The Physician (Der Medicus)

der

[Judul: Der Medicus | Rilis: Desember 2013 | Pengarah: Philipp Stölzl]

Seorang anak yatim, Robert Cole (Adam Wright dan Tom Payne), sangat terobsesi mempelajari ilmu medis. Kematian ibunya akibat penyakit yang misterius meninggalkan trauma mendalam di jiwanya.

Obsesinya ini kemudian membawanya untuk hidup bersama dengan seorang Tukang Cukur (Stellan Skarsgård) yang pembual. Si Tukang Cukur berkeliling daratan Inggris membuka pengobatan bodong; mencabut gigi dengan tang, menjual obat minuman air kencing kuda, amputasi dengan pisau dapur, dan hal-hal bualan lain.

Robert akhirnya sadar, si Tukang Cukur hanya bajingan pembual yang membohongi khalayak dengan pengobatannya untuk mengeruk laba. Buktinya, si Tukang Cukur tidak mampu mengobati katarak di matanya.

Robert akhirnya membawa si Tukang Cukur ke tabib Yahudi yang dia dengar punya kemampuan mengobati mata. Di situ, di klinik tabib Yahudi itu, Robert melihat keajaiban ilmu pengobatan yang tak pernah dia temui di Inggris sepanjang hidupnya. Keajaiban semacam itu malah dianggap ilmu sihir oleh masyarakat Kristiani Eropa saat itu.

Robert penasaran, bagaimana para tabib itu melakukannya? Ilmu macam apa yang sedang mereka kuasai? Di mana mereka mempelajarinya? Obsesinya membara kembali.

Setelah Robert bertanya, para tabib itu menjawab bahwa mereka mempelajarinya di sebuah negeri yang sangat jauh: Isfahan. Di situ ada seorang guru agung bernama Ibn Sina (Ben Kingsley). Di Isfahan, Ibn Sina bahkan punya dua “istana”, yaitu istana tempatnya mengajar dan tempatnya mengobati berbagai penyakit.

Robert akhirnya berangkat menuju Isfahan. Di perjalanan dia menyamar sebagai pemuda Yahudi bernama Jesse bin Benyamin, sebab dia dengar di negeri itu penganut Kristiani dilarang.

Sesampainya di Isfahan, Robert berhasil berjumpa Ibn Sina dengan proses yang tidak mudah. Bersama beberapa pemuda lain, akhirnya dia diterima sebagai murid Ibn Sina untuk belajar hikmah. Memang, saat itu para dokter disebut sebagai hakîm atau thabîb.

Isfahan adalah kota yang saat ini terletak di negara Iran. Saat itu, yaitu ketika Ibn Sina berada di sana, negeri itu dipimpin oleh ‘Alâ’ ad-Daulah Muhammad (Olivier Martines) dari Bani Kâkûyah . Bani Kâkûyah adalah salah satu imperium lokal yang berkuasa secara otonom di bawah Dinasti Abbasiyah. Penguasa otonom ini disebut sebagai ‘sultan’.

Di film itu digambarkan bahwa Isfahan adalah sebuah kota yang kosmopolit. Penguasanya melindungi beberapa komunitas agama hidup berdampingan di situ. Penganut Yahudi, Kristen hingga Zoroastrian pun ada di situ. Murid-murid Ibn Sina pun digambarkan terdiri dari beragam agama. Itulah kenapa Robert yang menyamar sebagai pemuda Yahudi bisa diterima sebagai muridnya.

Di situ juga terdapat sekelompok masyarakat yang taat beragama namun, pada saat bersamaan, anti terhadap keragaman masyarakat. Mereka terdiri para mullah dan fukaha yang bahkan anti terhadap filsafat. Mereka digambarkan sangat kaku, tidak toleran, dan penuh amarah murka.

Kaum agamawan ini kemudian bersekutu dengan bangsa Seljuk yang ekspansionis, lawan politik Bani Kâkûyah. Perang antara bangsa Seljuk dan sultan Isfahan akhirnya dimenangkan oleh bangsa Seljuk. Sejak saat itu, kemegahan ilmu pengetahuan di Isfahan berakhir dan Ibn Sina meninggal di situ.

Di ujung kehancuran kerajaan Isfahan, diceritakan dengan dramatis bagaimana Ibn Sina menyerahkan bukunya (mungkin bukunya yang terkenal, Al-Qânûn fî ath-Thibb) kepada Robert Cole sebelum dia melarikan diri. Ibn Sina meminta agar Robert mengembangkannya dan mengoreksinya di kemudian hari.

Sekembalinya ke Eropa, Robert benar-benar membuat rumah sakitnya sendiri. Sebuah rumah sakit yang merawat pasiennya “bahkan dengan menyediakan tempat tidur yang nyaman.”

***

Film ini mengisahkan elegi kehancuran peradaban Islam dan perpindahannya ke Eropa.

Masyarakat Eropa-Kristen digambarkan sebagai sebuah masyarakat yang sangat primitif di bidang ilmu pengobatan. Sebaliknya, masyarakat Arab-Islam mengalami kemajuan luar biasa sebab saat itu filsafat (ingat, ilmu kedokteran saat itu adalah cabang ilmu filsafat!) dipelajari dengan antusias.

Tokoh-tokoh yang terlibat dalam film ini seolah menyimbolkan kecenderungan masyarakat dalam proses kehancuran peradaban Islam itu dan perpindahannya ke Eropa. Si Tukang Cukur adalah simbol kebanyakan masyarakat Eropa yang primitif dan bodoh tapi tidak mau belajar kepada bangsa lain yang lebih maju. Sebaliknya, Robert Cole adalah simbol segelintir orang Eropa yang punya keterbukaan untuk belajar dan tak puas dengan kondisi masyarakatnya yang terbelakang. Lalu, Ibn Sina dan ‘Alâ’ ad-Daulah menyimbolkan sisa masyarakat Arab maju dan berkuasa yang sedang rentan kehilangan generasi penerus, sebuah masyarakat di ambang kehancuran. Sedangkan para mullah dan fukaha menyimbolkan mereka yang menjadi biang dekadensi masyarakat meskipun mengatasnamakan agama Islam.

Lantas bagaimana dengan kaum Yahudi? Mereka, tak pelak lagi, adalah kaum perantara yang, meskipun tidak secara langsung namun perannya tak bisa diabaikan, menjembatani kepindahan peradaban dari Arab ke Eropa.

Simbol-simbol yang terdapat dalam tiap-tiap tokoh ini mengingatkan kita pada film Agora yang mengisahkan filsuf perempuan Hypathia. Di film Agora juga digambarkan bagaimana peradaban Hellenisme hancur selama-lamanya di Alexandria akibat penguasaan kaum Kristen. Singkatnya, justru agamawanlah yang menjadi biang kerok keruntuhan peradaban besar.

Pembaca boleh setuju boleh pula tidak mengenai hal ini. Tapi di film The Physician ini tidak akan bisa dihindari pesan tersirat semacam itu.

***

Film ini diangkat dari sebuah novel yang berjudul yang sama. Novel ini ditulis oleh Noah Gordon. Penulis ini dikenal mengarang novel-novel bertema sejarah medis dan etika medis.

Muncul pertanyaan menggelitik, apakah novelnya lebih bagus ketimbang filmnya? Sebab saya agak sangsi mengenai kecocokan sejarah di film ini. Ada banyak hal yang janggal.

Tentang kematian Ibn Sina, misalnya. Gambaran di film ini betul-betul kacau. Adegan seperti itu tidak akan ditemukan di buku sejarah manapun. Sejarawan menceritakan bahwa kematian Ibn Sina adalah akibat penyakit yang dideritanya saat perjalanan ke Hamadân. Di situlah jenazahnya dikebumikan pada tahun 1037 M.

Demikian pula soal kematian ‘Alâ’ ad-Daulah, tidak benar bahwa kematiannya adalah akibat perang di depan gerbang kota Isfahan. Buku sejarah tidak bercerita begitu.

Pertanyaan apakah novelnya lebih bagus ketimbang filmnya tentu saja akan menggelitik benak saya. Beberapa film yang diangkat dari novel saya baca novelnya. Kebanyakan memang novelnya jauh lebih menarik ketimbang filmnya.

Ada baiknya, saya berburu novelnya untuk dibaca nanti.[]

Imbalan Bahagia

Sekitar lima hari ini, cuaca Jogja jadi aneh. Terus-terusan mendung siang-malam dan seringkali turun hujan. Selama lima hari ini tidak ada sinar matahari. Mendung selalu menutupi.

Bisa dibayangkan, betapa tidak enak cuaca begitu. Dinginnya minta ampun. Selain itu, cuaca begitu cuma bikin kita kepengen di dalam kamar saja, malas beraktivitas atau sekadar menongkrong di luar.

Dan perihal hujan, mulailah teman-teman berkicau di media sosial. Ada yang baca doa hujan, ada yang mengumpat-umpat sembari meratapi nasib karena gagal berkegiatan di luar, ada yang bersyukur karen hujan ini tak lain adalah kurnia tak terkira.

Temanku lain lagi ceritanya. Bagi dia, hujan yang kerap turun akhir-akhir ini petaka yang bikin gemas-gemas geram. Maklum, setiap sore dia menjual tempe goreng di Gajah Mada Boulevard hingga sehabis maghrib. Hujan itu petaka penghambat rejekinya.

Tapi tak ada gunanya memaki-maki hujan. Tak bisa jualan, aktivitasnya kali ini adalah berburu takjilan. Masjid yang menyediakan menu takjil paling top (sayangnya, tidak etis kalau saya sebut di sini) adalah sasarannya. Hitung-hitung untuk menunggu cuaca lebih kondusif lagi buat jualan.

Saya pernah sekali bertandang ke lokasi dia berjualan. Luar biasa, lokasi itu betul-betul ramai, memang lokasi pas buat berjualan. Orang-orang menjual beragam menu buka puasa di pinggiran jalan Gajah Mada Boulevard. Saya betul-betul maklum kenapa dia jengkel dengan cuaca yang mengganggu pundi rejekinya itu.

Tadi dia bercerita bahwa kemarin dia bisa jualan sebab hujan tidak turun di sore hari. Dengan gembira dia cerita betapa jualannya laris-manis hingga ludes tanpa bekas. “Rupane diganteni karo gusti, bung,” katanya. Menurutnya, kerugian karena hujan di hari-hari sebelumnya diganti setimpal oleh Tuhan dengan jualannya yang ludes kemarin. Dia sangat senang rupanya.

Saya ikut senang juga sebetulnya bahwa dia kemarin bisa jualan lagi dan berhasil habis. Hanya saja yang mengejutkan saya, dia mengaitkan pengalaman jualannya kemarin itu dengan imbalan Tuhan atas kerugiannya. Saya bertanya-tanya, begitukah Tuhan mengalirkan rejeki kepada hambanya?

Dalam benak saya, bahwa dia berhasil menjual habis tempe gorengnya bisa dijelaskan secara rasional. Para pembeli di tempatnya jualan bisa membeludak kemarin karena, sama seperti temanku itu, mereka di hari-hari sebelumnya tidak bisa datang ke situ akibat hujan. Jadi gayung bersambut, saat hujan tak lagi turun kemarin, mereka bisa datang berduyun-duyun bersamaan dengan temanku menjual tempe goreng di sana. Kesempatan mereka membeli barang jualannya jadi lebih banyak kan, sebab mereka yang datang ke situ memang jumlahnya lebih banyak ketimbang biasanya.

Tampaknya, inilah bedanya pengamat (saya) dengan pelaku (temanu penjual tempe). Bagi dia, pengalaman menjual tempe hingga habis ludes itu membahagiakan, sehingga kalau dijelaskan secara rasional justru akan menghilangkan sisi bahagia darinya. Penjelasan rasional hanya membikin pengalamannya itu kering.

Sedang bagiku, ada baiknya membiarkan dia bahagia dengan pengalamannya. Sebab dengan begitu dia dapat dua imbalan sekaligus: ganti rugi duit dan kebahagian.[]

Mengenal Ibn Sînâ bersama Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd

11004726

Beberapa waktu lalu saya mengulas buku Mahmud ‘Abbâs al-‘Aqqâd tetang Ibn Rusyd. Kali ini, bukunya yang lain akan saya ulas, yakni bukunya tentang Ibn Sînâ. Kalau dilihat secara kronologis, mestinya buku ini saya ulas terlebih dahulu sebab Ibn Sînâ hidup 300 tahun lebih awal ketimbang Ibn Rusyd, namun karena strategi Al-‘Aqqâd dalam menjelaskan pemikiran dua filsuf itu berbeda, jadi tak jadi soal mengulas buku ini belakangan.

Jadi, bagaimana strategi Mahmud ‘Abbâs al-‘Aqqâd menjelaskan pemikiran Ibn Sînâ?

1. Mahmud ‘Abbâs al-‘Aqqâd melacak situasi historis ketika Ibn Sînâ hidup, baik itu dari segi politik, budaya dan ekonomi.

2. Kehidupan pribadi Ibn Sînâ disorot dengan cukup rinci. Siapa guru-gurunya, bagaimana kehidupan sehari-harinya, bagaimana keterlibatannya dengan politik kesultanan Samaniah di Khurasan, apa saja karya-karyanya, semuanya dijelaskan oleh Al-‘Aqqâd dalam bukunya ini.

3. Al-‘Aqqâd melacak beberapa filsuf sejak filsuf era Yunani hingga filsuf Arab yang berpengaruh terhadap bangunan pemikiran filosofis Ibn Sînâ. Dalam melakukan hal ini, Al-‘Aqqâd hanya membatasi pada empat persoalan semata, yakni persoalan al-‘âlam, an-nafs, asy-syarr dan hurriyah al-insân. Ketika sampai kepada penjelasan Ibn Sînâ, empat persoalan ini adalah perhatian utama Al-‘Aqqâd. Namun kemudian, Al-‘Aqqâd menambah beberapa segi pemikiran lain dari Ibn Sînâ yang cukup penting, seperti segi kedokteran dan kesusastraan.

4. Tak lupa, tentu saja, pengaruh dan sumbangan Ibn Sînâ terhadap dunia Islam sesudahnya atau pun terhadap peradaban Eropa.

Dengan demikiran, Al-‘Aqqâd berusaha terlebih dahulu problem-problem filosofis yang menjadi pertanyaan pelik di kalangan para filsuf. Sejak mula, para filsuf telah mengerahkan segala daya mereka untuk menemukan jawaban yang memuaskan. Lalu, Al-‘Aqqâd menjelaskan bagaimana Ibn Sînâ berusaha pula menjawab problem-problem itu.

Dari persoalan di bidang al-‘âlam, muncul problem-problem berikut: bagaimana alam semesta ini muncul? Apakah muncul setelah ketiadaan? Dengan kata lain, apakah alam itu hâdits? Jika alam itu ada setelah ketiadaan, di manakah tempatnya ketidaan itu bersama Tuhan, padahal wujud-Nya serba meliputi?
Apakah kehendak Tuhan yang memutuskan ke-hudûts-an alam itu hâdits ataukah qadîm?
Perihal kekuasaan Tuhan yang serba maha dan tak terbatas, apakah itu berarti Dia kuasa terhadap hal-hal mustahil? Lalu, dari manakah datangnya kemustahilan itu? Dari kehendak Tuhan ataukah dari proses natural saja?

Dalam persoalan an-nafs (jiwa), muncul pertanyaan-pertanyaan berikut: apakah jiwa itu substansi abstrak (jauhar mujarrad) ataukah, sebaliknya, suatu jasad/tubuh? Jika jawabannya adalah yang pertama, maka bagaimana jiwa mengatur dan mengendalikan tubuh, serta di manakah aksidensinya? Kapan jiwa memasuki sebuah janin? Kemana jiwa itu setelah berpisah dari tubuh? Apakah jiwa seorang anak adalah bagian dari jiwa orang tuanya ataukah jiwa tersendiri yang sudah ada kekal tanpa awal atau akhir?
Jika jawabannya yang kedua, apa bedanya jiwa dengan benda-benda jasadi lain? Apakah dia akan musnah seperti jasad-jasad lainnya?

Lalu, persoalan asy-syarr (keburukan) adalah begini: bagaimana keburukan itu muncul di dunia ini seiring pengertiannya yang bermacam-macam? Jika dunia ini berasal dari wujud Tuhan, bagaimana bisa muncul keburukan yang bertentangan dengan wujudnya yang serba suci? Jika alam ini muncul dari ketiadaan, bagaimana bisa ketiadaan melahirkan sesuatu yang bernama keburukan itu?
Apakah keburukan itu benar-benar ada ataukah tidak?

Dan terakhir, problem hurriyah al-insân (kebebasan manusia) adalah bidang filosofis yang tidak murni. Artinya, problem ini muncul berkaitan dengan pemikiran keagamaan yang meyakini adanya siksa-pahala surgawi.
Siksa dan pahala diakui keberadaannya oleh semua agama. Karena itu, para filsuf-beragama bertanya bagaimana nasib manusia setelah memiliki kebebasan bertindak? Apakah kebebasan itu berlaku dalam tindakan baik atau buruk sesuai kehendak manusia? Apakah orang yang kehidupannya tercipta adalah seorang yang bebas dalam melakukan tindakannya dalam hidup? Jika tindakan-tindakannya adalah pemberian sebagaimana hidupnya adalah pemberian, bagaimana dia berhak mendapat siksa atau ganjaran kelak?
Adil adalah salah satu sifat Tuhan. Problem kebebasan manusia dalam filsafat agama adalah upaya menyinambungkan keadilan Tuhan dengan siksa-ganjaran di akhirat kelak atau di dunia-akhirat.

Semua persoalan di atas juga dihadapi oleh Ibn Sînâ. Kebesarannya dalam bidang filsafat, tidak diragukan lagi, adalah yang terbaik di generasinya, sehingga jawaban itu semua merupakan jawaban yang khas Ibn Sînâ.

***

Menurut Al-‘Aqqâd, Ibn Sînâ itu mirip Al-Fârâbî dalam hal harmonisasi filsafat dan agama, mirip Porphirius dan Aphrodisias dalam hal simbol-simbol mistis, mirip Aristoteles dalam hal pemikiran logika dan mirip Plato dalam kecenderungan seni.

Di salah satu bagian dari bukunya ini, terdapat bagian mengenai ‘aqîdah al-failasûf (akidah sang filsuf). Di bagian ini Al-‘Aqqâd memberikan penilaian khusus tentang ajaran Ibn Sînâ dalam hubungannya dengan ajaran agama. Dengan penjelasan ini Al-‘Aqqâd hendak menjawab persoalan apakah dengan pemikiran filosofisnya Ibn Sînâ telah melenceng dari ajaran Islam ataukah tidak.

Al-‘Aqqâd tidak meragukan sedikit pun bahwa Ibn Sînâ tergolong orang-orang yang beriman kepada Tuhan dan para Nabi, karena pada prinsipnya pandangan filosofisnya tidak bertentangan dengan agama. Bahkan dengan pemikiran filosofisnya, Ibn Sînâ mendorong agar agama semakin kokoh. Hal ini terlihat, misalnya, dari pandangannya tentang kenabian.

Kenabian bagi Ibn Sînâ adalah “fungsi tak terelakkan” (al-wadzîfah al-hayawiyah) dalam struktur masyarakat. Kebutuhan masyarakat akan seorang nabi melebih kebutuhan mereka atas “tumbuhnya bulu di kulit kepala atau alis”; keduanya perlu dipotong, sedangkan kenabian musti selalu ada sepanjang waktu.

Salah satu yang tak terelakkan dari kenabian adalah komunikasi yang bisa dipahami oleh lawan bicaranya, an yukhâthib an-nâs ‘alâ qadr ‘uqûlihim. Apa-apa yang hendak disampaikan nabi kepada umatnya, berupa hal-hal gaib dan peristiwa-peristiwa ukhrawi, harus tersampaikan dengan baik. Tak ada gunanya jika para nabi itu berkhutbah panjang lebar jika umatnya tidak mengerti sama sekali.

Di antara bukti keimanan Ibn Sînâ, demikian Al-‘Aqqâd, adalah kenyataan bahwa dia juga salat dan berdoa. Bahkan terkadang Ibn Sînâ bersedekah sebagai sebentuk syukur karena dia telah berhasil memahami persoalan filsafat yang sangat sulit.

Ibn Sînâ juga tidak memutus relasi antara Tuhan dan manusia serta antara jiwa dan jasad. Dia mengakui bahwa pengaruh jiwa terhadap benda-benda adalah tidak mustahil. Oleh karena itu dia mengakui kemungkinan kemampuan seorang ‘ârif melakukan sesuatu yang ajaib dan di luar hukum alam (khâriq al-‘âdah). Namun Ibn Sînâ segera memperingatkan agar tidak buru-buru menilai ketika bertemu peristiwa-peristwa ajaib semacam itu. Katanya, tawaqqaf wa lâ ta‘jal fa’inna li’amtsâl hâdzih asbâb fî asrâr ath-thabî‘ah, diamlah dan jangan buru-buru (membenarkan atau menyangkalnya) karena yang demikian itu punya sebab-sebab tersendiri dalam rahasia alam.

Selain ini ada beberapa hal lain yang dipaparkan oleh Al-‘Aqqâd perihal keyakinan Ibn Sînâ.

***

Kitabnya, Al-Qânûn, telah menjadi rujukan terpenting bagi siapapun yang hendak belajar ilmu kedokteran. Ini diakui oleh siapapun.

Yang cukup mengejutkan, Al-‘Aqqâd menceritakan bagaimana proses Ibn Sînâ mempelajari cabang ilmu ini. Cerita ini dituturkan berdasarkan pengakuan Ibn Sînâ sendiri.

tabib

Luar biasa, bukan?[]

Mengenal Ibn Rusyd bersama Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd

7884128

Inilah buku yang bisa dibilang sebagai buku yang cukup komprehensif membicarakan Ibn Rusyd. Bisa dimaklumi, penulisnya, Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd, dikenal sebagai filsuf dan penyair di negaranya. Bacaannya mengenai filsafat berikut sejarahnya tentu cukup memadai untuk bicara tentang Ibn Rusyd.

Buku ini mengulas Ibn Rusyd dari segi konteks jaman ketika dia hidup, biografi, pengaruhnya baik di negara-negara Arab maupun di Eropa, dan beberapa pemikirannya dengan mengutip beberapa buku-bukunya di berbagai bidang.

Yang menarik adalah bab ketiga, yakni ketika dibahas pengaruh Ibn Rusyd di Arab atau Eropa—dan inilah salah satu sumbangan buku ini, menurut saya. Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd membuat beberapa analisis menarik yang memberiku informasi-informasi baru. Buku-buku lain tentang Ibn Rusyd yang pernah kubaca tampaknya belum mengulas hal-hal itu. Akan saya jelaskan nanti, apa saja yang Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd telah berikan melalui bukunya ini.

Mengenai isi bab-bab lain, buku-buku lain yang juga mengulas Ibn Rusyd tampaknya juga membahasnya dan mirip saja rupanya informasi yang diberikan. Jadi bagi saya semacam pengulangan saja membacanya.

***

Bagi mahasiswa fakultas Filsafat Islam, tentunya nama Ibn Rusyd bukanlah barang aneh. Pemikiran tokoh ini adalah salah satu materi wajib yang harus mereka kuasai.

Saya mengenal nama Ibn Rusyd justru sebelum belajar filsafat di perguruan tinggi. Di pesantren, salah satu karya fikih Ibn Rusyd, yakni Bidâyah al-Mujtahid wa Nihâyah al-Muqtashid, menjadi salah satu rujukan penting. Karyanya ini sejajar dengan beberapa rujukan al-fiqh al-muqârin (fikih perbandingan) lain, seperti Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba‘ah, Al-Mîzân al-Kubrâ, Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuh, dan lain-lain. Ketika di pesantren, Ibn Rusyd saya kenal sebagai salah seorang ulama besar di bidang fikih mazhab Maliki.

Lalu, saat belajar filsafat di perguruan tinggi, mulailah saya membaca pemikiran filosofisnya dari beberapa sumber sekunder. Salah satunya adalah Ensiklopedia Filsafat Islamnya Seyyed Hossein Nasr. Mungkin karena dari sumber sekunder, waktu itu pemikiran Ibn Rusyd tak begitu saya anggap penting.

Setelah itu, sesudah saya mulai membaca karya-karya Ibn Rusyd, barulah arti penting pemikirannya di bidang filsafat mulai saya rasakan. Waktu itu saya membaca tiga karya pentingnya: Fashl al-Maqâl fî mâ bain al-Hikmah wa asy-Syarî‘ah min al-Ittishâl, Al-Kasyf ‘an Manâhij al-Adillah dan Tahâfut at-Tahâfut. Ketiganya membuka cakrawala baru di dalam benak saya mengenai Filsafat Islam. Saat itulah saya sadar, Ibn Rusyd memang tak bisa dilupakan jika hendak memahami Filsafat Islam.

Di samping membaca buku-buku itu, diskusi dengan seorang kawan juga menambah ketertarikan saya pada Ibn Rusyd. Kawan saya itu adalah lulusan fakultas Filsafat Islam di Al-Azhar Mesir. Dia tidak hanya mengenal Ibn Rusyd, dia bahkan menyatakan dirinya sebagai Rusydî atau Averroist—penganut filsafat Ibn Rusyd. Dia tidak menjelaskan apa itu arti dan maksudnya menjadi seorang Rusydî. Namun, setelah membaca pemikiran-pemikirannya lebih mendalam, saya bisa meraba-raba maksudnya. Menjadi Rusydî berarti menganut pula beberapa ajaran Ibn Rusyd, seperti meyakini bahwa agama tidak bertentangan dengan filsafat/sains, meyakini hukum kausalitas, meyakini keharusan takwil terhadap teks-teks suci yang bertentangan dengan filsafat/sains, pentingnya rasionalitas dalam beragama, atau ajaran-ajaran lainnya. Menurut kawan satu itu, dirinya menjadi seorang Rusydî berkat pengaruh salah satu dosennya yang sangat dia kagumi: Syaikh Mu‘thî al-Bayyûmî. Konon, dosennya ini merupakan salah satu penerus semangat Muhammad Abduh di Al-Azhar.

Selain itu, tampaknya kawan satu itu terpengaruh juga oleh Muhammad Abed Al-Jabiri, seorang filsuf berkebangsaan Maroko. Setahu saya, filsuf Muslim kontemporer yang mendaku sebagai Rusydî adalah Al-Jabirî ini. Al-Jabiri bahkan mampu membawa semangat dan jiwa pemikiran Ibn Rusyd ke dalam problem-problem kaum Muslim kontemporer. Saya tahu betul, kawan satu itu memang membaca hampir semua karya-karya Al-Jabiri.

Sejak itu, buku-buku tentang Ibn Rusyd saya kumpulkan dan saya usahakan untuk dibaca. Salah satunya ya bukunya Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd ini.

***

Kita kembali ke buku Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd ini.

Perihal filsafat Ibn Rusyd, Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd memandang perlunya membedakan antara (1) filsafat Ibn Rusyd sebagaimana dipahami oleh Eropa abad pertengahan dengan (2) filsafat Ibn Rusyd sebagaimana tertera dalam karya-karyanya. Artinya, Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd menemukan bahwa Eropa abad tengah telah keliru menerima filsafat Ibn Rusyd, sehingga yang beredar waktu itu tidaklah sama dengan pemikiran Ibn Rusyd yang sebenarnya. Perbedaan antara keduanya adakalanya menyentuh substansi pemikiran, adakalanya cuma menyentuh aspek penafsiran semata.

Kenapa bisa begitu? Sebab pertama, orang-orang Eropa berpegang dalam memahami pemikiran Ibn Rusyd terhadap karya-karya Ibn Rusyd yang berupa komentar-komentar dan ringkasan-ringkasannya terhadap tulisan-tulisan Aristoteles semata. Meskipun kekaguman Ibn Rusyd amat kentara dari karya-karya itu, namun tidak semua pandangannya sejalan dengan Aristoteles.

Sebab kedua, karena Eropa abad tengah memahami pemikiran Ibn Rusyd dari karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani. Biar bagaimanapun, demikian Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd, terjemahan musti mengalami bias atau bahkan reduksi makna.

Sebab ketiga, karena pemikiran Ibn Rusyd tersebar di Eropa ketika otoritas Dewan Inkuisisi sedang berkuasa. Dengan demikian, pemikiran Ibn Rusyd pun juga tak luput dari sensor dan kontrol otoritas tersebut sehingga diupayakan agar semua pemahaman, tafsir, komentar atau pun analisis terhadapnya haruslah sesuai dengan ajaran resmi gereja, meskipun sebenarnya melenceng dari pemahaman sebenarnya dari pemikiran Ibn Rusyd.
Adapun pemikiran Ibn Rusyd yang tertera dalam karya-karyanya sendiri yang berbahasa Arab lebih bisa dipercaya, demikian menurut Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd. Karya-karyanya sudah bisa diakses dengan mudah saat ini, baik berupa karya utuh semacam Fashl al-Maqâl dan Al-Kasyf, atau karya-karya polemiknya semacam Tahâfut at-Tahâfut, maupun komentar, penafsiran atau pun ringkasan terhadap tulisan-tulisan Aristoteles.

***

Perihal pengaruh pemikiran Ibn Rusyd.

Saya rasa bukan rahasia lagi bahwa pengaruh Ibn Rusyd di Eropa bertahan hingga tiga abad lamanya. Bahkan di Eropa muncul sekelompok orang yang dikenal sebagai Averroist karena pandangan-pandangan mereka memang menganut ajaran Ibn Rusyd. Kenyataan ini, tak disangsikan lagi, adalah sebentuk sumbangan peradaban Islam terhadap peradaban Eropa. Ernest Renan bahkan menyusun buku khusus membahas hal ini secara komprehensif, Averroes and Averroism. Buku itu adalah rujukan wajib untuk memahami pengaruh Ibn Rusyd di Eropa.

Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd meneliti lebih lanjut perihal pengaruhnya di negara-negara Muslim sendiri. Polemik antara Al-Ghazali dan Ibn Rusyd telah meninggalkan debat berkepanjangan di kalangan para intelektual Muslim setelah mereka. Debat intelektual itu ibarat sebuah perlombaan yang satu sama lain berusaha unggul-mengungguli. Namun debat itu terhenti sejak Ibn Taimiyah melancarkan kritik argumentasi-argumentasi yang Ibn Rusyd bangun dalam Al-Kasyf ‘an Manâhij al-Adillah. Kritik Ibn Taimiyah itu tertuang dalam bukunya, Muwâfaqah al-Manqûl lisharîh al-Ma‘qûl. Bahkan Ibn Taimiyah menyerang juga Ilmu Mantik dengan menyusun Ar-Radd ‘alâ al-Mantiqiyîn dan menyangkal keabsahan beberapa ilmu yang berkembang saat itu, seperti ilmu perhitungan bintang, menentukan arah kiblat, nujum (pengaruh pergerakan bintang terhadap manusia), dan lain-lain.

Lalu di zaman kekuasaan imperium Utsmani, khalifah Muhammad al-Fâtih meminta Khoja Zâdah untuk membandingkan antara dua kitab polemik bersejarah itu, Tahâfut al-Falâsifah dan Tahâfut at-Tahâfut. Hasil perbandingan itu adalah sebuah buku ketiga hasil pemikiran Khoja Zâdah sendiri.

Di masa modern pun debat yang melanjutkan polemik antara Al-Ghazali dan Ibn Rusyd masih berlanjut. Muhammad ‘Abduh dan Farah Anthûn pernah melakukan polemik terkait hal ini. yang terakhir ini dikenal sebagai Averroist sejati asal Lebanon.

Hingga belakangan ini, demikian Mahmûd ‘Abbâs al-‘Aqqâd, gaung pemikiran Ibn Rusyd masih berlanjut. Pemikirannya masih disebut-sebut sebagai model untuk masa depan peradaban umat Islam.

Bagaimana dengan Indonesia? Tak terkecuali Indonesia. Di negeri ini studi terhadap pemikiran Ibn Rusyd juga ramai. Buku-bukunya sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Orang semacam Luthfie Assyaukanie menyerukan agar umat Muslim Indonesia menjadikannya sebagai model bagi proyeksi peradaban Islam.[]

Apa Kabarmu, Katjie & Piering?

269589_134572883290911_5492055_n

- Lewat lagu ini, kami ingin buat orang nostalgia lagi sama kampung halaman | Ay, Katjie & Piering

Apa kabar, Katjie & Piering?

Sayang sekali, ya, kau kukenal baru-baru ini. Padahal kau telah berdiri sejak 2011 lalu di Kota Kembang. Lagu-lagu gubahanmu kudengarkan dengan takjub, sebab ada yang lain dalam karya-karyamu. Setiap sore sembari menunggu buka puasa, kusimak karya-karyamu agar bisa kucerna lebih halus lagi, agar bisa kurasuki semangat dan kandungannya.

Benar, kau menyusun lagu-lagumu dengan cara yang tak lumrah. Itukah yang kau sebut genre ‘nostalgic’? Bagaimana kau melakukannya, kawan?

Kudengar kau mengaransemen ulang beberapa lagu underground bikinan teman-teman bandung. Psycho Girl (Olive Tree), Destiny (Hegemonic), Zsa Zsa Zsu (Rock N Roll Mafia) dan Polypanic Room (Polyester Embassy) adalah lagu-lagu rock dan heavy metal yang sebelumnya sudah beredar luas di Bandung. Tapi kau menyusun ulang notasinya dan kau sulap menjadi style-mu sendiri, menjadi genremu sendiri. Kau melakukannya dengan bagus sekali.

Kalau saja tidak aku googling perihal profilmu, tak mungkin aku bisa tahu bahwa empat lagu itu adalah hasil aransemen ulang semata. Sungguh, kupikir lagu-lagu itu adalah milikmu, sebab cita rasa rock dan heavy metalnya sudah benar-benar sirna. Tampaknya, identitasmu sebagai sebuah grup musik amat kuatnya sehingga mampu mewarnai lagu-lagu itu dan bukan sebaliknya. Ibarat kata, kau adalah kolam yang sudah siap menampung air dari manapun, menjernihkannya, dan menjadikannya milikmu sendiri.

Yang tak mungkin terlewatkan dari lagu-lagumu adalah nuansa sundanya. Begitu piawainya engkau memasukkan kesundaan itu menjadi bagian dari dirimu, bukan sekadar sisipan dekoratif, namun justru kesundaan adalah identitasmu, penanda pembedamu dari grup musik lainnya, bahkan mungkin dari genre lainnya.

Kudengarkan lagu-lagumu, terasa sekali alunan suling dan kecapi sunda bersandingan dengan alat-alat musik modern. Kau pun menyanyikannya tak ubahnya seperti sedang nyinden. Lagu-lagu rock dah heavy metal dengan lirik berbahasa inggris itu kau sulap menjadi seperti itu, bagaimana kau melakukannya, kawan? Itu ide yang sungguh brilian!

Kau memainkannya di tengah musik-musik underground dalam negeri yang kerap diidentikkan dengan musik rock dan jazz. Keberanianmu memainkan lagu-lagumu cukup membangkitkan harapan bahwa musik tradisional pun mampu bergumul di gempita lorong-lorong underground. Kau telah membuktikan bahwa musik tradisional mampu bersaing elegan tanpa ada kesan klise.

Engkau mendaku lagu-lagu hasil gubahanmu sebagai Indonesian Pop. Itu adalah kepercayaan diri yang menjanjikan, sebab dengan demikian lagu-lagumu kau sejajarkan dengan K-Pop, J-Pop, Swedish Pop, atau musik-musik lain dengan identitas kebangsaan lainnya. Dengan musik kau sedang meneguhkan identitasmu dan sesamamu.

Lalu kau pun menggubah lagumu sendiri: Kinanti. Barangkali, lagu inilah kekuatan terbesarmu, ekspresi identitasmu yang paling penuh. Kinanti menjadi semacam manifesto genre musikmu yang tak biasa.

Tapi, apa kabarmu, Katjie & Piering? Kenapa karya-karyamu cuma lima saja dan tak ada gubahan baru?

Atau jangan-jangan kau sudah mengeluarkan album baru secara diam-diam tanpa sepengetahuanku. Jika betul begitu, segera hentikan sikap menutup dirimu, sebab sungguh lagu-lagumu sangat bagus. Aku ingin segera mendengarkannya. Segera.

Aku suka sekali semangatmu. Semangat itu pernah pula ditunjukkan oleh Jogja Hiphop Foundation dan aku menikmatinya. Kreativitas yang kau geluti dihiasi dengan semangat yang tidak main-main. Terus terang, aku sendiri butuh menyerap semangat seperti itu. Hanya saja, semangat yang ingin kupompa ini tak ditopang oleh kreativitas. Makanya, sekali aku mendapatkan semangat yang sama di dalam suatu kreativitas, aku langsung merasa bertemu teman lama, yang jika kusapa akan langsung menanggapi dengan akrab.

Dan lagu-lagumu akan selalu kudengar, Katjie & Piering. Andai jumlah lagumu lebih dari yang ada saat ini, tentu sore hariku akan lebih menyenangkan.[]

photocredit: here.

 Katjie & Piering dibentuk oleh
Kushandi Afriani Dewi alias Ay (Baby eats Crackers)
dan Sigit Agung Pramudita alias Sigit (Tiga Pagi)
tahun 2011 di Bandung.

Pemburu Harta Karun

Cerita berikut ini cukup bagus, diceritakan oleh para sufi besar. Paulo Coelho, menurut sebagian kalangan, terinspirasi oleh karya ini ketika menulis The Alchemist. Yang menarik, cerita ini mengandung makna simbolik mendalam.

 

Pemburu Harta Karun

Seorang laki-laki sangat bersemangat untuk mencari harta karun, dalam doanya dia berkata, “Ya Allah, betapa banyak orang yang datang dan pergi di dunia ini, mereka menanam hartanya di dalam perut bumi dan sampai masih terpendam tanpa ada yang mengetahuinya! Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, tolong tunjukkan kepadaku sebagian dari harta terpendam itu!”

Sepanjang waktu malam ia habiskan untuk bermunajat, berdoa, menangis, untuk mendapatkan petunjuk dari Allah swt. di mana gerangan tempat terpendamnya harta karun.

Hingga pada suatu malam, di saat ia telah letih bermunajat dengan kucuran air mata, ia pun tanpa sadar tertidur. Dan pada saat itu dalam tidurnya ia didatangi oleh seseorang dan berkata padanya, “apa yang kau minta dari Allah swt.?”

“Aku memohon petunjuk di manakah lokasi penimbunan harta karun,” jawabnya.

“Aku pun telah mendapat perintah dari Allah swt. untuk menunjukkan lokasi harta karun padamu,” kata orang dalam mimpinya.

“Baiklah, segera katakan padaku di mana letaknya.” Si pencari harta berkata.

“Pergilah ke puncak bukit fulan di suatu daerah dan bawalah busur dan anak panah. Begitu kau sampai di puncaknya, letakkan sebuah anak panah di busurmu lalu lepaskan, dan di manapun anak panah itu jatuh, di situlah terpendam harta karun.” Jelas orang dalam mimpinya.

Dia terbangun dari tidurnya dan bergumam, “Sungguh mimpi yang sangat jelas. Aku akan segera ke puncak bukit itu. Apabila memang benar-benar ada harta karun di sana, maka sungguh beruntungnya aku, dan seandainya tidak, setidaknya aku tidak penasaran.”

Setelah mempersiapkan bekal untuk perjalanan secukupnya, dia pun pergi ke puncak bukit tersebut dan tak lupa pula ia membawa busur dan anak panahnya. Lama berselang akhirnya sampailah ia pada puncak bukit tersebut, dan ia menemukan bahwa tempat tersebut sesuai dengan yang diceritakan dalam mimpinya.

Dengan penuh percaya diri dan tanpa mau membuang waktu begitu lama, ia pun bersegera meletakkan anak panah pada busurnya, namun tepat sedetik sebelum ia lepaskan anak panahnya ia sejenak terpaku dan bergumam, “Di dalam mimpiku tidak dijelaskan kearah mana aku harus melepaskan anak panah.”

Dia segera menemukan jalan keluar sambil bergumam, “Tidak ada arah yang paling bagus daripada arah kiblat. Mudah-mudahan harta karunnya berada di sana!”

Anak panah ia letakkan pada busur lalu dia tarik sekuat tenaga dan melepaskannya ke arah kiblat. Setelah itu dia pun berlari ke lokasi jatuhnya anak panah itu sambil membawa cangkul dan peralatan menggali lainnya. Seharian ia menggali di sana namun harta karun tak kunjung kelihatan, pada dirinya dia berkata, “Mungkin harta karun itu berada di arah lain.

Keesokan harinya dia kembali menaiki bukit dan mencoba melepaskan anak panahnya ke arah lain, namun hasilnya sama. Berbulan-bulan kerjanya hanya menaiki puncak bukit dan mencoba arah yang lain, namun hasilnya tetap sama. Akhirnya dia kesal dan merasa ikhtiarnya telah cukup, maka ia putuskan untuk ke masjid dan di sudut masjid ia bermunajat sambil berkata, “Ya Allah, petunuk yang kudapatkan dalam mimpiku ternyata tidak benar!”

Dia terus-menerus berdoa dan menangis hingga kembali bermimpi pesuruh Allah yang pernah memberikannya petunjuk pada mimpi sebelumnya.

Dia menghardik pesuruh itu seraya berkata, “Petunjuk yang kau berikan padaku ternyata salah!”

Orang dalam mimpi berkata, “Apakah kau telah menemukan tempat yang telah kutunjukkan?”

Jawab pencari harta, “Iya! Sudah!”

Orang itu berkata lagi, “Lalu apa yang kau lakukan?”

“Aku letakkan anak panah pada busur lalu kulesatkan ke arah kiblat dengan keras,” jawab si pencari harta.

Lho, kapan aku menyuruhmu untuk melesatkannya ke arah kiblat dan kapan aku memerintahkanmu untuk melesatkannya dengan keras?” Tanya orang dalam mimpi.

“Aku hanya mengatakan, di mana pun anak panah itu jatuh. Aku tidak memerintahmu untuk melesatkannya dari busur!”

Keesokan harinya, dia segera pergi dengan peralatan lengkap. Sesampainya di puncak bukit, dia letakkan anak panah pada busur dan dia biarkan, lalu anak panah itu jatuh di sekitar kakinya. Dia pun mencangkul dengan penuh semangat di tempat itu. Dia mendapatkan harta karunnya.[]

Sumber: sini.

Awal Ramadan

Rasa-rasanya, penetapan awal bulan Ramadan kali ini tidak seribut tahun-tahun lalu. Ada beberapa kemungkinan.

Mungkin, karena saya sudah jarang menonton televisi. Akhir-akhir ini saya cuma rela mantengin televisi pas siaran bola sama debat capres-cawapres. Jadi hiruk-pikuk penetapannya luput dari amatan saya.

Bisa jadi pula, hiruk-pikuk itu kalah sama momen pemilu dan Piala Dunia, sehingga bahkan di media sosial pun komentar-komentar soal penetapan awal Ramadan tak begitu banyak.

Barangkali, sekarang orang mulai maklum bahwa perbedaan penetapan awal Ramadan itu biasa. Ribut-ribut di tahun-tahun yang lalu itu karena mereka kaget, kok bisa urusan ibadah puasa jadi beda-beda, namun seiring berjalannya waktu mereka pun bisa menerima kenyataan bahwa perbedaan awal Ramadan ini bukan perkara prinsipil.

Lalu, bisa pula karena mereka capek berulang-ulang nyinyir soal penetapan awal Ramadan ini, sehingga mereka melewatkan topik potensial ini.

Sesuatu yang saya sayangkan: tidak seperti tahun-tahun lalu, tagar ‘hilal’ tidak lagi trending topik di media sosial.