Istikharah

Jika seseorang menghadapi persoalan pelik dan sulit dipecahkan, Kanjeng Nabi menganjurkan dua jalan: musyawarah atau istikharah. Lâ khâb man istakhâr wa lâ nadam man istasyâr, sabda beliau. Tidak akan kecewa orang yang istikharah, dan tak akan menyesal orang yang bermusyarah.

Di antara semua persoalan yang dihadapi manusia, terdapat persoalan yang sifatnya musti melibatkan orang banyak untuk diselesaikan. Menyelesaikan persoalan demikian dengan keputusan sepihak bahkan bisa dianggap egois. Musyawarah adalah jalan paling jitu untuk menyelesaikannya.

Selain itu, terdapat persoalan yang sangat pribadi, yang kerap sulit dibagikan atau diceritakan kepada orang lain. Persoalan semacam ini tidak bisa tidak hanya bisa dicarikan jalan keluarnya melalui istikharah. Inilah keuntungan jalan keluar yang dianjurkan Kanjeng Nabi ini. ia mencakup dua dimensi manusia, dimensi sosial dan dimensi private.

Musyawarah dilakukan dengan berbagai cara, tergantung kultur yang berlaku. Yang pasti musyawarah melibatkan tindakan komunikasi. Jadi, nanti ada etikanya, ada strateginya, ada evaluasinya, ada menejemennya, dan tetek-bengek lainnya.

Adapun istikharah lain. Tata caranya dituntun langsung oleh Kanjeng Nabi.

***

Yang paling umum dikenal, istikharah dilakukan dengan salat. Biasanya disebut salat istikharah. Setelah melakukan salat, langsung dilanjutkan dengan membaca doa tertentu.

Kanjeng Nabi bersabda: idzâ hamm ahadukum bi amr falyarka‘ rak‘atain min ghair al-farîdlah wa yaqra’ fîhâ bimâ syâ’. Jika kalian menginginkan sesuatu, salatlah dua rakaat selain salat wajib, dan bacalah surat apapun yang kalian kehendaki.

Dengan demikian, salat istikharah ialah salat sunah. Surat yang dibaca dalam salat ini juga terserah, tidak ditentukan oleh kanjeng Nabi. Para ulama berijtihad perihal surat-surat ini. ada yang membaca surat Yâsîn yang dibagi jadi dua, separuh dibaca di rakaat pertama, sisanya di rakaat kedua. Ada sebagian ulama yang memilih ayat Kursî di rakaat pertama, di rakaat kedua membaca ayat-ayat akhir dari surat Al-Baqarah. Yang paling mudah adalah bacaan surat Al-Kâfirûn di rakaat pertama, surat Al-Ikhlâsh di rakaat kedua.

Setelah salat ini dilakukan, dilanjutkan dengan membaca doa. Doanya lumayan panjang, jadi berdoa sambil baca teks juga boleh.

اللهم إنّي أستخيرك بعلمك و أستقدرك بقدرتك و أسألك من فضلك العظيم فإنّك تقدر و لا أقدر و تغلم و لا أعلم و أنت علّام الغيوب , اللهمّ إن كنت تعلم أن هذا الامر خير لي في ديني و معاشي و عاقبة أمري فاقدره لي و يسّرلي ثمّ بارك لي فيه , و إن كنت تعلم أنّ هذا الامر شرّ لي في ديني و معاشي و عاقبة امري فاصرفه عنّي و اصرفني عنه و اقدر لي الخير حيث كان و رضّني به.

Dianjurkan agar salat istikharah dilakukan tepat sebelum mau tidur. Bukan apa-apa, sebab biasanya petunjuk datang melalui mimpi. Dalam kepercayaan umat Muslim, sebagaimana juga diajarkan oleh Kanjeng Nabi, mimpi adalah media yang menghubungkan manusia dengan alam gaib, termasuk di antaranya adalah petunjuk-petunjuk langsung dari Tuhan. Bila mimpi tak kunjung datang, petunjuk biasanya datang begitu saja melalui media-media lain yang kita tak bisa prediksikan berupa apa ia.

***

Ternyata, tata cara istikharah tidak sekedar salat saja. Ada beberapa cara lain yang Kanjeng Nabi ajarkan dan mekanismenya lebih sederhana.

Contohnya adalah model Ibn ‘Abbâs. Suatu hari Kanjeng Nabi berkata padanya: “Ibn ‘Abbâs, kalau kamu mau sesuatu maka beristikharahlah kepada Tuhanmu, lalu perhatikan apa yang terlintas di hatimu. Yang telintas di hatimu, itulah petunjuk dari Tuhan!” Jadi tidak perlu petunjuk melalui mimpi.

Abû Hurairah punya mekanisme lain. Doa yang dia bacakan sangat pendek. Hanya berupa “Allâhumm khir lî wa-khtar lî.” Hanya itu saja.

Yang cukup spektakuler adalah model ‘Alî ibn Abî Thâlib. Dia beristikharah dengan Alquran. Caranya mirip dengan ramalan I-Ching dalam tradisi Tionghoa. Kalau ramalan I-Ching adalah dengan membuka kitab itu secara acak, lalu halaman apapun yang terbuka adalah cermin dari takdir yang harus seseorang jalani, maka istikharah model ‘Alî ibn Abî Thâlib adalah dengan membuka kitab Alquran secara acak lalu baris ketujuh dari halaman sebelah kanan akan menggambarkan petunjukkan yang harus seseorang terima.[]

Seven Years in Tibet

Seven_Years_in_Tibet_coverIni adalah bocoran dari salah seorang kawan yang saya akui piawai merangkai cerita. Hal-hal yang sering tidak jadi perhatian kebanyakan orang sanggup dia cermati lalu dia olah menjadi cerita versinya sendiri. Kelakuannya merangkai cerita ini seringkali berhasil menyedot ketertarikan kami, kawan-kawannya sehari-hari.

Menurutnya, agar sebuah cerita menjadi meyakinkan, terdapat banyak strategi yang bisa dipakai. Dia mencontohkan beberapa film yang menurutnya berhasil membangun cerita dengan bagus. Ada banyak film yang dia sebutkan dengan tipe bercerita masing-masing.

Salah satunya dia menyebut film Seven Years in Tibet. Menurutnya, film ini berhasil membangun cerita yang menarik sebab ceritanya bertingkat. Film ini mengangkat problematika individu, lalu melibatkannya dalam konteks peristiwa besar yang kemungkinan besar akan dikenal oleh para penontonnya. Saat cerita individu itu bergeser ke konteks peristiwa besar, harus terdapat plot yang menjadikan pergeseran itu menjadi masuk akal dan tampak lumrah. Kunci keberhasilannya sebetulnya terdapat di dalam plot itu. Lalu ketika film ini hendak menyelesaikan konflik, bukan peristiwa besar itu yang diselesaikan, melainkan kembali ke cerita individu yang sejak awal menanggung problem. Akhirnya adalah bagaimana individu itu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.

Saya langsung memburu film tersebut. Dan syukur puji Tuhan, alhamdulillahi rabbil alamin, saya berhasil menontonnya.

***

Seperti kawan saya itu bilang, film ini sebetulnya cerita tentang Heinrich Harrer (Brad Pitt) dengan problem pribadinya. Harrer adalah seorang pendaki yang namanya sudah tersiar di media-media sebab kemampuannya menginjakkan kaki di beberapa puncak gunung terekstrem di Eropa. Talentanya ini membuatnya menjadi selebriti di Eropa selama masa kekuasaan Nazi di Jerman.

Namun, meski dia dipuji-puji di media-media, namun kehidupan rumah tangganya sedang di ujung tanduk. Istrinya, Inggrid (Ingeborga Dapkūnaitė), sedang hamil. Kehamilannya tidak diinginkan oleh Harrer. Alasannya mungkin karena Harrer dan Inggrid belum ingin punya anak. Namun apa daya, anak itu tetap muncul di rahim Inggrid. Dan kenyataan itu memantik pertengkaran-pertengkaran yang sebetulnya tak perlu terjadi antara keduanya.

Untuk menghindar neraka rumah tangganya itu, Harrer memutuskan untuk mendaki di tempat yang sangat jauh: Himalaya. Keputusannya ini terdengar oleh media, sehingga keberangkatannya menarik wartawan dari mana-mana. Berita bahwa Harrer akan mendaki Himalaya tersiar ke mana-mana.

Demikianlah, Harrer menghindar dari kemelut rumah tangganya dengan mendaki Himalaya.

Namun gagal. Karena cuaca yang sangat buruk, rombongan pendaki itu terpaksa turun ke pos yang aman. Setelah badai salju yang mengerikan itu berhenti mereka bisa melanjutkan lagi. Dan penantian berhentinya badai salju itu berlangsung cukup lama, rupanya.

Tepat menjelang Harrer dan rombongan hendak mendaki lagi, mereka dicegat oleh tentara Polandia. Polandia saat itu adalah salah satu lawan Jerman. Karena saat itu ternyata Jerman kalah dari sekutu, Harrer ditangkap dan rombongan pendaki dipenjara di sebuah kamp di perbatasan Himalaya dan Bangladesh.

Di situlah Harrer tinggal selama bertahun-tahun. Dari balik kawat kamp, Harrer berusaha menghubungi istrinya melalui surat. Namun, selalu mendapat balasan dingin dari Istrinya. Akhirnya, dia mendapat surat dari istrinya bahwa dia telah menikah dengan lelaki lain yang sangat Harrer kenal. Dia juga dapat surat dari anaknya, menyatakan bahwa Harrer tak pantas jadi ayahnya. Dua surat terakhir ini membuat Harrer sangat terpukul. Dia frustasi.

Beberapa saat kemudian, Harrer dan rombongan pendaki Himalaya berhasil lolos dari kamp itu berkat sebuah penyamaran yang konyol. Dari rombongan itu, Harrer memutuskan menyeberangi Himalaya menuju Cina sebab pulang ke rumahnya di Austria sudah bukan lagi obsesinya. Di Cina mungkin dia bisa memulai hidup serba baru.

Pegunungan Himalaya adalah wilayah maha luas. Bahkan perkiraan seorang ahli pun, jika bukan penduduk asli, bisa saja menyesatkan. Di tengah perjalanan, Harrer berjumpa salah seorang rombongan pendaki yang tersesat. Dialah Peter Aufschnaiter (David Thewlis) yang kemudian memutuskan berangkat ke Cina bersama Harrer menembus pegunungan Himalaya.

Perjalanan tak menentu itu malah membawa Harrer dan Aufschnaiter ke Lhasa, tempat suci di mana Dalai Lama ke-12 (Jamyang jamtsho Wangchuk) tinggal. Biasanya, orang asing akan diusir dari tempat suci itu. Namun mereka berdua beruntung, sebab Dalai Lama malah memperkenankan mereka untuk tinggal di Lhasa. Harrer bahkan kemudian menjadi guru pribadi sang Lama.

Di sinilah hubungan cerita pribadi Harrer dengan peristiwa besar itu dimulai: Lhasa dan Dalai Lama ke-12.

Beberapa saat sebelum Harrer dan Aufschnaiter memasuki Lhasa, Tibet baru saja mengangkat seorang Dalai Lama baru. Sosok Lama adalah jabatan spiritual tertinggi yang akan menitis ke seseorang di setiap generasi.  Dalai Lama baru ini adalah seorang bocah yang harus belajar banyak hal. Bocah ini memang serba ingin tahu. Perkenalannya terhadap Harrer dan Aufschnaiter di Lhasa adalah agar mereka bisa mengajarkan banyak hal kepadanya.

Uniknya, Harrerlah yang dia undang ke istana Dalai Lama dan dia minta secara pribadi untuk mengajarinya semua hal. Dalai Lama belajar bahasa Eropa, geografi, kebudayaan Eropa, teknologi dan lain-lain. Karena serba ingin tahu, Dalai Lama juga sering sekali bertanya tentang apapun kepada Harrer. Bagi Dalai Lama, Harrer adalah guru yang memberinya banyak wawasan.

Sementara bagi Harrer, bisa melayani bocah luar biasa itu sebagai guru adalah sebuah karunia. Hubungan antara dirinya dangan sang Lama bukan sekedar hubungan guru-murid atau pelayan-tuan. Lebih dari itu, mereka berdua sudah seperti teman paling akrab. Dengan Harrer, Dalai Lama bisa berdiri sederajat. Sebaliknya dengan Dalai Lama, Harrer serasa menemukan sosok anak yang bisa dia didik setelah dia tersisih dari hati anaknya di Austria.

Secara tak sengaja, Harrer merasa mendapati bahwa lobang-lobang di hatinya tertutupi dengan persahabatannya dengan Dalai Lama. Kenyataan ini Harrer sadari justru karena Dalai Lama cilik itu mengingatkannya.

Lama-kelamaan, setelah bertahun-tahun tinggal di Lhasa, Harrer mendapati bahwa tempat suci itu sedang terancam oleh ekspansi Cina yang komunis dan sedang bangkit. Kebangkitan negara tetangga itu justru menjadi agresif, dan kemudian menganeksasi Tibet sebagai bagian dari negaranya. Inilah peristiwa besar itu, yang sangat terkenal dalam sejarah.

Sebelum agresivitas Cina mulai brutal, Harrer berpamitan akan pulang ke negara asalnya, Austria. Persahabatannya dengan Dalai Lama cilik yang bijaksana membangkitkan keberaniannya untuk kembali ke kampung halaman.

Di Austria, dia mengunjungi bekas istrinya agar bisa bertemu dengan anaknya yang rupanya diberi nama Rolf. Anaknya bersembunyi di balik tembok kamar, agar tak terlihat oleh Harrer. Namun itu tidak masalah bagi Harrer. Dia membawa hadiah untuk anak lelakinya yang baru saat itu dia berusaha temui. Hadiah itu adalah sebuah kotak yang jika dibuka akan mengeluar suara musik. Kota semacam itu juga sangan disukai oleh Dalai Lama kecil. Sembari mengintip dari balik pintu, Harrer melihat Rolf membuka kotak itu dan mendengarkan suaranya dengan antusias, persis seperti Dalai Lama juga mendengarkan dengan antusiasme yang sama.

Pemandangan itu menjembarkan hati Harrer. Perasaan lega itu sungguh sebuah keajaiban, sebuah pelepasan dari beban perasaan bersalah yang dia tanggung bertahun-tahun.

***

Saya mendapat kesan, film hasil arahan Jean-Jacques Annaud ini juga bercerita tentang perjumpaan dua budaya. Barat diwakili oleh sosok Harrer dan Timur diwakili oleh Lhasa berikut semua penduduknya.

Saat Dalai Lama belajar banyak dari Harrer, sebetulnya dia sedang berdialog dengan sebuah kebudayaan Barat.

Saat Dalai Lama meminta Harrer untuk membangunkan untuknya sebuah gedung bioskop, para biksu yang sedang menggali tanah untuk fondasi komat-kamit karena melihat beberapa ekor cacing bergeliat-geliat di tanah. Harrer heran, apa-apaan orang-orang ini kok ketakutan seperti akan datang sebuah bencana? Harrer lantas mengadu kepada Dalai Lama. Dalai Lama menjelaskan konsep karma kepadanya. “Tapi itu cuma seekor cacing,” kata Harrer keheranan. “Semua kehidupan adalah hasil reinkarnasi,” Dalai Lama menjelaskan. “Para biksu itu menganggap, bisa jadi cacing-cacing itu adalah inkarnasi dari orang tua mereka.” Mau tidak mau, Harrer harus mengerti juga mengenai kebudayaan Timur ini.

Di adegan lain, terdapat dialog menarik mengenai perjumpaan kebudayaan ini.

Karena Harrer dan Aufschnaiter disambut baik di tanah suci Lhasa, mereka didatangi seorang penjahit terbaik di Lhasa untuk membuatkan mereka setelan. Penjahit itu adalah seorang perempuan cantik bernama Kungo Tsarong (Mako) yang pintar berbahasa Eropa. Menemukan perempuan cantik, dua orang asing itu beraksi tebar pesona untuk menarik perhatian si penjahit.

Beda antara Harrer dan Aufschnaiter, Harrer adalah tipikal lelaki yang agresif dan berusaha menunjukkan prestasi-prestasinya di hadapan perempuan itu. Aufschnaiter sebaliknya, kalem dan lebih rendah hati.

Suatu hari, Harrer menunjukkan pada Kungo Tsarong foto-foto kliping Koran yang menunjukkan dirinya dipuji-puji. Tentu saja Harrer hendak unjuk diri. Tapi  Kungo Tsarong malah berkomentar begini: “Jadi inilah perbedaan mendasar antara peradaban kami dengan punyamu. Kau [orang Barat] menghargai seseorang yang berusaha keras meraih puncak di setiap jalan kehidupan, sedangkan kami [orang Timur] menghargai orang yang melepas egonya. Kebanyakan orang Tibet tidak akan memercayai dirinya melalui jalan seperti ini.”

Di akhir kompetisi merebut hati Kungo Tsarong itu, bisa ditebak, Aufschnaiter yang kalem dan rendah hatilah pemenangnya. Lelaki itu mewakili gaya ‘melepas ego’ tipikal orang-orang Tibet. Aufschnaiter dan Kungo Tsarong akhirnya menikah.

Lebih dari itu, Aufschnaiter betul-betul menjadi manusia Tibet dengan segenap tradisi kunonya. Saat Harrer berpamitan ke rumah temannya itu, Aufschnaiter dan Kungo Tsarong menjamunya dengan minuman teh keju. Menurut tatakrama setempat, mereka harus meneguknya sekali langsung habis. Tapi setelah itu Aufschnaiter menuang lagi minuman itu ke gelas Harrer. Harrer langsung menolak keramahan sahabatnya itu, sebab teh keju masih terasa asing di tenggorokannya. Tapi Harrer salah sangka, tuangan teh keju kedua itu bukan untuk dia minum. Aufschnaiter sedang mempraktekkan tradisi kuno di Tibet. “Secangkir teh segar dituangkan untuk yang dicintai yang akan pergi. [Tapi] ini [harus] tetap ditempatnya tak tersentuh, menunggu dia kembali,” kata Aufschnaiter, menjelaskan. Sebuah kehangatan persahabatan khas Tibet yang masih belum Harrer mengerti.

Perjumpaan antara dua kebudayaan itu digambarkan dengan sangat bagus: penuh kejutan tapi hangat, sarat makna tapi sekaligus mengundang tawa. Bumbu semacam ini sangat penting dalam menyusun sebuah cerita. Bumbu ini tampaknya belum diceritakan oleh kawan saya yang mahir bercerita itu.

***

Di ujung cerita, Harrer dan Rolf mendaki bersama-sama di sebuah gunung yang tertutup salju. Mereka berdua berhasil mencapai puncak. Namun kali ini tanpa publikasi, tanpa hiruk-pikuk media. Harrer telah berhasil mengendalikan egonya berkat perjumpaannya dengan kebudayaan Timur. Namun bukan berarti Harrer tercerabut dari kebudayaannya sendiri. Mendaki ke puncak gunung seakan menegaskan bahwa Harrer masih tetap menghargai puncak pencapaian kehidupan. Harrer masih tetap manusia Barat, namun dengan kendali ego yang lebih mantap.

Di puncak itu dia duduk dengan tatapan kosong, seakan berusahan menembus pemandangan di depannya hingga ke Tibet. Bersamaan dengan itu, muncul tulisan yang menjelaskan keadaan Tibet setelah aneksasi Cina.

Sejuta orang Tibet meninggal akibat pendudukan Cina. Enam ratus kuil dihancurkan. Tahun 1959, Dalai Lama dipaksa mengungsi ke India. Dia tetap hidup hingga sekarang, berusaha mempromosikan resolusi damai dengan Cina. Tahun 1989, dia dianugerahi nobel perdamaian. Heinrich Harrer dan Dalai Lama tetap bersahabat hingga sekarang.[]

A Separation (Jodái-e Náder az Simin)

A_SeparationFilm ini seperti dibikin untuk sebuah pesan yang sangat terang-benderang: hindari talak!

Di dunia Barat, di mana institusi pernikahan tidak begitu sakral di benak hampir setiap orang, talak adalah sesuatu yang biasa. Tak ada yang perlu disesali dalam putusnya hubungan suami-istri. Asalkan masa depan anaknya tidak terlantar, pendidikannya bisa tetap dilanjutkan, talak bisa dilakukan kapanpun, bahkan dengan alasan yang paling sepele dan tak masuk akal sekalipun.

Namun di dunia Timur, termasuk di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, talak adalah petaka. Dalam Islam, talak adalah suatu kebolehan yang paling Tuhan benci (abghadl al-mubâh ilâ-llâh ath-thalâq). Artinya, secara fikih, hukum talak memang mubâh (pelakunya tidak berdosa atau pun dapat pahala), tapi meskipun begitu talak sebisa-bisanya dihindari, sebab memang Tuhan amat tak suka tindakan ini.

Film arahan Ashgar Farhadi ini membawa gagasan di atas ke dalam sebuah cerita berlatar Iran yang sangat menarik. Lebih dari itu, film ini memperruncing gagasan itu menjadi sebuah cerita bahwa talak itu menghancurkan kehidupan orang banyak. Talak tidak hanya memisahkan hubungan suci antaran seorang suami dan seorang istri, melainkan melibatkan kehidupan orang-orang yang bahkan tidak secara langsung berhubungan dengan ikatan suci itu.

Alkisah, Simin (Laela Hatami) menuntut ke pengadilan agar bisa talak dengan suaminya, Nader (Peyman Moaadi). Sekedar selingan, dalam Islam putusan talak hanya bisa dilakukan oleh suami. Namun, seorang istri bisa menuntut talak dengan cara mengajukannya kepada pengadilan, asalkan suaminya merestui tuntutan itu atau sang hakim memenuhi tuntutan itu tanpa persetujuan suami, talak bisa diputuskan. Ini disebut fasakh dalam istilah fikih.

Alasan kenapa Simin mengajukan tuntutan talak sebetulnya sepele. Simin mendapat beasiswa untuk studi ke luar negeri. Dia mengajak suami dan putrinya agar ikut tinggal di luar negeri. Namun Nader menolak ajakan itu karena ayahnya yang menderita penyakit Alzheimer tinggal sendirian di rumahnya. Siapa yang akan mengurusnya kalau semuanya pergi ke luar negeri. Penolakan Nader terhadap ajakan Simin ini menyeret mereka pada tuntutan talak di pengadilan. Sepele sekali, bukan?

Karena talak itulah lantas bencana demi bencana mendera banyak orang. Orang pertama yang paling merasakan derita talak itu tentu saja putri mereka, Termeh (Sarina Farhadi). Termeh adalah anak yang sangat penurut dan tak banyak bicara. Dia sedang sekolah di tingkat mengengah. Termeh memutuskan untuk tetap tinggal di rumah ayahnya agar ibunya mau mengurungkan tuntutannya ke pengadilan. Memang, Simin dan Nader setelah tuntutan talak kerap bertengkar mengenai siapa yang akan mengasuh anaknya yang cantik itu.

Orang lain yang kemudian akan menanggung penderitaan adalah Razieh (Sareh Bayat). Razieh adalah perempuan dari kalangan miskin. Dia melamar pekerjaan yang dia ketahui melalui surat kabar sebagai perawat ayah Nader setelah Simin meninggalkan rumah itu. Razieh sedang hamil, dan kemana-mana selalu membawa anak perempuannya, Somayeh (Kimia Hosseini).

Suatu hari, Razieh dituduh oleh Nader telah mencuri uangnya. Razieh dipecat dan diusir dari rumah itu. Namun Razieh menolak tuduhan itu dan memaksa Nader agar menarik ucapannya. Karena kesal, Nader mendorong Razieh ke luar rumah sehingga membuatnya terjatuh di tangga rumah. Dia dan Somayeh pulang sambil menangis.

Besoknya, Nader mendengar kabar bahwa Razieh dirawat di rumah sakit karena kadungannya keguguran. Kabar ini Nader dengar dari Simin yang ditelepon oleh suami Razieh, yakni Hodjat (Shahab Hosseini). Sejak inilah cerita menjadi rumit dan penuh tanda tanya, sebab Hodjat dan Razieh menuntut Nader ke pengadilan dengan tuduhan pembunuhan anak dalam rahim Razieh. Penonton jadi bertanya-tanya mengenai banyak hal. Betulkan Nader yang telah menyebabkan Razieh keguguran? Betulkan Razieh telah mencuri uang dari rumah Nader?

Hodjat, suami Razieh, adalah pengangguran yang terlilit hutang banyak. Dia sedang ditagih-tagih oleh para penghutangnya. Jika tuntutan pembunuhan itu berhasil, dia akan meminta ganti rugi sejumlah uang untuk menutup hutang-hutangnya. Jadi, apakah nanti tuntutannya nanti akan berhasil?

Perihal Termeh, putri semata wayang Simin dan Nader, bagaimana nasibnya nanti jika tuntutan fasakh itu benar-benar kejadian? Selama ini, Termeh tetap bertahan di rumah ayahnya agar tujuannya mempersatukan kedua orang tuanya tercapai. Tapi karena kasus tuntutan Razieh, ayah dan ibunya jadi makin sering bertengkar.

Semua pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benak penonton hingga akan terjawab sebagian di akhir film. Jawabannya akan mengarah pada satu kesimpulan: betapa talak itu adalah sebuah petaka yang menghancurkan kehidupan banyak orang.

Film ini seakan hendak mengingatkan penonton betapa pernikahan itu adalah sebuah ikatan suci. Sekali sebuah upaya memutuskan ikatan itu dengan alasan yang remeh-temeh dilakukan, bencanalah yang akan muncul. Ajaran dalam Islam dengan kultur masyarakat Iran mewarnai film ini dengan sangat kental, membentuk sebuah cerita yang sangat menarik.

Satu lagi yang sempat saya perhatikan dari film ini, tidak ada musik latar dalam film ini. Sama sekali tidak ada! Seorang teman pernah bercerita bahwa dia pernah menonton film Prancis yang juga tidak ada musik latarnya, dan dia mengalami rasa bosan yang luar biasa. Tapi sebaliknya, saya menonton film ini dengan cukup bergairah meskipun tanpa musik latar, sebab film ini memang bagus. Kenapa tidak ada musik pengiring dalam film ini? Wallâhu a‘lam, saya tidak tahu pasti. Bisa jadi, mengingat nuansa relijius yang cukup kental dalam film ini, para pembuat film ini menganut paham fikih yang mengharamkan musik, sehingga menghapus suara musik di keseluruhan film ini. Namun rasanya spekulasi itu kurang menjawab pertanyaan di atas.[]

Catatan: salah seorang sepupu saya yang ambil studi hukum Islam pernah bercerita bahwa dia pernah kerja lapangan di pengadilan agama setempat. Katanya, tuntutan talak dari sepasang suami-istri luar biasa banyak. Setiap hari selalu ada saja yang datang menuntut putusan talak. Alasannya pun bermacam-macam. Sepupu saya itu lalu mengatakan sebuah ironi: kenyataan kerap tak seideal ajaran agama.

Intouchables

Sudah banyak sekali film tentang persahabatan, namun masih jarang yang dikemas dengan sangat menarik. Intouchables ini tergolong yang jarang itu.

Film ini berkisah tentang persahabatan antara Philippe dan Driss. Persahabatan ini begitu unik, namun sangat mudah dijelaskan sebetulnya. Hanya saja, kenapa film ini kemudian segitu bagus ditonton, sebab ada jalinan cerita yang terangkai dengan sangat rapi, sehingga terdapat titik di mana penonton kontan berpikir semacam: “Oh! Iya betul!”

Philippe adalah seseorang yang luar biasa kaya, namun badannya lumpuh total. Yang bisa dia lakukan hanyalah bicara. Sisanya dia andalkan pada seabrek pembantu yang menguruskan segala yang dia perlukan. Kondisi lumpuh Philippe adalah akibat kecelakaan yang menimpanya dan istrinya. Akibat kecelakaan itu pula istrinya meninggal sebelum melahirkan anak.

Perhatikan karakter Philippe dalam film ini. Meski dia luar biasa kaya raya, namun dirinya amat rapuh. Perjumpaannya dengan seseorang yang menguatkan sisi rapuhnya akan menjadi cerita yang sangat menarik.

Orang itu adalah Driss, tentu saja. Driss adalah keturunan imigran asal Algeria. Di Prancis, keturunan imigran ini menempati posisi yang sulit. Biasanya mereka miskin dan biang kriminalitas. Driss memang miskin, tapi bukan pelaku kriminal. Dia pengangguran dan berpembawaan agak ugal-ugalan. Karena pengangguran itulah dia melamar di rumah Philippe sebagai supir. Dan karena pembawaannya yang ugal-ugalan, dia meninggalkan kesan lucu di benak Philippe sehingga dia diterima di situ.

Dua orang ini ternyata bisa saling mengisi satu sama lain. Philippe, hidup dengan tubuh yang lumpuh, akhirnya bisa mendapatkan gairah baru menjalani kehidupannya. Atas pengaruh Driss, dia bisa ngebut-ngebut di jalanan dengan mobilnya yang mewah. Dia menghisap sigaret yang Driss sodorkan. Dia juga berkenalan dengan perempuan yang kelak akan menjadi ibu dari dua anaknya. Semua itu berkat Driss.

Driss pun begitu. Berkat persahabatannya dengan Philippe, dia bisa berkenalan dengan kesenian tinggi dan musik kelas atas. Driss juga belajar melukis yang kelak terjual mahal berkat promosi Philippe. Karena sudah menabung, Driss akhirnya diterima kembali oleh keluarganya.

Di akhir film diceritakan bahwa persahabatan itu masih tak lekang hingga kini.

Catatan: Ternyata film ini sulit juga diulas….

The Legend of Korra II

Kembali, saya berhasil mendapat lanjutan serial kartun The Legend of Korra. Serial kartun ini adalah lanjutan dari Avatar Aang yang keren gila itu. Korra adalah titisan Avatar setelah Aang.

Serial ini sudah sampai ke bagian kedua, yang disebut dengan Book II The Spirit. Kalau di Book I ceritanya berkisar soal perkenalan dengan Korra, si Avatar baru, dan kiprahnya di Republic, kota metropolitan yang dibangun oleh Aang dewasa, maka di Book II ini ceritanya beralih ke kisah Avatar Korra dengan lebih mendalam lagi, lebih menarik lagi.

Alkisah, Korra masih kesulitan menguasai Avatar state. Kesulitan ini membuat Korra dan pembimbingnya, Tenzin, menjadi sangat tertekan. Mereka memutuskan untuk berlibur ke Negeri Air, kampung halaman Korra dan tempat istri mendiang Aang, Katara, tinggal.

Bersamaan dengan liburan mereka di Negara Air, muncul kekacauan karena terdapat sebuah roh yang mengamuk di sana. Ini aneh! Setelah hubungan alam manusia dan alam roh damai-damai saja, kenapa tiba-tiba ada banyak roh yang mengganggu dan menyakiti manusia? Tak bisa lain, pasti ada yang tidak beres.

Di sisi lain, terdapat perang sipil antara Negara Air utara dan selatan. Perang ini melibatkan keluarga Korra, sebab kepala suku selatan adalah ayah Korra, sedangkan kepala suku utara adalah pamannya. Jika tidak segera diselesaikan, perang sipil ini akan merembet ke negara-negara lain, tak terkecuali Republic.

Ada pula cerita-cerita lain di serial ini yang menambah daya tariknya sebagai sebuah film, seperti kehidupan pribadi Korra, dalang di balik perang sipil, kehidupan keluarga Aang, Tim Avatar yang terdiri dari teman-teman Korra dan hewan peliharaannya, dan banyak lagi. Saya masih mendapat kesan bahwa film ini digarap dengan sangat serius, seserius serial Avatar Aang.

***

Dari 12 episode film serial kartun ini, yang paling membuat saya terkesan adalah dua episode yang bercerita tentang Wan, si Avatar pertama. Dua episode ini dikasih judul Beginning I dan II.

Saat itu, ceritanya, Korra tidak sadarkan diri akibat serangan roh jahat di laut. Dia terdampar di sebuah pantai. Beberapa biksu Negara Api menemukannya, namun Korra ternyata mengalami insomnia. Dia lupa “siapa dirinya” (sebuah pertanyaan paling mendasar dalam ilmu kejiwaan). Ini terjadi karena aura jahat tengah mengjangkiti Korra

Pemimpin para biksu itu memutuskan agar Korra dibenamkan dalam air suci di bawah kuil mereka. Dalam kondisi pingsan, Korra ‘melihat’ cerita Wan, orang pertama yang mendapat Avatar state. Avatar state inilah yang kemudian terus menitis kepada orang-orang yang dianggap tepat, termasuk Aang dan Korra.

Dari cerita Wan inilah kita selaku penonton tahu bagaimana sebetulnya semangat awal munculnya takdir Avatar. Avatar berkaitan erat dengan perang abadi antara kejahatan dan kebaikan, antara gelap dan terang. Avatar juga mirip penciptaan awal manusia, di mana iblis dan malaikat terkait erat dengannya.

Penonton juga akan bertemu kembali dengan Singa Kura-kura (turtle lion, makhluk mitis dalam kepercayaan Hindu yang berkepala singa dan bertubuh kura-kura). Dalam kisah awal semesta, manusia dipercaya tinggal di atas punggung Singa Kura-kura, sedangkan bumi didiami oleh para roh. Terdapat empat Singa Kura-kura, yang di punggungnya tinggal manusia dan sedang mereka lindungi. Empat Singa Kura-kura ini mewakili empat elemen dasar. Manusia yang hendak keluar dari punggung mereka dibekali dengan kekuatan elemen, dengan kekuatan inilah manusia bisa menguasai dan mengendalikan elemen tersebut. Lalu jika manusia itu kembali ke punggung si Singa Kura-kura, dia akan mencabut kekuatan itu. Begitu seterusnya.

Wan adalah lelaki bengal yang kerjanya adalah mencuri untuk teman-temannya yang miskin dan tersingkirkan. Tempat tinggalnya adalah punggung cangkang Singa Kura-kura Api. Karena suatu kesalahan yang tak termaafkan, dia diusir dari punggung Singa Kura-kura itu dan terpaksa menjelajah ke hutan yang didiami oleh para roh. Belum ada yang bisa selamat tinggal di hutan. Namun, sebelum dia undur diri, dia memohon kepada Singa Kura-kura agar kekuatan apinya tidak dicabut. Permintaannya dipenuhi.

Ternyata, Wan berhasil tinggal lama di hutan. Bahkan dia berhasil bersahabat dengan roh-roh penghuni hutan. Dari para roh ini Wan belajar jurus-jurus mengendalikan kekuatan api. Dari mereka pulalah Wan mendapat informasi bahwa terdapat Singa Kura-kura lain di belahan dunia lain. Artinya, terdapat kekuatan lain selain api.

Di tengah perjalanan, dia bertemu Raava dan Vaatu yang sedang berperang sengit. Raava dan Vaatu adalah representasi kebaikan dan kejahatan. Atas bujukan Vaatu, Wan membuat kesalahan dan memisahkan keduanya.

Raava menyalahkan Wan dan memberitahunya apa akibat dari tindakannya itu. Tidak main-main, akibatnya adalah kehancuran dunia. Mengetahui hal ini, Wan meminta Raava memberinya kesempatan untuk bertangung jawab. Dia mengajak Raava berkeliling untuk bertemu para Singa Kura-kura untuk memberinya kekuatan elemen dasar. Setelah mendapat semua kekuatan itu, Raava mengajari Wan mengendalikannya. Agar semua kekuatan itu bisa terkumpul dalam tubuh Wan, Raava harus memasuki tubuh Wan, namun tidak untuk waktu yang lama sebab jika terlalu lama Wan bisa meninggal.

Saat pertarungan dengan Vaatu di gerbang alam rohlah kemudian takdir itu terpenuhi. Wan dan Raava terhubung secara permanen. Hubungan inilah yang disebut ‘the Avatar state’, keadaan Avatar. Berkat kekuatan ini, Wan berhasil mengurung Vaatu yang jahat di dalam sebuah pohon (pohon apakah ini tidak disebutkan di film ini. Saya teringat pada pohon kebijaksanaan dalam ajaran Zen).

Saat kejahatan sudah terkurung apakah cerita Avatar sudah selesai? Tidak. Ada dua hal yang perlu diceritakan di sini, yakni fungsi Avatar dan perannya di dunia.

Dikisahkan, Wan kemudian memisahkan dunia roh dan dunia manusia. Roh-roh yang sebelumnya tinggal di hutan diajak masuk ke alamnya oleh Wan, lalu gerbang penghubung dua dunia itu dia tutup. Wan adalah penghubung antara dunia roh dan manusia.

Karena hutan sudah steril dari para roh, tugas para Singa Kura-kura untuk menjaga manusia sudah berakhir. Dia membiarkan manusia meninggalkan punggungnya dengan dibekali kekuatan masing-masing elemen dasar, hingga manusia membuat negaranya masing-masing.

Namun manusia yang terpetak-petak dalam beberapa negara ini malah berperang satu sama lain. Kejahatan memang sudah Wan kurung, namun hati manusia masih menyimpan kejahatan yang jauh lebih dahsyat. Tugas Wan selanjutnya adalah menjaga harmoni di kalangan manusia ini, menjaga kedamaian satu sama lain.

Cerita Wan ditutup dengan sebuah ending yang ironis, namun menarik. Digambarkan bahwa Wan sudah sangat tua, terbaring dengan baju zirahnya, bersiap-siap menyambut maut. Dia meminta maaf kepada Raava karena tidak sanggup menjaga kedamaian di kalangan manusia. “Maafkan aku karena gagal memadamkan kejahatan dari hati manusia,” katanya.

Raava menjawab menenangkan. Sebagai manusia Wan bisa mati sebelum kedamaian tercapai, namun di setiap generasi akan lahir Avatar-Avatar baru yang akan melanjutkan tugasnya. Avatar akan selalu menitis pada generasi selanjutnya. Inilah alasan adanya sang Avatar!

***

Setelah Book II ini, The Legend of Korra akan dilanjutkan dengan bagian serial selanjutnya: Book III The Change. Bagaimana ceritanya, saya masih menunggunya dengan sangat antusias.[]

Sang Negosiator

[Judul: Sang Negosiator #1 | Pengarang: Frederick Forsyth | Penerbit: Gramedia | Tahun Terbit: 1993 | ISBN: 9795116908]

Pengantarnya gila-gilaan. Pembaca diajak berjumpa dengan para petinggi negara Amerika Serikat, Uni Soviyet dan Inggris, baik dari sipil maupun militer. Rusia dan Amerika hendak melucuti senjata masing-masing dan mengurangi anggaran meliter yang sangat besar. Namun tentu saja ada penentang kebijakan itu.

Di pihak Uni Soviyet, terdapat kekhawatiran kekurangan persediaan minyak bumi. Persediaan mereka hanya tersisa untuk paling tidak tujuh tahun mendatang. Di pihak Amerika, para pengusaha senjata tentu saja tidak ingin barang dagangannya defisit. Perjanjian ini mengurangi anggara militer dalam jumlah besar, tentu anggaran untuk proyek inovasi senjata juga merosot tajam.

Maka, mulailah sebuah konspirasi untuk menggagalkan rencana kebijakan dua negera tersebut.

Dengan latar belakang seperti ini, pembaca butuh waktu lama untuk bertemu Sang Negosiator. Baru di halaman 186-lah pembaca mengetahui siapa itu si juru runding, yaitu saat Simon Cormack, putra semata wayang Presiden Amerika, diculik oleh segerombolan penculik profesional untuk ditukar dengan sejumlah uang.

Berikutnya adalah negosiasi Quinn, sang negosiator, dengan pemimpin penculik Simon yang menyebut dirinya Zack. Negosiasi dilakukan melalui telepon. Mereka berdua bersiasat, berperang urat saraf, menekan satu sama lain. Negosiasi ini dibikin alot sehingga menghabiskan sebagian besar cerita dalam novel ini. negosiasi berakhir hingga bab kesepuluh.

Akhir negosiasi ternyata mengejutkan. Pembaca dibikin bersemangat kembali setelah lelah membaca proses negosiasi yang berlarut-larut. Simon dibunuh oleh Zack dengan cara yang tak terduga, di saat hampir berhasil diselamatkan (hlm. 431).

Terbunuhnya Simon adalah kegagalan sekaligus penghinaan bagi Quinn. Maka, dengan penuh amarah dan dendam, Quinn pun mencari penculik dan pembunuh jahanam itu.

Di tempat lain, hasil autopsi terhadap jasad Simon menunjukkan kesimpulan yang mengejutkan. Ternyata Simon dibunuh dengan bom yang diletakkan di ikat pinggang yang dia kenakan. Tubuhnya terbelah menjadi dua, atas-bawah. Dari mana asal bom itu? Berdasarkan hasil autopsi yang sangat seksama, tak terbantahkan bahwa bahan-bahan bom rakitan itu adalah buatan Uni Soviyet.

Dengan demikian, inilah cara kerja konspirasi itu: konspirasi untuk menggagalkan perjanjian antara Amerika dan Uni Soviyet.

Bagaimana sang negosiator mengejar orang-orang yang dia buru? Akankah Quinn bisa menghentikan konspirasi itu? Sekuel novel ini akan bercerita.[]