suhrawardi. Syihâb ad-Dîn Abû al-Futûh as-Suhrawardî (w. 587 H./1191 M.) lebih dikenal dengan Asy-Syaikh al-Maqtûl, bergelar Al-Mu’ayyad bi al-Malakût (mendapat sokongan dari alam malakut).

Suhrawardî telah menyelidiki dan mempelajari sedalam-dalamnya hikmah dan filsafat kuno-kuno, filsafat timur dari India dan Persia dan juga filsafat Yunani. Keluas-dalaman penyelidikan itu terlukis nyata di dalam karangan-karangannya, seumpama kitab Hikmah al-‘Isyrâq, Hayâkîl an-Nûr dan Al-Ghurabât al-Ghâribah.

Menurut penyelidikan Suhrawardî, tujuan segala-galanya, baik ahli pertapaan atau ahli hikmah atau filosof hanyalah satu jua, yaitu menuntut cahaya Kebenaran dari cahayanya segala cahaya, yaitu Allah. Tujuan satu jua, hanya cara dan jalan berlain-lain.

Penuntut hikmah dibaginya menjadi tiga bagian besar. Pertama, penyelidik saja, dengan mempergunakan akal semata. Itulah filsuf. Kedua, penuntut hikmah karena ingin mencari Tuhan. itulah ahli tasawuf. Ketiga, penyelidik mempergunakan akal dan mementingkan rasa dalam menuju satu tujuan, yaitu Tuhan. itulah al-hikmah al-ilahî, filsuf ketuhanan.

Suhrawardî mencoba menggabungkan filsafat dengan tasawuf, sehingga filsafat isyraqnya bukanlah tasawuf sejati dan bukan pula filsafat sejati. Maka banyaklah tersua kata-kata yang penuh dengan rumuz, perlambang dan kalimat yang bisa diberi seratus arti. Oleh karena yang demikian, tidaklah heran jika banyak ulama yang menentang, terutama dari ahli-ahli fikih.

Tasawuf [4]

ZAMAN AL-GHAZÂLÎ
Tasawuf Abad kelima (11 M.)

I.
Abad keempat sangatlah berkembang tiga ilmu: tasawuf, Ilmu Kalam dan Fikih. Filsafat telah Yunani dan lain-lain telah masuk ke dalam masyarakat Islam. Ketika itu berkembang pula mazhab Isma‘iliyah, yakni salah satu cabang yang sangat ekstrem dalam kaum Syi’ah.

Di abad ini muncul Abû Hâmid Al-Ghazâlî (450-550 H./1057-1111 M.).

II.
Al-Ghazâlî dan Filsafat. Ulama-ulama sebelum Al-Ghazâlî telah mengambil beberapa cara berpikir kaum filsafat menguatkan dasar Ilmu Kalam. Filsafat mereka pelajari hanyalah semata-mata buat menguatkan dasar-dasar Ilmu Kalam itu. Tapi Al-Ghazâlî memandang bahwa cara pengambilan yang demikian sangatlah dangkalnya. Orang hanya tertarik dengan ujung-ujung filsafat, tapi tidak menggali sampai uratnya. Padahal kalau sekiranya digali sampai ke urat, filsafat tidaklah memperkokoh pendirian ketuhanan, hanyalah akan menggoyahkannya.

Akhir penyelidikannya terhadap filsafat dia simpulkan, “filasfat itu mengemukakan akal. Tapi akal itu sendiri tidak senantiasa dapat dipercaya buat sanggup mencapai Kebenaran Yang Mutlak.”

III.
Untuk mencapai kesimpulan ini, Al-Ghazâlî merenangi lautan makrifat demi mendapatkan tempat berpegang. Dia menyelidiki kebenaran hangga meragukan segala hal. Dia perdalami Ilmu Kalam, Filsafat, Bathiniyah, dan tasawuf. Tiga ilmu pertama dia kritik karena dianggap tidak bisa menghantarkan kepada kebenaran sejati. Dalam tasawuflah dia mendapatkan jalan terang itu.

IV.
Al-Ghazâlî tertarik dengan tasawuf sebab yang dipentingkan bukan semata-mata renungan akal. Sebagian besar yang dipentingkan adalah rasa atau dzauq (gevoel). Tujuan yang sejati adalah kebahagiaan yang tiada taranya, yaitu ketenteraman jiwa dalam kampung yang kekal, kampung akhirat. Bekalnya adalah takwa.

Maka disusunlah kitab Ihyâ’ Ulûm ad-Dîn. Dalam buku itulah dikawinkannya kembali di antara yang lahir dengan batin, antara fikih dengan tasawuf dan Ilmu Kalam.

V.
Makrifat. Makrifat atau ilmu yang sejati adalah mengenal Tuhan, hadrah rubûbiyah. Alam seluruhnya ini adalah makhluk dan ayât (bukti-bukti) kekuasan dan kebesaran-Nya. Apabila telah tajallî (jelas) dalam hati makrifat akan hakikat ketuhanan dan sifat-sifat serta af‘âl (perbuatan-Nya) dan nikmat-rahmat yang terkandung pada kejadian dunia dan akhirat, itulah dia kebahagiaan.

VI.
Tingkat manusia. Iman dan yakin itu terbagi menjadi tiga: (1) Iman orang ‘awâmm, yaitu mempercayai kabar berita yang dibawa oleh orang yang dipercayainya; (2) Iman orang ‘âlim, yaitu kepercayaan dari jalan membanding, meneliti dan memeriksa dengan segenap kekuatan akal dan mantiknya (intelektualisme); (3) Iman orang ‘ârifîn, dia beriman dan tumbuh keyakinan setelah menyaksikan sendiri akan kebenaran itu dengan tidak ada dinding-dindingnya lagi.

Makrifat belum tercapai oleh orang ‘awâmm. Yang dicapai oleh ulama barulah sehingga ilmu belaka, belum di derajat hakikat ilmu dan makrifat. Hanyalah satu jalan saja yang dapat mencapai makrifat yang mulia dan murni itu, yaitu jalan sufi.

Waliyullâh, menurut Al-Ghazâlî, adalah di bawah derajat nabi, sebab nabi mendapat wahyu dengan teratur, sedangkan wali mendapat ilham. Macam-macam cara datangnya, ada dengan perantaraan mimpi, ada dengan perantaraan tafakur (bersamadi) dan kadang-kadang datang berupa suara gaib dari jin. Itulah yang biasa dinamai hâthif.

VII.
Bahagia. Kebahagiaan itu didapat karena mengetahui sesuatu yang belum diketahui. Semakin banyak yang dapat diketahui, semakin bertambahlah tingkat kepuasan dan kebahagiaan itu. Maka, puncak tertinggi dari kepuasan dan kebahagiaan itu adalah ma‘rifatu-llâh, mengetahui Tuhan.

Rasa puas karena mengetahui sesuatu ialah menurut tabiat kejadian sesuatu. Kepuasan mata karena melihat rupa yang indah, telinga karena mendengar suara merdu, dan lain-lain. Pusat indra adalah hati, maka setiap mencerap keindahan timbullah keinginan hati hendak mengetahui dari mana asal datangnya, siapa gerangan penciptanya? Mengetahui sumber tempat datangnya segala keindahan itu hanyalah semata tugas hati. Puncak keindahan adalah Allah, tidak ada di atasnya lagi.

Tidak seperti indera yang tak berfungsi lagi seiring meninggalnya tubuh, hati tidak mati karena kematian tubuh. Bahkan dengan mati itulah dia bertambah kuat, karena hidup itu hakikatnya adalah gelap dan maut itulah terang. Tapi meskipun begitu, dengan mujahadah dan perjuangan dapatlah kita menyeruak kegelapan itu.

Dengan mujahadah sangguplah insan melihat, menyaksikan sendiri, beberapa pemandangan yang indah, yang payah menyatakan dengan lidah kecil akan hakikatnya. Terbukalah waktu itu malakût langit dan bumi, ‘arsy dan kursî, lauh dan qalam, kedengaran gerak-geriknya.[]

Tasawuf [3]

TASAWUF ABAD KE-3 DAN KE-4

I
Setelah memasuki abad ketiga dan keempat, ilmu tasawuf telah berkembang dan telah menunjukkan isinya yang dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu soal ketuhanan (metafisika), soal diri sendiri (jiwa), dan soal akhlak (mengenai masyarakat).

Rabî‘ah Al-‘Adawiyah telah melengkapkan jiwa tasawuf dengan ajarannya, yaitu hubb, cinta. Ma‘rûf al-Karakhî, seorang sufi besar di Baghdad menambah hasil perolehan jiwa daripada cinta itu, yaitu thuma’nînah (ketenteraman jiwa) karena cinta. Hârits al-Muhâsibî rasa cinta makhluk kepada khaliknya itu adalah anugerah, tujuannya adalah persatuan yang mencintai dengan yang dicintai.

II
Di abad kedua, tasawuf hanya terkenal di Kufah dan Bashrah, namun permulaan abad ketiga tasawuf tumbuh subur di Baghdad, sebab di situ adalah pusat pemerintahan di mana krisis moral amat marak. Dari Baghdad kemudian mengalir ke Persia.

Di Baghdad terkenallah nama Abû al-Hasan Surrî as-Saqthî (w. 253 H./874 M.). awalnya beliau adalah pedagang, namun kemudian berhenti dan mendalami ilmu batin. Konon, dia adalah orang yang mula-mula mengupas tauhid dari segi tasawuf, sehingga muncul istilah haqîqah. Darinya pula muncul ajaran maqâmat pengalaman jiwa dan ajaran ahwâl.

Setelah itu datang Abû Hamzah Muhammad ibn Ibrahîm ash-Shûfî (w. 269 H./883 M.). Dialah yang mula-mula memecahkan soal ‘isyq (rindu), dzikr (ingat), jam‘ al-himmah (membulatkan tekat), al-qurb (dekat), dan istilah-istilah sufistik lain.

Lalu muncul Ma‘rûf al-Karakhî (w. 200 atau 201 H./816 M.). Kata-katanya yang terkenal, “fanâ’-nya orang-orang yang bertakwa artinya ialah baqâ’. Matinya adalah hidup yang sejati.”

Abû Sulaimân ad-Dârânî (w. 215 H./830 M.). Dia mengajarkan bahwa cinta antara hamba dengan Tuhannya itu hendaklah berbalasan, tidak bertepuk sebelah tangan. Katanya, “orang arif itu, kalau telah terbuka penglihatan mata hatinya, kaburlah penglihatan mata lahirnya. Sehingga tidak ada suatupun lagi yang dilihatnya, hanya satu!”

Hârits al-Muhâsibî (w. 243 H./856 M.), seorang sufi yang ilmunya luas, wara’, pandai bergaul dan banyak mendapat rahasia dalam renungan batin. Dia termasuk dalam lima tasawuf terkemuka; empat lagi ialah Junaid, Ru’aim, Ibn ‘Athâ’ dan ‘Umar ibn ‘Utsmân al-Makkî.

III
Dzû an-Nûn. Abd al-Faidl Dzû an-Nûn al-Mishrî berasal dari Naubah, wilayah antara Sudan dan Mesir. Boleh dibilang, beliau adalah puncak sufi abad ketiga. Jalan beliau buat menuju Tuhan adalah “mencitai Tuhan, membenci yang sedikit, menurut garis perintah yang diturunkan dan takut akan berpaling jalan.”

Pernah beliau ditanya orang, “Dengan jalan apa engkau dapat mengenal Tuhanmu?” Beliau jawab, “Aku mengenal Tuhanku ialah dengan Tuhanku sendiri. Kalau bukan Tuhan tidaklah aku mengenal Tuhanku.”

Cinta itu, menurut pandangan beliau, timbal-balik di antara khalik dan makhluk, di antara yang mencintai dan yang dicintai. Dengan cinta demikianlah si hamba tertarik, lebih daripada tarikan besi berani kepada besi biasa, buat kian lama kian mendekat kepada yang dicintai itu sehingga bersatu, tenggelamlah zatnya ke dalam zat Tuhan. Ajaran ini hanya dapat dirasai setelah menempuh maqam-maqam yang tentu. Begitulah menurut beliau. Hanya dapat dirasakan, dan sia-sia kalau diajarkan. Mesti dirahasiakan kepada orang yang hanya mengenal arti cinta dalam arti mâddî yang dapat disaksikan panca-indera.

Ihwal Komik Why? Puberty

koleks komik whyPunya beberapa keponakan penyuka komik itu ada untungnya juga. Setiap kali mereka merengek minta dibelikan komik baru, itu berarti saya punya bahan bacaan baru. Asyik, kan?

Untungnya juga, orang tua mereka mau membelikan komik yang mendidik untuk anak-anak mereka. Orang tua jaman sekarang musti selektif memilih bahan bacaan untuk anak-anak mereka. Jika tidak diperhatikan baik-baik, anak-anak mereka malah membaca buku-buku yang bukan-bukan.

Komik-komik mendidik itu adalah ‘Why?’. Komik ini adalah tentang ilmu pengetahuan, bikinan Korea Selatan, di dalam negeri diterbitkan PT Elex Computindo.

Komik ini bertema beda-beda tiap edisi. Ada yang tentang bumi, laut, flora fauna, robot, sains olahraga, mikroorganisme, otak, fosil, komputer, dan masih banyak lagi. Jika dikumpulkan jadi satu, koleksi para keponakanku berjumlah 30-an eksemplar. Jumlah yang menyenangkan untuk tambahan bacaan ringan saya.

Saya senang mereka suka komik-komik bermanfaat itu. Juga patut disyukuri bahwa orang tua mereka bersedia membelikannya. Komik-komik itu bermanfaat buat mereka, menguntungkan buat saya.

***

Rupanya, komik Why? kena gugat. Ini berkaitan dengan isinya yang dianggap mempromosikan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Di dunia maya, peristiwa ini lumayan ramai sebab topiknya merembet ke mana-mana, rata-rata sensitif pula.

Kebetulan, edisi komik Why? yang jadi buah pembicaraan itu ada di koleksi para keponakan saya. Edisi itu membicarakan topik tentang ‘pubertas’. Ya, tentang pubertas!

Saya langsung pinjam ke mereka. Tapi untuk mendapatkan topik itu, mereka tidak bisa menyerahkannya langsung ke tangan saya. Komik itu tersimpan khusus di lemari ibunya, bukan di rak buku yang terletak di ruang terbuka di rumah. Jadi, untuk meminjamkannya pada saya, mereka kudu minta dulu kepada ibunya, baru setelah itu mereka menyerahkannya ke saya. Edan! Birokrasinya berbelit begitu jadinya.

Kenapa dibikin berbelit? Saya tidak tanya langsung ke orang tua mereka. Namun, rekaan saya, karena orang tua mereka cukup berhati-hati soal komik itu. Komik itu tersimpan di lemari dan bukan di rak buku sebab biasanya keponakan saya mengajak teman-temannya untuk baca bareng buku-buku atau komik-komik dari rak buku itu. Agar tema pubertas tak terbaca oleh anak-anak tanpa bimbingan, maka lebih baik disimpan di tempat lain saja.

Tema pubertas dari komik itu memang cukup merepotkan, demikian pengakuan orang tua mereka. Keponakan saya, yang sudah kelas 6 SD, sudah membacanya. Oleh karena tema itu terbilang baru bagi mereka, maka muncullah pertanyaan-pertanyaan yang bikin rikuh untuk dijawab.

Seperti ketika dia membaca tentang asal manusia dari perjumpaan sperma dan sel telur di rahim perempuan. Anak itu rupanya sulit membayangkan, bagaimana bisa sperma bisa bertemu sel telur di rahim ibunya? Bagaimana cara masuknya? Dia belum punya konsep tentang persetubuhan antara dua jenis manusia. Dia lantas bertanya pada bapaknya. Bapaknya tentu saja mesem-mesem rikuh dan menjawab spontan: “dengan cara disuntik.” Beruntung, anaknya punya konsep suntik-menyuntik–dalam arti harfiah tentu saja–dalam benaknya, sehingga pertanyaannya berhenti di situ

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tentu kerap muncul. Anak-anak adalah fase penasaran dan serba ingin tahu. Dalam tema-tema macam pubertas, bimbingan orang tua mutlak diperlukan.

***

Komik “Why? Pubertas” itu sudah di tangan saya. Saya lihat, di sampul depan belakangnya tertulis dengan mentereng “Untuk Remaja dengan Bimbingan Orang Tua”. Pesan ini juga diulang di halaman pengantar.

pengantar komik why

Di halaman 150 memang terdapat bab yang berjudul ‘Mencintai Sejenis’. Tampaknya, bab inilah yang membikin ramai dunia maya.

Ketimbang memasuki perdebatan pro atau kontra, saya rasa lebih baik saya tampilkan isi dari bab itu. Saya akan usahakan menyajikannya sebagaimana adanya, tanpa pretensi untuk mendukung pada salah satu pihak.

Saya pilih sekadar menyajikannya apa adanya sebab saya yakin banyak yang belum baca komik ini. Nah, kalau sudah membacanya, silahkan berdebat, tapi jangan ajak-ajak saya.

***

whyBab tentang Mencintai Sejenis itu menampilkan dialog antara Komji, salah satu karakter dalam komik Why?, dengan ibunya. Digambarkan bahwa ada beberapa istilah yang tidak dipahami dan disalahpahami oleh Komji, lalu dijelaskan oleh ibunya.

Ceritanya, saat itu Komji mengadu sambil menangis ke ibunya. Di sekolah dia diledek oleh sekelompok teman-teman sekolahnya yang menyebalkan hanya karena bergandengan tangan dengan teman perempuannya. “Aku dan Si Nia bergandengan tangan,” kata Komji. “Lalu anak-anak cowok mengejek kami lesbian.”

Ibunya menjelaskan bahwa kata ‘lesbi’ itu bukanlah ledekan, melainkan istilah yang menunjuk perempuan yang mencintai sesama perempuan. “Kamu terlalu berprasangka….” kata ibunya.

Lalu, terjadilah dialog berikut ini:

“Misalnya kamu pendek dan buruk rupa, lalu orang-orang mengejekmu. Bagaimana perasaanmu?” Tanya ibu Komji.

“Pasti sebal sekali!” Tandas Komji.

“Bayangkan, kamu memperkenalkan pacarmu ke teman-temanmu, lalu mereka berkomentar kurang baik. Lalu apa pendapatmu?” Ibunya bertanya lagi.

“Yang menyukainya kan aku, mereka nggak usah ribut!” Komji menjawab lagi dengan gemas.

“Nah, membayangkan saja sudah sebal, kan?” Sekali lagi ibunya bertanya.

“Ya, rasanya sangat terhina!” Komji makin gemas.

“Justru itu!” Ibunya mulai menjelaskan. “Cinta terhadap seseorang itu tidak bisa dipaksakan. Itu ditentukan oleh hati. Setiap orang punya hak untuk mencintai dan dicintai, dan bila mereka mencintai sesama jenis, itu adalah pilihan mereka. Jika boleh memilih, tentu saja mereka ingin memilih mencintai lawan jenis.”

Lalu muncullah sebuah pertanyaan yang saya tunggu. Pertanyaan ini keluar dari mulut Komji: “Apa orang yang mencintai sesama jenis itu sakit jiwa?”

Jawaban ibunya tidak secara langsung berupa yes or no. Ibunya menjawab begini, “Di dunia ini jauh lebih banyak orang mencintai lawan jenis kelamin. Jadi mencintai sesama jenis kelamin jadi tampak spesial.”

***

Topik pembicaraan tentang gay dan lesbian terpotong di situ, sebab berikutnya adalah pembicaraan tentang kekeliruan anggapan umum bahwa mencintai sesama jenis menyebabkan terjangkit AIDS. Nanti, setelah serba-serbi AIDS, akan ada pembicaraan mengenai transgender.

Komji bertanya apakah transgender juga homoseksual. Ibunya menjawab bahwa itu adalah dua hal berbeda.

Ibu Komji menjelaskan lebih lanjut bahwa “manusia lahir sebagai wanita atau pria. Tetapi ada orang yang merasa jenis kelamin tubuhnya tidak sama dengan jenis kelamin jiwanya, mereka disebut transgender.”

“Oh? Untung aku nggak pernah memikirkannya. Aku nggak mau….” Belum selesai kata-kata Komji, ibunya langsung menimpali:

“Karena kamu menerima jenis kelaminmu secara alami. Kadang-kadang kita masing-masing menyadari kita perempuan atau laki-laki. Kamu kan juga senang orang lain bilang kamu cantik. Itu berarti kamu mengaku sendiri bahwa kamu perempuan.”

Ibunya menambahkan, “Masalah ini agak sulit kamu pahami. Transgender adalah suatu kondisi di mana seseorang merasa tidak nyaman dengan kondisi fisiknya.”

“Apa yang terjadi jika mereka jatuh cinta?” Tanya Komji.

“Terjadi apa? Ya, seperti orang mencintai orang saja.” Jawab Ibunya. “Jika seorang transgender dengan jiwa perempuan mencintai seorang laki-laki, itu wajar-wajar saja, bukan?”

“Betul juga! Mengejek orang lain karena dia berbeda dari aku itu kelakuan buruk.” Komji tiba-tiba menyadari sesuatu.

“Anakku memang baik hati dan pintar.” Kata ibunya. “Itu masalah besar menilai orang tanpa mengetahui masalah mereka.”[]

Tasawuf [2]

PERMULAAN PERKEMBANGAN HIDUP KEROHANIAN
(ABAD KE-1 DAN 2 H. ATAU KE-7 DAN 8 M.)

I
Maraknya kemegahan dalam masyarakat Islam. Nabi dan para sahabat utama telah mencontohkan bahwa hidup kerohanian itu tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Segala warna kehidupan keseharian telah mereka pandang dari segi hidup kerohanian. Meski kekuasaan mereka sangat besar, dengan jaminan harta benda yang melimpah, namun semua itu tidak sedikit mata mereka terpukau, dan tetap menjalani hidup serba sederhana. Semua itu mewarnai perjuangan mereka untuk menegakkan Islam.

Namun seiring persebaran kekuasaan Islam, datang pula kekayaan yang melimpah. Hal ini tidak bisa dielakkan dalam setiap masyarakat. Orang-orang yang dahulu hidup serba sederhana dalam memperjuangkan Islam, kali ini telah menjadi bergelimang harta, seperti Utsmân ibn ‘Affân, Sa‘îb ibn ‘Âsh, Zubair ibn ‘Awwâm, ‘Abd ar-Rahmân ibn ‘Auf, dan lain-lain.

Hal ini sudah diperingatkan oleh Nabi Muhammad sendiri menjelang beliau meninggal dunia. Nabi memperingatkan bahwa umat muslim akan saling berkelahi, saling memusuhi dan terpecah-belah. Meski jumlahnya akan semakin banyak, mereka akan hancur-lebur laksana hancur-leburnya kayu dimakan rayap. Apa sebabnya? “Sebabnya ialah karena katika itu hatimu telah terpaut kepada dunia dan kamu telah takut menghadapi maut!” Kata Nabi. Di kesempatan lain Nabi menyatakan, “Harta benda dan kemegahan, pangkat dan kebesaran akan menimbulkan fitnah di antara kalian.”

Fitnah yang maha hebat itu ternyata benar-benar terjadi. Mu‘âwiyah adalah contoh paling nyata ketika dia menjadi gubernur di Syâm. Dia terpaksa mempraktekkan sistem kepemimpinan seperti kaisar romawi dan mahadiraja Persia berikut etiket dan protokolnya. Itu jelas bertentangan dengan contoh hidup Nabi dan dua khalifah pertama. Alasan Mu‘âwiyah pun sulit ditolak: untuk menjaga martabat seorang gubernur dalam menghadapi bangsa-bangsa lain.

Akibat banyaknya pertunjukan kemewahan dan kemegahan penguasa itu, banyaklah sahabat yang mengundurkan diri dari pergolakan itu. Di antara yang memutuskan demikian adalah ‘Abdullâh ibn ‘Umar dan Abû Dzarr al-Ghifârî. Jika yang pertama mundur dengan diam-diam, Abû Dzarr melakukan penentangan terbuka terhadap penguasa pengumbar kemewahan itu. Bagi Abâ Dzarr, ini tidak bisa dibiarkan karena hidup serba mewah adalah pengenduran sari ketulusan beragama. Ayat Alquran dalam At-Taubah: 36 adalah pegangan Abû Dzarr dalam sikap protesnya:

~ Orang-orang yang mengumpulkan harta-benda, emas dan perak, dan tidak dinafkahkannya pada jalan Allah, beri ancamanlah mereka dengan azab siksa yang pedih.

Sikap protes Abû Dzarr ini dianggap residivis oleh Mu‘âwiyah, sehingga Abû Dzarr ditahan lalu dipulangkan di Madinah. Setelah itu, Khalifah Utsmân mengasingkan Abû Dzarr ke sebuah dusun bernama Ribzah.

Semakin bertambah kemegahan dan kemewahan di kalangan penguasa, berikut pemberantasannya pada para pemprotes, semakin bertambah pula para sahabat yang mengundurkan diri dari hiruk-pikuk kekuasaan. Orang-orang yang menjalani hidup zuhud semakin bertambah banyak.

Orang lain setelah Abû Dzarr yang sangat terkenal menjalani kehidupan zuhud adalah Sa‘îd ibn Jubair. Sa‘îd ibn Jubair hidup pada masa kekhalifahan Abd al-Mâlik ibn Marwân dan sangat keras memprotes penguasa masa itu. Kerasnya protes yang dia lancarkan menyebabkannya harus berurusan dengan Hajjâj ibn Yûsuf, gubernur Irak yang gigih membela kekhalifahan Islam namun juga dikenal sangat kejam. Sa‘îd dituduh menganut aliran Khawârij, sehingga Hajjâj memenggalnya pada tahun 95 H./706 M.

Di masa kekuasaan Hârûn al-Rasyîd kehidupan kekhalifahan sudah tak ada bedanya dengan langgam kemahadirajaan Persia. Khalifah tak ubahnya seperti wakil Tuhan di bumi. Harta-benda melimpah-limbah di istana dan suka dihambur-hamburkan pada penggubah syair memuji memuja baginda. Dia antara penyair itu adalah Abû Nawas dan Basysyâr ibn Burd. Gaya hidup foya-foya makin menjadi-jadi.

Demikianlah gambaran kehidupan abad pertama dan kedua masyarakat Islam. Keadaan ini memunculkan ahli-ahli kerohanian yang besar-besar, yang berani menjalani hidup zuhud, seperti Hasan al-Bashrî, Fudlail ibn ‘Iyâdl, Sufyân ats-Tsaurî, Ibn as-Samâk, Rabî‘ah al-‘Adawiyah, Mâlik ibn Anas, Abd al-‘Atâhiah dan lain-lain.

Kaum Khawârij dan Syî‘ah juga menentang kehidupan monarkis kerajaan, menjadi oposisi dan menjalani hidup zuhud, namun motif dua golongan ini bercampur politik, yakni bertujuan merebut kekuasaan dari khalifah yang sedang berkuasa saat itu.

Orang-orang orang-yang disebut di atas itu dikenal dengan sebutan nussâk, zuhhâd atau ‘ubbâd. Waktu itu belum ada sebutan sufi atau mutashawwif untuk orang-orang yang menjalani hidup kerohanian. Kehidupan zuhud itu muncul dengan sendirinya, berkat membaca Alquran, tafakur, samadi, dan membaca beberapa hadis, mencontoh perbuatan sahabat-sahabat utama dan pengaruh keadaan sekeliling. Selepas abad kedua dan masuk abad ketiga, barulah perilaku itu menjadi ilmu tersusun dengan beberapa metode tertentu.

Tasawuf [1]

Berikut ini adalah resume buku Tasawuf karya Buya Hamka. Karena hasil resumenya lumayan panjang, terpaksa diterbitkan dalam beberapa seri. Semoga bermanfaat.

FONDASI TASAWUF

I
Munculnya Tasawuf adalah sesuatu yang bisa dimengerti dengan sederhana, sebab ia adalah bagian dari usaha manusia untuk menyelesaikan persoalan hidupnya, yaitu menyelami aspek rohani atau spiritual dari dirinya.

Persoalan ini juga merasuki jaman terkini dari perjalanan hidup manusia. Jaman ini telah ditandai dengan hidup serba kebendaan. Kemajuan, peradaban, kebudayaan dan segenap segi hidup di jaman sekarang telah dipengaruhi oleh kebendaan belaka. Namun setelah itu timbul perasaan tidak puas dengan kemajuan hidup kebendaan ini. semata-mata hidup kebendaan ternyata hanya menimbulkan rasa benci dan dengki sesama manusia. Memperturutkan hidup kebendaan saja telah menimbulkan kejemuan besar. Sekarang mulai timbul sanggahan (reaksi) kepada kehidupan benda demikian itu.

Menyelami hidup rohani dari segi ilmu pengetahuan tidaklah kurang indah dan hebatnya daripada segi-segi lain. Hidup rohani akan mempertinggi nilai. Di sanalah tersimpan rahasia-rahasia dari kebenaran, kebaikan dan keindahan. Simpulan dari ketiganya itulah yang menjadi pikiran tertinggi, menjadi ideal dari peri kemanusiaan.

Dalam setiap jaman terdapat para ulama, zahid atau pendeta yang tidak peduli pada pengaruh benda dan hidup benda yang pada hakikatnya fana belaka. Mereka telah mengibarkan bendera hidup kerohanian.

Teladan hidup kerohanian dalam Islam adalah Nabi Muhammad. Di samping beliau sebagai seorang rasul, pendiri negara, kepala perang dan ahli siasat, terdapat lagi kehidupan yang menjadi sendir dari semua itu, yaitu hidup kerohanian.

Hidup [kerohanian] seperti itulah yang diingini oleh peri kemanusiaan di hari ini, baik di Barat atau di Timur. Dan orang insyaflah sudah, baik di Barat atau di Timur, bahwasanya kesenangan perasaan bukanlah rupanya pada kemewahan, bukanlah pada melepaskan dahaga nafsu belaka.

II
Yang dimaksud hidup kerohanian itu ialah perjuangan manusia dalam dirinya sendiri dalam mencapai kesempurnaan. Menurut penyelidikan ahli dan juga berdasarkan kepada pengalaman kita sehari-hari dalam diri kita, memang ada perjuangan yang amat hebat di antara keinginan akan kesucian dari gangguan-gangguan hawa nafsu. Hidup dalam kerohanian ialah ikhtiar mengalahkan gangguan hawa nafsu itu sehingga tercapai kemajuan yang sempurna yang dinamai oleh sufi Abd al-Karîm al-Jîlî [dengan] Al-Insân al-Kâmil.

Lain daripada itu yang dituju dengan hidup kerohanian ialah penuh keinsyafan akan alam. Banyak ayat-ayat dalam Alquran yang menganjurkan renungan atas alam (kosmos) itu. Dengan menunjukkan perhatian atas alam, nampaklah kindahan cipta dari pembentukan alam, yaitu Al-Khâliq.

Apabila hidup kerohanian telah menjadi kerinduan, dengan sendirinya nilai kebendaan yang ada ini tidaklah tinggi lagi pada pandangannya. Dia memunyai pandangan tersendiri tentang arti kaya atau miskin, tinggi atau rendah, mahligai atau gubuk.

Maka jika terdapat pada kaum muslim, yang mula-mula hidup kerohaniannya hanya semata-mata kendali jiwa menempuh hidup mencari keridaan Allah, supaya jangan terpedaya oleh kebendaan, jadilah hidup kerohanian itu menjadi satu alat untuk mencapai satu tujuan yang lebih murni, bahkan lebih hebat dan mendalam, yaitu hendak menilik wajah Allah, dan hendak menyaksikan keindahan yang azali. Kemudian, tujuan hendak menilik wajah Allah itu tidak dirasa memuaskan lagi. Orang [itu] meningkan yang lebih tinggi lagi, ia ingin sampai pada maqâm yang lebih tinggi lagi, yaitu “fana-diri” (meniadakan diri) dan bersatu dengan Tuhan (ittihâd) dengan melakukan berbagai-bagai mujâhadah (perjuangan batin) dan riyâdlah (latihan). Sejak itu timbullah bentuk hidup kerohanian dengan melalui tata (sistem) atau falsafah keagamaan yang bertiang pada urusan-urusan jiwa semata.

Itulah yang dikenal dengan Tasawuf.

Alhasil hidup kerohanian itulah yang menjadi pokok pertama bagi orang Muslim di dalam memandang segala soal yang berliku-liku dan berbelit-belit dalam kehidupan dunia fana ini.